
Marcos, Valeria dan bodyguard yang hanya mengalami luka-luka ringan di interogasi di Kepolisian California. Sementara asisten pribadinya yang berpura-pura tuli diam-diam merekam semua perbuatan Tuannya. Ia mempunyai dendam karena anaknya pernah ia bunuh. Asisten itu tak langsung menghubungi polisi. Dia ingin polisi atau agen tertentulah yang datang mencarinya sendiri.
Saat Wasabi diam-diam menemui assisten pribadinya itu, pria itu tak langsung menjawabnya dan bahkan ia masih berpura-pura tuli. Wasabi tak menyerah, ia bersikeras agar pria itu membenarkan semua dugaan Wasabi. Dengan memancing pria itu dengan kasus pembunuhan di sebuah markas yang beroperasi didalam hutan dan menewaskan anak tercintanya. Kasus pembunuhan yang lama yang dilakukan Virus saat masih kecil.
Asisten itu tak menyangka jika Wasabi si Detective itu dapat mengetahui jati dirinya. Ia pun akhirnya angkat bicara dan membuat Wasabi semakin yakin dengan segala dugaannya.
Seorang polisi memberitahu kepada inspektur jika anak Tuan Marcos tewas.
"Cezo tewas ditempat, sepertinya dia bertarung dengan seseorang. Kami tak bisa menangkap gambar pelaku itu karena dia tidak menampakkan dirinya didalam kamera cctv yang ada di sana," ucap sang polisi.
"Apa kau bilang! Anakku mati?!" Pekik Marcos yang seketika membuat darahnya mendidih.
"Ya aku turut berduka atas kematian anakmu," ucap inspektur polisi California.
"Ini semua karena kalian! Akan ku bunuh kalian!" Ancam Marcos seraya beranjak dari duduknya dan menendangi meja di depannya. Lalu dengan tangan terborgol nya dia mengangkat kursi dan melayangkannya pada inspektur polisi didepannya.
Marcos beraksi sangat Liar hingga membuat Inspektur Geram
"Shut up and sit down!" ucap Inspektur Bryan seraya menodongkan pistol pada Marcos dan menembaknya tepat di samping kakinya.
Dor
Seketika pria itu terdiam, dan menuruti perintah inspektur. Marcos kembali duduk dengan napas yang memburu lalu mencoba untuk tenang. Inspektur juga kembali duduk dan melanjutkan interogasi.
Pandangan Marcos terus tertuju pada barang sitaan yang ada dimeja itu. Ia mengincar zat formula dan berniat untuk meminumnya saat itu. Ia ingin menjadi kuat dan membunuh semua polisi yang ada disana.
Swuuusssh
Marcos berhasil menyabet zat berwarna biru itu kemudian meminumnya meski sedikit susah karena tangannya di borgol di depan.
Glek
"Hey, Kau!" ucap Inspektur yang ingin mencegahnya namun terlanjur terminum
Marcos merasakan lidahnya terbakar kemudian menjalar di tenggorokannya. Ia menyentuh tenggorokannya yang terasa makin tak enak.
"Kau meminum racun buatan mu sendiri! Tolong panggilkan ambulance," ucap Inspektur yang kemudian menyuruh anak buahnya memanggilkan ambulance. Ia pun mendekati pria itu seraya ingin membantunya.
Pria itu semakin merasakan dirinya terbakar, terlihat permukaan kulitnya memerah paa bagian leher dan dada. Pria itu mencoba membuka kancing bajunya. Kini dadanya mulai terbakar dan dia kesulitan bernapas. Dalam hitungan detik Marcos tewas.
"Hah astaga dia tewas begitu saja, senjata makan Tuan," gumam inspektur seraya menutup mata Marcos yang terbelalak.
Valeria dan lainnya masuk ke tahanan sementara, sedangkan Virus dirinya bebas karena tercatat di kepolisian Texas jika dirinya telah disuntik mati oleh petugas yang bernama Chaky. Tentu saja rekayasa yang dilakukan oleh Chaky tempo hari sehingga nama Virus bebas.
Marcos di amankan oleh anak buah Inspektur Bryan, pria itu mulai meminta kesaksian dari Wasabi juga menjelaskan kepada inspektur jika penembakan terhadap Diego tadi hanyalah rekayasa.
"Jadi pria yang tertembak disana bukan lah Virus, melainkan orang yang mirip dengannya?" Tanya Inspektur Bryan memastikan
"Ya betul. Dia adalah Diego, wajah mereka kebetulan hampir sama. Aku melakukan penyamaran itu untuk memancing emosi Tuan Marcos. Dan kita bisa mempunyai alasan untuk menangkapnya saat itu jika dia mengelak," jelas Wasabi yang membuat Inspektur Bryan menganggukkan kepala
"Kau tahu? Baru saja Marcos meminum zat formula yang salah dan dia mati dalam hitungan detik," ujar Inspektur Bryan
"Astaga dia terkena senjatanya sendiri," ujar Wasabi.
Setelah itu Wasabi kembali ke hotel, sesampainya disana terlihat Virus sedang mengobati lukanya. Sementara Andi dan Diego asik menonton bola.
Wasabi membuka bajunya dan bersiap mandi. Virus melihat tanda bekas luka besar di punggungnya dan bertanya padanya.
"Wow, lukamu membekas sangat besar, aku pikir tadi tatto. Darimana kau mendapatkannya?" Tanya Virus
"Bekas luka Ini, saat aku menolong korban penculikan. Aku terkena reruntuhan kayu dari gedung yang terbakar," jelas Wasabi seraya masuk kedalam kamar mandi.
"Andi, ikut aku. Kita ke kantor polisi sekarang," ucap Virus
"Kau ingin menyerahkan diri?" Tanya Andi
"Aku akan menunggumu di mobil sedangkan kau masuk kedalam dan membebaskan Valeria dengan jaminan," ucap Virus
Mendengar kata Valeria, Diego sedikit penasaran dan ia pun bergabung dengan percakapan itu.
"Aku sudah berapa kali bilang pada kalian, dia itu baik. Dia hanya diperalat itu saja," ucap Virus
"Di Los Angeles ini mungkin kau tidak semudah mengeluarkan orang begitu saja dari balik tahanan, tak seperti Texas atau Kota dosa seperti Las Vegas," ujar Wasabi yang keluar dengan balutan handuk dibawahnya.
Semua mata tertuju pada Wasabi, yang ternyata bertubuh six pack. Jika dibandingkan dengan dua orang keturunan bule seperti Diego dan Virus, Wasabi sedikit kalah tinggi namun pria itu ternyata memiliki tubuh yang kekar juga.
"Apa yang kalian lihat?" Tanya Wasabi seraya memakai pakaiannya.
"Tidak ada," jawab semuanya kompak.
"Tak ada salahnya mencoba, aku tetap akan membebaskan Valeria jika mereka tidak mengijinkannya aku akan mengebom tempat itu," ucap Virus nekat.
"Kau ini bodoh dan terlalu gila untuk mencintai seorang Valeria, padahal ada berlian besar dihadapan matamu," ujar Wasabi yang kemudian pergi keluar kamar meninggalkan ke tiga temannya
"Apa salahnya mencintainya?" Tanya Virus, Virus tak mengerti ucapan Wasabi, tetapi Andi dan Diego paham. Berlian yang di maksud Wasabi adalah Moza.
"Wasabi, Kau mau kemana?" Tanya Diego
"Cari makan," ucapnya
"Aku ikut," Diego segera beranjak dari kamarnya
"Virus, kau bodoh," ucap Diego menunjukkan telunjuk kearah Virus kemudian menyusul Wasabi
"Hey aku juga ikut, tunggu!" Teriak Andi kemudian segera beranjak berdiri namun Virus menarik kerah bajunya hingga Andi tertarik dan tak bisa berjalan kedepan.
"Kau ikut aku," ucap Virus yang tidak menerima kata tidak.
"Oke, tapi traktir aku makanan," ucap Andi
"Oke," jawab Virus cepat kemudian Andi dan Virus juga pergi meninggalkan kamar itu.
Malam ini mereka masih menginap di hotel menghabiskan sisa waktu cek out mereka. Esok paginya mereka akan bergegas pulang kembali ke Nevada.
Ketika Virus keluar dari kamar, Moza juga keluar dari kamarnya. Mereka berjalan bersama di sepanjang koridor kamar.
"Hey kalian mau cari makan juga?" Tanya Moza karena malam itu adalah waktu jam makan mereka.
"Tidak, aku akan ke penjara, kau mau ikut?" Ucap Virus yang diakhiri dengan ajakan.
"Ke penjara?" Tanya Moza
"Dia ingin membebaskan kekasihnya," jelas Andi
"Kekasih? Apa mereka telah bersama?" Batin Moza
Melihat perubahan wajah pada Moza, Andir meralat ucapannya.
"Bukan kekasih tetapi hampir menjadi kekasih itu pun jika Valeria mau dengannya. Tapi sepertinya Valeria tidak akan mau karena Diego lebih tampan haha," ucap Andi
Virus kemudian memiting leher Andi hingga pria itu kesakitan, padahal Virus tidak mengeluarkan banyak tenaga.
"Ahh sakit, Virus kau bisa membunuhku," ucap Andi
"Kau bilang apa hah?" Tanya Virus
"Haha becanda, maaf-maaf," pria itu segera minta maaf agar terbebas dari jepitan ketiaknya Virus. Pria itu melepaskan Andi kemudian.
"Kau ikut tidak, setelah itu kita akan mencari makan," ucap Virus pada Moza
"Hemm baiklah," jawab Moza sedikit ragu.
"Let's find something to eat first, my stomach is keroncongan," ucap Andi dengan bahasa yang dicampur. Ia tidak tahu bahasa Inggrisnya keroncongan.
"What? Keroncongan?" Tanya Moza mengulang kata keroncongan.
"Hungry, grough...grough," jelas Andi seraya menirukan bunyi perut yang berbunyi sembari memegangi perutnya. Moza akhirnya paham maksud Andi.