
Pernikahan Diego sempat ingin ditunda karena kesehatan Ibunya, tetapi Rachel sendiri yang bersikeras untuk tetap melanjutkan karena semua sudah dipersiapkan dan undangan sudah tersebar. Meski tamu undangan hanya sebatas keluarga, tetangga dan teman terdekat dan terbilang singkat dan sederhana tetapi Valeria sangat menunggu moment ini.
Hari ini Diego dan Valeria akan menikah, tepatnya siang hari pukul duabelas nanti, di gereja dekat rumah Valeria. Dan malam harinya mereka akan mengadakan pesta kecil di rumah Diego.
Sebelum itu tiba, Valeria sudah di rias sejak pagi tadi oleh perias khusus wedding di dalam kamar Valeria, Moza menemani Valeria di kamar itu.
"Wow, kau sangat cantik Valeria," puji Moza setelah Valeria selesai dirias
"Terimakasih Moza, huff aku tidak percaya akan menikah dengan pria yang paling aku idamkan dari dulu," ujar Valeria
Moza memeluk Valeria dari belakang, "Dan sebentar lagi kau akan menjadi kakak ipar ku,"
" Hay adik ipar," ucap Valeria sambil tertawa kecil, Moza pun ikut tertawa.
Tak berapa lama terdengar suara ketukan pintu.
Tok Tok Tok
"Valeria kau sudah selesai? Diego sudah menunggu mu di sana, cepatlah," seru Virus
"Kau siap? Kita berangkat sekarang," ucap Moza kemudian Valeria beranjak dari duduknya dan Moza menggandeng tangannya seraya membukakan pintu kamar.
Ceklek.
Virus yang masih menunggu didepan pintu kamar, kemudian berbalik dan melihat dua wanita didepannya sangat cantik. Namun pandangan Virus tertuju pada Valeria. Seperti awal dia bertemu dengan Valeria, kecantikan gadis itu memukau Virus. Dan Moza menyadari jika tatapan Virus tertuju pada Valeria
"Vale, ini kau? Kau terlihat berbeda, sangat cantik," puji Virus tetapi sebenarnya dia hanya mengagumi kecantikan Valeria. Tidak ada yang lebih dari perasaannya. Jantungnya juga tidak berdegup melihat Valeria, karena hatinya hanya untuk Moza.
Moza sedikit cemburu karena yang sedang dipuji oleh Virus adalah orang yang pernah mengisi hatinya meskipun hanya sebentar. Ia pun melangkah pergi keluar, meninggalkan Valeria dan Virus.
"Moza, hey sayang kau mau kemana, tunggu," panggil Virus.
"Ini salahmu kenapa kau memujiku di depannya, hati wanita itu sensitif," ucap Valeria
"Astaga jadi Moza cemburu?" ucap Virus
"Tunggu apa lagi kenapa masih disini, aku bisa berjalan sendiri. Kejar dia," seru Valeria, dia tidak ingin pernikahannya sedikit terganggu karena cemburunya Moza. Virus berlari menyusul Moza.
Seharusnya Virus tak memuji kecantikan wanita lain di hadapan Moza terlebih lagi, dulu Virus sangat mengagumi Valeria. Kini Moza pun menjadi ragu akan cinta Virus padanya.
"Moza!" teriak Virus yang berada tak jauh di belakangnya. Dengan langkah lari yang besar sebentar saja pria itu sudah sampai di dekat Moza.
Untung saja Moza belum pergi jauh, ia masih berada di halaman rumah Valeria.
Virus meraih pergelangan tangan Moza, dan menggenggamnya erat.
"Sayang jangan marah hanya karena aku memuji Valeria, yang terpenting itu hatiku hanya untukmu," jelas Virus
"Masalahnya aku tidak bisa membaca isi hatimu," jawab Moza.
"Kau mau tahu isi hatiku? Sini rasakan sendiri," Virus pun meraih kepala Moza dengan pelan dengan posisi telinganya berada di dada bidang Virus. Moza hanya menurut, terdengar detak jantung yang sangat kencang berdegub tak seirama.
"Ini isi hatiku, jantungku terus berdetak kencang jika ada disamping mu. Aku takut karena rasa cemburu mu itu, kau pergi meninggalkan ku,"
Moza terkekeh pelan, "Haha aku memang sedikit cemburu tapi tidak akan berbuat seperti itu, aku hanya keluar sebentar mencari angin mendinginkan egoku," jelas Moza.
"Ehem mau sampai kapan kalian pelukan, ayo jalan," sahut Valeria yang berjalan dengan mendorong kursi roda Ayahnya.
"Maaf Vale, ayo kita berangkat sekarang," sahut Moza kemudian mendekati Valeria, mengangkat rok gaun yang menyapu jalan. Valeria terlihat sedikit kesulitan karena mengangkat sedikit roknya sambil mendorong kursi roda Ayahnya.
"Biar aku bantu mendorongnya," ucap Virus mengambil alih membantu mendorong kursi roda Chris menuju mobil.
Setelah masuk kedalam mobil, Virus melajukan mobilnya dengan berhati-hati. Tidak butuh waktu yang lama, mereka pun sampai, karena jarak gereja dari rumah Valeria sangat
dekat hanya 800 meter.
Diego terpana melihat Valeria yang baru saja datang. Wanita itu berdiri di ujung karpet merah. Chris mendampingi putrinya menuju altar pernikahan. Mereka berjalan pelan, Andi membantu mendorongkan kursi roda untuk Chris. Setelah mengantar putri tercintanya, Chris dan Andi menuju ke bangku tamu yang tersedia.
Jantung Diego semakin berdebar menatap Valeria yang sangat cantik dengan sedikit riasan, rambut dilerai dan dengan bandana berhiaskan bunga-bunga yang melingkar di kepalanya.
Saat pernikahan segera dimulai, Diego semakin gugup. Dia pun memejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam kemudian di buang lewat mulut secara perlahan. Untung saja Diego tidak membuangnya lewat kentut hehe.
Skip
Setelah janji pernikahan di ucapkan, dan cincin disematkan ke jari manis masing-masing. Mereka dipersilahkan saling mengecup satu sama lain.
Virus mengambil kesempatan, tiba-tiba dia menarik dagu Moza kehadapannya dan mengecup bibir kekasihnya.
"Besok giliran kita yang menikah," ucap Virus setelah melepaskan kecupannya.
"Secepat itu?" Tanya Moza
"Lebih cepat lebih baik, bagaimana kalau lusa,"
"Haha, ya memang lebih cepat lebih baik tapi untuk mengurus ini dan itu..." ucapan Moza terpotong karena Virus mengecupnya lagi
"Itu gampang, bahkan kau mau menikah sekarang pun bisa,"
"Baiklah terserah kau saja, aku menurut apa kata calon suamiku saja,"
"Jadi kau setuju kita akan menikah lusa?" Tanya Virus
Moza menganggukkan kepalanya dengan wajah merona dan tersenyum malu-malu seraya berkata, "Ya jika kau bisa mengurus semuanya, karena jika aku yang mengurusnya, itu tidak mungkin,"
"Tenang saja, serahkan semuanya padaku," ucap Virus.
"Moza, Virus ayo kesana, Valeria akan melemparkan bucket bunganya," seru Rachel.
Moza dan Virus pun melangkah ke depan dan mencoba menangkap bunga, ya hanya kepercayaan saja. Sebagian orang hanya menganggap itu hal penting.
Sementara Andi teringat saat Emi menangkap bucket bunga pengantin yang Joy lempar. Dia pun kembali sedih mengingatnya, memori yang sangat ingin dia lupakan kembali menghantam luka hati yang dikhianati mantan kekasihnya itu.
"Lupakan Andi, dia tak pantas kau ingat," gumam Andi yang mencoba melupakan kenangannya. Ia pun mencoba membayangkan Indiana, wanita yang baru saja datang di kehidupannya. Meski Andi belum terlalu mencintainya namun dia yakin Indiana wanita yang baik-baik.
Bunga dilempar ke udara dan melayang kemudian jatuh ke tangan seseorang yang sangat ingin menikah, Virus.
"Sayang kau mendapatkannya," seru Moza
"Haha ya aku tak menyangka, mungkin ini pertanda jika kita harus menikah secepatnya," ucap Virus meraih pinggang Moza dan mencium rambutnya yang wangi
"Sayang kau pakai shampo apa? Aku suka wanginya," ucap Virus
"Aku tidak tahu, Ibu yang membuatnya. Hemm mungkin kau bisa mengajak ibuku berbisnis shampo buatannya," ucap Moza
"Wow itu ide bagus, aku akan mengajaknya bisnis nanti," ucap Virus
"Terimakasih, Kita kesana yuk, kumpul dengan yang lain," ajak Moza
Mereka kemudian berbincang-bincang dengan sang pengantin dan beberapa rekannya. Setelah itu mereka pun bergegas pulang.
Virus, Andi dan Rachel sudah naik di dalam mobil, sementara Diego membantu Ayah mertuanya untuk naik ke mobil lain. Moza dan Valeria datang belakangan karena gaun panjangnya yang sedikit susah berjalan. Saat sampai di mobil, Valeria tiba-tiba ingin buang air kecil.
"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ijin Valeria
"Hemm oke, sebentar Aku temani. Biar aku saja kak, soalnya aku juga ingin ke toilet. Ayo Vale," ucap Moza
"Oke hati-hati ya," ucap Diego.
Sesampainya di toilet wanita, mereka dikejutkan dengan kehadiran Darren.
"Hallo mantan-mantan ku haha, mantan kekasih dan mantan sekretaris," ucap Darren sembari tertawa memperlihatkan giginya yang ompong.
Moza dan Valeria berdekatan dan saling bergandengan. Mereka berencana lari dan berbalik.
Beberapa gerombolan bodyguard Darren datang tiba-tiba dan menutup jalannya Moza dan Valeria.
"Kalian- tidak bisa lari kemanapun sayang karena kalian ditakdirkan hanya untukku hahaa," ucap Darren kemudian mendekati Moza.
Moza kemudian memasang kuda-kuda dan bersikap dengan tangan yang siap meninju. Hal yang sama dilakukan Valeria. Perkelahian pun dimulai. Darren tertawa kemudian semakin mendekat. Moza menendang perut Darren hingga perut pria itu kesakitan.
Valeria juga melakukan hal yang sama, ia memukul wajah Darren yang masih mempunyai bekas luka. Darren kesakitan namun tak sampai berteriak karena tinju Valeria dan tendangan Moza tidak terlalu menyakitkan.
Darren kemudian memanggil anak buahnya dengan isyarat gerakan kepalanya
Satu bodyguard memeluk Moza dari belakang dengan kedua tangannya dan kemudian bodyguard lain membiusnya, hal yang serupa juga dilakukan pada Valeria. Mereka meronta dan meminta tolong dan terus meronta serta menghentakkan kaki dan mengibaskan tangannya berusaha melepaskan pelukan bodyguard yang berbadan besar dan kekar. Namun kekuatan mereka kalah.
"Haha terus saja berteriak karena setelah ini kalian akan tertidur pulas,"
Benar saja hanya dalam hitungan detik mereka terbius. Darren kemudian membawa Valeria dan Moza pergi.