
Sepanjang perjalanan menuju ruang IGD, Diego banyak bertanya tetapi Valeria hanya menjawab seadanya dan sangat singkat. Tingkahnya tiba-tiba menjadi dingin.
"Jadi Moza tidak bisa melihat apapun?" Tanya Diego
"Hemm," jawab Valeria
"Kata dokter ini hanya sementara kak," sela Moza.
"Kuharap secepatnya agar segera membaik," Diego terus melihat Valeria yang duduk di kursi tunggu. Diego menyusul dan duduk disampingnya. Dia menyentuh pundak Valeria dengan lembut.
"Kau kenapa? Tadi kau sangat mesra denganku tapi kenapa sekarang kau bersikap dingin?" Tanya Diego pelan
Valeria menatapnya dengan lirikan penuh kemarahan.
"Aku cemburu! Memangnya kau tidak bisa menolaknya hah? "
"Aku sudah menolaknya sayang. Sebelumnya aku bahkan mendorongnya hingga dia terjatuh. Aku tidak mungkin berlaku kasar pada wanita di depan rumah sakit itu. Aku laki-laki, aku juga tidak bisa memukul wanita,"
"Oh jadi kau lebih mementingkan etika? Bagaimana dengan berciuman berpelukan dengan wanita lain padahal dirinya sudah memiliki istri, apakah itu termasuk bukan etika?Sepertinya kau menikmati ciuman wanita ular itu?"
"Astaga, aku tidak menikmatinya sama sekali, dia bahkan tidak bisa menegakkan burungku saat dia menciumku. Berbeda saat kau menciumku tadi. Benda pusaka ku langsung berdiri, kau itu cintaku Vale," ucap Diego yang tidak menyaring perkataannya. Dia selalu berbicara ceplas-ceplos tanpa disaring.
"Jadi, Diego berciuman dengan wanita lain?" Terka Moza yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.
"Ya, dan dia berciuman dengan partner ranjangnya," ucap Valeria yang sedikit tahu tentang Kate.
"Astaga Kate! Tapi untuk apa dia di Texas?" Ucap Moza
"Kau mengenalnya?" Tanya Valeria
"Entahlah Aku tidak tahu dan tidak mau tahu!" ucap Diego
"Haha siapa yang tidak mengenal Kate. Dia adalah...," cerita Moza terputus karena Diego menyelanya.
"Sudahlah jangan bahas masa lalu ku, sekarang yang terpenting kau Vale. Kau masa depanku," ujar Diego
"Ahh aku sampai lupa untuk menghubungi Gordon," timpalnya lagi
"Gordon?" Tanya Moza yang tidak tau siapa Gordon
"Kau belum menghubunginya juga?" seru Valeria yang sudah tau jika Gordon adalah Ayah biologis Virus
"Dia Ayah Virus, ceritanya panjang Moza. Nanti akan ku ceritakan perlahan," ucap Diego
"Virus terkena tusukan hingga ususnya mengalami kebocoran, meski sedikit tetap saja itu hal yang sangat kritis. Ada masalah, dokter bedah yang menangannya sedang diluar kota, dia dalam perjalanan kemari," jelas Diego sembari menuliskan pesan chat pada Gordon, karena sedari tadi panggilan teleponnya tidak diangkat.
"Astaga lalu? Apakah rumah sakit tidak bisa mencari pengganti Dokter?" Tanya Moza
"Mereka sudah mengusahakan tapi tidak bisa karena ada perjanjian intern dengan perusahaan. Lalu Kate kebetulan muncul dan menawarkan diri untuk operasi Virus tetapi dia ingin di bayar dengan tubuhku," jelas Diego
"Kate seorang dokter?" Tanya Valeria tak percaya, pertanyaannya itu dijawab anggukan kepala oleh Diego yang masih mengetik chat di ponselnya.
Dokter yang bertingkah seperti jallang, sangat tidak pantas jika Kate menyandang gelar itu.
"Haha, yang benar saja! Bayaran yang dia inginkan terlalu murahan. Lalu kau menerimanya?" Selidik Valeria.
"Jelas tidak sayang, aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya. Ada kau yang selalu bisa memuaskan ku,"
Valeria yang mendengarnya tertawa geli dan memukul lengan suaminya pelan.
Tak berapa lama Gordon menelepon Diego dan menanyakan di rumah sakit mana, Diego lupa menyebutkan tempat rumah sakitnya. Setelah Diego menjawab, Gordon langsung mematikan teleponnya.
10 menit kemudian
Gordon datang dengan beberapa dokter disampingnya dan bodyguard yang menjaganya di belakang, juga ada bodyguard yang berjalan di depan untuk membuka jalan bagi bosnya. Tidak butuh waktu lama, perawat membuka pintu lalu dokter yang dibawa Gordon ikut masuk bersamanya.
"Maaf, saat kau meneleponku tadi aku sedang berada di kamar kecil," jelas Gordon pada Diego lalu pandangannya beralih pada wanita yang duduk di kursi roda. Dia bertemu dengan Moza untuk pertama kali, sebagai menantunya.
Sementara Moza tidak melihatnya, pandangannya kedepan tetapi kosong.
"Dia Moza, adikku, dan juga istri sah Virus," ujar Diego pada Gordon
"Kau bicara dengan siapa kak?" Tanya Moza
"Hmm Moza dia...Ayahnya Virus. Dia ada disini,"
"Salam Tuan, saya Moza. Maaf jika keadaan saya seperti ini di saat pertemuan pertama kita. Kata dokter, mata saya akan membaik perlahan, ini hanya efek sementara," jelas Moza kemudian tersenyum dengan sangat manis. Tetapi Gordon tidak melihat senyumnya. Pria itu begitu acuh dan tidak peduli. Sampai-sampai Dia tidak menyapa dan menjawab ucapan Moza.
Moza menunggu Gordon berbicara, dia memasang telinga namun dia tidak mendengar apapun. Disitulah Moza tahu keberadaannya belum diakui.
"Sini kau tua bangka!" seru Diego
Gordon mengikuti langkah Diego hingga ujung lorong. Diego menghempaskan Gordon dan meninjunya dengan kasar.
Braaak
"Hey! Sialan! Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa hah?" Tanya Gordon yang masih saja bersikap ketus.
"Dengar ya! Sekali lagi kau mengacuhkan Adikku, maka aku tak akan segan-segan memberimu pelajaran tambahan," ancam Diego
"Memangnya kenapa? Kalian dari keluarga Federic, dan aku membencinya. Karena kalian aku kehilangan Ratih, aku juga tidak ada disaat Virus lahir. Sampai mati aku membenci Federic, istrinya dan darah dagingnya. Jika bukan karena Virus aku tak Sudi menerima Moza. Tapi aku tak akan pernah mengakuinya sebagai menantuku," desis Gordon dengan suara lantang.
Moza masih bisa mendengar mereka berbicara, Valeria sengaja mengajak Moza mengobrol hal lain tetapi air mata Moza telah jatuh tiba-tiba. Dia tidak terisak, hanya air mata saja yang keluar dan berusaha tegar menyikapinya.
Valeria mengusap pundaknya, memberinya semangat dan kesabaran penuh. Yang terpenting adalah Virus, jangan pikirkan hal lain.
"Kau selalu mengatakan jika almarhum Ayahku yang menyebabkanmu kehilangan Ratih, memangnya kau punya bukti? Jangan asal menuduh! Arggh percuma saja aku berbicara dengan batu, permisi," ucap Diego kesal.
Diego kembali ke tempat semula lalu menggandeng tangan Valeria dan mengajaknya pulang.
"Sayang ayo kita pulang, Moza ayo pulang. Besok kita kembali lagi kemari. Virus juga tidak akan langsung sadar setelah operasi. Sudah malam, ayo," ajak Diego
"Kak, biarkan aku disini,"
"Untuk apa? aku tidak ingin kau terluka karena perbuatan Gordon. Dan lagi kau baru pulih, tolong jangan keras kepala,"
"Menunggu Virus di rumah sama saja aku tidak akan tenang. Aku ingin terus berada disampingnya, tolong kak turuti kemauan ku," pinta Moza
"Cih dasar keras kepala arghh," ujar Diego yang kesal dengan sikap adiknya.
"Sudahlah, biarkan dia disini. Aku temani ya Moza?"
"Tidak Vale, kau pulang saja. Diego jika sudah kesal pasti akan melampiaskan diri dengan mabuk, bisa-bisa dia akan lari ke pelukan Kate jika kau membiarkannya sendirian," ucap Moza sengaja menakuti Valeria agar wanita itu pulang.
"Moza bisa-bisanya dia berbohong," batin Diego
"Hmm benar juga perkataan Moza," batin Valeria
"Apa kau yakin sendirian di rumah sakit ini, tidak ada yang menjagamu. Nanti siapa yang akan membantumu saat masuk keruang perawatan Virus," ucap Valeria yang bingung harus menemani Moza atau berada dengan Diego.
"Aku bisa sendiri, dan lagi ada suster disini kan, aku bisa meminta bantuan padanya. Sudah sana pulang lah,"
"Tidak jadi, aku akan menunggu hingga operasi selesai. Aku harus pastikan kau aman hingga saat Virus dipindah keruang perawatan," ujar Diego
"Ya begitu lebih baik," timpal Valeria kemudian kembali duduk.
Tak berapa lama Gordon datang dengan berjalan pelan. Lorong rumah sakit yang sepi membuat beberapa gema suara langkah sepatunya, kemudian duduk di seberang Valeria. Semuanya terdiam saat pria tua itu datang, termasuk Moza yang tahu jika ada Gordon yang duduk disana.
"Aku haus, aku ingin beli minuman. Apa kau juga ingin minum, Moza?" Tanya Valeria bersiap membeli di kantin rumah sakit.
"Iya, aku haus,"
"Sayang belikan aku juga, ini uangnya," pinta Diego menyodorkan dompetnya pada Valeria.
"Ok aku akan membelikannya. Aku bawa uang sayang," ucapnya
"Ok hati-hati ya,"
Valeria pun pergi namun sampai ujung lorong Valeria menghentikan langkahnya, dia merasa pening. Diego melihatnya dan segera menyusul.
"Ada apa?"
"Entahlah kepalaku tiba-tiba pusing, dan pandanganku sedikit meremang,"
"Apa kau baik-baik saja? Atau kita sebaiknya pulang, mungkin kau kelelahan. Kita pulang ya?"
"Moza?"
"Aku akan menghubungi temannya untuk menemaninya, Aku khawatir padamu. Kita pulang ya?"
Valeria menganggukkan kepalanya,"tapi kau belikan Moza minuman dulu,"
"Ya, aku antar kau hingga mobil dulu lalu aku akan kembali dan membelikannya minum, ayo,"
Sementara disisi lain Gordon mengamati Moza yang terdiam mematung. Ada segudang pertanyaan di kepalanya.
"Istri Diego jauh lebih cantik, kenapa Virus tidak memilih wanita yang seperti itu malah memilih Moza yang memiliki wajah pas-pasan. Ratih bahkan jauh lebih cantik ketimbang Moza. Ditambah dia anak Federic, huh sungguh menyebalkan," batin Gordon.