My Name Is Virus

My Name Is Virus
Drama



Seorang anak buah Gordon mendekat, dan berbisik di telinga Gordon.


"Bos, dia meminta tambahan lebih,"


"Bukankah aku sudah memberi lebihannya?" jawab Gordon dengan suara berbisik


"Dia bilang kurang bos,"


"Ahh aku tidak peduli,"


"Dia mengancam akan buka suara bos,"


"Dia hanya menggertak, kita jangan memberinya lagi. Jika dia mengancam, habisi saja," ujar Gordon pada anak buahnya.


Mereka berbicara dengan suara berbisik, membuat Virus bertanya, "Apakah ada masalah, Ayah?"


"Tidak, tidak ada," jawab Gordon cepat


Tak berapa lama, Virus mendengar keributan yang berasal dari kamar Diego. Seperti suara wanita dan pria bertengkar.


Moza tahu betul itu suara Diego dan Valeria, ia pun segera turun dan berjalan menuju kamar Diego. Virus juga demikian, dengan segera turun dari ranjang dan mendorong selang infus dengan menggunakan tiang penyangga yang didorong.


Gordon yang masih berada di kamar Virus juga penasaran dan ikut menyusul mereka.


Plaaak


"Aahhh sakit," teriak suara Valeria.


Moza dan Virus bisa mendengar dari luar jika Diego menampar pipi Valeria. Moza mempercepat langkahnya meski kepalanya sedikit pening tetapi ia menahannya.


Belum sempat ia membuka pintu, Diego sudah membuka pintu duluan dan menyeret lengan Valeria lalu mendorongnya.


"Keluar, aku tidak ingin melihatmu!" pekik Diego


"Apa-apaan ini?" Tanya Virus mencoba menengahi.


"Kak ada apa ini?" Moza menghampiri Valeria dan membantunya berdiri.


Valeria menangis sambil memegangi pipinya.


"Ini urusan rumah tanggaku dengan wanita itu, kalian jangan ikut campur!"


"Aku saudara mu, dan dia sahabatku. Aku tidak akan terima jika kau memperlakukan Valeria seperti itu,"


"Jangan sampai Moza tahu," batin Diego


"Moza benar, aku juga tidak punya hak mencampuri urusan kalian. Tetapi kau tidak seharusnya main tangan seperti itu," desis Virus


"Hoh, bilang saja kalau kau masih mencintai Valeria dan sekarang kau ingin menjadi pahlawannya begitu?" terka Diego


Gordon yang berdiri dibelakang Virus, terlihat tersenyum miring kemudian kembali berwajah datar.


"Sudahlah Vale, Diego jika sudah marah akan sulit. Dia tidak akan mau mendengarkan perkataan orang lain. Kau ke kamar ku saja ya,"


"Tidak ada yang harus ku luruskan," ucap Valeria melepaskan tangan Moza. Kemudian dia kembali masuk dan menutup pintu kamar Diego.


"Siapa yang menyuruhmu masuk hah!" Teriak Diego.


Namun Moza dan Virus hanya bisa mendengar suaranya. Dan perdebatan pun kembali.


"Kak diamlah, dan dengarkan Valeria," Teriak Moza dari luar kamar.


Setelah Moza mengatakan itu, tak ada lagi suara keras atau pertengkaran.


"Sepertinya amarah Diego sudah mereda," ucap Virus


"Ya ku rasa, mungkin tidak secepat itu. Maksudku, mungkin mereka hanya saling diam,"


"Sudahlah kalian kembali ke kamar lagi. Mereka sudah besar pasti bisa mengurus masalahnya sendiri," ucap Gordon


Sementara yang terjadi didalam kamar.


"Sayang, kenapa kau menjatuhkan dirimu, aku takut calon bayi kita kenapa-kenapa," bisik Diego kemudian mengelus perut Valeria yang belum membesar.


"Aku menahannya dengan tanganku. Aku tidak menjatuhkan tubuhku sayang. Bagaimana akting ku, bagus tidak?"


"Setelah ini aku akan berbicara dengan Gordon, dan merekam pembicaraanku dengannya. Semoga saja Gordon mengakui apa yang kita duga selama ini," ucap Valeria


"Jangan lupa, curi ponselnya dan masukkan ini kedalamnya," Diego menyerahkan alat pemindai kepada Valeria.


"Sebuah alat menyerupai USB kecil, jika dimasukkan ke sebuah ponsel maka semua data yang ada di ponsel tersebut akan dipindah dan tercopy secara otomatis," jelas Diego.


"Kau mendapatkan alat ini darimana?" Valeria mengernyitkan dahinya.


"Andi yang memberikan, sebelum dia pulang ke Indonesia,"


"Hmm dia pandai menciptakan berbagai alat. Jadi Aku harus mencurinya? Jika demikian aku harus melakukannya dengan cepat lalu setelah aku mendapatkan data itu, Aku akan mengembalikannya? Tapi bagaimana caranya?"


"Sebaiknya kau menunggunya sekarang didepan. Saat dia keluar kau tahan dia, dekati dia atau kau peluk sehingga kau dengan mudah mengambil ponselnya. Setelah dia pergi, kau segera masukkan alat itu. Lalu kau ke kamar Virus dan meninggalkan ponsel itu dia sebuah kursi atau meja,"


"Kau menyuruhku untuk memeluknya? Kau tidak cemburu?"


"Ini hanya untuk misi kan sayang? Dan lagi dia pria tua,"


"Justru wanita lebih menyukai pria tua dan mapan, seperti Milady,"


"Siapa Milady?"


"Dia tokoh di sebuah novel karya Septira Wihartanti. Aku berulang kali membacanya dan tak pernah bosan,"


"Arghh kenapa jadi bahas novel. Skip. kembali ke pembicaraan sebelumnya,"


"Oke aku mengerti sayang, aku akan menabraknya dan mengambil ponselnya. Tapi aku tidak tau dimana dia menaruh ponselnya?"


"Aku punya nomernya. Aku akan menelponnya dengan menyembunyikan identitasku. Aku akan berdiri di depan pintu itu," ucap Diego


Pintu kamar itu memiliki jendela dengan permukaan buram. Meskipun buram, Diego masih dapat melihat siapa yang keluar atau masuk dari kamar Virus.


"Baiklah aku keluar sekarang, sebelum dia pergi," pamit Valeria namun Diego menarik lengannya dan mengecup bibirnya dengan mesra


"Aku mencintaimu," bisik Diego


"Aku juga mencintaimu,"


.


.


.


Beberapa menit sejak Valeria duduk di bangku depan ruang kamar Diego. Gordon keluar dari ruangan Virus. Diego segera meneleponnya. Dan Gordon mengeluarkan ponselnya dari saku dalam jas bagian kiri. Lalu Diego mematikan sambungan telepon itu, saat Gordon ingin mengangkatnya.


"Dasar telepon iseng," gumamnya menaruh kembali ke dalam kantong dibalik jas sebelah kiri.


Bruuk


Valeria langsung menabrak Gordon. Disaat itulah tangannya masuk ke dalam jas, dan memasukan ponselnya ke dalam lengannya. Valeria memakai pakaian berlengan panjang dan itu sangat membantunya.


Lalu segera Valeria mencengkeram kerah Gordon sambil mengeluarkan air mata yang disertai dengan amarah


"Kau senang hah? Gara-gara ulahmu Diego tak mempercayai ku. Kenapa kau begitu? Apa kau baru saja mengakui jika dirimu takut dengan ancamanku. Itu berarti kau telah melakukan kejahatannya," Terka Valeria dengan sesekali menghardiknya.


"Aku hanya ingin damai, terlepas aku salah atau tidaknya yang jelas Aku tidak ingin kau menceritakan kisah yang bisa membuat Virus membenciku,"


Gordon memerintahkan bodyguardnya menunjuk dengan dagu untuk menarik Valeria dari hadapannya.


Valeria terlepas dan Gordon pergi, dia tak menyadari jika ponselnya telah dicuri.


Segera Valeria melancarkan aksinya memasukan benda kecil kedalam ponsel itu. Kemudian muncul tulisan being copied dan gambar diagram 100 persen berjalan mundur. Saat mencapai angka 15 persen. Gordon muncul lagi di ujung lorong dan kini sedang berjalan menuju ruangan Virus.


"Sialan, Aku harus masuk,"


Valeria masuk kedalam kamar ruangan Virus dan menyapa keduanya. Sesekali mengintip ponsel Gordon yang ada ditangannya. Proses pemindaian belum juga selesai.


Saat Ia berjalan mendekati Virus. Gordon membuka pintunya dengan kasar dan membuat Valeria terkejut.


"Mampus," batin Valeria