
Gordon tak percaya, secepat itu Virus menerima keberadaannya bahkan mengajak untuk ikut dengannya. Pria itu sempat berpikir jika Virus akan menolaknya dan tidak akan pernah memanggilnya dengan sebutan 'Ayah'.
"Kau sudah besar dan sangat kuat," ucap Gordon seraya menyentuh pipi anaknya dengan sejuta air mata membanjiri pipinya.
Meski Virus tak mengerti apa yang diucapkan Ayahnya, karena dia bicara hampir tak ada suara, dan juga ia sedang menangis.
Gordon mendekat, mengecup kening Virus. Saat itu juga hati Virus terkoyak. Perasaan benci yang bertahun-tahun ia tuju untuk ayahnya hilang seketika saat kecupan itu mendarat di dahinya.
Perasaan itu berubah menjadi kehangatan. Meskipun Virus telah mendapatkan kasih sayang dari Ayah angkatnya tetap saja perasaan itu tak sama jika dibandingkan dengan kasih sayang yang Gordon berikan walaupun baru sekejap.
Virus langsung memeluk Gordon sembari menuangkan air mata di pundaknya. Gordon membelai rambutnya dengan pelan sembari berkata, "Bagaimana kabar Ratih, dimana Ibumu?"
Kreek
Hati Virus semakin pedih saat Ayahnya menanyakan kabar tentang Ibunya, menanyakan keberadaan Ibunya. Tak tahukah Ayahnya bahwa Ibunya telah lama meninggal. Bahkan sebelum meninggal pun Ratih sangat menderita. Ia hidup dibawah tekanan dan hujatan orang lain. Meskipun begitu Ratih sangat bahagia karena telah mengandung buah hatinya dengan Gordon.
"Ibu...." Virus tak dapat melanjutkan kalimatnya. Ia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Gordon dengan kedua tangannya.
"Ibu telah lama meninggal...," air mata Virus mengalir lagi. Ia laki-laki tapi tidak dapat menahan pedihnya hati jika soal orang tersayang. Sementara Gordon terdiam, terpaku tak percaya. Mata merahnya semakin meluapkan air mata kesedihan.
"Tidak...Ratih masih hidup, dia selalu memanggilku dalam mimpi," ucap Gordon dengan isak tangis.
"Beberapa jam setelah melahirkanku, dia terpeleset kamar mandi. Kepalanya terhantam batu pengganjal pintu kamar mandi," cerita Virus sembari menyeka air matanya.
"Batu pengganjal pintu kamar mandi? Tak adakah pengait untuk mengunci pintunya? Separah itukah hidupnya?" Batin Gordon.
"Kau tak tahu betapa tak layaknya rumah Ibu saat itu. Selama mengandungku dia hidup dengan tekanan batin. Kata Ayah angkat ku meskipun Ibu hidup sendiri dan diasingkan, dia selalu selalu terngiang sembari memandangi sawah dan mengelus perutnya yang besar," kata Virus dengan senyum
"Ayah, tidak ada waktu lagi. Aku rasa ada orang terdekatmu yang berkhianat, kau harus meninggalkan tempat ini," timpalnya lagi berusaha untuk tidak larut dalam kesedihan.
Tak berapa lama pria itu segera bersembunyi saat mendengar suara langkah kaki bersepatu datang mendekat. Gordon segera menghapus air matanya yang berlinang.
Ceklek
"Bos, Anda belum tidur?" Tanya Luke seraya mengendus parfum aroma lain. Seperti ada dua aroma berbeda dalam satu ruangan itu.
"Kenapa dengan wajahnya, terlihat sembab seperti habis menangis," batin Luke.
"Ada apa? Aku terbangun karena kau ribut," ucap Gordon dengan suara yang tidak jelas dan dia sedikit memakai isyarat dengan tangannya untuk menjelaskan.
"Salah satu anak buah kita tewas tepat di depan pintu masuk apartemen mu," ujar Luke
"Sudah kau urus mayatnya? Dan sebaiknya kau cari tahu masalah itu ditempat lain, karena aku ingin istirahat. Tinggalkan aku sendirian di apartemen ku. Pergilah!" Perintah Gordon.
Luke pun tak bisa mengatur bosnya, jika dia ingin sendiri maka pria itu harus pergi tanpa penjagaan apapun di apartemen itu.
Setelah dirasa aman, Gordon menyuruh Virus keluar dari persembunyiannya.
"Keluarlah, sudah aman," pinta Gordon, Virus pun keluar.
"Aku akan ikut denganmu, tolong bantu aku kemasi barangku," pinta Gordon.
Virus tersenyum simpul, ia segera mengambil koper di sisi lemari dan memasukkan pakaian Gordon, senjata dan sebuah foto di pigura kecil yang selalu dia bawa.
Setelah itu Virus mendorong Gordon dengan kursi roda karena pria itu belum bisa berjalan dengan cepat. Dengan hati-hati Virus membawa pria itu keluar dari apartemen agar tidak berpapasan dengan anak buah Gordon. Dia melewati lift khusus pelayan dan keluar lewat dapur gedung itu untuk menghindari rekaman cctv.
"Kita aman," ucap Virus seraya masuk kedalam mobil setelah mendudukkan Gordon di kursinya.
"Aku akan membawamu ke klinik pengobatan China. Sudah tutup tapi khusus untuk ku dia bersedia buka 24jam, kau tahu kenapa? Karena dia temanku,"
"Aku senang kau mempunyai banyak teman,"
"Huft," Virus membuang napas kasar kemudian melanjutkan ,"Tidak, saat aku kecil aku tidak punya teman. Dan namaku menjadi bahan bullyan mereka," ucap Virus sedikit menyindir Ayahnya.
Gordon menundukkan kepala dan sedikit menyesal dengan pemberian namanya. Tapi karena nama itulah Virus mendapatkan hikmah yang luar biasa.
Sesampainya di tempat pengobatan China, Gordon langsung diperiksa. Lee Min Shin, bukanlah Lee Min Ho yang seorang aktor. Panggilannya Shin, dia ahli pengobatan China. Obat-obatan yang diraciknya berbeda dari resep dokter pada umumnya. Dia juga sempat ditahan karena obat-obatannya diragukan namun seiring berjalannya waktu, Shin mampu membuktikan dengan kemampuannya dalam menelisik dan menganalisa penyakit serta keahliannya dalam membuat racikan obat sangat mujarab.
"Dia stroke karena adanya racun dalam aliran darahnya," ucap Shin yang hanya dengan menyentuh urat nadi dan syaraf di beberapa titik tubuh Gordon.
"Jadi dia seperti ini bukan karena jantungnya?" Tanya Virus menelisik
"Ya kurang lebih seperti itu, jantungnya sendiri sebenarnya baik-baik saja jika tidak ada racun yang menyentuhnya. Aku akan mengeluarkan racun itu dan memberinya obat penetral. Dan untuk membangkitkan syaraf bicaranya aku akan mengobatinya dengan cara akupuntur,"
"Hemm lakukanlah yang terbaik," ucap Virus
Pengobatan China pun dimulai. Gordon diberi sebuah ramuan yang sangat pahit. Beberapa menit kemudian Gordon muntah, kemudian ia harus meminum kembali obat pahit itu sampai beberapa efek muntahnya hilang. Lalu Pria itu direbahkan di ranjang kayu. Shin mulai memberinya tusukan-tusukan jarum di titik syaraf bicara dan syaraf lainnya untuk menstabilkan sistem gerak dan jalannya.
Di lain sisi, Azkha telah menginformasikan keberadaan Gordon yang tak lain adalah Sam kepada Virus.
"Bos, Gordon berada di kawasan bukit pasir. Haruskah saya dan tim lain menangkapnya?" ketik Azkha pada pesannya setelah itu ia mengirimkannya kepada Virus.
"Gordon? Jelas itu Gordon palsu. Aku harus kesana tetapi aku tidak yakin di sini aman," gumam Virus
"Untuk sementara kau pantau terus, jangan melawannya sendirian. Dan Aku ingin beberapa tim black Knight datang kemari, aku akan share lokasinya setelah ini," balas Virus kemudian mengirimkan lokasinya pada Azkha.
Tak berapa lama Diego menelepon Virus.
"Ada apa Diego? Bagaimana keadaan Moza?" Tanya Virus dari seberang telepon
"Virus, kau dimana?"
"Kau belum menjawab pertanyaan ku. Aku di klinik pengobatan China--," ucapan Virus terputus karena Diego menyelanya.
"Untuk apa kau kesana?" Tanya Diego
"Aku membawa Gordon kemari, ada hal yang harus kau ketahui bahwa...,"
Tut...Tut...Tut...
Belum sempat Virus menyelesaikan kalimatnya, Diego sudah menutup teleponnya. Dan tiba-tiba Virus menyalahkan dirinya.
"Shiit seharusnya aku tak mengatakannya di telepon, dia pasti kemari untuk membuat perhitungan. Dia pasti seperti ku yang mengira jika Gordon lah yang telah menembak Moza," Gumam Virus