
"Ya udah Indi kerja lagi ya...Love you Mas Andi," ucap Indiana lewat telepon di siang hari.
"Iya...met kerja sayang. Love you to," balas Andi
Seperti biasa setiap jam istirahat kerja atau malam sebelum tidur, pasangan yang di jodohkan itu selalu berkomunikasi lewat telepon. Namun ketika ia menjawab kalimat terakhir, ada yang kurang di benak Andi.
"Cinta? Apa aku yakin aku mencintainya?"
Pria itu memikirkan perasannya pada Indiana. Andi merasa cocok tapi entah kenapa di sisi lain ia terus terbayang sosok wanita lain yang pernah ia jumpai di markas Black Knight, Texas.
Azkha, sosoknya kerap kali muncul di pikiran Andi. Dia salah satu anggota Black Knight yang beragama muslim dan tak pernah meninggalkan ibadahnya ditengah orang-orang yang berbeda keyakinan dengannya. Pekerjaannya yang menantang hidup membuat Andi terus memikirkannya meski dia tak ingin memikirkan karena Dia memang bukan siapa-siapa, teman pun bukan.
"Aku rasa dia hidup tidak mudah, Ah kenapa dia terus menghantui pikiranku. Aku gak boleh memikirkan wanita lain," gumam Andi menepis hal yang terus membayangi pikirannya.
"Aku harus memantapkan hati ku untuk Indi. Sebaiknya aku tarik ulur saja, selama seminggu aku tidak akan menghubunginya dan tidak usah menemuinya. Aku ingin lihat apakah ada rindu untuk Indi," Setelah itu Andi tidur siang
Di lain tempat. Jika di Indonesia pukul satu siang maka di Texas, menunjukan pukul sembilan malam. Zona waktunya lebih lama dari Indonesia.
Di apartemennya yang baru Rachel dan Chris sedang menonton televisi. Sementara Diego sedang mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Aku harus ke Nevada karena rapat ini membutuhkan kehadiran ku," gumam Diego
Tiba-tiba ada tangan yang mengusap bahunya lalu menjalar ke dadanya. Terdengar napas yang menyentuh daun telinganya. Ada sesuatu yang kenyal menjepit daun telinganya kemudian melesat ke pipi Diego.
"Sayangku," ucap Diego memalingkan wajah dari kerjaan setumpuknya beralih menatap seseorang yang memeluknya dari belakang.
Valeria menyentuh rahang suaminya itu kemudian mengecupnya dengan kecupan kecil sembari memejamkan mata, menghirup aroma napas Diego yang wangi. Dan merasakan kenikmatan saat sepasang suami istri itu sedang bercumbu.
Valeria menghentikan kecupannya dan memandang Diego penuh cinta lalu berkata, "Diego, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," balas Diego menarik tangan Valeria dan menyuruhnya duduk di pangkuannya.
Valeria duduk dipaha Diego sebelah kanan, kemudian melingkarkan tangannya ke leher Diego sembari mengusap rambutnya. Diego mencium leher jenjang Valeria membuat kecupan kecil lalu mencubit beberapa daging dengan bibirnya dan ia resap dengan lembut hingga Valeria merintih sakit namun membuat tubuhnya bergairah.
"Ahh," desahhan kecil semakin menarik Diego menjadi liar.
Stempel cap merah di leher telah tertera disana, tangan besar Diego menjalar ketubuh Valeria di bagian yang menggunung. Tanpa melihatnya dan sambil mengecup bibir, pakaian lingeri yang Valeria gunakan pun telah terbuka.
Diego meremas dibagian menggunung sebelah kanan sementara dibagian kiri ia memainkan benda berbukit yang kenyal dan berwarna pink di pucuk yang mulai mengeras dengan lidahnya.
Sesekali Valeria melenguh dengan desah manja membuat Diego tertantang untuk memulai aksi liarnya. Di ruang kerja yang berukuran kecil pria itu menyingkirkan laptop dan kertas kerjanya lalu beranjak dan mengangkat tubuh Valeria dan mendudukkan di atas mejanya. Dan pria itu membuka pakaiannya memperlihatkan otot-otot lengan dan perut.
Diego membuka kedua paha Valeria dengan lebar dia memulainya disana memainkan dengan jarinya dan sembari mengecup bibir Valeria. Ketika sudah dirasa basah Diego memasukkan senjata miliknya.
"Sayang pegang leherku aku akan melakukannya dengan menggendong mu,"
Valeria pun mengalungkan kedua tangannya di leher Diego dan berpegangan dengan erat. Sementara Diego mengangkat tubuh istrinya yang sangat ringan baginya. Di lain sisi Valeria takut jika terjatuh.
"Silangkan kakimu sayang, dan capit dengan erat. Jangan berpikir macam-macam biarkan aku yang bekerja,"
Valeria mengikutinya dan permainan panas semakin berkeringat. Terlihat otot-otot tangan Diego yang mengeras, menahan beban Valeria dan Valeria merasa gila saat Diego menggerakkan dirinya.
Mereka melakukannya berbagai gaya dan berbagai fantasi yang mereka punya. Hanya mereka yang tahu, pembaca tidak boleh mengintip ya apalagi yang dibawah umur hehe.
.
.
.
Virus kembali kerumah dengan rasa aman. Moza di pindahkan ke tempat tidur di lantai bawah. Dibantu oleh James, petugas administrasi dari rumah sakit yang membantunya saat itu. Setelah membayarnya tunai petugas itu pun pulang.
Ada seseorang yang mengintip saat James masuk ke dalam mobil ambulans. Ia pun menoleh ke belakang, lalu mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Seperti ada yang melihat ku? Tapi tak ada siapapun...Hiii jangan-jangan setan," James bergidik lalu segera masuk dan menjalankan mobil ambulans dengan cepat.
Virus memandangi Moza yang terbaring koma seraya berbisik, "Sayang, apa kau tidak merindukan aku?"
Tak ada jawaban, tak ada gerakan namun Virus tersenyum dan mendekati wajah Moza lalu mengecup bibirnya. Setelah itu ia membelai rambutnya yang berwarna hitam.
"Aku belum makan, sejak malam di hari pernikahan kita. Dua hari sayang, mana bisa aku makan sementara kau terbaring koma? Aku tidak bersemangat melakukan apapun. Bangunlah sayang...Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan," Virus meneteskan air mata kemudian ia menyekanya.
Virus membuka pakaiannya dan bergegas ke kamar mandi namun sebelum ia meninggalkan Moza di kamar, pria itu memandanginya sembari bersandar di tembok dekat pintu.
"Moza aku mandi dulu ya, aku tinggal sebentar. Tidak lama kok hanya mandi, " pamit Virus dengan senyum menatap Moza, seakan-akan Moza mendengarnya.
Saat Virus berbalik badan, ada sesuatu yang menusuk perutnya. Tak hanya sekali namun berkali-kali senjata itu keluar dan masuk lagi ke perut Virus dan merobek dagingnya.
Setelah itu pisau yang menancap pun diambil lagi oleh si pemilik. Lalu ia menunju wajah Virus dan tubuhnya didorong hingga jatuh terpental. Virus masih kesakitan karena benda tajam yang menusuk dirinya.
Orang yang menusuk Virus itu bertopeng kain hitam dan hanya bola matanya yang terlihat. Lalu ia masuk ke dalam kamar Moza membawa senjata yang sudah berlumur darah. Sosok itu berpawakan laki-laki dan dia ingin melakukan hal yang sama pada Moza, seperti yang ia lakukan pada Virus.
Darah keluar dari mulut Virus, dia sudah mengejang kesakitan. Namun saat melihat pria itu masuk ke dalam kamar Moza, dengan susah payah Virus berusaha bangkit dan menyelamatkan Istrinya.
Langkah pria itu semakin mendekati ranjang tempat Moza terbaring, ia melihat Moza dengan berbagai peralatan medis yang terpasang ditubuhnya. Sebelum pria itu menikamnya, pisau itu pun di usapkan ke pipi Moza. Kemudian ia memainkan pisau menuruni leher hingga kebagian dada Moza yang berisi. Ia pun mulai mengangkat pisau dan bersiap menikamnya.