My Name Is Virus

My Name Is Virus
Virus Sadar




Valeria duduk ditepi ranjang, sambil melihat kondisi Virus. Dia teringat saat pertama kali berjumpa dengan pria itu. Sangat berkharisma dan energik, berbeda dengan sekarang. Terbaring lemah karena sebuah luka tusukan. Siapa sangka pria yang pernah mengambil hatinya meski sebentar, kini telah menjadi adik iparnya.


"Virus, berjuanglah dan segeralah pulih. Moza membutuhkan mu," ucap Valeria dengan pelan, kemudian ia mengusap tangan Virus memberinya semangat.


Setelah itu Valeria beranjak berdiri ingin kembali ke kamar, siapa sangka Virus menangkap jemari Valeria dengan pelan.


"Kau sudah sadar?" Tanya Valeria kembali mendekat dan melepaskan genggaman Virus dengan meletakkan kembali diatas ranjang.


"Aku sudah sadar sedari tadi namun sedikit pusing. Aku mendengar samar-samar kau menyebut nama Moza. Apakah dia sudah sadar dari komanya?" ucap Virus lirih.


Valeria lupa jika Virus memiliki keistimewaan pada tubuhnya, kekebalan antibodinya membuat Virus cepat sembuh. Semua karena efek percampuran zat kimia khusus yang masuk ditubuhnya saat dirinya masih berada dalam kandungan.


"Hemm ya dia sudah sadar dari koma dan sekarang Moza harus dirawat kembali," ucap Valeria sedikit ragu.


Ia enggan menceritakannya karena Virus baru saja melewati masa kritis.


"Kenapa aku selalu berada di posisi saat orang itu baru saja melewati masa kritis, tadi malam Moza dan pagi ini Virus. Semoga Diego tersadar saat aku berada disampingnya," batin Valeria


"Ah syukurlah, lalu dimana dia?"


"Dia....Dia terpaksa harus kembali lagi ke rumah sakit,"


"Apa maksud mu?" Tanya Virus


Pria itu menginginkan jawaban yang lebih, ia bahkan mencoba untuk beranjak duduk. Namun luka di perutnya masih basah dan masih terasa sakit.


"Kau berbaring saja," seru Valeria


"Ahh perutku, rasanya pisau itu masih menancap di perutku,"


"Ya karena ususnya mengalami kebocoran, kau sebaiknya jangan banyak bergerak hingga luka mu tertutup dengan sempurna,"


"Mana bisa aku diam, ini soal Moza. Ada apa dengannya?" ucap Virus yang masih ingin duduk.


"Dasar keras kepala, ya sudah sini aku bantu," Valeria membenahi letak bantal Virus agar dia bisa duduk dengan bersandar


"Terimakasih,"


"Sama-sama," Valeri pun ingin mengambil kursi.


"Duduk saja disamping ranjang ini, jika kau memakai kursi, aku akan kesulitan jika melihat ke arah bawah," ucap Virus


"Oh baiklah,"


"Katakan, apa yang terjadi selama aku tertusuk. Dan kenapa Moza sampai masuk rumah sakit? Apa ada hal yang buruk? Hemm katakan," ucap Virus tidak sabar.


Valeria kemudian memulai bercerita tentang apa yang ia tahu.


"Begitu ceritanya. Moza sadar setelah James membawamu ke rumah sakit,"


"Lalu apakah Moza mencariku?" Tanya Virus yang penasaran siapa yang pertama kali Moza ingin lihat ketika pertama kali sadar


"Tentu saja, dia menanyakanmu. Tapi kondisinya sekarang dia mengalami kebutaan. Kata Dokter itu hanya bersifat sementara,"


"Astaga dia pasti mengalami masa sulit, Aku tidak ada disampingnya,"


"Moza bersikeras ingin melihatmu. Aku membawanya kemari dan dia bertemu Gordon. Kau tahu bagaimana reaksinya? Dia mengacuhkan Moza saat pertama kali bertemu. Diego tidak terima karena sikap Gordon yang acuh itu telah menyakiti hati adiknya. Gordon malah mengatakan jika dia membenci keluarga Federic. Kemudian aku pusing,"


"Kau mungkin kelelahan,"


"Hemm iya awalnya aku berpikir seperti itu, tetapi ternyata aku hamil,"


"Wow, selamat Vale,"


"Ia takut, jika Gordon akan menyakiti ibunya. Tetapi yang terjadi mereka tidak bertemu Gordon ataupun anak buahnya. Keberadaan mu pun seperti sedang disembunyikannya,"


"Memangnya Diego tidak menanyakannya ke bagian pendaftaran pasien?"


"Sudah, dan jawaban mereka tidak tahu. Diego mengabariku lewat pesan chat, ia mengatakan semua pekerja di rumah sakit itu seperti telah disuap. Kemudian mereka pulang," ujar Valeria


"Tak disangka mereka mengalami kecelakaan tunggal. Polisi bilang penyebabnya karena orang yang mengendarai truk itu mabuk berat dan membuat Diego kesusahan menyetir," Valeria diam, dia ingin menangis mengeluarkan air matanya namun ia tahan.


"Diego patah tulang, Rachel dan Ayahku mengalami luka kecil,"


"Lalu Moza?" Tanya Virus tak sabar


"Pipi Moza bagian kanan terkena pecahan kaca Dia belum sadarkan diri tetapi dokter mengatakan hal terburuk akan terjadi mengingat kondisi kepala Moza yang belum sembuh,"


"Astaga, ingin rasanya aku melihatnya,"


"Aku akan mengantarmu menemui Moza, tapi tidak sekarang. Lihat kondisimu, berikan waktu penyembuhan untuk luka-lukamu itu,"


"Tunggu kau bilang saat di tikungan, Truck itu sempat melaju pelan. Seolah-olah dia tidak mabuk, karena dia bisa berpikir untuk mengontrol laju jalan. Ada yang tidak beres, aku curiga pasti ada seseorang yang ingin mencelakainya," Terka Virus


"Iya, aku juga curiga jika ada seseorang yang ingin berniat jahat pada keluarga Federic,"


"Pemikiran mu sama denganku. Tapi siapa yang ingin berniat jahat?" ujar Virus


"Siapa lagi kalau bukan orang yang bermasalah dengan Federic, Ayahmu Gordon," ucap Valeria


"Tidak mungkin,"


"Astaga Virus kemana dirimu yang selalu berpikir dengan logika, cerdas lah sedikit kali ini. Buka matamu," ucap Valeria meninggikan suaranya tetapi dia masih berusaha berbicara pelan seperti berbisik karena dia tidak ingin Gordon mendengarnya.


Valeria mendekatkan dirinya, dia ingin berbicara dekat kuping Virus. Tetapi dia melihat ke sekelilingnya jika tidak ada Gordon disana.


Kini wajah mereka berhadap-hadapan, Gordon yang sedari tadi mengamati Valeria pun memiliki ide. Jika dari arah pintu kamar, melihat Valeria dan Virus berbicara sangat dengan. Mereka seperti sedang berciuman, Gordon lekas mengambil ponselnya dan memotret mereka.


"Valeria terlalu pintar, jika suatu saat Valeria mengungkap kebohonganku, aku harus menjadikan ini sebagai tutup mulutnya. Dia pasti takut jika Diego salah sangka," batin Gordon.


"Dengar Virus, Gordon sebelumnya mengatakan, dia amat membenci keluarga Federic. Lalu diatiba-tiba datang ke ruang perawatan Diego. Dia mengatakan jika dia sedih mendengar keluarga Federic mengalami kecelakaan. Apa itu tidak aneh? Bukankah itu sesuatu yang sangat mengganjal?"


Virus diam, dia bukannya menyangkal. Tapi dia masih tidak percaya terhadap apa yang dilakukan Ayahnya. Benarkah Gordon orang yang menyebabkan satu keluarga itu kecelakaan.


Virus melihat cahaya pintu kamarnya terbuka sedikit.


"Ada yang menguping pembicaraan, oke aku akan bermain denganmu," batin Virus.


"Valeria aku tidak percaya jika Gordon melakukan itu pada keluarga Federic. Dia pernah bertemu Diego dan mereka terlihat baik-baik saja juga tidak mungkin dia mengacuhkan Moza. Kau tahukan sikap Ayahku memang selalu dingin terhadap siapapun," ucap Virus yang sengaja membesarkan Volume suaranya.


Dia mengecoh orang yang ingin mendengar pembicaraannya dengan Valeria, sementara Valeria kesal dengan sikap Virus yang masih percaya dengan Ayahnya.


Virus berusaha memberikan kode kepada Valeria dengan matanya, jika sedari tadi ada yang menguping. Valeria tidak mengerti, dia sampai mengerutkan kening.


"Kemari mendekat lah," ucap Virus karena tidak mungkin jika dia yang mendekat, perutnya masih sakit jika tertekan sedikit.


"Apa," Valeria mendekat lebih dekat, ia sedikit memiringkan wajahnya dan mendekatkan telinganya agar Virus bisa berbisik.


"Ada yang mengamati kita sedari tadi, perkataan mu sepertinya benar. Kita harus mengungkap apa yang terjadi sebenarnya. Rencananya, Aku akan mengatakan jika aku tetap mempercayai Ayahku, dengan begitu Dia akan merasa aman padahal sebenarnya kita mengawasi," bisik Virus yang mendapat tanggapan setuju oleh Valeria.


Setelah itu agar tidak ada kecurigaan, Virus membelai rambut Valeria dan tersenyum padanya.


"Astaga jangan membuatku salah tingkah," bisik Valeria


"Haha kenapa? Apa kau masih belum melupakan ku," ucap Virus dengan nada bicara yang dibesarkan.


"Aku salah tingkah karena Kau tampan, bukan berarti aku belum bisa melupakan. Aku juga wanita normal. Sudah ya, aku pergi ke kamar Diego..bye. Istirahatlah,"