
Byuuur
Virus menyiramkan air segelas ke wajah Andi. Pria itu langsung beranjak dari tidurnya, wajahnya basah dan ada sedikit air yang masuk ke rongga hidungnya. Setelah sadar ia pun bingung sembari melihat keadaan sekelilingnya.
"Bukannya tadi aku lagi menyiram tanaman kenapa aku di dalam?" Tanya Andi kebingungan.
"Menyiram tanaman? Kau dari tadi tiduran di sofa itu," ucap Moza
"Kau tidur dan terus bergumam sesuatu," ucap Virus yang dimaksud adalah kalimat istighfar.
"Ayo kerumah ku, kita makan siang," seru Moza
"Ayo sayang, sepertinya Andi masih belum sadar dari mimpinya ahha," ajak Virus lagi
Moza dan Virus melangkah pergi sementara Andi masih bingung, dia segera beranjak dan menarik lengan Virus
"Hey kemarilah, Aku melihat kalian ke kamar dan sedikit mendengar apa yang kau katakan di dalam. Kau memberinya obat memar lalu Moza merintih... kau dan dia...apa kau begituan dengannya?" bisik Andi pada Virus yang ingin tahu.
"Pikiranmu messum, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya membantunya mengoleskan obat memar, setelah itu aku membangunkan mu," jelas Virus
"Berarti aku tadi mimpi, ishh ini gara-gara aku menonton video begituan uh. Tak patut tak patut," gumam Andi seraya menirukan suara upin-ipin di kalimat akhirnya.
Rupanya Virus dan Moza tidak melakukan hal diluar batas. Meskipun mereka tinggal di negara bebas, tetapi Moza tak ingin melakukannya. Wanita itu sudah mendapatkan peringatan dari Ibunya untuk tidak melakukan freesex.
Saat Andi melihat Virus menggendong Moza dan masuk ke dalam kamar kemudian mendengar rintihan, ia pun segera memejamkan matanya tak ingin berpikir macam-macam tetapi malah tertidur pulas dan terbawa ke alam mimpi liarnya. Itulah akibatnya menonton video dewasa.
"Sudah jangan berpikir macam-macam, meskipun Moza selalu memancing hasrat ku tapi aku akan menjaganya," sahut Virus kemudian menepuk pundak Andi
"Kalian sedang apa? Kenapa bisik-bisik?" Tanya Moza
"Hahaha tidak apa-apa. Ayo aku juga sudah lapar," ujar Andi kemudian melangkah duluan meninggalkan Virus dan Moza.
Mereka berjalan kaki karena rumahnya sangat dekat, hanya lima langkah dari rumah. Sesampainya di rumah Moza, ia membuka daun pintu tapi terkunci. Tak biasa rumahnya terkunci, mungkin sedang tak ada orang di rumah. Lalu tak berapa lama, Rachel membuka pintu dan melihat Virus sedang merangkul Moza dengan pandangan tak senang. Pria itu juga menatap Rachel dan kemudian tersadar lalu melepaskan rangkulannya.
"Kau dari mana?" Tanya Rachel pada Moza
"Menjemput Virus di bandara, tadi aku mencari Ibu tapi tidak ada dirumah, jadi ku tinggalkan pesan ke ponselmu," ucap Moza kemudian ia merangkul ibunya dan menuntunnya untuk masuk. Moza juga mengajak Virus dan Andi masuk dengan isyarat tangannya.
"Aku tidak membawa ponsel ku. Moza, Virus dan kau Andi duduklah ada yang ingin ku bicarakan," ucap Rachel
"Bagaimana kalau Ibu membicarakannya sembari makan, terus terang saja kita sudah kelaparan hehe," ucap Moza mencoba mencairkan suasana.
"Ya, kita berbicara sambil makan," ucap Rachel kemudian masuk duluan ke dalam
Virus menarik lengan Moza dan berbisik, "Kenapa sikap Ibumu berubah? Dia seperti tidak suka denganku,"
"Dia begitu setelah tahu kalau kita berpacaran," balas Moza berbisik.
"Huff firasat ku tidak enak,"
"Ya itulah yang aku pikirkan tadi saat kau melamar ku," jawab Moza
"Jika Ibumu menentangnya, jangan takut dan jangan ragukan cinta ku. Kita hadapi bersama," ujar Virus lalu pria itu mendapat pukulan kecil di bahunya.
"Iya," jawab Virus
Mereka masuk ke dalam menuju ruang makan. Virus merasakan aura hitam menyelubungi Rachel. Pria yang terbiasa melihat kematian kini malah menciut ketika menghadapi seorang calon mertua. Lututnya terasa gemetar seakan tak mampu membawanya berjalan.
"Ayo duduklah," titah Rachel pada Virus dan Andi. Wanita paruh baya itu sudah duduk di bangkunya dan Virus duduk dihadapannya.
Setelah Moza menaruh makan di piring Ibunya, wanita itu mengambilkan makanan untuk Virus lalu menaruh piringnya di mejanya setelah itu ia mengambilkan makanan untuk Andi. Virus sebenarnya ingin langsung memakannya, karena aroma makanan itu sangat lezat, tetapi entah kenapa mendadak ia tidak berselera.
"Kenapa hanya di pandang saja?" Tanya Moza menatap Virus kemudian berganti menatap ibunya.
"I-iya aku makan," ucap Virus mendadak kaku dan salah tingkah.
"Katanya ada yang mau dibicarakan tetapi kenapa ibu diam saja," batin Moza sembari memasukan makanan ke mulutnya dan menatap Ibunya sesekali.
Andi sudah menghabiskan sepiring makanannya dan pria itu meminta tambah. Sementara, Virus yang biasanya nomer satu dalam menghabiskan makanan, tetapi untuk saat ini. Di piringnya masih tersisa banyak.
"Kau sakit? Kenapa tidak berselera?" Tanya Moza dengan sedikit mendekat
"Ayo dihabiskan, makanlah yang banyak. Setelah makan, aku akan bicara pada kalian," ucap Rachel yang telah menghabiskan makanan di piringnya.
Wanita itu kemudian beranjak dari ruang makan menuju teras belakang rumahnya. Setelah Rachel pergi, Virus dengan cepat memakan makanan di meja yang sedari tadi hanya dipandanginya.
"Haha jadi kau menahannya karena takut pada Ibuku hahaha," ucap Moza sedikit tertawa.
"Entahlah pandangannya padaku membuatku takut, sampai-sampai aku tidak bisa makan," ucap Virus seraya memasukkan makanan kedalam mulutnya
Dari kejauhan Rachel sedikit memperhatikan sikap Virus dan mengulas senyum kecil. Sebenarnya Rachel menyukai Virus hanya saja profesinya telah membentuk pribadi Virus yang susah dihilangkan. Dan dia takut masa lalu Virus membuat malapetaka jika dia dan Moza bersama.
Beberapa menit kemudian, setelah menyelesaikan makanannya Moza dan Virus berbicara di halaman belakang. Rencananya setelah pulang dari Indonesia, Virus ingin melamarnya di depan Rachel namun belum apa-apa Rachel sudah memanggilnya untuk berbicara serius.
"Terus terang, dari awal aku sudah mengatakan pada Moza jangan jatuh hati pada mu," ucap Rachel seraya menunjuk Virus dengan satu jarinya.
"Tetapi, yang ada Moza terus menatapmu tanpa kedip. Aku tak menyangka kau memiliki perasaan yang sama pada Moza. Sebelum kalian jauh melangkah, putuskan hubungan kalian sekarang!" seru Rachel dengan nada yang tegas.
Andi berada di depan lebih tepatnya di ruang tamu, tetapi pembicaraan mereka terdengar di telinganya.
"Ckck...kenapa sih harus dilarang, Virus itu sebenarnya baik. Kalau di larang, nanti mereka malah melakukan hubungan diluar batas, terus punya anak diluar nikah yang salah siapa? emaknya lah" gumam Andi yang berbicara pada dirinya sendiri.
"Maaf, aku tidak bisa memutuskannya. Cinta ku tulus pada Moza bahkan bukan untuk Moza saja. Aku juga telah menyayangi keluarga ini. Jika kau menyuruhku pergi, Aku akan pergi, tapi aku tidak akan memutuskan cintaku," ucap Virus
"Bu, aku juga mencintai Virus, aku tidak bisa melepaskannya begitu saja karena cinta tidak bisa dibuat. Dia datang dengan sendirinya," ucap Moza
"Beri aku alasan kenapa kau tidak menyukai ku? Dan kenapa aku harus memutuskan hubunganku dengan Moza?" Tanyanya
"Karena kau seorang pembunuh. Seorang pembunuh akan selamanya menjadi pembunuh! Aku tidak ingin seorang seperti mu membuat anakku menderita nantinya," ucap Rachel kali ini ia berbicara dengan nada tinggi.
Virus tertohok oleh ucapan yang terlontar dari mulut Rachel. Meskipun Virus telah menyatakan tidak akan membunuh tanpa alasan lagi tapi julukan pembunuh terus melekat di dalam dirinya.
Seketika Virus mengingat perbuatannya sendiri saat ia melihat Aryo yang disakiti, Virus ingin menamatkan orang yang menyakiti Aryo dengan membunuhnya. Tak hanya itu, saat Virus tahu Darren menyakiti Moza, pria itu langsung ingin menghajarnya hingga mati. Virus juga dengan mudahnya membunuh Ayush, orang yang menculik Aryo saat ia masih kecil, serta dua bodyguardnya.
Benar kata Rachel jiwa pembunuhnya masih melekat di dalam dirinya. Di pelupuk mata Virus, ada bulir bening yang siap keluar kapan saja. Jika waktu bisa di putar kembali....