My Name Is Virus

My Name Is Virus
Pengorbanan



Siang itu di markas Black Knight, Milton membuka peta dan memberitahukan tempat lokasi yang akan Hayes gunakan untuk tempat perkumpulan mereka. Sebuah mansion yang baru saja di beli Hayes.


"Ck mereka membeli Mansion seperti membeli kacang," batin Azkha.


"Kau yakin mereka akan berkumpul di tempat itu?" Tanya Virus sedikit ragu.


Virus masih memiliki Andi jika Hayes merubah tempat perkumpulan. Pria itu ingin langsung memburu Hayes tanpa bertemu anak buahnya dahulu.


"Ya, aku pastikan tempat itu benar. Aku berkata jujur," ujar Milton


"Heh meskipun kau jujur mereka bisa saja merubah rencana saat tahu pasukannya semua gugur," ucap Azkha menengahi.


Virus melipat kedua tangannya di depan seraya berpikir. Dia sepemikiran dengan Azkha. Salah satu anak buahnya memperhatikan Bosnya yang sedang berpikir.


"Bos kau terlihat pucat, apa kau sudah makan?" Tanya Roger salah satu pasukan Black Knight.


"Bagaimana aku bisa makan, sedangkan istriku belum makan apapun di malam pernikahan," ucap Virus.


"Jadi Bos belum makan di malam pernikahan hingga sekarang?" Tanya Azkha yang dijawab anggukan kepala oleh Virus.


"Aku lapar, tapi aku hanya ingin makan jika itu buatan Moza,"


"Jika Istrimu sadar nanti, Dia tidak bisa langsung membuatkan makanan untukmu Bos?" desis Roger


"Yah...setidaknya aku ingin makan dari suapan tangannya,"


"Dasar bucin akut," batin Azkha


"Kau harus makan, ini bukan persoalan asmara yang melibatkan hati. Tetapi ini soal kekuatan, bagaimana bertahan kuat dan mengalahkan musuh membalaskan dendam mu jika kau sendiri tidak makan dan akan melemah," desis Milton sedikit memberikan nasihat. Namun Virus mengabaikannya.


Pria itu malah menjauh dan mengeluarkan ponselnya lalu mengirimkan pesan, ia bertanya pada Shin apakah pria itu bisa mengobati Moza yang sedang koma.


"Jika dia koma karena suatu hal dalam artian tidak terkena luka tembak yang membuat luka berat, aku bisa mengatasinya," jawab Shin lewat pesan ponselnya.


"Itu artinya kau tidak bisa mengobatinya lewat pengobatan China mu?" Tanya Virus.


"Aku tidak bisa mengatakan bisa atau tidak, lebih baik aku menemuinya dan melihat kondisinya secara langsung,"


"Baguslah, kapan kau bisa?"


Shin tidak langsung membalas pesannya. Mungkin sedang ada pasien atau dia sedang sibuk saat itu. Virus pun kembali ke perbincangannya dengan Milton dan beberapa anak buahnya. Berharap jika Shin secepatnya untuk melihat keadaan Moza dan menyembuhkannya.


"Maaf, pikiranku sedang bercabang...Jadi kapan si Tua itu akan tiba ke Texas?" Tanya Virus pada Milton


"Dia menggunakan jet pribadi maka akan lebih cepat sampai jadi ku rasa mungkin malam ini dia sampai," jawab Milton


"Berarti masih banyak waktu untuk membuat beberapa rencana dan menyiapkan senjata," ucap Virus kemudian melirik Azkha.


"Siapkan lebih banyak senjata api, granat, bom serta gas air mata," ucap Virus berbicara pada Azkha seraya menunjuk, karena Azkha adalah ketua tim disana.


"Pastikan beberapa orang masuk ke dalam mansion si Tua, tempelkan bom di dindingnya dan ledakkan saat mereka sudah berada di dalam," timpalnya lagi.


"Ehem...," seseorang berdehem dan menyela perbincangan serius saat para ketua tim berkumpul disebuah ruangan yang tidak tertutup.


Semua memandang orang yang berdehem itu, Chuck. Dia berdiri didepan pintu seperti ingin menyampaikan sesuatu. Dan dia menunggu untuk dipersilahkan.


"Ada apa Chuck?" Tanya Virus


"Hemm bolehkah saya ikut dalam pertempuran nanti?"


Dia ragu jika dirinya tidak akan dibutuhkan karena telah lalai melakukan tugas sebelumnya saat dimalam pernikahan Virus.


"Ya ikutlah, tapi orang yang bandel sepertimu sebaiknya mengawal Azkha. Dia satu-satunya perempuan yang ikut dalam pertempuran kita nanti," ucap Virus


Mendengar hal itu Chuck mengangkat tangannya membuat kepalan tangan lalu menariknya kebelakang seraya berkata, "Yes!"


"Ck Bos kenapa menyuruhnya ikut, jika dia mengacau lagi bagaimana?"


"Setiap orang memiliki kesalahan, jika dia mampu memperbaikinya maka berilah kesempatan," ujar Virus yang belajar dari seorang Aryo yang pemaaf.


"Tujuan ku adalah Hayes....dan Sam. Tetapi jika kalian yang melihatnya lebih dulu, tangkap mereka dan serahkan padaku," desis Virus.


.


.


.


Setelah Sam pergi, Paquina menutup pintu apartemennya. Gordon keluar dari kamar dan melihat Paquina yang menangis menyandarkan dahinya di pintu.


"Apa yang kau tangisi? Hah? Aku tak menyuruhmu berpisah dengannya kan?" Mendengar suara itu Paquina berbalik dan menyeka air matanya.


"Aku tersanjung tapi percuma saja, itu tidak mengubah perasaanku padamu. Sekarang bersihkan tempat tidurku yang telah kau nodai. Dan jangan pernah menyentuhku sampai kapanpun!"


"Tapi aku sudah memutuskan hubunganku dengan Sam. Gordon....Aku tahu kau tidak mencintaiku tapi setidaknya ijinkan aku mencintaimu, memeluk dan menciummu,"


"Haha dengar Paquina. Kalau kau ingin seseorang yang bisa menyenangkan hasratmu di ranjang, maaf Aku TIDAK BISA. Silahkan pergi dan tinggalkan aku,"


"Tapi jika kau ingin bersama ku maka turuti perkataan ku. Tenang saja aku tidak akan menceraikan mu. Kau tetap akan menjadi istriku, Istri pajangan. Apa kau paham artinya? Hanya sebuah aksesoris," ucap Gordon dengan menyunggingkan senyum yang sangat merendahkan Istrinya itu.


Paquina tak membalas ucapan Gordon. Hatinya tersentak, dadanya sangat sesak mendengar hal itu. Tetapi dia tetap tidak ingin lepas dari Gordon karena cintanya sudah sangat gila. Cinta yang tidak dapat tersentuh. Sangat menyakitkan.


Gordon pergi ke ruang CCTV-nya dan mengambil beberapa rekaman. Setelah itu ia pergi meninggalkan Paquina tanpa sepatah kata. Dia benar-benar tidak menganggap Paquina.


Pria itu keluar dari apartemen dan diikuti pengawal baru yang sedari tadi berjaga di depan pintu apartemennya. Mereka melangkah menuju lift.


Satu pengawal menekan tombol turun, sementara Gordon menunggu dengan santai. Begitu lift terbuka, terlihat didalam lift ada dua orang berbadan besar memakai baju santai. Ia pun masuk tanpa waspada sedikitpun.


Gordon berdiri di bagian depan dan dua pengawal laki-laki berada dibelakangnya. Dua orang sebelumnya berada dibarisan paling belakang.


Zzrrt


Dengan cepat dua orang berbadan besar itu menyetrum kedua pengawal secara bersamaan. Gordon pun berbalik ketika tahu dua pengawalnya jatuh pingsan. Tetapi sebuah jarum suntik mendarat di lehernya. Gordon pun pingsan dalam hitungan detik.


.


.


.


Malam itu Virus dan anak buahnya berpencar. Black Knight, Milton serta dua temannya, dipimpin Azkha mereka mengamankan Mansion yang ditunjuk Milton. Sementara Virus langsung menuju ke sebuah hotel setelah mendapatkan informasi penggesekan kartu debit atas nama Hayes.


"Mansion ini terlihat sepi di luar, mungkin mereka tidak jadi menempati tempat ini," ucap Azkha di dalam mobil.


"Sebaiknya kita langsung saja masuk kedalam, sepertinya mereka sengaja membuatnya sepi agar tidak menarik perhatian," terka Milton.


"Hemm baiklah kita masuk, berhati-hatilah. Cek semua persenjataan kalian dan yang terpenting jangan matikan microphone," ujar Azkha memberi perintah seraya melirik Chuck.


Chuck yang sedikit tersindir pun hanya tersenyum dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ok, aku tidak akan mematikan microphonenya lagi,"


Mereka pun masuk dengan cepat dan tanpa bersuara. Mobil yang diparkir juga sedikit jauh dari lokasi. Azkha memanjat dinding diikuti Chuck dan Milton sementara yang lain masuk lewat arah lain.


Setelah berhasil melompati pagar dinding yang tinggi, mereka berjalan mengendap-endap tak lupa kedua tangan memegang senjata. Azkha dan Milton memilih pistol kecil, sedangkan Chuck senapan dengan laras yang sedikit panjang.


"Ayo Azkha," sahut Chuck saat mereka berjalan menyusuri Mansion.


Namun Azkha berdiri mematung sepertinya dia menginjak sebuah ranjau di halaman berumput itu. Wanita itu tidak segera menjawab sehingga membuat Chuck kembali dan mendekat.


"Ada apa?"


"Sial, aku menginjak ranjau," ucap Azkha dengan dahi yang tiba-tiba berkeringat.


"Apa!"


"Sssttsss," ucap Milton menyuruhnya untuk tidak bersuara keras.


Milton yang sudah berjalan lebih depan kemudian kembali lagi dan menanyakan hal yang sama.


"A-aku menginjak ranjau, kalian pergilah dan segera temukan Hayes jika kalian melihatnya disini. Jika tidak lebih baik kita pergi dan menyusul Bos," perintah Azkha.


"Kau jangan m


"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu sendiri disini. Aku akan tetap disini," Chuck mulai menunjukkan sisi romantisnya.


"Kau jangan gila, pergilah jangan membuang waktu," ucap Azkha


Chuck melihat tempat Milton yang berdiri sedikit jauh, dia pun memikirkan rencana gila tanpa memberitahukan siapapun. Dia mendekati Azkha kemudian menggendongnya dengan cepat dan segera ia lemparkan tubuh Azkha ke arah Milton. Dengan waktu bersamaan saat Azkha terlempar, bom pun meledak. Chuck ingin berlari namun bom telah melukai dirinya. Chuck meledak bersamaan dengan letusan bom.


"Chuuuck!" Teriak Azkha


"Pergilah," pinta Chuck dengan lirihnya sebelum akhirnya dia memejamkan mata. Sebagian tubuhnya hancur terkena bom yang tidak kecil. Ledakan itu ternyata cukup besar dan jauh dari perkiraan.


Bunyi bom mengundang musuh keluar dari persembunyian mereka. Milton membekap mulut Azkha agar wanita itu tidak berteriak. Pria itu juga segera menarik Azkha untuk segera pergi.


Azkha dan Milton juga terkena percikan bom. Beberapa kulit tangan dan kaki mereka sedikit melepuh. Chuck mengorbankan nyawanya demi Azkha.


Wanita itu pergi meninggalkan Mansion seraya terus menembak musuh yang berdatangan diiringi dengan tangisan karena kehilangan Chuck.