My Name Is Virus

My Name Is Virus
Sakit Hati Paquina



Dua Bodyguard Gordon langsung berpencar dan mencari ponsel bosnya itu. Sementara Gordon menatap curiga kearah Valeria karena wajahnya yang terlihat tegang.


"Tolong minggir sebentar," ucap Gordon pada Valeria


"Ada apa Ayah?" Tanya Virus


Saat pandangan Gordon beralih ke Virus, Valeria segera mencabut alat pemindai itu dan meletakkan ponsel Gordon di ranjang Virus tanpa melihatnya dan segera pergi dari sana kemudian berpindah menuju ranjang Moza.


"Tidak bukan apa-apa, Aku hanya mencari ponselku. Tiba-tiba hilang,"


"Mungkin kau melupakannya dan tertinggal,"


"Maybe,"


Gordon melihat ponselnya ada di atas ranjang Virus.


"Aneh sepertinya aku tidak membuka ponselku di ranjang ini. Apa mungkin aku sudah mengalami masa pikun," batin Gordon.


"Sudah ketemu, Aku kembali pulang ya?"


"Berhati-hatilah," ucap Virus


Gordon pulang dan masih menyisakan perasaan aneh.


"Untung saja," gumam Valeria


"Hah, kenapa Vale?" Tanya Moza yang mendengar gumamannya tetapi tidak jelas.


"Hemm aku sebaiknya kembali ke kamar, aku takut jika Diego marah lagi padaku,"


"Kalian sudah berbaikan? Memang apa masalahnya? Apa Aku boleh tahu?"


"Sudah, dia memberiku kesempatan. Nanti saja ku ceritakan jika semuanya sudah mereda," jawab Valeria berbohong.


Setelah itu Valeria keluar, ia kembali ke kamar Diego, dia sengaja tidak mengatakan kebenarannya sekarang agar Moza fokus pada kesehatannya dan tidak berpikiran macam-macam.


.


.


.


Siang itu Azkha datang menemui Virus, ia juga menyapa Moza sesaat setelah itu Virus mengajaknya untuk berbicara serius.


"Hmm Azkha ada yang ingin ku bicarakan, sebaiknya kita bicarakan di beranda luar kamar," ucap Virus sembari menunjuk beranda dengan dagunya.


"Memangnya ada hal apa sampai Virus ingin berbicara dengan Azkha diberanda? Sepertinya ini persoalan besar," batin Moza namun dia tidak begitu ingin tahu.


Beranda kecil itu memiliki taman yang langsung menerpa sinar mentari, dan itu bagus agar pasien mendapatkan sinar. Virus berjalan perlahan sembari mendorong alat penyangga infus.


Setibanya disana, ia menghirup udara siang dan menghembuskannya dengan pelan


"Azkha, aku rasa..." ucapan Virus terhenti saat Azkha mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas nya dan memberikannya pada Virus.


Virus mengernyitkan dahi, dengan sebuah pertanyaan di kepalanya. Apa isi amplop itu?


Azkha bersandar pada dinding sembari mengeluarkan rokok dan mulai menyulut apinya. Ia menghisap asap itu dengan dalam dan mengeluarkannya lewat hidung.


"Aku mengundurkan diri bos, aku berhenti. Aku tidak ingin kehilangan seseorang lagi karena diriku,"


"Apa maksud mu? Apakah itu karena Chuck?"


Azkha hanya tersenyum kemudian bersedih.


"Itu sudah takdir dan itu bukan salahmu. Aku juga merasa kehilangan, meskipun terkadang sikapnya menyebalkan,"


"Dia bersikap menyebalkan hanya padaku,"


Azkha membuang putung rokok yang belum habis terbakar lalu ia menginjaknya dengan sepatu high heelsnya


"Ada apa bos memanggilku kemari?"


"Kau baru saja mengundurkan diri, lantas kenapa masih memanggilku bos mu?"


Azkha tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis.


"Ini mengenai kecelakaan Istri ku dan keluarganya. Aku rasa ada sedikit keganjalan," ucap Virus menimpali.


"Aku akan mencari tahu soal kecelakaan itu, anggap saja untuk terakhir kalinya,"


"Terimakasih Azkha," ucap Virus


Azkha mengangguk pelan kemudian melesat pergi.


.


.


.


Alat kecil yang baru saja memindai semua isi ponsel Gordon kini telah berada di tangan Diego. Alat kecil itu dimasukan kedalam ponselnya. Beberapa detik kemudian ponsel Diego merestart otomatis lalu menyala kembali.


Bisa dikatakan seperti kloningan ponsel Gordon. Sama persis mulai dari semua nomor kontak milik Gordon, isi pesan, dan ada banyak bukti kejahatan yang Gordon lakukan. Semua ada dan terekam dalam ponselnya.


"Sialan Gordon, rupanya dia adalah orang yang ada dibalik kecelakaan ini," ujar Diego sembari menatap ponselnya.


"Lalu setelah ini, kita harus apa?" Tanya Valeria.


"Sepertinya Gordon berkata benar, bisa saja dia menyesali perbuatannya dan mulai menerima Moza," Timpalnya lagi


"Aku tidak percaya Vale, wajahnya penuh dengan kemunafikan. Untung saja Virus menuruni sifat mendiang ibunya. Aku yakin dia akan terus berbuat jahat pada keluarga ku," ujar Diego


"Untuk sementara kita pegang semua bukti ini. Aku tidak ingin kau terlibat jauh dengannya, kau sedang hamil. Tunggu beberapa hari hingga keadaanku membaik dan kita lihat apakah Gordon masih tetap akan berbuat jahat pada keluarga ku. Ok sayang," Timpal Diego lagi


"Ok sayang, baiklah kita tunggu apakah dia benar-benar menerima Moza dan mulai memperbaiki hubungannya dengan keluarga mu atau tidak,"


Diego tersenyum dan mengelus perut Valeria yang belum membesar.


"Aku tidak sabar melihat mu dengan perut buncit," ucap Diego sedikit terkekeh


"Haha, masih lama sayang. Aku juga menantikan hal itu. Hemm jika perutku membesar dan tubuhku berubah wujud, apa kau masih tetap mencintai ku?"


"Hal bodoh apa yang kau tanyakan. Tentu saja aku tetap dan akan selalu mencintai mu. Berubah seperti apapun dirimu tidak akan menggoyahkan hatiku. Kecuali jika kau mengkhianati cintaku. Aku pun sudah bersumpah diatas kitab. Disaksikan Tuhan beserta para malaikatnya. Untuk terus mencintaimu dan membahagiakanmu sampai aku mati," ucap Diego



Gordon kembali ke apartemennya mengambil beberapa berkas pribadinya dan membawa beberapa pakaian dan memasukkannya kedalam koper.


Biasanya itu tugas asistennya. Namun sejak penghianatan terjadi padanya, Dia lebih waspada ketika menyangkut hal pribadinya. Gordon berniat meninggalkan Texas dan kembali ke Los Angeles. Ada hal penting mengenai bisnisnya yang harus segera di urus.


"Sayang, kau mau kemana?" Tanya Paquina sembari memeluk Gordon dari belakang. Pria itu sedang memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper.


"Lepaskan, kau membuat ku tak bisa bergerak," ujar Gordon saat pria itu ingin menuju lemari dan mengambil beberapa pakaian lagi.


Paquina tidak bergerak, dia terus menggelendot manja, menyandarkan semua tubuhnya di belakang Gordon hingga pria itu sedikit keberatan.


Gordon menggerakkan lengan sikutnya lalu mendorong Paquina dengan kasar.


"Aku sudah bilang untuk melepaskannya, kau tuli?" desis Gordon


Paquina mendapatkan perlakuan kasar untuk kesekian kalinya.


"Tidak bisakah kau lembut sedikit? Sekali saja Gordon.... Aku ingin merasakan rasanya dicintai olehmu," ucap Paquina dengan bibir bergetar menahan air matanya.


Ya itulah konsekuensi menikahi orang yang tidak pernah mencintainya.


Gordon diam, dia tidak menjawab apalagi melihat ke arah Paquina. Kecewa, sedih dan kesal itulah yang dirasakan Paquina.


"Gordon, cukup! Jangan acuhkan aku! Lihat aku, dan cintai aku," Paquina sampai mengemis cinta pada suaminya sendiri.


Gordon mengacuhkannya lagi. Ia selesai berbenah lalu melangkah pergi keluar kamar. Paquina yang masih terduduk di lantai, menangkap kaki Gordon bahkan memeluknya.


"Lepaskan," ucap Gordon pelan


"Tolong sekali ini saja, perlakukan aku dengan lembut dan cintaku aku sayang," pinta Paquina berharap Gordon mengabulkan permintaannya.


Pria itu akhirnya menatap Paquina, membelai rambutnya dan tersenyum lebar. Lalu beberapa detik kemudian, ia menarik rambutnya dengan kasar. Senyumnya lebarnya menjadi sinis dan matanya terbelalak besar.


"Kau tidak pantas dicintai, pembunuh dan penghianat,"


"Apa bedanya dengan dirimu? Kau juga pembunuh! Bahkan kau telah membunuh banyak orang. Kau juga bermain wanita di belakangku dengan wanita penghibur itu kan?"


"Haha kau mulai pandai berbicara. Aku bermain dengan wanita itu karena aku mabuk dan diluar kesadaranku. Tapi Kau! Kau melakukannya dengan kesadaran penuh,"


"Apa kau baru saja cemburu?"


"Tidak, sama sekali tidak. Hanya saja aku tidak suka penghianat,"


Gordon meninggalkan Paquina dan menutup pintu kamarnya dengan kasar.


"Gordon, aku akan membuatmu membayar rasa sakit hatiku," gumam Paquina.


.


.


.


Di tempat lain, Azkha membuntuti Gordon sendirian. Tanpa kawalan atau teman disampingnya. Mobil yang ditumpangi Gordon melewati perlintasan kereta api. Dan saat ini mereka sedang berhenti menunggu kereta api yang sedang melintas


"Mau kemana mereka?" Batin Azkha yang berada di belakang mobil Gordon beberapa meter.


Sementara di dalam mobil Gordon, pria itu sibuk melihat ponselnya.


"Setelah pertemuan kita dengan orang Jepang nanti, batalkan semua janji. Aku harus segera ke Los Angeles,"


"Baik Bos, semua sudah saya cancel dan pesawat sudah siap pakai," ucap sang asisten yang duduk di kursi depan samping sopir.


Kereta api telah melintas dan jalan dibuka kembali. Mobil Gordon segera melaju kencang dan Azkha menyusulnya dengan memberi jarak.


Jeduaaaar


Sebuah kecelakaan terjadi setelah mereka melewati perlintasan kereta api. Kedua mobil berlawanan arah itu bertabrakan.


Yang kecelakaan bukanlah Gordon, melainkan mobil yang ada dibelakangnya yaitu mobil Azkha. Gordon tidak tahu persoalan kecelakaan itu karena mobilnya kedap suara.


Sementara dilain sisi.


"Arrghh sial! Aku salah menabrak orang!" ucap seorang pria yang langsung keluar dari mobilnya.


Pria itu menghampiri Azkha yang terjebak didalam mobil. Untung saja wanita itu tidak terluka parah.


"Maafkan aku, rem mobilku blong dan aku tidak dapat menghindarinya" ucap pria itu yang memiliki paras wajah mirip Chuck. Azkha teringat langsung pada orang yang rela berkorban di dirinya.


"Chuck?" Tanya Azkha


"Bukan, Aku Zhen,"


"Semoga wanita ini tidak mencurigai ku," batin Zhen


"Oh... maaf kau mirip sekali dengan temanku," ucap Azkha yang kemudian melihat kondisi mobilnya dari kejauhan.


"Apa mobilmu diasuransikan? Aku benar-benar minta maaf. Aku akan mengganti kerugianmu," ucap Zhen


"Iya, tenang saja aku tidak menuntut mu. Dan itu kecelakaan,"


"Aku akan mengantarkan mu pulang,"


"Dengan mobilmu?" Tanya Azkha dengan dagu menunjuk mobil Zhen yang juga sama hancurnya.


Mereka pun tertawa bersamaan.


.


.


.


"Apa? Arghh kau bodoh! Hmmm urus dia, aku tidak mau ada yang mencurigai kita nantinya," ucap Paquina mematikan ponselnya


"Gordon, kau harus mati!" ucap Paquina dengan penuh dendam dimatanya.


Zhen memaksa Azkha untuk melakukan medical checkup setelah kecelakaan. Ia terus berpura-pura baik dan terus berada disamping Azkha, seolah-olah kecelakaan itu murni terjadi. Sementara Azkha meminta maaf pada Virus karena tidak bisa mengikuti Gordon yang sudah pergi ke Los Angeles.


Dan pengintaian pun batal. Virus juga lebih memilih untuk percaya kepada Gordon meski ada keganjalan di hatinya.