
Diego mengantar Valeria pulang, dia melajukan mobilnya dengan pelan karena Valeria yang memintanya. Suasana sedikit tenang dengan alunan musik klasik romantis. Sesekali Diego bernyanyi sementara Valeria tidak menikmatinya. Wanita itu bersandar pada kursi mobil, memejamkan matanya menahan rasa mual dan pusing.
"Sayang, apa sebaiknya kita ke dokter saja ya? Seharusnya tadi kita tidak usah pulang. Aku pikir kau hanya kelelahan,"
"Stoop!" Pekiknya
"What? Why?"
"Berhenti, aku ingin muntah,"
Diego segera membanting stir ke kanan kemudian menginjak pedal rem secara tiba-tiba hingga keduanya sedikit terpental kedepan. Untung ada sabuk pengaman sehingga tidak ada benturan.
Valeria membuka pintu mobil bersamaan dengan sabuk pengaman. Kemudian memuntahkan semua isi perutnya.
"Apakah kau baik-baik saja?"
"Ya, setelah muntah aku merasa baikan," ucap Valeria kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Lalu saat ia ingin menutup pintu, Valeria kembali memuntahkan lagi. Kali ini tidak ada yang keluar, hanya cairan kental dan itu sedikit.
Diego memijat pundak Valeria dengan lembut. Setelah itu Valeria kembali merebahkan punggungnya dan menutup pintu mobil.
"Jangan-jangan kau hamil?" Terka Diego
"Hah? Tidak mungkin, kita baru menikah,"
"Tapi kita melakukannya sebelum menikah. Apa kau ingat? saat kita bercinta di dalam mobil itu?" ucap Diego mengingatkan.
"Hehe, ya bisa jadi. Aku juga sudah terlambat haid," ucap Valeria
Diego menggenggam tangan Valeria kemudian menciumnya, "Jika itu benar maka kita akan menjadi orang tua,"
"Ahh aku tidak sabar untuk memeriksanya, sebaiknya nanti kita mampir ke apotik untuk membeli tes peck,"
"Hemm kita ke klinik terdekat saja, aku ingin hasil yang pasti dan akurat," Diego kemudian melajukan mobilnya sambil terus menggenggam tangan Valeria dan mendekapnya dalam dada, sementara tangan kirinya menyetir.
.
.
"Selamat Nyonya dan Tuan Diego, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Nyonya Valeria hamil," ucap Dokter di klinik dekat apartemen mereka
"Puji Tuhan, I love you Vale," ucap Diego kemudian mencium bibir Valeria didepan dokter. Kedua tangannya menyentuh rahang Valeria dan mencumbunya dengan rasa bahagia.
(Hal biasa disana jangan gumun)
"I love you to Diego," membalas ciuman Diego.
Dan mengakhirinya dengan sebuah kecupan di kening serta pelukan mesra. Mereka pulang ingin membawa kabar gembira, tetapi bagaimana mengatakan rasa bahagia ini sementara hal yang dialami adik kandung dan iparnya sebaliknya.
Ceklek
Terlihat apartemennya sepi, Diego menerka jika kedua orang tuanya sudah tidur. Bukan tidur bersama melainkan terpisah, berbeda kamar.
Saat Valeria membuka pintu kamar Ayahnya, sosoknya tak ada disana.
"Ayah tidak ada dikamarnya," ujar Valeria yang masih pusing.
Dia menjatuhkan tubuhnya dengan pelan diatas sofa.
"Jangan-jangan Ibu juga tak ada," terka Diego lalu meluncur ke kamar Ibunya.
"Pasti mereka ke rumah sakit menyusul kita, aku takut jika Ibu bertemu Gordon. Bisa-bisa ibu akan celaka," Diego menjadi paranoid.
"Vale, kau istirahat saja dikamar ya? Atau jika kau takut sendirian tunggulah aku di sofa itu," ucap Diego
Dia memakai jaketnya kembali dan mengambil kunci mobilnya, kemudian mengecup kening istrinya
"Kau terburu-buru mau kemana?"
"Aku ingin kerumah sakit, menyusul Ibu dan Chris. Aku ingin mencegahnya bertemu Gordon. Aku takut Gordon akan mencelakainya,"
"Tapi...Gordon tidak mungkin seperti itu, dia pasti memikirkan perasaan Virus,"
"Apa yang tidak bagi Gordon? Dia itu pembunuh berdarah dingin," ujar Diego dan berlalu pergi tanpa mendengarkan perkataan Vale
"Argh selalu saja, pergi begitu saja, dia tidak pernah mendengarkan aku!" Valeria geram tetapi dia malah semakin pening. Dengan berjalan terhuyung-huyung ia pun beranjak dari duduknya dan mengunci pintu apartemen sebelum istirahat di kamarnya.
.
.
.
"Rachel jangan terburu-buru," ujar Chris
"Seperti suara Chris dan dia menyebutkan nama Rachel. Dimana mereka, Bu selalu saja ponselmu tidak aktif," batin Diego sembari sorot matanya mencari sosok kedua orang tua itu sambil masih menggenggam ponselnya dan berusaha menelepon ponsel Chris yang tidak diangkat
rupanya Rachel dan Chris sudah menuju ke arah lorong tempat Virus di Operasi.
"Bu, jangan kesana," teriak Diego dari kejauhan sembari terus berlari mendekatinya.
"Diego....memangnya kenapa? Aku ingin melihat keadaan Virus, apa tidak boleh?" jawab Rachel
"Valeria ada dirumah, Moza ada disana. Aku sudah meminta teman Moza untuk datang dan menemaninya. Aku harap temannya sudah menemaninya sekarang," jelas Diego
"Ada Gordon disana, dan aku tidak ingin ibu kenapa-kenapa. Entah kenapa dia sangat membenci keluarga kita," Timpalnya lagi
"Gordon, serigala sialan itu. Kenapa dia kemari?"
"Aku lupa memberitahu mu, Dia ayah biologis Virus,"
Mendengar hal itu, mata Rachel membulat penuh.
"Apa katamu? Itu berarti Virus dan Darren sialan itu adalah saudara kandung?"
"Tenanglah Bu, Darren bukan anak Gordon. Meskipun Gordon dan Virus sedarah namun sikap mereka jelas berbeda,"
"Sudahlah kita masuk saja, aku ingin memberi semangat pada Moza. Aku juga belum melihatnya setelah sadar," ujar Rachel
Perkataan ibunya pun tak dapat dibantah, Diego hanya bisa menemaninya agar tidak terjadi sesuatu.
.
.
.
"Hmm membosankan," batin Gordon seraya mengibaskan kerah jasnya.
Suhu di lorong rumah sakit itu sudah sangat dingin. Tetapi karena Gordon memendam emosi dari hatinya maka ia pun terasa gerah. Gordon jenuh dengan pemandangan Moza didepannya, sama sekali tidak menarik baginya.
"Apa yang membuat Virus tergila-gila pada sosok wanita itu, cih?" desisnya pada dirinya sendiri.
Ia pun berjalan menghampiri Moza yang sedang tertidur, tak ada yang menemaninya. Ini mungkin kesempatan Gordon untuk menyingkirkan Moza dari hidup Virus.
Tak...Tak...Tak...
Gordon berjalan pelan namun suara hak sepatu fantofelnya masih terdengar. Dengan segera Gordon mengeluarkan pistol ke arah Moza yang terlihat lemah dihadapannya.
"Kau lebih baik mati!"
"Moza! Awas!" Teriak Diego hingga mengejutkan tidur Moza.
Moza membuka matanya langsung melihat asal suara. Samar, sedikit cahaya.
"Bukankah sebelumnya penglihatan gelap," batin Moza menyipitkan mata agar pandangannya makin jelas
"Awas Moza!" Teriak Diego lagi.
Kali ini teriakannya membuat Moza melihat ke arah depan. Sebuah pistol mengarah di hadapannya. Tepat di keningnya.
Dor.
Moza terbangun dengan napas tersengal-sengal dan kedua matanya tetap tidak dapat melihat. Itu artinya Moza sedang bermimpi. Dia bermimpi ditembak oleh Gordon.
Moza mencoba mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, mencari keajaiban, berharap dia menemukan sebuah cahaya yang masuk ke mata. Tapi nihil, pandangannya masih gelap.
"Apakah Gordon masih ada di sekitar sini? Aku sepertinya tertidur lama, bagaimana dengan operasi Virus? Apakah sudah selesai?" Batin Moza.
Tak berapa lama Rachel, Chris dan Diego datang. Ibunya memanggilnya dengan suara nyaring membuat Moza menolehkan pandangan meski tak dapat melihat.
"Dimana Gordon dan bodyguardnya?" Batin Diego
Pelukan seorang ibu pun mendarat ke tubuhnya.
"Sayangku, Ibu rindu sekali. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Rachel melepaskan pelukannya dan beralih menciumi wajah Moza.
"Bu aku juga merindukan mu. Yah pasti Ibu sudah mendengar kabar dari Valeria mengenai keadaanku, aku baik-baik saja Bu,"
"Tidak apa, seiring berjalannya waktu, matamu akan membaik,"
"Katamu ada Gordon, lalu dimana dia?" Tanya Chris.
"Aku tidak tahu kemana dia, sebelumnya dia ada sini, mungkin pergi,"
Diego lalu mencari perawat disekitar dan bertanya soal operasi yang sedang berlangsung.
"Pasien tidak berada di ruangan itu. Dia dipindahkan ruangan khusus operasi besar. Anda terus saja ke lorong itu lalu belok kanan kemudian kanan lagi,"
"Oh terimakasih,"
Mereka pun berjalan ke arah yang dimaksud sang perawat. Sambil berjalan kesana Diego juga menghubungi Jessie, orang yang dia minta untuk menjaga Moza, teman Moza saat SMA yang sering berkomunikasi lewat ponsel. Mereka jarang bertemu saat Jessie pindah ke Texas.
(nb:Jessie pernah muncul di bab 46.Be Cool)
Sebelumnya Diego meminta Jessie untuk kerumah sakit namun sampai sekarang wanita itu belum datang juga.
Tak berapa lama beberapa perawat berlarian sambil membawa beberapa tabung darah. Diego bertanya pada salah satunya karena mereka berlari ke arah yang sama dengan Diego.
"Permisi, apa kantong darah itu untuk pasien yang bernama Virus?" Tanya Diego.
"Benar, maaf Tuan kami harus cepat. Kondisi pasien tidak stabil,"