My Name Is Virus

My Name Is Virus
Perubahan Hati



Selama perjalanan menuju hotel, mereka menikmati lagu yang Andi mainkan dari radio mobilnya. A Thousand Year sebuah lagu dari Christina Perri yang membuat Moza menitikkan air matanya secara tak sengaja ketika sang penyanyi menyanyikan bagian Reff, " I have died everyday waiting for you. Darling don't be afraid I have loved you. For a thousand years. I'll love you for a thousand more, " yang artinya adalah Aku telah mati setiap hari menunggumu. Sayang jangan takut aku telah mencintaimu. Untuk seribu tahun. Saya akan mencintai mu untuk ribuan tahun lagi.


Moza menyeka air matanya dengan cepat, namun Virus menangkapnya. Saat ia melihat pemandangan dari luar mobil, yang berada dihadapannya. Moza duduk di kursi berseberangan dengan kursi Virus. Pria itu pun bertanya dalam hatinya.


"Ada apa dengan Moza? Apakah dia mempunyai masalah? Atau lagu ini membawanya masuk kedalam kenangan?" Batin Virus.


Tiba-tiba kepala Valeri terjatuh di bahu Virus. Wanita itu tertidur, karena sedari tadi dipenjara ia tidak bisa beristirahat. Valeria kelelahan. Virus menolehkan kepalanya melihat Valeria bersandar di bahunya.


"Aneh, saat di kantor polisi tadi Valeria memelukku. Seharusnya aku senang tapi kenapa aku seperti tak menginginkannya. Dan saat ini Valeria tertidur, tubuh ku tak bereaksi. Ada apa denganku? Saat ini ingin rasanya berada disisi Moza dan menanyakan apa yang membuatnya menangis. Aku menganggapnya sebagai adikku sendiri dan aku ingin melindunginya," batin Virus yang masih memandangi Moza.


Moza tertunduk sembari terus menyeka bulir bening yang mengalir tiba-tiba. Ia pun mengangkat wajahnya dan menangkap mata Virus yang sedang memperhatikan dirinya.


Deg.


"Apa pria itu melihatku menangis?" Batin Moza yang kemudian beranjak dan memilih pindah kursi di samping Andi.


Virus tak bisa menahannya karena tubuhnya sedang menjadi sandaran Valeria.


Sesampainya di hotel tempat mereka menginap, Virus membangunkan Valeria. Sementara Moza sudah turun duluan. Sedangkan Andi menunggu Virus dan Valeria untuk turun.


"Valeria, bangun! Kita sudah sampai," seru Virus pelan seraya menepuk pipinya pelan. Valeria terbangun dengan sedikit malas.


"Kau bisa melanjutkan tidurmu nanti, sekarang turunlah," ucap Virus.


Valeria membuka matanya perlahan dan menguap, kedua tangannya refleks memegangi mulutnya yang sedang menguap.


"Maaf, apakah aku tertidur di bahumu?" Tanya Valeria memastikan.


"Ya, ayo kita turun," titah Virus.


Kemudian mereka turun, dan masuk kedalam. Valeria tersenyum senang karena ia bisa bebas dengan syarat.


"Aku tidak akan melupakan kebaikanmu Virus," ucap Valeria tersenyum sangat manis sembari berjalan menuju kamar mereka. Virus senang melihat senyum Valeria namun tak ada getaran lagi di hatinya. Dan itu membuatnya terus bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


"Mulai saat ini, kau bisa memulai hidupmu dengan kebaikan," ujar Virus.


"Iya aku tidak mau mengulanginya lagi. Aku mendapat julukan dari teman-temanku 'Ratu pencuri', karena belum pernah tertangkap sekalipun. Namun kejadian ini membuatku jera," jawab Valeria.


"Baguslah kalau kau menyadarinya," sahut Andi yang sedari tadi menyimak pembicaraan keduanya


Tak terasa mereka sudah sampai di lorong hotel kamar mereka. Valeria berpamitan untuk masuk duluan. Andi yang berada dibelakang Virus menunggu pria itu masuk.


"Hey masuklah," seru Andi.


"Kau dulu saja yang masuk, aku ada urusan," Pria itu lalu mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Moza.


"Keluarlah, aku didepan pintu kamarmu!" pesan yang Virus kirim untuk Moza


Sebenarnya pria itu tidak tahu, Moza berada dikamar berapa. Ia juga segan bertanya pada Diego, Wasabi ataupun Andi.


"Aku mengantuk, besok pagi saja," balas Moza cepat kemudian melempar ponselnya pada ranjang tidur. Wanita itu sedang membuka dress yang ia pakai dan berganti piyama tidur.


"Ku hitung sampai tiga jika kau tidak keluar, maka aku akan mendobrak paksa," balas Virus lagi pada pesan ponselnya.


Moza menerima notifikasi pesan, ia malas membacanya. Namun ia juga penasaran dengan apa yang Virus balas. Moza meraih ponselnya kembali dan membuka pesannya


"Astaga, kau ini dasar pembuat onar!" gumam Moza yang kemudian membuka pintu kamarnya. Dilihatnya tak ada siapa pun disana.


"Kau dimana? Aku tak melihatmu," Tanya Moza pada pesannya.


"Aku bilang kau keluar, jangan membuka pintu saja," balas Virus kemudian menyunggingkan bibirnya.


Moza menuruti perkataan Virus, ia melangkah keluar dari kamarnya dengan piyama tidur. Di lihatnya arah kiri tak ada siapa pun dan saat ia melihat ke arah kanan, dia mendapati Virus yang tengah berjalan mengarah padanya. Moza berpangku tangan melihat kelakuan Virus.


"Pintar," ucap Virus seraya tersenyum dan bersender pada dinding kamar Moza.


"Ada apa? Aku lelah dan ingin tidur, kau tak lihat pakaianku?" Ucap Moza


"Kenapa kau menangis saat di mobil tadi? Apakah ada orang yang menyakitimu?" Tanya Virus


"Bodoh, kaulah orangnya," batin Moza


"Hemm memangnya kenapa? Dan kalau kau tahu orang itu, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Moza


"Jika dia menyakitimu, aku akan mematahkan tulangnya," ucap Virus.


"Ide yang bagus, tapi sayangnya kau tidak akan bisa melakukannya?" ucap Moza


"Kenapa aku tidak bisa, Aku kuat," seru Virus


"Haha sudahlah, Virus aku benar-benar mau tidur. Kembalilah ke kamarmu," titah Moza


Tak berapa lama ada bunyi dering dari ponsel Moza, wanita itu langsung mematikannya.


"Kenapa kau matikan?" Tanya Virus.


"Bosku ingin mengajakku makan malam, Aku sudah bilang sedang ada di California. Tetapi dia tak percaya dan terus menelepon ku," ucap Moza.


"Jadi apakah pria itu yang menyakiti hatimu?" Terka Virus


Ponsel Moza berbunyi kembali, Virus merampas ponsel milik Moza yang sedari tadi ia genggam. Dengan cepat Virus menekan tombol hijau dan mengangkat panggilan itu


"Kau jangan menelepon Moza ku lagi, Dia kekasihku atau akan ku patahkan tulang mu!" Seru Virus kemudian mematikan sambungan teleponnya dan membuat Moza tertawa.


Virus mengembalikan ponsel milik Moza seraya tertawa kecil.


"Gampang kan? Aku jamin dia tidak akan menghubungi mu lagi," ujar Virus


"Astaga Virus, dia itu bos ku. Dia memintaku makan malam dengan kliennya juga bukan mengajakku kencan... arrghhh jika aku dipecat kau harus bertanggung jawab!" ucap Moza kesal kemudian membanting pintu.


Ia kesal tetapi juga sedikit senang karena Virus mengatakan jika dirinya kekasihnya meskipun hanya pura-pura.


"Moza, aku minta maaf. Moza buka pintunya," pinta Virus


Wanita itu membuka pintunya lagi, "Apalagi?"


"Kemarikan ponselmu, aku akan meminta maaf pada bos mu," ucap Virus merasa bersalah.


"Tidak perlu nanti aku akan mengiriminya pesan," jawab Moza


"Aku tidak bermaksud membuat masalah, aku hanya tidak ingin melihat kau terluka," jawab Virus membelai rambut Moza.


Moza bergetar ketika Virus mengatakan itu. Ingin rasanya ia mengatakan isi hatinya jika orang yang melukai hatinya adalah pria yang kini dihadapannya. Dirinya sendiri.


"Ya sudah, aku akan kembali ke kamarku. Kita berangkat pukul 3 pagi. Karena Wasabi harus mengejar pesawatnya," ucap Virus.


"Oke," jawab Moza mengerti


Virus kemudian pergi kembali ke kamarnya. Kamar mereka satu deretan tetapi melewati tiga kamar. Moza menutup pintu dan membuang napasnya dengan kasar.


"Jika kau berbuat seperti itu bagaimana bisa aku melupakanmu," gumam Moza