My Name Is Virus

My Name Is Virus
Rahasia Kecil



"Kau terlalu picik Rachel," sahut Andi yang mencuri dengar pembicaraan mereka. Ia datang dari dalam rumah menuju teras belakang.


Semuanya menoleh ke arahnya. Ketika sudah dekat, pria itu berkata lagi, "Kita semua tahu, keadaan lah yang membuat Virus memilih jalan kelam. Jika dari awal kau takut dengannya, kenapa kau terima dirinya untuk terus menginap di rumahmu. Secara tak langsung kau mendekatkan Virus dengan Moza,"


Rachel kena telak dengan ucapan Andi, wanita itu tak dapat bicara lagi. Bibirnya terkatup rapat.


"Akui saja, kau sebenarnya menyukai pribadi Virus kan?" Andi terus berkata tanpa jeda.


"Apa kau ragu, jika aku tidak bisa melindungi Moza dari musuhku?" Tanya Virus.


"Aku...," ucap Rachel kemudian mulai bersedih


Raut wajahnya berubah pucat, dan menjadi sedih, sepertinya ada hal yang ia tutupi. Seketika Rachel memegangi dadanya, ia terkena serangan jantung.


"Bu..." pekik Moza yang tiba-tiba panik melihat Rachel kesakitan.


"Andi tolong siapkan mobil, kita harus membawanya ke rumah sakit," sahut Virus kemudian menggendong Rachel tanpa di minta.


Andi segera berlari kecil, membuka pintu ruang tamu dan menyiapkan Mobilnya.


"Haduh, apa kata-kata ku terlalu tajam?" batin Andi merasa bersalah.


Beberapa menit kemudian mereka sudah di dalam mobil, Virus mengambil alih kemudi. Dengan cepat ia mengendarai mobil itu.


"Virus hati-hati," ucap Moza yang ketakutan karena ia masih trauma berada di dalam mobil dengan kecepatan penuh.


"Percayakan padaku," jawab Virus seraya mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang, bagaikan pembalap profesional. Moza memeluk Ibunya dengan mata terpejam. Sementara Andi melihatnya dengan mata terbuka, dirinya sangat suka dengan tantangan bahkan menikmatinya.


Virus tertangkap alat pendeteksi laju kecepatan. Jalanan itu selalu diawasi oleh polisi lalu lalu lintas. Polisi itu mengejar Virus karena mengendarai kecepatan penuh di zona rawan kecelakaan. Tak berapa lama terjadilah kebut-kebutan antara dirinya dan beberapa polisi. Satu polisi mengendarai mobil dan dua polisi lainnya mengendarai motor.


Bunyi sirine di aktifkan. Virus malah berterimakasih pada polisi itu karena dengan adanya bunyi sirine, aksi kebutnya berjalan lancar.


Tak berapa lama mereka sampai di rumah sakit. Biasanya perjalanan dari rumah Moza ke rumah sakit, dapat ditempuh dalam waktu setengah jam, tetapi Virus melaluinya dengan waktu lima menit.


Virus segera menggendong Rachel dan merebahkannya di brangkar yang ada didepan lobby. Para suster berdatangan menghampiri Rachel. Moza mengurus ibunya ditemani dengan Andi. Sementara Virus harus berhadapan dengan polisi yang baru saja tiba dibelakang mobilnya.


Karena alasannya menyangkut nyawa orang, maka Virus pun dilepaskan, dan harus membayar denda sebagai jaminan.


Rachel sudah ditangani oleh dokter dan dimasukkan ke ruang ICU, mereka menunggu di ruang tunggu. Dari kejauhan terlihat Diego berlari menuju ruang tunggu.


"Kenapa jantungnya terserang lagi?" Tanya Diego.


"Duduklah dulu kak," ucap Moza kemudian menceritakan apa yang terjadi sebelum jantung Rachel


Diego terdiam, menatap Moza kemudian beralih pandangan ke arah Virus. Kemudian ia menyatukan tangannya dan menunduk.


"Moza, sudah saatnya kau tahu rahasia keluarga kita," ucap Diego dan kembali menatap mereka berdua.


"Apa maksudmu?" Tanya Moza penasaran.


"Kematian Ayah bukanlah murni karena kecelakaan," jawab Diego


"Jadi maksudmu ada seseorang yang berusaha membunuhnya?" Tanya Virus.


"Iya," jawab Diego merasa ragu menceritakan semuanya


"Siapa dia kak, ayo cerita," seru Moza


"Dia Ricko, teman Ayah yang pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran. Sudah lama Ricko meninggalkan dunia kelamnya. Cerita itu dimulai saat Debie, adik Ricko menyukai Ayah dan ingin menikah dengannya. Tapi Ayah sudah berkeluarga. Aku pun sudah berumur dua tahun. Karena tidak terima kata penolakan akhirnya Debie bunuh diri. Sampai sekarang Ricko menyalahkan kematian Debie pada keluarga kita. Dia ingin melenyapkannya kita semua," ucap Diego kemudian berdiri dan memasukkan kedua tangannya di celananya.


"Jadi itulah sebabnya kenapa Ibu tidak merestui ku dengan Virus," ujar Moza


"Itu jelas berbeda, Aku bukan Ricko," ucap Virus


"Saat aku tahu kecelakaan itu bukanlah murni kecelakaan, aku menuntut Ricko dan sekarang pria itu ada di dalam penjara. Aku dan Ibu khawatir jika dia keluar dari penjara nanti. Maka dari itu, saat aku bertemu Virus untuk pertama kalinya. Aku dengan nekat menyuruhnya ke rumah, dengan harapan Virus akan menyukai mu, Moza," ucap Diego seraya menunjuk Virus


"Jadi itulah alasan, kenapa kau langsung setuju bertukar tempat denganku," ucap Virus yang dibalas anggukan kepala oleh Diego


"Iya, kau pria yang tepat menurut ku. Dan Aku tahu pria seperti apa yang disukai Moza. Tapi aku sempat kesal saat kau lebih memilih Valeria saat itu," Ungkap Diego.


"Kau kesal karena saat itu, aku tidak melihat Moza atau kau kesal karena kau juga menyukai Valeria?" Tanya Virus


"Kalau boleh jujur keduanya, ahh kenapa jadi bahas Aku dan Valeria,"


"Aku akan berbicara dengan Ibu soal kau dan Moza, percayakan semuanya padaku," ucap Diego seraya memukul dadanya.


Tak berapa lama dokter keluar dan mengatakan jika kondisi Rachel telah stabil. Untuk sementara dia dirawat di rumah sakit hingga kondisinya benar-benar membaik.


"Alhamdulillah," seru Andi dengan suara sedikit keras.


"Hmm?" Tanya Diego


"Itu sebuah ucapan syukur dalam agama ku," ujar Andi


"Oh, terimakasih," sahut Diego


Rachel boleh di jenguk oleh satu orang, dan mereka bergantian masuk. Diego masuk yang pertama kalinya. Virus menggenggam tangan Moza dan menciuminya.


"Ada apa? Kau terus menciumi tangan ku," Tanya Moza seraya memandangi Virus dengan wajah merona.


"Aku mencintaimu, rasanya aku ingin mati saja jika harus berpisah denganmu. Because a girl like you, is impossible to find," ucap Virus kemudian menaruh tangan Moza ke dadanya dan mendekapnya.


"Jangan berkata seperti itu, aku tidak akan meninggalkanmu hingga maut memisahkan," ucap Moza lalu bersandar pada lengan bahu Virus.


Virus mengangkat tangannya yang dibuat sandaran Moza tadi kemudian mendekapnya.


Tak berapa lama Diego keluar dari ruangan Rachel.


"Virus, masuklah. Ibu ingin bicara denganmu," ucap Diego.


"Okay, sayang aku masuk dulu," ucap Virus kemudian beranjak dari duduknya.


"Yakinkan dia jika kau pantas untuk Moza," ucap Diego sembari menepuk bahu Virus.


"Hemm pasti, doakan aku kakak ipar," sahut Virus kemudian masuk kedalam.


Rasanya sepi dituangkan itu, terdengar suara dari monitor EKG. Terlihat layar itu bergerak mendeteksi jantung dan organ lainnya. Selang oksigen juga terpasang pada lubang hidung Rachel.


Virus mendekat dengan langkah pelan, Rachel melihatnya masuk, kemudian meraih tangannya saat pria itu sudah ada disamping ranjangnya.


"Virus, maafkan semua ucapanku. Maafkan jika itu menyakiti hati mu," ucap Rachel merasa bersalah.


"Sudahlah jangan dipikirkan, lihat kondisimu. Kau harus banyak istirahat dan jangan memikirkan apapun agar kau cepat pulih," ujar Virus dengan melayangkan senyum padanya


"Apa yang membuat mu mencintai Moza, bukankah dulu kau sangat memuja Valeria?" Tanya Rachel sungguh-sungguh


"Aku juga heran kenapa dulu aku bisa menyukai Valeria. Tapi seiring waktu berjalan. Perasaanku pada Valeria pudar, karena aku menemukan cinta yang sebenarnya. Rasa cemburu dan kehilangan menyadarkan aku, jika aku mempunyai perasaan lebih untuk Moza. Ada rasa ingin melindungi dirinya, karena takut kehilangannya. Moza berbeda dari wanita lain, dia memahami ku dan aku membutuhkannya. Aku ingin menikahinya dan aku akan membuatnya bahagia, tentu itu semua dengan restu mu," ucap Virus dengan perlahan.


"Jika aku tetap tak merestui hubungan kalian, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Rachel


"Aku tetap menunggunya, sampai kau memberikan restu mu. Dan aku akan terus membuat mu mengerti jika cintaku pada Moza tidak main-main. Aku layak untuknya karena tidak ada yang mencintainya, seperti aku mencintai Moza," ucap Virus dengan nada pelan tetapi penuh penekanan


"Aku merestui hubungan kalian, karena kau memang layak mendampingi Moza. Virus berjanjilah padaku untuk terus mencintainya dan melindunginya dari niat jahat dari orang yang tidak menyukainya," ucap Rachel seraya meraih tangan Virus dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Akhirnya ucapan kata restu pun keluar dari mulutnya


"Tentu, aku akan selalu mencintai dan melindunginya dengan segenap jiwa dan ragaku," janji Virus