My Name Is Virus

My Name Is Virus
Diego Mencari Cinta (Part 2)



Valeria naik kepanggung menghampiri Diego dan mengecup bibirnya. Tepuk tangan yang riuh terdengar, semua bersorak karena tingkah Valeria. Diego sendiri terkejut dibuatnya.


Setelah itu Diego berganti menyanyikan lagu bat country yang sangat ngerock. Membuat pengunjung disana ikut bernyanyi dan menghantuk-hantukkan kepalanya. Valeria menemani Diego diatas panggung dan ikut bernyanyi. Mereka berdua melepaskan pikiran yang sangat penat dan berjingkrak-jingkrak. Penonton disana ikut berjingkrak-jingkrak dan bernyanyi bersama.


Setelah selesai lagu keduanya, Diego melihat Valeria yang sedikit mabuk lalu menggandengnya membantunya turun dari panggung. Sang DJ melanjutkan kembali musiknya.


"Kau ini mabuk, Aku akan mengantarmu pulang," ucap Diego seraya menarik tangan Valeria keluar dari Bar.


"Aku tidak ingin pulang, aku ingin bersamamu," ujar Valeria seraya melepaskan tangan Diego yang menariknya dengan keras.


Mereka diam satu sama lain di luar bar. Tak berapa lama ia merasakan begah di perutnya lalu ia muntah di pakaian Diego. Wanita itu tak kuat mabuk, ia selalu memuntahkan isi perutnya setelah meneguk minuman memabukkan itu.


"Oh shittt," Diego merutuki dirinya.


Ia lalu membawa Valeria kedalam mobil dan Diego melepaskan bajunya sendiri yang terkena muntahan Valeria. Pria itu lalu melajukan mobilnya dengan pelan. Tak berapa lama Valeria tertidur.


"Dia sangat cantik ahhh aku membencinya, tetapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku. Aku menyukainya sejak pertemuan pertama di basecamp Wasabi. Aku tak menyangka bisa-bisanya aku jatuh hati pada musuh adikku," gumam Diego sepanjang perjalanan.


Tiba-tiba hujan deras mengguyur kota Las Vegas, Diego semakin dingin karena dia tak memakai baju. Pria itu juga tidak membawa jaket. Ia pun sedikit menghangatkan suhu mobil.


Sesampainya di depan rumah Valeria, Diego membangunkannya. Ia menepuk beberapa kali pipinya akan tetapi Valeria tetap tidur. Diego yang tidak tahan melihat kecantikan Valeria kemudian mengecup bibirnya hingga wanita itu tersadar. Valeria merasakan geli dan juga ia merasakan ada napas lain yang wangi menyentuh kulitnya. Ketika Valeria membuka matanya. Ada Diego dihadapannya. Pria yang selalu ia idolakan dan selalu membuat jantungnya berdegup kencang sedang mengecup bibirnya.


"Diego," ucap Valeria seraya mendorong pelan Diego, pria itu juga sedikit terkejut karena aksinya diketahui Valeria.


"Kau...kenapa kau mencium ku?" Tanya Valeria yang sedikit gugup.


"Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau mencium ku dipanggung bar?" Tanya Diego yang tidak dijawab oleh Valeria. Wanita itu hanya tertunduk malu


"Aku mencium mu hanya ingin membangunkan mu. Tidak ada maksud apapun. Sudah sampai rumah mu, turunlah," timpal Diego yang merasa sedikit dingin.


"Lalu kenapa kau tidak memakai baju mu?" Tanya Valeria yang mengira Diego membuka baju karena ingin berbuat messum.


"Kau muntah di baju ku, ini tolong cucikan bajuku sekalian oke," ujar Diego seraya menyodorkan pakaiannya yang terkena muntahan Valeria. Ia memasukkannya ke dalam plastik.


"Maaf, karena ku kau jadi tidak pakai baju, hmm atau kau mau memakai baju ayah ku?" Tawar Valeria.


"Tidak usah, cepat turun aku mau pulang," ucap Diego dengan ketus.


"Hhmm hujan deras," ucap Valeria yang enggak turun dengan alasan hujan.


"Lantas kau mau disini sampai hujan reda?" Tanya Diego dengan ketus.


"Diego... kenapa tiba-tiba sikapmu sangat dingin," ujar Valeria


"Moza tidak menyukaimu, aku juga tidak," jawab Diego berbohong, wajahnya tidak menatap Valeria saat mengatakannya.


Valeria dengan tiba-tiba mencumbu bibir milik Diego seraya berkata, "Kau tadi menciumiku sekarang aku memintanya kembali," Setelah itu Valeria duduk kembali ditempatnya sementara Diego terdiam, dia hanya menatap Valeria. Wanita itu masih enggan turun karena hujan sangat lebat. Udara air hujan yang jatuh bertubi-tubi dari atas langit.


"Jelas-jelas kau yang pertama kali mencium ku. Kenapa kau mencium ku? Kau belum menjawabnya," ujar Diego yang masih menunggu jawaban Valeria.


"Aku juga tidak tahu, mungkin aku masih mengidolakan mu," ucap Valeria.


"Idola atau cinta?" Tanya Diego yang kemudian menatap Valeri dengan lekat.


Idola dan cinta itu beda tipis, dan Valeria bingung untuk menjawabnya. Ia pernah menginginkan Diego mungkin saat ini ia masih menginginkannya. Valeria masih belum bisa menjawabnya sementara Diego sudah kedinginan di dalam mobil itu.


"Vale, turunlah. Aku kedinginan, kau..." ucapan Diego terhenti karena Valeria mencumbunya lagi.


Udara semakin dingin tapi tidak didalam mobil itu, suasana didalam itu semakin panas kala wanita yang ada disampingnya itu duduk diatas pangkuannya.


Sementara itu, sebelah tangan Diego berada di pinggang Valeria dan tangan satunya lagi meremas gundukan kenyal di bagian dadanya yang telah menegang dibalik kain bra.


"Diego, aku tergila-gila denganmu. Aku masih tersegel dan aku rela jika kau yang membukanya malam ini," bisik Valeria.


"What? Aku tidak percaya," ujar Diego dengan senyum nakalnya.


Ia membuat sandaran jok kursi itu sedikit tidur dan memundurkannya. Diego mengambil alih untuk berada diatas wanita itu


Hal apa yang membuat Diego kembali menggila. Dia bahkan ingin melakukannya di mobil itu. Perlahan Diego memasukkan rudal miliknya yang sudah menegang.


"Oh My God, Dia tidak bohong. Valeria masih belum tersentuh," batin Diego setelah mengeceknya ke dalam dengan rudal aktif miliknya


Wanita itu mengerang lagi dan merintih kesakitan namun terdengar sensual di telinga Diego. Diego hampir gila saat bermain dengan Valeria. Dia mendapatkan gairah penuh sangat berbeda dengan wanita lain manapun. Dia sangat menginginkan wanita ini seutuhnya.


Diego mulai membuka pakaian wanita itu kemudian, mengecup telinganya, lehernya dan membuat tanda di tubuhnya hingga wanita itu menjerit dalam kenikmatan. Mereka tak banyak mengubah posisi karena berada didalam mobil yang sempit. Diego, pria pertama yang menyentuh Valeria. Membuat Diego sedikit bangga karena Valeria terlalu memujanya.


Valeria memeluk Diego dan berkata, "Diego, aku mencintaimu," bisik wanita itu namun Diego tak langsung menjawabnya. Ia mengambil pakaian Valeria dan membantu memakaikannya.


"Vale, Kau telah mencuri hatiku. Kau bisa menjadi kekasih ku jika kau dan Moza berbaikan," ujar Diego.


Valeria melepaskan pelukannya, ia kembali duduk ke kursi semula seraya mengatur napasnya yang masih sedikit tersengal-sengal.


"Kenapa? Kau lebih memilih tetap bermusuhan dengannya?" Terka Diego dengan suara pelan.


Seketika hening, pandangan mereka tertuju ke arah depan. Menikmati hujan yang mulai merintik kecil.


"Aku tidak yakin dia akan memaafkan ku, setelah yang aku perbuat tadi sore," aku Valeria.


"Kalau begitu hubungan kita tidak akan lebih dari sekedar teman pemuas," ujar Diego ia sengaja berkata seperti itu agar Valeria menurunkan egonya dan kembali berteman dengan Moza.


"Apa? Setelah kau mengambil hal berharga dariku?" Tanya Valeria sedikit kesal.


"Syarat ku hanya satu, dan itu mudah kan? Aku ingin kau dan Moza berbaikan," ujar Diego


"Diego kenapa kau membuat ku memilih pilihan yang sulit. Apa kau tidak tahu, aku tergila-gila padamu sejak dulu," batin Valeria seraya menyandarkan dirinya ke sandaran mobil.


"Diego, Kau...apa kau mempunyai perasaan cinta untuk ku?" Tanya Valeria dengan tatapan sendu pada pria yang ada disamping. Dia perlu kepastian, jika jawabannya 'iya' maka wanita itu berniat akan berteman dengan Moza lagi.


"Iya Aku mencintai mu," balas Diego singkat dan menatap Valeria dengan tatapan hangat.


"Baiklah, aku akan berbaikan dengan adikmu. Tapi jika dia tidak memaafkan ku juga?" Tanya Valeria ragu.


"Moza bukan pendendam. Dia pasti akan memaafkan mu," ujar Diego dengan senyuman seraya membelai dagu Valeria yang terbelah dan mencumbu bibirnya lagi dan lagi.



Visual Valeria


\=\=\=\=\=\=\=\=


Diego ckckck nyosor terus.