
Moza mematikan sambungan teleponnya, ia tak mengerti dengan sikap Virus yang berubah-ubah terkadang pria itu cuek tak peduli sama sekali dengan apa yang dilakukan Moza. Terkadang pria itu baik dan peduli padanya dan terkadang pula Virus bersikap dingin.
"Bisa-bisanya aku jatuh cinta pada pria ini, dan buruknya lagi aku semakin mencintainya," batin Moza.
Setelah Moza mematikan sambungan teleponnya, pria itu kembali menjalankan mobilnya. Virus mencari keberadaan mobil Van yang terparkir di depan sebuah klinik. Karena sesungguhnya ia tidak tahu, Diego membawa Valeria ke klinik yang mana.
"Hey Virus itu mobilnya, kau melewatinya," sergah Moza
"Oh, oke aku putar balik. Aku tak melihatnya," ucap Virus.
"Tak melihatnya? Haha mobil itu jelas terparkir disana, kecuali kau sedang memikirkan sesuatu," terka Moza yang ternyata memang benar Virus sedang memikirkan sesuatu.
Ia memikirkan dirinya sendiri, dengan perubahan hatinya yang mendadak marah dan menjadi protektif terhadap Moza. Virus menganggap Moza sebagai adiknya tapi mereka tak punya hubungan darah. Apakah logis jika Virus bersikap seperti itu. Kecuali dia telah salah mengartikan perasaanya yang sebenarnya Virus bukanlah menganggap Moza sebagai adiknya tetapi orang yang berharga dalam hidupnya.
Virus tak menjawab ucapan Moza, pria itu masih termenung, pikirannya ada di suatu tempat. Sesampainya di klinik, Virus langsung memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Van yang disewa Wasabi.
Moza turun dan masuk dengan tergesa-gesa. Dia tak melihat jalanan yang tak rata didepannya hingga wanita itu hampir terjatuh jika ia tak segera menjaga keseimbangannya namun kakinya menjadi terkilir setelahnya. Tetapi Moza menahannya, dan berusaha untuk tidak menjadi wanita yang manja.
Virus tak melihat saat Moza saat hampir terjatuh, karena pada saat itu ia sedang mematikan mobilnya. Kini Virus berjalan dibelakangnya dan melihat Moza berjalan dengan sedikit terpincang-pincang.
"Moza, kenapa kakimu?" Tanya Virus
"Ahh tidak apa-apa,"
"Kalau tidak apa-apa kenapa kau jalan terpincang-pincang, kau ini," ucap Virus menyentil dahi Moza. Meski pelan namun Wanita itu kesakitan. Karena kekuatan Virus melebihi pria normal.
"Akh sakit, bisa tidak bersikap..." ucapan Moza terhenti karena Virus langsung menggendong Moza masuk kedalam.
"Hey turunkan aku," ucap Moza seraya menggerakkan tubuhnya berusaha untuk turun dari gendongan Virus.
Moza tiba-tiba menjadi perhatian semua orang yang ada disana. Bagaimana tidak, karena pria itu menggendongnya dengan paksa.
"Kau berisik sekali, ini klinik dan mereka yang sakit bisa bertambah sakit mendengar ocehanmu," ujar Virus
Kehadiran Virus yang menggendong Moza terlihat oleh Diego, Wasabi dan Andi yang sedang menunggu Valeria di kursi tunggu. Valeria berada didalam ruang dokter untuk diperiksa.
"Hemm sepertinya ada yang baru saja berpacaran," goda Andi.
Virus menurunkan Moza didepan kursi tunggu dan menyuruhnya untuk duduk. Entah kenapa Moza terus saja menurut saat Virus menyuruhnya.
"Kakinya terkilir, aku akan membeli obatnya," ucap Virus
"Tidak perlu, aku selalu membawa obat untuk nyeri sendi ataupun terkilir, ini pakailah," ucap Andi seraya menyodorkan obat dari Indonesia itu.
"Minyak urut," Virus membaca tulisan yang tertera di bungkusnya.
Wasabi menyentuh pangkal hidungnya karena tingkah Andi yang luar biasa diluar nalar. Ia membawa minyak urut dari Indonesia yang terkenal ampuh menyembuhkan kaki yang terkilir atau pegal linu. Padahal di Amerika pun ada obat seperti itu meski bentuknya bukan berupa minyak urut.
Virus mengusapkan minyak itu pada kaki Moza dan mengurutnya dengan lembut.
"Aku sedikit belajar pijat Thailand, Moza yang mana yang paling sakit?" Tanya Virus
"Kau ingin mempraktekkan ilmu yang kau pelajari padaku?" Tanya Moza
"Ya, kalau tidak ada pasiennya kapan aku akan mempraktekkannya haha. Ayo katakan mana yang sakit," ucap Virus dengan terkekeh kecil
"Ini, hmm tidak bukan itu tidak terlalu sakit. Ah iya yang ini," jawab Moza sembari menekan kakinya yang terasa sakit.
Virus berlutut dengan satu lututnya dan satu kakinya menapak di lantai. Ia mulai mengurut, memutarnya dan menariknya dengan keras hingga Moza menjerit.
"Argghh!" Teriak Moza
"Heh bodoh kau menyakiti adikku," seru Diego yang langsung marah dan memukul pelan kepala Virus.
"Itu tekniknya, akan sakit tetapi nanti akan membaik. Bagaimana? Apakah masih sakit?" Tanya Virus mengharapkan prakteknya berhasil.
Moza memutar pergelangan kakinya dan menekan-nekan pada bagian yang sakit. Dan ajaib, Moza tak merasakan sakit.
"Oh ya padahal aku mempelajarinya hanya sekali, saat di rumahmu tepatnya saat aku kelaparan dan meminta mu masak hahaa, hebat juga buku itu," ucap Virus.
"Bukan bukunya yang hebat, kau yang terlampau cerdas," ujar Wasabi.
"Maaf aku tadi memukul mu, thanks," ucap Diego menepuk bahu Virus.
Wasabi, Andi dan Diego kembali ke tempat duduknya. Virus beranjak berdiri dan duduk disamping Andi, kemudian Andi baru menyadari jika parfum Virus dan Wasabi sama.
"Astaga aku sampai lupa memberikan ini padamu," ucap Moza seraya memberikan bungkusan makanan pada Diego.
"Kau makanlah, yang satu untuk Valeria," sahut Moza
"Kau memang adikku yang manis, terimakasih Moza," ucap Diego lalu membuka bungkusan makanan itu dan mulai melahapnya.
Sementara Andi terus mengendus aroma Virus dan Wasabi.
"Kalian memakai parfum apa sih?" Tanya Andi
Wasabi hanya tersenyum miring dan berkata, "Tanyakan pada orang disebelah mu," Andi pun menoleh pada Virus dan mengulangi pertanyaannya lagi.
"Kau dan Wasabi memiliki aroma parfum yang sama dan itu sangat enak, ayo beritahu aku," ujar Andi.
"Tidak dijual, tapi kau bisa membuatnya," jawab Virus kemudian dia berpangku tangan dan masih mengolah rumus dihatinya.
Tak berapa lama Valeria keluar seraya membawa resep obat. Virus beranjak dari duduknya dan menuntun Valeria untuk berjalan ke kursi tunggu.
"Kau duduk lah aku akan menebuskan obat untukmu," sahut Virus.
"Iya terimakasih," jawab Valeria yang semakin lemas. Setelah wanita itu duduk, Virus menebus obat di apotek sebelah klinik itu.
Diego menghampiri Valeria dan duduk disampingnya kemudian menyodorkan makanan untuknya.
"Valeria, makanlah. Kau belum makan pagi ini," ucap Diego yang terlihat peduli.
"Kau membelikannya untukku?" Tanya Valeria
"Bukan aku, tapi Moza," ucap Diego seraya menunjuk Moza yang duduk di kursi belakangnya. Valeria berbalik dan menatap Moza. Ia melayangkan senyuman pada musuhnya itu.
"Thankyou Moza," ucap Valeria yang dibalas anggukan kecil oleh Moza. Wanita itu juga membalasnya dengan senyum
Ini kali pertama mereka saling melempar senyum. Setelah sekian lama mereka bermusuhan.
"Aku harus cepat pulang, karena aku sudah memesan pesawat dan tak ingin ketinggalan. Aku tinggalkan kalian dulu tidak apa kan?" Sahut Wasabi seraya beranjak dari duduknya dan berniat pulang dengan kekuatan teleportasinya
"Kau tak menunggu Virus?" Tanya Andi.
Belum sempat Wasabi balas pria yang dibicarakan muncul dibelakang Wasabi.
"Virus, Aku harus cepat pulang ke Nevada, lalu kembali ke Jakarta," pamit Wasabi pada Virus
"Kenapa kau tidak langsung saja berteleportasi dari sini ke Jakarta, kau bisa menghemat uangmu," ucap Virus.
"Tidak itu menyalahkan aturan, dan itu ilegal haha," ujar Wasabi
"Haha, ya sudah hati-hati ya. Terimakasih kau sudah membantuku," ucap Virus
"Oke, oh ya satu pesanku," ucap Wasabi kemudian berbisik.
"Apa?" Tanya Virus tak mengerti
"Ini soal hati, pikirkan siapa orang yang kau butuhkan, yang kau sayangi dan kau cintai. Lalu pejamkan mata mu dan kau akan lihat siapa dia," ucap Wasabi dengan berbisik dan kemudian pamit pada semuanya lalu pergi menghilang dengan kekuatan teleportasinya.
Sementara Andi, kepulangannya ditahan oleh Virus. Pria itu menjadikan Andi anak buahnya.