
Virus terbangun dari tidurnya, keadaanya terlihat membaik. Sudah tidak demam ataupun menggigil lagi. Bahkan dia sudah dapat berjalan sendiri seperti biasa, meski ada sedikit rasa sakit.
Benar sekali kata Virus, dia mempunyai antibodi yang berbeda dengan manusia kebanyakan, bukan berarti Virus bukan manusia. Virus hanya sakit sebentar, minum beberapa obat maka dia akan pulih dengan cepat.
(Kekuatan Virus akan dibahas di episode saat dia bertemu Ayah kandungnya nanti. Tunggu saja gaes)
"Andi," panggil Virus seraya berjalan mendekati Andi yang sedang sarapan.
Moza datang ke arah Virus dengan dua piring sarapan di tangannya. Satu piring untuk Virus dan satu piring lagi dia berikan untuk Rachel.
"Sarapan untukmu, jika kurang kau bisa menambahnya lagi," ucap Moza kemudian berjalan ke sisi bus yang satu menuju meja makan Rachel
"Tentu aku pasti akan minta tambah. Masakan mu terlalu enak, sayang jika memakannya hanya satu piring. Sisakan dua piring lagi untukku ya," pinta Virus
"Perutmu terbuat dari apa? Haha oke aku akan menyisakan untukmu," ucap Moza
"Haha terimakasih sayang,"
Virus duduk disamping Andi dan berterimakasih pada pria kecil itu. Andi lebih pendek dari Virus, tetapi kecerdasannya lebih tinggi dari semua orang yang ada disana.
"Andi, terimakasih jika bukan karena mu, mungkin aku bisa sekarat saat itu," ucap Virus
"Sama-sama, aku juga tidak akan tega melihatmu kesakitan seperti itu," ucap Andi seraya tersenyum kemudian wajahnya kembali datar
"Kau kenapa? Sepertinya kau tidak bersemangat pagi ini," tanya Virus yang mengamati perubahan ekspresi wajah Andi. Kemudian Virus melahap makanannya dengan suapan besar.
"Hemm Wasabi mengirimiku pesan, dia bilang merindukanku. Haha, Aku sangat sebal dengan Wasabi. Dia terlalu kaku dan tidak bisa bercanda tapi disisi lain...aku juga merindukannya. Kita bukan pasangan gay, kau harus bedakan itu," ucap Andi yang menyatakan perasaan rindunya dan langsung segera menjelaskan jika rindu sebatas persahabatan.
"Ya aku tahu. Lalu? Hanya itu?" Tanya Virus
"Yang membuatku sedih, Wasabi sakit. Pagi tadi aku menerima pesan dari Joy, dan bilang jika Wasabi masuk rumah sakit. Dia....Dia terkena beberapa tembakan, Joy tidak bilang kenapa dan bagaimana setelahnya. Aku-" Andi mengeluarkan air mata, sesaat ia pun menaruh sendok di piringnya lalu menyeka air mata yang jatuh tak terbendung.
Virus yang sedari tadi menyuap makanan dengan lahap kini berhenti dan menepuk-nepuk punggung pria kecil itu.
"Meski aku dan Wasabi selalu bertengkar tetapi aku khawatir padanya. Dia dirumah sakit dan aku ingin melihat keadaannya," ucap Andi kemudian menarik napas panjang setelahnya lalu membuangnya kasar.
"Kau sahabat terbaik Andi, ketika temanmu sakit kau memikirkan keadaannya. Setelah sampai di Texas kau bisa pulang ke Indonesia," ucap Virus yang memahami Andi.
"Lalu bagaimana denganmu? Dengan kalian?" Tanya Andi yang terlihat galau.
"Kau bisa bekerja dari negaramu kan? Kita masih bisa berkomunikasi lewat online. Sejujurnya aku juga ingin melihat Wasabi tetapi aku punya masalah disini, dan aku juga tidak ingin kau terlibat masalah ku. Karena yang kita hadapi ini bukan manusia biasa. Dia seorang mafia yang terlatih dan sepertinya dia tidak akan mudah percaya dengan tipu daya kita kemarin," ucap Virus yang sepertinya telah mengenal siapa Ayahnya Darren setelah kebakaran terjadi.
"Aku akan membantu masalah mu. Bos, terimakasih. Kau sangat pengertian," ucap Andi
"Terimakasih," ujar Virus.
"Oh ya, Aku telah memblokir akses informasi mengenai kalian. Mereka tidak bisa melacak mu lagi. Tetapi ada sedikit masalah, aku melihat riwayat yang telah mereka lacak," ucap Andi melanjutkan sarapannya.
"Lalu apa saja yang mereka ketahui?" Virus juga ikut melanjutkan sarapannya.
"Mereka telah melacak semua tentang Moza, dan tentang mu. Karena saat kau menembak Darren, wajahmu terlihat jelas di rekaman cctv gedung seberang. Tetapi mereka tidak tahu nama aslimu. Virus telah dianggap mati, dan dia hanya tau identitas baru mu sebagai Mike. Kau menyamar sebagai Mike yang tinggal di Texas," ucap Andi
"Haha, ya aku sekarang menjadi Mike, dan alamatnya memang di Texas tetapi bukan alamat ku sebenarnya. Hemm seharusnya aku mengganti alamatnya mungkin ke Afrika,"
"Sudah terlanjur dan mereka ada dibelakang kita, Kau harus segera mengganti identitasmu dan mereka," ucap Andi
"Ya," Virus telah menghabiskan makanannya
"Lalu apa rencana mu? Kau tidak bisa terus-terusan sembunyi," ucap Andi
"Jika mereka masih mengejar, Aku akan mengerahkan tim rahasia ku. Pasukan rahasia, Black Knight,"
"Sebenarnya kau ini siapa?" Tanya Andi yang telah menghabiskan sarapannya.
Virus tidak langsung menjawabnya, dia beranjak berdiri dan meminta sarapannya lagi pada Moza yang sedang membuat jus. Tak berapa lama Virus kembali dengan piring yang telah terisi penuh makanan.
"Maksud ku, siapa kau sebenarnya? Kau bagaikan sultan yang sedang bersembunyi,"
"Haha,"
"Hey aku serius, Aku penasaran apa saja pekerjaan mu dan bus ini seharga 23 Milyar rupiah, mungkin lebih," ujar Andi seraya meneguk segelas air putih.
"Ada orang baik yang memberiku ini secara cuma-cuma," ucap Virus
"Tidak mungkin,"
"Itu mungkin, kau saja tidak percaya jadi untuk apa aku menceritakannya padamu," ucap Virus
"Lalu kenapa dia mau memberikanmu bus ini?" Tanya Andi
"Kau tahu semua reader terkejut melihat bus yang kau miliki ini. Mereka semua ingin merasakan bagaimana rasanya berada didalam bus dengan fasilitas hotel berjalan," ucap Andi
"Haha oke aku akan menjawabnya," Virus berhenti dan mengunyah makanannya dahulu.
"Saat itu aku mengintai target yang harus ku bunuh. Aku mengintainya dan bersembunyi di atap gedung seberang apartemennya. Tak berapa lama ada suara berisik dan berteriak meminta tebusan. Tingkahnya sangat menggangguku, aku tembak saja dia. Ternyata dia menculik anak konglomerat. Orang tuanya datang menemui ku dan berterimakasih. Mereka pengusaha bus mewah dan dia memberiku bus ini sebagai hadiah,"
"Wow itu suatu kebetulan yang bagus,"
"Haha ya tapi saat itu Aku tidak langsung menerimanya. Karena aku pikir untuk apa? Dia pun menyerahkan kartu namanya, dan dia mengatakan padaku jika suatu saat aku membutuhkan bus ini, dia siap memberikannya kapanpun dan dimana pun,"
"Dimanapun? itu artinya dia tidak berlokasi di Nevada? Siapa konglomerat itu?" Tanya Andi
"Ya, dia orang California, dan kebetulan cabang usahanya ada di Las Vegas. Aku hubungi saja dia dan dia langsung menyiapkan bus ini. Aku juga tidak mengira akan semewah ini. Aku pikir itu bus mini biasa," Virus menghabiskan piring keduanya.
"Hemm jadi begitu ceritanya," ucap Moza yang ternyata mencuri dengar obrolan Virus dan Andi.
Wanita itu mendekat ke meja Virus dan memberikannya dua gelas jus jeruk untuk Andi dan Virus.
"Ini Jus special, diminum ya," Moza mengambil piring kotor yang ada di meja itu
"Sayang aku mau makan lagi," ucap Virus
"Astaga kau belum kenyang, oke aku ambilkan tapi sepertinya tidak banyak karena Diego dan Valeria belum makan," ucap Moza
"Kau sendiri sudah makan?"
"Aku sudah makan," Moza kebelakang dan menaruh piring kotor di tempat cucian piring dan mengambilkan makanan lagi untuk Virus
"Ini Piring ketiga mu," Moza memberikan lagi sepiring makanan ke meja Virus
"Haha terimakasih sayang,"
"Terimakasih Moza, makananmu sangat enak. Aku mau menggantikan Diego," pamit Andi kemudian meninggalkan Virus di meja itu. Moza kembali ke dapur kecil untuk mencuci piring.
Andi kini mengambil alih kemudi. Baru kali ini ia mengendarai bus besar seperti hotel berjalan. Diego sarapan sementara Valeria sedang mandi. Kamar mandi itu ada di dalam kamar.
Diego cepat-cepat menghabiskan makanannya. Pagi itu dia sangat ingin melakukan olahraga panas yang sempat tertunda.
'Aku tidak ingin melewatkannya lagi,' batin Diego
Diego masuk ke kamar mertuanya, karena Valeria memakai kamar mandi di dalam kamar itu. Sementara mertuanya masih berbincang-bincang dengan Rachel. Tak lupa Diego mengunci pintu kamarnya.
Pria itu masuk ke dalam kamar mandi yang tidak terkunci. Ia membuka pintu dengan menggesernya pelan. Valeria sedang keramas, memijat-mijat kepalanya dibawah guyuran air shower.
Diego membantunya memijat tetapi bukan kepalanya yang dipijat melainkan sesuatu yang lain. Spontan saja Valeria terkejut bukan main, tetapi dia tidak berteriak hanya saja ia segera memutar badannya kebelakang. Dan ternyata itu suaminya sendiri.
"Astaga, sayang kau mengagetkan ku," ucap Valeria seraya mengalungkan kedua tangannya dan mereka saling menautkan bibir mereka.
Mereka melakukannya di bilik kecil sembari melakukan pijatan dan sentuhan dibawah air shower hangat menyalurkan hasrat yang sempat tertunda.