My Name Is Virus

My Name Is Virus
Merebut Perhatian



Andi, Valeria, Virus dan Diego berjalan menuju parkiran basemen. Virus memulai perbincangan.


"Hey, Diego bawa ini," ucap Virus seraya memberikan kunci mobil Lamborghininya.


"Kau dan Valeria harus menjadi sorotan," ucap Virus


"Jika bukan karena misi penyamaran ini, aku tidak akan membiarkanmu dekat dengan Valeria," batin Virus


"Ok, kau sendiri? Dengan mobil Van?" Tanya Diego


"Mobil Van itu dibawa oleh Wasabi," sahut Andi


"Tapi bukankah saat di lobby dia bilang kita naik mobil Van?" Tanya Valeria


"Rencana berubah, dia lupa jika Virus seorang tamu juga, jadi kita menyewa mobil lain. Sopir itu bilang ada D2, sebentar aku nyalakan alaramnya," ujar Andi


Tret Tret


Bunyi alaram mobil terdengar bersamaan dengan tanda lampu menyala.


"Itu dia, Prado." ucap Virus seraya menunjuk


"Ok kita ketemu disana, sebelumnya taruh ini di telingamu," ucap Andi


"Satu anting?" Tanya Valeria


"Ini bukan sekedar anting tetapi juga kamera, earphone sekaligus microphone. Tenang saja ini magnet, kalian memakai satu anting saja. Valeria kau pasang anting magnet itu di atas daun telinga. Dan Diego, anting mu berwarna hitam bundar pasang di bagian bawah. Atau kau ingin anting permata seperti punya Valeria," ucap Andi


"Oh no, okay aku sudah memasangnya, apakah terlihat keren?" Tanya Diego.


"Sangat keren," puji Valeria


Sementara Virus semakin tidak senang dengan pujian yang selalu dilontarkan Valeria. Ia menatap Valeria dengan tatapan khasnya. Mata Valeria tak sengaja bertemu dengan mata Virus yang membuatnya terhenyak.


"Tatapannya membuatku tak bisa bernapas," batin Valeria


Sesampainya disana, Diego berlari kecil mengitari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Valeria. Diego membantunya turun dengan mengulurkan tangannya. Wanita itu meraih tangan Diego dan melayangkan senyum manisnya. Ia turun dengan anggun, memperlihatkan belahan rok sampai pahanya, terlihat paha mulusnya sedang menggoda pria itu, membuat Diego menelan salivanya.


Wanita itu mampu mengalihkan perhatian Diego yang sempat acuh dan benci padanya. Tentu saja karena dia harus membela Moza.


Setelah Valeria berdiri sejajar, ia melingkarkan tangannya ke dalam lengan Diego dan berjalan berhimpitan. Tanpa disadari jantung Diego berdetak kencang.


Mereka mulai melangkahkan kaki dengan ketukan yang seirama. Diego yang lebih tinggi darinya mencoba mengikuti langkah Valeria. Untung saja wanita itu juga tidak terlalu pendek.


Semua mata tertuju kepada pasangan itu, Diego yang sangat tampan memakai jas mahal dan terlihat sangat berwibawa karena badannya yang tak kalah kekar dari Virus. Pandangan mereka juga teralihkan pada Valeria yang cantik dan berpenampilan seksi. Terutama pria yang melihatnya. Bahkan Wasabi sempat melihat wanita itu lagi tanpa berkedip, dan sedikit menganga.


Moza mendekati Wasabi dan menyenggol lengannya dengan sikutnya. Disertai suara deheman yang sangat tipis. Wasabi pun mulai fokus berjaga seperti pertugas keamanan dengan memakai jas kacamata dan sarung tangan hitam.


Setelah mereka berdua masuk, Virus menyusul dibelakangnya dengan wajah yang berbeda meskipun begitu masih membuat jantung Moza berdegup kencang melihatnya.


"Dimana pria itu?" Tanya Valeria berbisik dengan mendekatkan mulutnya ke telinga pria disampingnya itu. Mereka sangat dekat apalagi saat Diego ingin membalas bisikannya kedua wajah mereka berhadapan. Segera saja Diego memiringkan wajahnya dan berbisik mendekati telinga Valeria.


"Pria itu diujung dengan rekannya yang lain, sedangkan Nyonya Anna ada di depan panggung menikmati alunan biola dan piano," jawab Diego sedikit canggung.


Valeria dan Diego berjalan mendekati Nyonya Anna. Kini bukan Valeria yang menyentuh lengan Diego melainkan Diego yang meraih pinggang Valeria dan tak sengajak menyentuh sedikit kulitnya karena pakaian pada bagian belakangnya yang terbuka begitu lebar.


Virus yang baru saja mengambil gelas berisi wine dengan takaran yang sedikit. Dan langsung meneguk habis dalam satu tegukan. Ia menyeka air yang sedikit tumpah dari mulutnya dengan tangannya kemudian melonggarkan dasi yang dikenakannya seraya menghampiri Valeria dan Diego yang berdekatan tanpa sekat diantaranya. Kesabaran pria itu benar-benar habis setelah beberapa jam menahannya terutama setelah melihat kelakuan Diego barusan.


"Cukup sudah tak ada drama romantis antara Diego dan Valeria," gumamnya


Pria itu kini berada dihadapan Valeria dan membungkukkan badannya sedikit kemudian mengulurkan tangannya untuk mengajak berdansa.


"Permisi Nona, apakah kau berkenan berdansa denganku?" Tanya Virus dengan sopan yang membuat Valeria sedikit bingung. Ini bukan bagian dari rencana. Tetapi ia dapat melihat ada rasa tidak suka ketika dirinya dekat dengan pria lain yaitu Diego.


Aksi Virus itu menyita sedikit perhatian, ia pun menerimanya agar terkesan ramah dan menghargai.


"Baiklah dengan senang hati," ucap Valeria menerima uluran tangan Virus dan tersenyum kecil.


Virus berhasil membawa Valeria ke dalam dekapannya. Setelah menariknya dengan pelan ke tengah panggung lebih tepatnya di bawah panggung. Mereka mulai menari mengikuti irama. Virus berhasil menyita perhatian para tamu yang ada disana. Terlebih ketika dua orang pemain biola itu turun dari panggung mereka seakan-akan mengiringi tarian Virus dan Valeria.


Virus membuat Wanita itu berputar-putar dan sengaja menjatuhkannya tapi segera pria itu menangkap dengan tangan di belakang.


Mereka saling berpandangan dengan napas yang tersengal-sengal, keduanya berusaha mengatur napasnya bersamaan dengan tepukan yang sangat gemuruh dari para hadirin yang ikut menonton tarian mereka.


Valeria beranjak berdiri setelah mendengar tepukan tangan disana. Virus membuat Valeria merasa senang seketika, mereka tersenyum satu sama lain dan juga tersenyum kepada orang yang bertepuk tangan untuknya seraya mengucapkan terimakasih.


Sementara hati Moza seperti tersayat, sepertinya tidak hanya Moza tetapi Diego pun merasakan hal yang sama. Diego mendekati mereka berdua. Pria itu juga ikut bertepuk tangan lalu mengulurkan tangannya kepada Valeria seakan-akan Diego meminta kembali kekasihnya.


Pria misterius itu berjalan mendekati panggung seraya berkata,"Virus? Valeria?"


Andi melihat pergerakan pria misterius dan memberitahukan hal penting kepada Valeria, Diego dan Virus untuk kembali ke posisi mereka.


Setelah pertunjukan musik selesai, saatnya mereka membuka acara pelelangan dengan sedikit pidato sambutan dari penyelenggara pelelangan. Peserta yang ikut acara pelelangan dipersilahkan duduk berlaku untuk para pelelang juga.


Valeria duduk tepat disamping Nyonya Anna. Sedangkan Virus dengan wajahnya yang berbeda duduk di samping Pria Misterius. Virus memandang sekitar dan mengamati untuk melihat bodyguard yang selalu mengelilingi pria misterius itu, namun ia tak melihat bodyguard ataupun asistennya ada disana.


"Kau menari dengan sangat bagus, siapa namamu?" Puji Nyonya Anna pada Valeria kemudian diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


"Sebut saja namamu Markonah, eh jangan hemm Viona ya Viona saja," ucap Andi lewat microphone yang dipasang pada anting Valeria.


"Terimakasih, Saya Viona. Dan anda?" Valeria balik bertanya


"Saya Angelina," jawab Nyonya Anna yang Valeria sendiri tahu itu bukanlah namanya.