
Diego, Valeria, Chris dan Rachel tak bisa bicara apapun saat sampai ke lokasi tujuan. Mereka diantar ke sebuah garasi besar yang sudah ada bus disana. Sementara Moza tak bisa memiliki kesan apapun saat sampai di bus mini. Pusat pikirannya hanya mengarah pada Virus dan Andi.
Bukan apa-apa, bus mini yang dikatakan Virus bukan mini lagi tetapi seperti rumah berjalan. Bukan kaleng-kaleng fasilitas yang ada di bus itu.
"Oh my God, kau yakin ini bus kita?" Tanya Diego pada supir truk sampah yang mengantar mereka ke lokasi dimana bus mereka parkir.
"Iya benar. Kau punya kuncinya kan? Buka saja kalau tidak percaya," ucap supir suruhan Virus.
Diego pun turun dan membuka kuncinya, ia mulai masuk dan tak lupa Diego memeriksa bagasi yang berisi tas dan barang-barang mereka. Ternyata bus itu mempunyai garasi cukup untuk tempat mobil.
"Ini bus termewah yang pernah ku naiki," ucap Rachel yang sudah berada didalam.
Seketika mereka lupa akan keadaan Virus.
"Astaga bisa tidak kalian duduk dan memikirkan tentang Virus dan Andi yang masih ada diluar sana!" pekik Moza yang merasa kesal dengan keluarganya.
"Maaf Moza, bukannya kita tidak memikirkan hanya saja seketika mata ini tersihir dengan sendirinya. Kau lihat kan? Bus ini terlalu mewah. Seperti hotel berjalan," ucap Valeria
"Ya aku tahu tapi aku tidak tertarik. Diego, aku tidak bisa disini terus! Aku tidak tahu kabar Virus. Sambungan komunikasi dengan Andi juga terputus. Cari jalan keluar," keluh Moza yang berjalan Mondar-mandir di dalam bus.
"Diego dan semuanya aku pergi dulu l, semoga perjalanan kalian menyenangkan. Bye...," pamit si supir truk sampah.
"Ok, thanks," sahut Diego membalas ucapan supr sebelum menjawab ucapan Moza.
"Moza, Virus memberi pesan padaku sebelum rencana ini dilakukan. Dia bilang tunggu Virus selama setengah jam. Jika lebih dari itu kita harus cabut dari tempat ini," ujar Diego seraya melirik jam di pergelangan tangannya
"Sekarang sudah dua puluh lima menit, kita tunggu lima menit lagi," ucap Diego sembari menatap Moza dan menepuk pundaknya
"Hah? lalu kau akan meninggalkan Virus begitu saja?" Hardik Moza
"Aku tidak punya pilihan selain menuruti perkataan Virus. Dia mempunyai firasat jika Ayahnya Darren tak lama lagi akan menemui kita," ucap Diego.
"Moza jika Virus berkata demikian sebaiknya kita mengikutinya," ucap Chris
"Kalian-," ucapan Moza terhenti
Bruuummm Ciiiit Bangg
Tiba-tiba terdengar suara mobil yang menabrak pintu garasi mereka. Diego mulai waspada dan sedikit takut. Dia kemudian menyuruh semua orang untuk berhenti berbicara dan merunduk sementara itu Diego mengeluarkan pistol dan merayap ke tepi dinding bus dan mulai mengintip dari balik kaca.
Diego melihat sebuah mobil berwarna coklat terang hampir menyerupai warna gold dan matanya terus memperhatikan. Tak berapa lama keluar seorang pria dengan janggut tebal berlari ke sisi penumpang disebelahnya, kemudian memapah seseorang yang keluar dari dalam.
"Siapa mereka kenapa tidak jelas, yang satu rambutnya gondrong dan wajahnya hitam, sedangkan yang satunya berjanggut tebal," ucap Diego
Moza penasaran dan ikut mengintip. Setelah melihatnya Moza tersenyum kemudian memukul lengan Diego.
"Bodoh, itu Virus dan Andi," ujar Moza kemudian berlari kecil keluar dari bus dan menghampiri Virus.
"Sayang, kau baik-baik saja kan?" pekik Moza dari kejauhan seraya berlari dan menghamburkan dirinya memeluk Virus.
"Hemm sedikit kekacauan tapi aku dan Andi berhasil melewatinya, terimakasih sayang," ucap Virus membalas pelukan Moza
"Terimakasih untuk apa?" tanya Moza yang melepaskan pelukannya dan memandang wajah Virus yang menghitam.
"Terimakasih untuk perhatian mu," ucap Virus mengecup bibir Moza.
"Hemm ayo cepatlah, kalian ciuman didalam saja," ucap Andi yang berada dibelakang Virus.
"Ah hampir lupa, ayo sayang kita harus cepat. Mafia itu sudah dekat dengan kita," ujar Virus yang kemudian berjalan terpincang
"Hah? Dan kenapa kakimu?" Tanya Moza
"Tadi sebelum kemari, Mafia itu sedang berbelok ke arah rumah mu. Ayo kita harus cepat bergerak. Moza kau bantu Virus ya, aku mau memasukkan mobil itu ke dalam bus," jelas Andi kemudian ia segera berlari kecil menuju mobil yang di kendarai tadi.
"Ya ayo sayang," titah Virus yang berjalan cepat dan masih terpincang-pincang.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa kakimu?" Tanya Moza yang ikut membantu Virus berjalan cepat menuju bus.
"Nanti ku ceritakan," ucap Virus yang fokus menahan sakit kakinya.
"Diego, bantu Virus," pekik Moza dari bawah bus
Diego keluar dan membantu Virus naik, lalu pertanyaan yang sama dengan Moza pun keluar dari mulut Diego.
Sementara Moza mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat lalu ia kembali duduk disamping Virus seraya mengusapkan ke wajah kekasihnya yang terlihat gosong terkena asap.
"Terimakasih, huff. Aku kejebak reruntuhan dan kayu atap rumahmu menimpa kaki ku. Jika kayu saja mungkin tidak akan separah ini. Tetapi masalahnya di kayu itu menancap paku karat dan menusuk kakiku," jelas Virus yang merasa sedikit lega karena Moza membasuh wajahnya dengan air hangat.
"Astaga, itu mengerikan dan harus di segera diobati jika tidak aku takut kau akan terkena tetanus. Itu paku karat dan bisa bahaya sayang," ucap Moza seraya membuka balutan perbannya.
"Ya aku tahu, tetapi saat menuju apotek, Andi melihat rombongan mobil mafia dan aku teringat kalian," ucap Virus
"Ya dan dia harus rela menahan sakit karena tidak ada apotek disepanjang perjalanan nanti," ucap Andi dan membuat semuanya panik dengan kondisi Virus
"Diego jalankan busnya, kita tidak bisa disini terus! Mereka sudah dekat," titah Virus
"Ok," jawab Diego
Pria itu segera berlari menuju kemudi. Valeria menemani Diego disamping kemudi.
"Sayang, luka mu sepertinya dalam. Aku tidak tega melihatnya," ucap Moza yang mendadak pucat karena seketika ia ngilu melihat luka yang Virus derita.
Andi ikut melihat luka Virus yang ternyata semakin parah. Pria itu kemudian mengambil tasnya dan melihat obat-obatan yang dia miliki.
"Ahh aku tidak membawa banyak obat-obatan," ucap Andi
Tak lama kemudian Rachel keluar dan menyajikan teh hangat untuk semua orang.
"Minumlah dulu, sembari memikirkan cara untuk mengobati luka itu," ucap Rachel
Moza mengambil gelas yang telah ibunya sajikan di atas meja dan memberikannya pada Virus untuk di minum. Perasaan hangat membuat pikirannya lebih terasa rileks. Bukan hanya teh itu yang membuatnya terasa hangat melainkan sikap Moza yang sangat perhatian dan lembut padanya.
~°°~
Sementara di Kota lain, Los Angeles. King mafia julukan untuk ayah Darren, berada disebuah ruangan pribadinya. Pria itu sedang membersihkan pedang samurai yang sudah lama tidak digunakan. Ia dikelilingi beberapa bodyguard yang berjaga di dekat pintu dan dua bodyguardnya di sisi kanan dan kirinya. Ia menunggu informasi yang akurat dan cepat.
Tap Tap Tap
Seorang anak buahnya berlari kecil dan masuk ke dalam ruangan pemimpin King Cobra, nama geng mafia yang terkenal kejam, sadis dan tak kenal ampun.
Dengan langkah gemetar dan dengan suara bergetar pria itu memberikan sebuah informasi yang membuat sang pemimpinnya tidak senang.
"Lapor bos. Mereka sekeluarga diperkirakan tewas dalam peristiwa kebakaran, saat pesta pernikahan digelar," ucap anak buah itu dengan sedikit ragu. Pasalnya dia belum mengecek kebenarannya lebih dalam
"Apa kau sudah memeriksanya dan memastikan jika mereka semua tewas dalam kebakaran itu?" Tanya sang ketua mafia
"Su-sudah, berdasarkan saksi dari tetangga. Tetapi untuk pemeriksaan hasil data forensik sendiri belum keluar," sahutnya lagi
"Hemm dasar tidak becus!"
Gordon Cullen, ketua mafia King Cobra. Berbalik ke belakang seraya mengayunkan pedang samurai ke arah anak buahnya.
Screeettthhh
Hanya dengan sekali tebasan, kepala itu terpenggal, lepas dari lehernya. Darah mengucur deras bersamaan dengan itu, kepala anak buahnya terjatuh dan bergelinding beberapa centi dari kakinya. Tak lama kemudian tubuhnya terjatuh. Lantai marmer putih itu berubah warna menjadi merah kental.
"Aku tidak suka mempunyai anak buah yang stupid, idiot!" ucap Gordon
"Bersihkan samurai ku dan sampah itu!" Perintah Gordon pada anak buahnya yang lain. Segera mereka pergi melakukan perintah Bosnya.
'Aku yakin mereka masih hidup. Akan ku cari mereka sampai ke neraka sekalipun,' batin Gordon
Visual Ayah Darren, Cullen
Visual Bus yang digunakan Virus (rumah berjalan)
Sumber Foto Google.