
Di waktu yang sama, di bagian Amerika waktu menunjukkan pukul empat sore, karena wilayah Amerika 16 jam lebih lama dari Indonesia.
Valeria berencana ke rumah Diego untuk bertemu Moza. Memperbaiki hubungannya yang sudah lama retak. Valeria pernah ke rumah Moza sebelumnya dan dia juga akrab dengan ibunya, akan tetapi wanita itu tidak pernah tahu jika Diego adalah kakak kandung Moza.
Moza tidak pernah bercerita tentang Diego dan pria itu juga sibuk bekerja di luar kota demi menghidupi kebutuhan keluarganya.
Sesampainya di rumah Diego, Valeria di sambut oleh Rachel, "Kau...Valeria?" Tanya Rachel kemudian sedikit mendekat untuk melihat dengan jelas, karena penglihatan mata kirinya sedikit kabur jika melihat jauh, sedangkan mata sebelah kanan sudah tidak berfungsi dengan baik. Terkadang penglihatannya samar dan pandangannya gelap.
"Iya Bu, ini aku Valeria," ucap Valeria sedikit canggung, dia takut keberadaannya tidak diterima dengan baik.
"Valeria, masuklah. Moza sedang tidak berada di rumah, dia mendapatkan panggilan kerjaan di tempat lain. Mungkin sebentar lagi pulang," ucap Rachel seraya mengajaknya masuk
"Panggilan kerja? Bukankah Moza sudah bekerja?" Tanya Valeria
"Dia baru saja berhenti dari kantornya yang lama karena Bosnya melakukan pelecehan," jelas Rachel
'Darren, kurang ajar,' batin Valeria yang mengenal siapa Darren, karena Darren pernah menjadi kekasih Valeria.
Valeria sendiri tidak mencintainya karena tujuannya mendekati Darren untuk mencuri sebuah patung kecil yang bernilai milyaran. Uang hasil penjualan patung antik itu pun dia bagi-bagikan kepada temannya yang kurang mampu.
"Valeria, jika kau ingin minum, ambil sendiri ya? Jangan sungkan," seru Rachel yang masih bersikap baik. Meskipun dia mendengar dari Andi jika Valeria terlibat kejahatan.
"Iya, nanti aku akan mengambilnya sendiri. Dan soal Darren apakah perbuatannya sudah dilaporkan pada polisi?" Tanya Valeria
"Tidak, kata Moza pria itu sudah dihajar habis-habisan oleh Virus," jelas Rachel
'Astaga Moza dalam bahaya, Darren itu pendendam terlebih lagi dia anak king Mafia,' batin Valeria yang sedikit mengenal siapa latar belakang Darren.
"Bu, apa kau tahu? Alamat dimana Moza mendapatkan panggilan pekerjaan itu?" Tanya Valeria merasa cemas karena Darren punya seribu cara licik untuk mendapatkan dombanya. Ia khawatir jika panggilan itu akal-akalannya untuk menjebak Moza.
"Dia tidak bilang hanya saja dia sempat mengatakan di daerah kota dekat Bar Las Vegas," jelas Rachel
"Kalau begitu aku pamit dulu ya Bu, aku harus menyusul Moza," pamit Valeria.
"Memangnya ada masalah apa?" Tanya Rachel yang ikut cemas karena gelagat Valeria yang tidak tenang
"Tidak ada, hanya saja aku ingin menjemput Moza, sudah dulu ya Bu," ucap Valeria kemudian mencium kedua pipi Rachel dan berlalu pergi secepat mungkin.
Flash Back
Tiga jam sebelumnya, Moza sudah sampai di alamat yang tertulis jelas sebelumnya. Undangan wawancara kerja di Kota Las Vegas, gedung tertinggi yang letaknya persis di belakang gedung Bar Las Vegas yang terkenal.
Moza memasuki gedung itu tanpa menaruh curiga sedikitpun. Tetapi Moza selalu waspada dengan pistol yang ia sematkan pada pahanya dan tertutup oleh rok kerja. Sehingga pistol itu tidak menarik perhatian.
Namun saat naik ke lantai 5 dan akan memasuki ruangan, Moza diperiksa kembali dengan menggunakan sensor senjata tajam atau berbahan besi yang dapat membuat alat pendeteksi berbunyi dengan nyaringnya.
Tit... Tit...Tit..
"Maaf Nona, apakah Anda membawa senjata tajam atau senjata api atau sejenisnya?" Tanya salah satu petugas ketika alat pendeteksi berbunyi.
"Tidak," ucap Moza berbohong.
"Tolong jangan bohong Nona, jika Anda membawanya tolong berikan senjata itu pada kami dan kami akan mengamankannya," perintah petugas.
Sebelum Moza benar-benar memberikan pistol itu pada petugas, ia juga melihat ada banyak orang yang juga datang wawancara kerja. Ia pun tak menaruh curiga lantas memberikan pistol itu dengan ringan hati.
Flashback Off
Moza duduk di kursi yang disediakan untuk para pelamar. Ia memilih tempat duduk tepat di depan pintu ruangan pimpinan HRD.
Begitu salah satu pelamar keluar dari ruangan itu, Moza melihat isi ruangan dan juga ia sempat melihat sekilas pimpinannya itu, meskipun tidak jelas karena pintu tertutup kembali.
Tak berapa lama Moza dipersilahkan masuk ke dalam. Pertanyaan pun muncul dalam benaknya
"Ada banyak orang yang datang sebelum Aku, tapi kenapa Aku yang dipanggil lebih dulu," batin Moza.
Ceklek
Saat wanita itu membuka pintu, dia tercengang dengan suasana ruangan yang tiba-tiba kosong, padahal ia sempat melihat ada sebuah meja di ruangan itu.
'Aneh, kenapa kosong? Dan dimana pimpinan HRD-nya'
"Moza sekretaris kesayangan ku," terdengar suara pria yang sangat Moza kenal.
Moza terkejut dan langsung berbalik. Ia melihat pria itu mengunci pintu ruangan lalu memasukkannya ke dalam saku celana.
"Darren," gumam Moza seraya memundurkan langkahnya karena pria itu mulai melangkah mendekatinya.
"Oh aku lupa lebih tepatnya mantan sekretaris hahaha," ucap Darren setengah terbahak.
"Ka-kau mau apa?!" Tanya Moza dengan ketakutan seharusnya saat ini ia sudah bisa menodongkan senjata apinya pada pria dihadapannya tapi ternyata Darren sudah memperhitungkannya lebih dulu.
'Sial aku terkena jebakannya,'
"Tentu saja menuntaskan apa yang belum ku selesaikan hahaa," ucap Darren seraya melepaskan dasinya
Pria itu kali ini berdiri sangat dekat dengan Moza. Sampai-sampai punggung wanita itu tersandar pada jendela kaca yang besar.
Pria itu mengunci Moza dalam kungkungannya, kemudian ia meraih dagu Moza dan mencoba mencium bibirnya namun wanita itu menepis tangannya.
Darren semakin memajukan mukanya mencoba terus mencumbu bibir tipis itu, Moza memalingkan wajahnya seraya mendorong tubuh Darren dengan kedua tangannya.
Pria itu tetap tak menghindar, ia mengambil tangan Moza dan mencengkeramnya erat, lalu menyandarkan pada kaca dinding. Moza tak bisa berkutit.
Ia mencoba melepaskan cengkeramannya namun cengkeraman itu semakin erat. Kini tubuh Darren semakin dekat dengannya hingga dada Darren menekan dada Moza membuatnya semakin tak bisa bergerak.
Moza ingin menendang parabola pria itu namun sepertinya sudah memikirkan hal itu, ia mengunci kaki Moza hingga wanita itu tak dapat bergerak bahkan menendang sekalipun.
"Kau sangat wangi Moza," puji pria itu seraya mengecup kepala Moza dengan napas menderu ia sudah tak tahan untuk mencoba tubuh mantan sekretarisnya.
"Tolooong," teriak Moza.
Tak ada yang mendengar teriakan Moza karena sebetulnya para pelamar itu adalah anak buah Darren yang sedang menyamar.
Di sisi lain, Valeria sudah berada di bar Las Vegas. Ada banyak bar disana dan wanita itu mencari bar yang dibelakangnya ada sebuah ada gedung yang menjulang tinggi
"Di mana Moza?" Tanya Valeria pada dirinya sendiri.
Wanita itu berhenti disebuah gang sembari menghubungi Diego, sambil menunggu sambungan teleponnya pandangannya melihat ke sekeliling.
Tak ada jawaban dari pria itu. Valeria pun akhirnya meminta geng para pencuri untuk datang membantunya. Jangan lupa Valeria pernah hidup di jalanan sebagai pencuri handal. Dia bisa menjadi liar, dan tomboy juga bisa bersikap feminim.
"Aku butuh bantuan kalian, datanglah ke lokasi yang ku kirim," ucap Valeria salah satu temannya lewat sambungan telepon.
Setelah itu ia mematikan ponselnya dan mengamati mobil Darren berharap ia menemukannya di tempat parkiran. Salah satu orang yang sangat dia kenal ada didepan gedung.
"Itu Mark, pria gendut dan besar yang selalu mengkawal Darren berarti itu tempatnya," gumam Valeria.
Dia pun mencari jalan agar bisa masuk ke dalam perusahaan itu. Saat posisi Valeria sudah dekat ia menggunakan teropong kecilnya melihat apakah Moza ada dilantai atas.
Teropong kecil yang selalu ia bawa dalam tas saat masih menjadi pencuri, tapi kali ini teropong itu berguna untuk menyelamatkan seseorang.
"Itu seperti Moza, iya itu Moza dan Darren. Mereka di lantai 5,"
Valeria mencari akal untuk masuk kesana, atap gedung seberangnya lebih tinggi dari lantai dimana Moza berdiri. Valeria berencana akan melompati gedung seberang dan masuk ke gedung Darren dengan menerobos dinding kaca.
"Ini gila, tapi aku yakin aku bisa,"