My Name Is Virus

My Name Is Virus
Pertemuan Yang Menyedihkan



Sepulang dari rumah orang tuanya, Andi segera mengerjakan tugasnya. Kali ini ia memeriksa sesuatu yang amat penting.


'Rambut...rambut siapa ini...kasih...ser...serr..' itulah yang Andi nyanyikan, sebuah lagu dangdut jaman dahulu saat mengecek rambut milik Aryo dan rambut lain yang ia temukan diatas ranjang Marni.


"Mari kita lihat rambut siapa ini pemirsa," ucap Andi yang berbicara sendiri di ruangan kerjanya.


Rambut yang telah di tes DNA-nya kemudian dilakukan pencarian pemilik DNA tersebut lewat sensor kamera satelit yang Andi punya.


Layar monitor sedang melakukan pencocokan data dan Andi terkejut rambut yang ada di ranjang itu adalah rambut dari orang yang pernah memakai mobil Aryo. Andi meneliti lagi data tersebut dengan mencocokan kembali agar mempunyai hasil yang akurat.


Tak salah lagi Ayush Basnet orang asal Nepal yang lama tinggal di Bali. Pernah diterekam CCTV memakai mobil Aryo dan rambutnya juga ditemukan di rumah Marni.


"Hilangnya Aryo bisa jadi karena Marni, mungkin saja Marni menyuruh Ayush untuk melenyapkan Aryo dan bayarannya adalah tubuh Marni, hissh menjijikan," ucap Andi seraya mengelus dagunya, ia menerka dan menduga sendiri kemudian mulai geli jika membayangkan wajah Marni.



"Oke sekarang kita cari keberadaan Aryo," gumam Andi ia terbiasa berbicara sendiri saat bekerja.


Jeglek


Tiba-tiba lampu mati


"Argh yang bener aja hmmphh," decak pria itu.


Andi mengirimkan data Ayush terlebih dahulu kepada Virus dan mengatakan jika listrik dirumahnya padam. Virus menjadi tidak sabar akan hasilnya, ia pun langsung menelepon Andi.


"Dimana rumah mu? Aku akan menyuruh orang ku menghidupkan listrik rumahmu," ucap Virus lewat sambungan telepon.


"Oke aku send alamatku dan lokasi ku," jawab Andi


Dalam waktu dua menit listrik di rumah Andi menyala kembali sementara listrik di sekitar rumahnya masih dalam pemadaman.


"Keren banget si Virus, besok-besok kalau listrik ku padam, ku telepon saja dia haha," gumam Andi


Diapun melanjutkan kembali pekerjaannya. Hasilnya mengejutkan Andi.


"Lokasi Aryo ada di titik Bali, coba kita perbesar," ucap Andi berbicara sendiri seolah-olah ada seseorang di dekatnya.


"Apa!? Bagaimana mungkin, dia ada di rumahnya?" gumam Andi kemudian menggigit jarinya.


"Atau jangan-jangan ada ruang bawah tanah seperti tempatku ini dan Aryo tinggal didalamnya," ucap Andi berfikir sendiri, lalu ia menelepon Virus dan membicarakan apa yang baru saja ia temukan.


Segera, setelah menutup teleponnya Virus pergi ke desanya menuju rumah Aryo. Untuk memeriksa keadaan sebenarnya.


Sesampainya disana tanpa ijin dari Marni, Virus masuk lewat pintu belakang yang semalam mereka masuki. Untung saja Marni tidak tahu dan tidak menguncinya. Virus memeriksa tiap bagian rumah yang mempunyai akses pintu ke bawah.


"Dimana pintu itu, tidak ada sama sekali tanda-tanda adanya pintu. Lantai....ya mungkin saja lantai," duga Virus


Kemudian ia meniti lantai, memeriksa lantai satu dengan lantai yang lain dimulai dari belakang rumah. Setelah itu Virus memeriksa lantai ruang tamu dan ruang tengah yang tertutup karpet.


Virus menggeser perabotan terlebih dahulu baru setelah itu. Ia tak peduli mau seperti apa tempat itu porak poranda karena memang sudah tak terurus, banyak debu dan sarang laba-laba.


"Sial tidak ada yang menunjukkan satupun jika itu pintu masuk ruang bawah tanah, atau mungkin tidak dibawah melainkan di atas?" gumam Virus dan bertanya pada dirinya sendiri.


Pria itu kemudian ke lantai atas, dan memeriksa hal yang serupa. Kesana kemari dan bahkan atap pun ia masuki.


"Arghhh kemana wanita itu menyembunyikan Aryo," kata Virus. pada dirinya sendiri


"Papa, jika kau mendengar ku buatlah sebuah bunyi, atau berteriaklah," pekik pria itu.


Tak berapa lama Virus seperti mendengan suara lonceng yang samar. Itu bukan dari atas tetapi asal suaranya seperti ada dibawah.


Banyak orang yang merawat sapi di desa itu dan beberapa dari mereka mengalungkan sapinya dengan sebuah lonceng. Virus tak bisa percaya saja jika bunyi itu dari Aryo.


Virus bergerak kebawah dengan perlahan menuruni anak tangga sembari mendengarkan dengan saksama. Bunyi itu bukanlah berasal dari lonceng sapi. Suara itu berirama dan memiliki melodi yang sangat Virus hapal.


"Twinkle-twinkle little star? Oh My Gosh," ujar Virus


Langsung saja pria itu menyusuri lantai, menginjaknya satu persatu dengan hentakan. Jika suaranya lantai itu berbeda maka itulah pintunya.


Binggo, Virus mendapati suara lantai yang berbeda ada empat ubin keramik yang memiliki suara berbeda. Virus kemudian meneliti satu persatu dimana ia bisa membukanya. Dan ternyata bukan dibuka melainkan di geser.


Dengan yang tersengal-sengal dan jantung mulai berdebar karena tak percaya rasanya mempercayai ucapan Andi jika ada ruang bawah tanah dan Aryo didalamnya. Meskipun belum pasti namun wajah pria itu berbinar.


Virus beranjak berdiri dan mulai bergegas turun, ada tangga kecil menuju ruang bawah namun sebelum Virus turun seseorang membuka pelatuk dan menodongkan pistol ke arah kepala Virus.


Ceklek (Bunyi pelatuk dibuka)


"Angkat tanganmu, bergerak sedikit saja kau akan ku tembak," ucap seseorang dengan suara beratnya dengan timbre suara laki-laki.


Tangan orang itu diraihnya lalu Virus memutar pergelangan tangan pria itu seraya berbalik. Dengan cepat Virus merebut pistol dari tangan pria itu kemudian memutarnya semakin erat bahkan tulang tangannya berbunyi bersamaan dengan teriakan pria itu. Bisa dipastikan tulangnya patah.


Virus ingat wajah pria itu, tak lain adalah Ayush Basnet tanpa berpikir panjang kemudian Virus menjatuhkannya dari atas dan menembaknya sebelum sampai jatuh kelantai bawah.


Dor


Bruk


Ayush tewas....


Sialnya pistol itu tak kedap suara sehingga mengundang perhatian anak buahnya yang sedang berada di depan. Bunyi itu juga mengundang perhatian para warga sekitar hingga ada yang mendekati anak buah Ayush dan bertanya pada mereka.


Merasa takut dua anak buahnya itu pun berkata jika mereka sedang bermain petasan. Setelah itu dua anak buah Ayush lari ke dalam dan mencari tahu keadaan sesungguhnya.


Virus ke kamar untuk mengambil bantal kemudian bersembunyi sebelum anak buahnya sampai kedalam. Dengan waktu yang bersamaan Virus segera menembakkan peluru itu kearah dua penjaganya.


Dor... Dor


Dua cecunguk habis di bantai, Virus membungkus pistolnya dengan bantal. Sehingga saat Virus menekan pelatuknya suara itu akan kedap dan tidak akan menarik perhatian warga lagi.


Melihat tak ada siapapun didepan ataupun belakang, Virus kebawah melewati mayat Ayush begitu saja.


Ruangan gelap dan singup tak ada cahaya ataupun ventilasi yang sehat. Virus menyalakan saklar lampu yang terlihat samar karena cahaya dari atas.


Seketika lampu terang, pandangannya tertuju pada sebuah ruangan yang tertutup. Virus bergerak dengan kaki bergetar berharap pria yang disana adalah Ayah angkatnya yang selama ini ia cari.


Pintu itu terkunci namun ada kunci yang terpasang di dinding depan ruangan itu. Virus meraihnya dan membuka kuncinya. Kunci terbuka dan derit khas pintu terdengar saat Virus membukanya.


Ruangan itu bau busuk, bau kotoran dan pesing. Saat Virus melihatnya ia sudah mengenali wajah pria itu yang tergeletak lemah tak berdaya.


Pria itu bertubuh sangat kurus, berjanggut panjang dan rambutnya menggimbal. Tangannya tidak terikat namun kakinya terpasung. Ada banyak lalat yang mengerubunginya. karena pria itu buang air besar dan kecil di tempat itu juga.


Jlebb


Virus menitikkan air mata, sakit hatinya......lututnya lemas.


Dia berhenti mematung didepan pintu melihat kondisi fisik pria itu.


Tangisnya mulai pecah saat pria itu mengenali Virus dan memanggil namanya.


"Virus," ucapnya dengan sangat lirih hampir tak ada suara yang terdengar.


"Papa... hiks...," Virus berjalan pelan mendekati Aryo


Pria itu bangun dari tidurnya, tangannya masih menggenggam sendok dan ada piring di sebelahnya. Sepertinya Marni masih memberinya makan dan minum.


Meski bau menyengat dan tidak enak, Virus tetap memeluknya dengan sangat erat. Tangisnya semakin pecah hingga sesegukan.


"Papa, maafkan aku...." ucap Virus yang tak mampu lagi berkata-kata. Aryo pun ikut menangis pilu namun pria itu tak bisa mengeluarkan air mata.


Virus segera membuka pasung kaki Ayah angkatnya dan kemudian menggendongnya ke lantai atas, ia menuju kamar mandi. Memandikan Ayahnya, membersikan pria itu dengan sabun yang masih penuh di sana. Tentu saja sabun itu terisi karena Marni memakainya sehabis bermain dengan pria lain.


Kaki Aryo sulit digerakkan karena terlalu lama terpasung. Sehingga Virus menggendongnya dengan senang hati menuju kamar tidur. Memakaikan pria itu pakaian yang masih tertinggal di lemari.


"Aku kira kita tak akan selamanya bisa bertemu kembali," ucap Aryo membelai wajah Virus


"Bertahun-tahun Aku mencari keberadaan mu...." Virus menangis lagi. Dia menangis bukan karena cengeng tapi melihat kondisi Aryo yang tragis dan memilukan itu membuat hatinya tercabik-cabik.


"Aku akan membuat Marni merasakan apa yang kau rasakan, bahkan jauh lebih kejam dari yang dia perbuat padamu," ucap Virus dengan bahasa Indonesia yang fasih, pria itu sudah mulai geram dengan perbuatan Marni.


"Jangan, biarlah hukum yang membalasnya. Kau Virus ku, anakku yang paling baik. Apa bedanya kau dengan dirinya, jika kau melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan padaku. Maafkanlah mereka yang menyakitimu. Biarkan Tuhan yang membalasnya," ucap Aryo yang masih memaafkan perbuatan Marni


Masih ada hati malaikat pada diri Aryo, Virus kembali memeluk pria itu sebelum ia membawanya pulang. Saat Virus menggendong tubuh kurus Aryo, semua mata tetangga menatapnya dan menghampirinya. Bahkan tidak mengenali siapa pria yang Virus gendong.


Satu persatu bertanya dan kemudian terkejut tak menyangka. Kegaduhan satu desa tercium oleh Marni. Wanita itu pun ingin melarikan diri namun belum sempat ia pergi, satu kampung sudah mengepung rumahnya di depan, belakang, kiri dan kanan. Tak ada jalan bagi Marni untuk kabur dari rumahnya sendiri.


Satu desa masuk ke rumahnya membuka pintu dengan paksa dan menghajar Marni. Para warga yang geram pun main hakim sendiri hingga datang kepala desa untuk melerai.


Wajah Marni bonyok dan kemudian dibawa ke kantor polisi. Sementara itu Virus membawa Aryo ke rumah sakit untuk pemeriksaan kondisinya yang sangat parah.


"Papa, aku meminta bodyguard ku menjagamu di rumah sakit ini. Sementara Aku akan mengurus kejahatan Marni," ucap Virus yang meminta ijin untuk pergi dari ruang perawatannya.


"Terimakasih Nak. Hemm Virus tolong hubungi pengacaraku, namanya Bachir. Kau bisa mencari alamatnya di internet," ucap Aryo dengan suara pelannya


"Baiklah, aku akan memanggil pengacara mu. Aku pergi dulu ya," pamit Virus seraya mencium pipi Ayahnya.


'Sebenarnya Aku tidak puas jika tidak menghancurkan Marni,' batin Virus dan berlalu pergi meninggalkan Aryo dengan tiga bodyguard kepercayaannya yang ada di Indonesia.