My Name Is Virus

My Name Is Virus
Bucin Akut



"Virus...Virus...!" Pekik Moza


"Mana penjahatnya?" Tanya warga setempat


"Astaga malang sekali dia," ujar salah seorang ibu, ia takut untuk mendekat.


"Dia kabur, tolong teman saya," pinta Moza


"Sebentar saya punya tandu tetapi ada dirumah saya beberapa blok dari sini, tunggu ya," ujar salah satu warga. Sembari menunggu, Moza berusaha membangunkan Virus. Moza menangis dan menyebut namanya. Ia juga menempelkan satu jarinya pada hidung Virus. Pria itu tak bernafas tetapi anehnya jantungnya masih terasa berdegup bahkan sangat kencang.


"Viruuus... bangun...hikss... astaga Viruss jangan mati....aku mencintaimu....hiks ....Virussss....!" Seru Moza seraya menangis di dada Virus yang masih terbaring


Moza merasa ada yang membelai rambutnya dan terdengar suara seorang pria didekatnya.


"Aku juga mencintaimu Moza," ungkap Virus.


Moza terkejut lalu mengangkat tubuhnya, ia melihat Virus yang baik-baik saja dan memegang pipi pria itu.


"Kau...tidak mati?" Tanya Moza sembari menyeka air matanya.


"Kau mempermainkan aku? Aku ketakutan, hiks," ucap Moza kemudian ia beranjak dari duduknya karena sedikit malu dengan ungkapan yang baru saja terlontar jika wanita itu mencintai Virus.


"Haduh anak muda pura-pura mati untuk menguji pasangannya hehe, yasudah lanjutkan," ucap salah satu warga yang kemudian semuanya meninggalkan mereka.


Sebelumnya pria besar itu menusuk Virus karena Virus sedikit lengah yang menatap Moza pergi memanggil bantuan. Tetapi untung saja Virus bisa menepis tusukan itu meskipun ia memegang pisau yang salah. Virus memegang pisau bagian runcing dan membuat tangannya mengeluarkan darah segar.


Kemudian Virus mengalahkan pria besar itu hingga babak belur dan dengan ditambah sekali tinjunya lagi pria itu akan mati, namun sebelum mengahajarnya lagi Virus mengancamnya jika dia tidak segera pergi secepatnya, pria itu akan mati saat itu juga. Mendengar hal itu si pria besar langsung lari terbirit-birit. Virus tertawa namun dia malah mempunyai ide cemerlang agar Moza mengakui jika dirinya masih peduli padanya. Ide itu tidak hanya menunjukkan jika Moza masih peduli padanya tetapi juga membuat Moza mengakui jika dirinya mencintai Virus.


Virus beranjak berdiri dan mendekap Moza dalam pelukannya.


"Jangan menangis. Aku terluka, lihatlah tanganku benar-benar berdarah," ucap Virus.


"Kau masih peduli padaku kan? Kau baru saja bilang jika kau mencintaiku? Aku juga mencintai mu Moza," Timpal Virus. Moza melepaskan pelukan Virus karena dia benar-benar malu.


"I-iya aku masih peduli padamu, Aku tidak percaya dengan cinta mu, kau masih bersama Valeria bahkan kalian terlihat mesra," aku Moza


"Kau cemburu melihat foto itu? Aku tidak tahu jika Valeria akan memamerkan foto itu, siang tadi ia meminta ku untuk foto dengannya, lalu dia tiba-tiba bersandar dan memotretnya dengan cepat sebelum aku menghindar," jelas Virus.


"Saat ini yang ada di hatiku adalah kamu, Moza. Saat aku bertempur melawan pasir waktu, aku berusaha mungkin untuk menggapai mu. Kau tahu saat itu yang ada di pikiranku, aku tidak ingin kehilanganmu, kau sangat berarti untuk ku. Dan bodohnya aku baru menyadari saat kau benar-benar pergi dengan pria lain. Aku mencintaimu Moza," ujar Virus menatap lekat mata Moza yang masih terlihat bulir bening di kelopak matanya.


Bibir Moza terkatup rapat ia bingung dengan pernyataan Virus padanya saat ini, sebelumnya dia bersikap dingin dan selalu menunjukkan rasa cintanya pada Valeria namun kenapa semuanya terasa tiba-tiba. Ia bahkan tidak percaya jika Virus benar-benar mempunyai rasa cinta itu untuknya. Moza menunduk wajahnya terlihat merona karena Virus menatapnya dengan lekat.


Virus mendekat lalu menaikkan dagu Moza hingga wajahnya terangkat. Pandangannya mengarah pada Virus. Pria itu semakin mendekat kan wajahnya dan mendaratkan bibirnya pada bibir Moza yang berwarna merah. Sentuhan lembut itu sedikit membuat keduanya bergetar karena mereka gugup satu sama lain. Virus memegang tengkuk wanitanya dan mencumbunya lagi, Moza membalas kecupan yang terasa manis baginya.


"Siall bibirnya sangat manis membuatku tak ingin melepasnya," batin Virus yang juga menikmati kecupannya dengan Moza.


Virus melepaskan kecupannya dan berkata ,"Aku mencintaimu Moza," lalu pria itu mengecup bibirnya lagi membuatnya candu untuk mengecup dan mengecup lagi. Moza melepaskan kecupannya dan membalas ucapan Virus


"Kau kini menjadi kekasihku, jangan pernah pergi dengan pria lain. Karena aku akan terluka," ujar Virus yang memindahkan tangannya pada pinggang Moza dan menariknya kedalam dekapannya


"Haha tidak akan, kau juga jangan tebar pesona pada wanita lain, atau aku akan cemburu," ucap Moza seraya mengalungkan tangannya pada leher Virus


"Aku tidak tebar pesona, kau tahu sendiri kan aku terlalu tampan sehingga mereka sendiri yang terpikat," ujar Virus.


"Ya ya, ku akui kau tampan,"


"Percayalah hatiku kini hanya untukmu, Moza ku," ungkap Virus mengecup pipi Moza kemudian memeluk wanita itu.


Moza tak percaya jika pria yang selalu membuatnya sakit hati itu kini mendekapnya dalam pelukannya.


"Moza, Aku....aku belum makan," bisik Virus.


"Hah, kau ini mencari penyakit ya?" Tanya Moza melepaskan pelukannya


"Tidak, aku hanya ingin makan masakan mu. Itu pun jika kau tidak lelah. Kalau kau lelah maka aku akan menahan laparku dan menunggu pagi,"


"Astaga kau seperti anak kecil, atau kita beli saja makanan yang ada di tempat makan nanti aku akan menyuapi mu," ucap Moza yang tidak ingin Virus semakin lapar. Karena memasak membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


Namun Virus menggelengkan kepala, pria itu hanya menginginkan Moza yang memasakkan makanan untuknya. Pria itu sudah bucin akut terutama soal perut dia hanya menerima apapun yang Moza bikin untuknya.


"Aku hanya ingin buatan mu, karena masakan mu yang terlezat di dunia ini," rayu Virus seraya mengecup pipi Moza agar wanita itu mau memasak untuknya.


"Dasar kau ini, iya-iya aku akan memasak makanan untukmu. Tapi kita beli bahannya di supermarket dulu ya," ujar Moza


"Oke, ayo aku sudah tidak sabar mencicipi masakan buatan kekasihku ini," sahut Virus yang tersenyum lebar seraya merangkul Moza menuju mobilnya yang terparkir jauh dari tempat mereka berdiri.


"Astaga sampai lupa, lukamu," ucap Moza yang kemudian mengeluarkan sapu tangannya dan menggulungnya kemudian mengikatkannya pada telapak tangan Virus yang terluka.


"Terimakasih sayang," ujar Virus seraya membelai pipi Moza


"Itu menghentikan pendarahannya sementara, nanti kita bersihkan lukamu sesampai dirumah ya. Apakah itu perih?" Tanya Moza


"Tidak perih karena ada kau yang mengobati," ucap Virus


"Haha,"


"Kenapa tertawa,"


"Kau lucu, biasanya kau bersikap dingin dan kalau berbicara tidak pernah semanis ini," ucap Moza yang geli saat Virus berbicara manis.


"Haha entahlah, aku juga tidak tahu kenapa aku seperti ini yang jelas aku hanya ingin manja denganmu," ucap Virus.