My Name Is Virus

My Name Is Virus
Diego Melamar



Di jam yang sama, di wilayah lain tepatnya di Nevada waktu menunjukkan pukul enam pagi. Semalam, Diego tidak pulang kerumahnya, ia menginap di rumah Valeria dan tidur seranjang dengan kekasihnya.


Pagi ini pria itu ada rapat penting dan meminta Valeria membangunkannya, karena Diego tipe pria yang doyan tidur dan sangat sulit untuk bangun pagi jika tidak ada yang membangunkannya. (Apakah ada yang sama dengan Diego).


"Sayang...sudah pagi, ayo bangun," ucap Valeria pelan.


Parahnya tidak ada reaksi dari Diego yang menunjukkan jika pria itu mendengarnya. Valeria yang sedari tadi sudah mandi dan membuatkan sarapan untuk Ayahnya pun naik ke ranjang dan kemudian berbisik tepat di telinga Diego.


"Diego sayang, bangun...hey...bangun cintaku," bisik Valeria seraya mengelus rambut Diego. Tetap saja tak ada pergerakan dari pria itu.


Valeria kemudian mencium bibir Diego, kemudian menciumi seluruh wajahnya hingga leher pria itu. Diego mulai bergerak karena sedikit geli. Namun dia kembali tertidur. Valeria kembali membuat gelitikan kecil tapi kali ini bukan dengan ciuman melainkan dengan menggunakan jemarinya lalu dia mulai menggelitik telapak kaki Diego.


Diego mulai mengangkat kakinya dan memindahkan kakinya ke tempat lain, ia melakukan itu dengan mata yang masih terpejam.


"Sayang bangun...Kau ada rapat pagi ini, ayo bangun!" seru Valeria dengan suara sedikit berteriak dan dengan tangan yang masih menggelitik di bagian kaki.


"Hemmm, geli sayang," ujar Diego masih memejamkan matanya.


"Aku tidak akan berhenti jika kau tidak segera bangun," ucap Valeria kali ini ia menggelitik sisi pinggang Diego


"Haha iya, iya aku bangun! hentikan...itu geli haha," ucap Diego kemudian ia pun bangun dengan wajah berantakan.


"Ayo mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu," ucap Valeria kemudian beranjak turun dari ranjangnya tetapi Diego menarik pinggangnya dan menjatuhkan Valeria dipelukannya.


Diego memeluk Valeria dari belakang mencium pipinya kemudian rambutnya dan menjatuhkan dagunya di atas bahu Valeria.


"Sebelum berangkat kerja, aku ingin mengatakan lamaran ku pada Ayahmu, menurut mu...apa dia akan menyetujuinya?" Tanya Diego karena pria itu sering menangkap tatapan Chris padanya yang selalu memandangnya sinis.


"Dia pasti akan menyetujuinya, kalau tidak dia tidak akan membiarkan mu sekamar denganku," ucap Valeria.


"Semoga, kau tahu ini membuatku gugup," ucap Diego


"Apa yang kau takutkan, Ayahku tidak seseram yang kau pikirkan,"


"Sudah sana mandi, nanti kau akan terlambat kerja," titah Valeria.


"Kau wangi sekali aku jadi ingin...," ucapan Diego terputus karena Valeria berbalik dan mencumbu bibirnya.


"Tunda dulu keinginanmu, dasar calon suamiku ini super napsuan," ujar Valeria


"Haha, itu salahmu sendiri karena menggoda ku,"


"Aku tidak menggoda mu,"


"Semua yang ada di tubuhmu itu menggoda ku, sana pergi! Kalau tidak, aku akan menerkam mu," ucap Diego


"Bagaimana aku bisa pergi, kau memelukku dengan sangat erat," ujar Valeria


"Oh iya haha," Diego pun melepaskan pelukannya sembari tertawa.


Valeria pun turun dari ranjang dan Diego segera bergegas ke kamar mandi.



"Diego, kau cuma akan mengatakan pada Ayahnya, kalau kau akan menikahi Valeria, tapi kenapa rasanya segugup ini," Diego bergumam pelan pada dirinya sendiri, sembari berkaca menatap wajahnya. Dan sedikit merangkai kata serta latihan berbicara saat melamar nanti.


Setelah Diego selesai membersihkan dirinya, ia pun mengambil pakaian ganti didalam tasnya. Diego berencana akan pulang kerumahnya dahulu untuk memakai kemeja kerja Dia tidak membawa pakaian untuk kerja, karena sebelumnya tidak ada rencana menginap.


Diego pun menerima kotak pemberian Valeria, tubuhnya hanya terbalut handuk pada bagian bawahnya. Badannya terlihat kekar dan berperut six pack. Membuat Valeria berkali-kali menelan salivanya.


"Apa ini?" Tanya Diego


"Buka saja," jawab Valeria seraya menatap Diego dengan malu-malu.


Diego membukanya dan matanya terbelalak ia terkesan dengan pemberian Valeria. Sebuah setelan kemeja, dasi dan celana panjang. Memang tidak mahal tetapi Diego menyukainya. Kemeja berwarna merah maroon, warna kesukaan Diego.


"Wow, aku... aku tidak tahu harus bilang apa, Vale ini... Terimakasih sayang," ucap Diego tak bisa berkata apa-apa.


Satu tangan Pria itu meraih pinggang Valeria dan mencium pipi Valeria. Satu tangannya lagi masih memegangi kotak hadiah dari kekasihnya itu.


Diego kemudian segera memakai kemeja barunya, kebetulan sekali karena dia tidak perlu kembali kerumahnya untuk mengganti pakaian. Setelannya pas di tubuh Diego, pria itu makin terlihat tampan dan Diego sangat menyukainya terlihat pria itu tersenyum saat berkaca.


"Kau menyukainya?" Tanya Valeria.


"Sangat, aku sangat menyukainya. Kau tidak membuang uangmu untuk membelikan ku ini kan?" Tanya Diego


"Aku senang jika kau menyukainya, hemm sebenarnya aku sudah lama menabung dan ingin memberikanmu hadiah itu saat beberapa tahun yang lalu. Kemudian aku kehilangan jejak mu dan niat itu pun tertunda. Aku tidak menyangka jika kita dipertemukan lagi," jelas Valeria


"Astaga, andai saat itu aku tahu kalau kau menyukaiku mungkin kita sudah menikah sekarang,"


"Vale, kemarilah," Teriak Chris memanggil Valeria


"Ayah memanggil, lekas bersiaplah. Aku akan menyiapkan sarapan," ucap Valeria


"Aku rasa tidak sempat, setelah ini aku akan berbicara pada Ayahmu," ucap Diego


"Kalau begitu aku akan membuatkan mu bekal, sesampainya disana kau makan ya," ucap Valeria yang dijawab anggukan kepala oleh Diego.


Valeria kemudian menemui Ayahnya di ruang tengah.


"Ya, ada apa Yah?" Tanya Valeria sesampainya di ruang televisi.


"Vale, tolong ambilkan jeruk ku, tadi saat aku mengupas kulitnya jeruk itu terjatuh dan bergelinding ke bawah meja itu," pinta Ayahnya seraya menunjuk meja kecil yang ada di tengah ruang televisi.


"Hemm itu sudah kotor Yah, aku ambilkan yang baru ya," ucap Valeria


"Belum, kulit itu tidak sempat terkupas. Lebih baik kau ambil dan cuci yang bersih," jelas Ayahnya


"Ya sudah, sebentar. Ayah makan saja jeruk yang lain. Jeruk ini biar ku cuci dulu," ucap Valeria sembari mengambil jeruk yang terjatuh.


Setelah itu Valeria ke dapur mencuci jeruknya, tak berapa lama Diego ke ruang televisi menghampiri Ayah Valeria. Wanita itu melihatnya dari jauh, Diego yang sudah rapi itu nampak gugup.


Valeria melihat Diego duduk dihadapan Ayahnya, kemudian ia mulai berbicara, tetapi Valeria tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Terlihat sang Ayah mematikan televisi. Sepertinya perbincangan serius akan dimulai.


Valeria pun mendekat, dia ingin menguping sedikit. Tapi saat ia mendekat, jawaban yang dilontarkan sang Ayah sangat mengejutkannya.


"Aku tidak menyetujuinya," ucap sang Ayah dengan lantang


Valeria tersentak dan kemudian mendekati mereka berdua


"Ayah...," ucap Valeria dengan lirih dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Astaga cobaan apalagi ini," batin Diego dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya.