
Tak terasa waktu semakin cepat berlalu. Saat bus Virus berhenti untuk mengisi bahan bakar, rombongan mobil mafia itu malah melewatinya. Semua ini juga berkat Andi yang meretas kamera cctv dan mengubah lalu menyamarkan keberadaan mereka.
Virus mengambil alih kemudi karena pria itu lihai mengemudikan kendaraan roda empat dengan kecepatan tinggi. Sekarang mereka melewati perbatasan Nevada dan Texas.
"Hemm Virus, bisakah kau mengantarku ke sebuah tempat?" Tanya Arion
"Kemana?"
"Ke alamat ini," ucap Arion seraya memberikan nama alamat dari ponselnya
"Owh iya baiklah, tempat itu beberapa meter sebelum menuju kerumah ku," sahut Virus
"Terimakasih, anak buahku sudah menunggu ku disana. Sekali lagi terimakasih maaf jika merepotkan," ucap Arion.
"No Worry," jawab Virus
Arion pun kembali ke tempat duduknya semula.
"Sayang kau bilang yang lainnya untuk bersiap-siap turun ya karena sebentar lagi kita sampai di rumah ku," titah Virus pada Moza.
"Oke sayang," jawab Moza
Wanita itu ke kursi belakang meminta Diego, Chris dan Arion untuk berkemas dan bersiap turun. Sementara yang lainnya sudah terlelap tidur, Moza pun terpaksa harus membangunkannya dengan pelan.
Virus menurunkan Arion terlebih dahulu di sebuah lapangan yang luas. Ia menghentikan bus mewahnya di tepi jalan yang dimaksud Arion.
"Arion, kita sudah sampai di tempat yang kau maksud," ucap Virus
"Terimakasih Virus kau telah mengantarku," Arion beranjak berdiri dan berjabat tangan dengan Virus.
"Aku pamit pulang, jaga dirimu dan untuk kalian semua terima kasih. Jika kalian membutuhkan bantuan ku, jangan sungkan katakan saja. Aku pasti akan membantu kalian," ujar Arion
"Oke, sama-sama Arion. Aku akan mengantar mu keluar," ucap Virus kemudian mengikuti langkah Arion di belakang.
"Mana mobil jemputan mu?" Tanya Virus.
"Itu jemputan ku," ucap Arion seraya menunjuk dengan telunjuknya.
Visual Helikopter Arion.
"Helikopter? Kau naik helikopter?" Tanya Virus
"Iya aku naik helikopter, aku duluan ya, sekali lagi terimakasih," ujar Arion seraya menepuk pundak Virus dan berjabat tangan untuk terakhir kalinya.
Setelah Arion naik, helikopter itu mulai dinyalakan dan dipanaskan sebentar. Diego menyusul Virus karena mendengar suara berisik yang berasal dari helikopter. Arion melambaikan tangannya dan terlihat jendela besar. Diego dan Virus membalas lambaian tangannya.
"Itu keren, suatu saat aku akan meminjam helikopternya," ucap Diego
"Untuk apa meminjam pada orang asing, kalau aku adik iparmu bisa membelikan mu pesawat terbang sekalipun," ucap Virus
"Haha jangan bilang pesawat terbang mainan ya," Diego tertawa terpingkal-pingkal karena mengingat saat ia memegang usaha mobilnya yang ternyata mobil untuk anak-anak.
"Ahh tidak seru, kau sudah mengetahuinya," ucap Virus yang ingin menipu Diego lagi.
"Sudah terlihat di tampang mu ini, Kau suka sekali mengerjai ku," Diego merangkul Virus dan mereka tertawa bersama
*
*
Perjalanan dilanjutkan, beberapa meter saja mereka sudah sampai di depan rumah Virus. Pria itu langsung memasukkan busnya ke garasi yang ada ada dibawah rumahnya. Pintu garasi itu terbuka sendiri dan setelah bus masuk ke dalamnya pintu garasi tersebut menutup dengan automatis.
Semuanya turun dalam bus dan masuk ke dalam rumah Virus lewat pintu dari garasi. Begitu pintu di buka Diego tercengang dengan desain rumah milik Virus. Terlihat klasik tetapi mewah. Rumahnya kecil tetapi terkesan besar.
"Aku hanya memiliki dua kamar, kalian bisa berbagi tempat. Kamarnya di atas," ucap Virus
"Ada satu kamar yang paling besar, bisa ditempati Rachel, Moza, Valeria dan Diego. Satu kamar yang kecil bisa ditempati Chris dan Andi. Aku akan tidur di sofa itu," ucap Virus seraya menunjuk sofa ruang tamu.
"Itu tidak bagus Virus, kau tuan rumah tetapi malah kau tidur di luar," ucap Chris
"Aku tak masalah, kebetulan kamar kecilnya ada di lantai dasar sehingga kau tidak akan kerepotan,"
"Ini gila, kamar seperti ini kau bilang kecil? Lalu seperti apa yang besar?" Tanya Andi yang langsung masuk dan merebahkan bokongnya menduduki ranjang kamar itu.
Chris dan yang lainnya melihat kamar yang baru saja dimasuki Andi. Sebuah kamar dengan cat ruangan berwarna cream dan sprei berwarna coklat khaki dan ada rak buku kecil di sudut.
"Kamarnya terlihat sangat nyaman," ucap Moza
"Tapi bagiku, disamping mu lah yang ternyaman," sahut Virus merangkul kekasih tercintanya
"Kapan kau akan menikahi Moza, jangan terus mengumbar cinta," ucap Rachel.
"Jika besok, bagaimana?" Usul Virus
"Aku setuju, tidak perlu mewah yang terpenting niat dan ketulusan janji suci kita," Moza
"Ya aku harap secepatnya akan lebih baik, yang terpenting arti pernikahan itu sendiri," Rachel tersenyum dan menyetujui usul Virus
"Baiklah aku akan. mengaturnya besok pagi. Kita ke atas melihat kamar kalian ya," ajak Virus
"Virus, rumahmu terlihat bersih, padahal kau beberapa Minggu tidak berada di rumah ini, apa kau menyewa seseorang untuk membersihkannya?" Tanya Valeria
"Iya, ada petugas kebersihan yang membersihkan sehari sebelumnya. Aku biasa menyewanya, dia memiliki akses masuk. Kecuali ruang bawah tanah ku, mungkin disana akan terlihat berdebu," jawab Virus
"Ruang bawah tanah, tempat apa disana?" Tanya Diego penasaran.
"Beberapa senjata, tetapi aku memindahkannya ke suatu tempat rahasia," jawabnya sembari melangkah naik ke kamar atas.
"Virus kau benar-benar romantis, ungu itu warna favorit Moza, kau pasti sengaja mengganti warnanya kan?" Terka Valeria
"Hmmmh hehe," Virus hanya menjawab dengan senyum.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana pria kekar yang selalu memegang pistol itu bisa bertingkah romantis untuk menyenangkan hati Moza.
Moza tersenyum lebar mengamati wajah Virus yang sedang terlihat malu-malu. Dia lalu mengecup pipi Virus tanda terimakasih.
"Terimakasih, kau selalu tahu apa yang ku suka, tapi aku paling suka jika kau berada di sampingku," kini giliran Moza yang terlihat bucin.
"Hanya cium pipi?" Tanya Virus seraya memajukan bibirnya tanda kode jika wanita itu harus menciumnya di bibir.
"Ada Ibu ku," bisik Moza.
Virus melihat keadaan sekeliling, saat mereka masuk dan fokus pada ruangan, Virus mengambil kesempatan untuk mengecup bibir Moza
Cupp
"Aku rindu bibirmu," sahut Virus setelah mengecup kekasihnya dengan singkat.
"Kau ini, aku juga rindu,"
"Kita bisa memasang kain pembatas disini, aku dan Valeria akan disofa itu," ucap Diego seraya mengatur tempat
"Ah ya, aku lupa jika kalian pasangan baru menikah haha, jika kalian ingin melakukannnya lebih baik saat aku dan Moza sedang tidak dikamar ini," Ucao Rachel
"Kalau begitu Ibu dan Moza keluar dulu haha,"
"Dasar anak nakal, aku lelah dan ingin melanjutkan tidur," sahut Rachel
"Kalau begitu tutup kuping ibu ya, karena aku tidak bisa menahannya," ujar Diego lalu mendapat pukulan kecil dari Valeria di lengannya.