
Virus memasuki kawasan Perusahaan Consta, tempat Moza bekerja. Perusahaan itu .empunyai area parkir yang luas dan halaman hijau yang lapang entah untuk apa halaman itu. Mungkin gunanya untuk upacara atau suatu pertemuan yang memerlukan tempat untuk outdoor. Sedangkan di dalam perusahaan pastinya menyediakan sendiri aula pertemuan yang luas.
Virus menurunkan Moza tepat di depan perusahaan, sebelum Moza turun Virus menahan lengannya dan meminta kecupan di bibirnya. Pria dingin itu berubah drastis menjadi sangat manja pada pasangannya.
"Kau tak memberiku sesuatu," ujar Virus seraya memajukan bibirnya meminta untuk dikecup. Moza tersenyum kemudian mendekat dan mengecup bibir seksi pria berjanggut serta berjambang itu.
Cup Muach
Maksud hati ingin mengecup dengan cepat, tetapi Virus menahan tengkuk Moza agar mereka bercumbu dengan sedikit lama.
"Hmmh Virus, ini depan kantor," ucap Moza yang berbicara sedikit susah karena Virus tidak memberikan kelonggaran untuknya berbicara. Ia terus mengecup bibir Moza.
"Memangnya kenapa? Mereka tidak bisa melihatnya dari luar karena kaca ini gelap," jawab Virus yang semakin bergelora sampai-sampai tangan kanannya yang nakal, menyentuh puncak gunung Himalaya milik Moza.
Moza menghentikan kecupannya seraya berkata ," Tanganmu sangat nakal," kemudian ia memindahkan tangan Virus dari gunungnya ke pinggangnya.
"Aku hanya nakal padamu, Moza," jawab Virus cepat kemudian mengecup wanitanya lagi. Setelah itu ia melepaskan kecupan dan berkata dengan serius.
"Aku akan ke Indonesia pagi ini. Aku belum tahu pasti, kapan kembali ke Nevada. Yang jelas sepulang dari Indonesia, aku ingin menikahi mu," ujar Virus yang membuat Moza terkejut.
Menikah, belum terpikirkan dari gadis yang berusia 22 tahun itu. Umurnya terbilang masih sangat muda dan ia masih ingin mengejar karir. Tapi Moza juga tidak bisa menolak jika Virus menginginkan pernikahan yang cepat.
"Me-menikah?" Tanya Moza memastikan
"Iya, kenapa terkejut. Kau terlalu spesial untukku jadi aku takut kehilanganmu jika tidak segera menikahi mu," jawab Virus dengan yakin.
"Aku merasa tersanjung, jangan takut aku tidak akan kemana-mana," ucap Moza namun Virus tidak menjawabnya ia meraih tangan Moza dan menciumi punggung tangannya.
"Kau akan mengunjungi desa mu di Bali?" Tanya Moza yang sedikit keberatan, ia lebih takut jika Virus tidak akan kembali.
"Iya, aku ingin mencari tahu tentang Aryo, Ayah angkat ku. Kau...tidak apa kan... jika aku pergi sebentar?" Tanya Virus
"Ya tidak apa-apa, aku juga tidak bisa melarang mu untuk tidak menemui orang tua angkat mu," jawab Moza tersenyum kecil.
"Terimakasih, kau jangan berhubungan dengan pria lain!" pesan Virus dengan tegas
"Haha harusnya aku yang berkata padamu, ku dengar gadis Indonesia sangat cantik dan kulitnya bagus. Jaga cintaku ya," pesan Moza pada Virus.
"Always baby, my love is only for you and I love you forever," ucap Virus kemudian mengecup bibir dan kening Moza untuk terakhir kali sebelum ia melesat pergi.
(Artinya "Selalu sayang, cintaku hanya untukmu dan aku mencintaimu selamanya")
Setelah itu Moza turun dari mobil dan Virus melajukan mobilnya pergi menuju bandara. Wanita itu memandangi mobil Virus hingga terlihat semakin kecil. Ia tak sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian beberapa temannya.
Moza yang biasanya naik bus terkadang kereta dan berjalan kaki menuju kantornya, kini diantar oleh seseorang dengan mobil Lamborghini.
"Moza, apa kau menjadi simpanan pria kaya?" Cibir Keyna, temannya yang jabatannya lebih tinggi darinya.
"Teruslah berkicau," sahut Moza kemudian melesat pergi dari Keyna.
Moza masuk ke ruangannya, ia hanya sekretaris kedua yang bertugas mengurusi masalah di kantor. Sementara sekretaris utama selalu ikut kemana pun Bosnya pergi.
"Moza ke tempat ku sekarang," ujar Darren, Bosnya yang baru saja datang ke kantor dan langsung mendatangi ruangan Moza.
Moza segera menaruh tas diatas meja kerjanya dan menyusul sang Bos yang lebih dulu masuk ke ruangannya.
"Iya bos?" Tanya Moza ketika dia sudah sampai didalam.
"Eve tidak masuk hari ini, padahal pagi nanti aku ada meeting. Tolong kau siapkan file yang sudah Eve cetak, ia berkata menaruhnya di laci file paling atas," titah Darren seraya melihat jam di tangannya.
"10 menit lagi kita keluar, jadi bergegaslah," timpalnya lagi kemudian mengayunkan tangannya agar Moza segera pergi dari ruangan dan menyiapkan segalanya.
"Baik bos, Aku permisi," sahut Moza
"Hah Eve, aku paling malas keluar dengan si bos. Semoga saja dia tidak macam-macam denganku," batin Moza.
Wanita itu masih ingat dengan jelas. Saat Moza menjadi pengganti Eve, ia diminta untuk menemani sang bos rapat di luar. Tetapi bukannya rapat yang benar-benar rapat. Mereka ternyata ke tempat hiburan dan minum-minuman beralkohol. Lalu si bosnya yang sedang mabuk itu mencoba mencium Moza dengan paksa. Untung wanita itu bisa melarikan diri. Moza masih bertahan di perusahaan itu karena gajinya yang lebih besar daripada Diego, dan cukup menghidupi kebutuhan keluarganya.
Tidak gampang bertahan di perusahaan itu, orang lain hanya tahu jika bekerja disana sudah hidup enak karena gaji yang besar dan sangat mudah. Padahal yang sebenarnya terjadi, terkadang wanita itu mempertaruhkan harga dirinya. Jika melakukan kesalahan, Darren tak segan-segan menampar sekretarisnya. Terlambat satu menit pun, ia bisa seenaknya menghukum karyawannya.
"Eve kenapa kau tidak mengatakan sebelumnya sehingga baku bisa datang lebih awal," ujar Moza kemudian segera membuka file dan mencetaknya.
Tidak semulus yang dibayangkan, mesin printer itu rusak. Dan Moza harus mencetaknya di bagian lain.
"Maaf Moza, aku juga pakai printer ku," ucap temannya itu
"Hah, astaga...oke thanks," sahut Moza kemudian berlari kecil menuju lantai dua. Tempat fotokopi dan beberapa printer yang tersedia disana.
Moza segera menghidupkan mesin komputer lalu mencetak file itu. Kurang tiga menit lagi dan Moza belum menyiapkan yang lain.
"Ayolah.... cepat...ahhh habis sudah," gumam Moza yang berbicara pada printer yang lamban mencetak.
Setelah itu Moza berlari terburu-buru, menuju tempat kerjanya namun saat ia masuk, sang bos sudah berdiri di depan pintu ruangannya.
Glek
Darren menatapnya tajam kemudian menaikkan satu alisnya
"Kau dari mana!" ucap Darren dengan lugas dan tegas.
"Me-mencetak file," jawab Moza jujur
"Mencetak?"
"Tadi filenya sedikit kotor, jadi aku mencetak ulang," jawab Moza sedikit ketakutan
Darren melepaskan napasnya dengan kasar, " Aku sedang tidak mood untuk menghukum mu, jangan membuatku menunggu lebih lama, cepat!
Moza pergi ke mejanya yang sedang bersiap untuk berangkat.
"Ayo bos," ajak Moza yang sudah siap, sang bos segera melesat pergi dan Moza mengikutinya di belakang.
Di tengah perjalanan yang tak kunjung sampai, tol itu dipadati dengan banyak mobil. Tak seperti biasanya mereka mengalami kemacetan setelah melewati pintu masuk gerbang tol. Rupanya ada kecelakaan yang terjadi di depan sehingga mereka harus menunggu.
Darren memukul setir kemudinya dengan geram, pria itu ingin segera sampai dengan melewati tol namun malah terjebak macet. Ia bersandar pada sandaran kursi mobilnya seraya memandangi Moza yang terlihat jenuh.
Pria itu mengambil rambut Moza yang tergerai menutupi wajahnya dan menyelipkannya ke telinga. Moza terkejut lantas menepis tangan Darren dan segera memundurkan wajahnya.
"Sebenarnya kau lebih cantik dari Eve," ujar Darren kemudian tangannya menyentuh paha Moza yang terlihat gemas dimatanya.
Lagi-lagi Moza tak tahan terhadap sikap Bosnya, wanita itu menyingkirkan tangan Darren dan berbicara dengan tegas.
"Tolong jangan bersikap tidak sopan padaku," ujar Moza yang dibalas tawa besar dari Darren
"Hahaa hari ini kau masih berbicara sopan dan tidak sopan? haha ayolah Moza, aku tadi mengintip di balik kaca mobil itu. Kau sedang bercumbu mesra dengan pria lain. Jangan munafik, aku tahu kau juga membutuhkan belaian pria kan? aku akan memberikan hak istimewa padamu jika kau tidur denganku," ujar Darren yang rupanya pria itu sampai mengintip di balik kaca mobil saat Virus berhenti lama didepan perusahaan itu.
"Dia bukan pria lain, dia tunangan ku. Dan Aku tidak akan tidur dengan pria seperti mu," jawab Moza tegas, ia sedikit berbohong mengaku tunangannya Virus, karena sebenarnya mereka masih tahap pacaran. Ia sengaja berkata seperti itu agar Bosnya tidak seenaknya.
Namun Darren malah mendekat dan ingin mencium Moza. Tangan Moza dengan refleks menepis wajah pria itu dengan tasnya.
Moza tidak bisa keluar karena Darren mengunci pintu mobilnya. Meminta tolong pun akan percuma karena mereka di tol. Darren semakin nakal, ia mendekat dan tangannya menyusup kedalam rok Moza. Kali ini pria itu kelewatan Moza mendorong dengan kasar hingga Darren terlentang.
"Kau berani menolak ku hah!" Sang bos mulai marah
"Iya, aku berhenti! Aku sudah tidak tahan bekerja dengan mu, buka pintu nya!" ujar Moza yang langsung mengundurkan diri saat itu juga karena mendapat pelecehan dari sang bos.
Moza memancing emosi Darren, pria itu menarik rambut Moza hingga membuat Moza kesakitan.
"Akkhh," rintih Moza
"Haha kau pikir semudah itu keluar! Ingat kau telah menandatangani kontrak, jika kau keluar aku bisa menuntut mu, jadi jangan sok suci dengan menolak ku," ucap Darren seraya menarik tangan Moza dan tangan satunya memegang tengkuk Moza menciumnya dengan paksa.
Moza mengerahkan kedua tangannya untuk mendorong Darren namun tenaga pria itu jauh lebih kuat.
"Tolong... Tolong....!" pekik Moza yang sudah terpojok dan terus berusaha untuk menahan serangan pria kadal tersebut. Dia berharap ada seseorang yang akan membantunya.