My Name Is Virus

My Name Is Virus
Mendapat Bonus



Moza kembali ke mobil Van. Andi, Diego sedang santai menikmati kopi. Sementara Valeria di bawa ke kantor polisi bersama dengan Wasabi yang harus memberikan keterangan lebih lanjut.


"Astaga kalian disini malah asik menikmati kopi?" Tanya Moza


"Bukankah urusannya telah selesai? Sekarang sedang ditangani polisi," ujar Diego


"Tapi Virus masih di dalam," ujar Moza


Virus masih di dalam, wajahnya babak belur, topeng yang dipakai dalam penyamarannya sedikit terbuka. Virus keluar dari tempat itu lewat atap karena dibawah dan di luar gedung banyak polisi berjaga.


"Kau perhatian sekali padanya, lalu kenapa tidak kau temani dia?" Tanya Andi sembari menyantap kopi panasnya


"Aku tidak tahu dia dimana, yang pasti dia mengejar Cezo," ucap Moza yang kemudian duduk didalam Van dengan tubuh sedikit gemetar. Dia baru saja selamat dari kejadian menegangkan antara hidup dan mati. Dan Moza semakin menyukai Virus.


"Kau kenapa?" Tanya Diego seraya memberikannya segelas teh hangat.


"Minumlah yang hangat-hangat karena cuaca sangat dingin, ditambah lagi didalam sangat menegangkan," ucap Diego.


"Ya sangat menegangkan hingga aku, hampir saja mati. Aku digantung dengan tali di tiang tepi gedung dan bertumpu pada sebuah karung pasir yang sudah mereka lubangi. Seperti jam pasir, jika pasir itu banyak yang keluar maka aku akan terjatuh dari atas gedung. Untung saja Virus bisa meraih tali yang tergantung padaku," ucap Moza dengan napas yang sedikit diatur.


"Apa!?" Pekik Diego seraya menaruh gelas kopinya ke meja dengan sedikit di banting.


"Hey itu gelas!" Pekik Andi


"Aku tahu ini gelas," jawab Diego


"Santai kak kau tidak perlu teriak seperti itu," ucap Moza"


"Rasanya aku ingin membunuh mereka, untunglah kau baik-baik saja, apa ada yang terluka?" Tanya Diego seraya menangkup wajah Moza dan membalikkan wajahnya ke kiri dan kanan serta dilihatnya seluruh badan Moza untuk melihat apakah ada yang terluka.


"Tidak ada luka serius kak, hanya goresan kecil saja," jawab Moza


Virus tiba-tiba masuk kedalam Van membuat semua orang didalamnya terkejut, pria itu dengan topi yang menutupi wajahnya dan jaket yang dia ambil dari salah satu bodyguard. Hampir saja mereka mengira jika Virus adalah salah satu dari mereka.


"Ini aku," ucap Virus seraya melepaskan topi dan jaket kulit yang sedikit bau.


Virus mendekati Moza, bertanya hal yang sama dan melakukan perlakuan yang sama persis seperti apa yang Diego lakukan tadi. Melihat wajahnya serta luka yang ada ditubuhnya.


"Aku baik-baik saja, tet-terima kasih Virus kalau tidak ada kau...," ucapan Moza terhenti karena Virus menyelanya.


"Ya aku juga akan melakukan hal yang sama jika itu Andi ataupun Diego, kita harus saling membantu bukan jadi tak perlu sungkan dengan berterimakasih seperti itu," jawab Virus yang terdengar dingin. Pria itu membuka lemari pendingin yang berukuran mini didalam Van lalu mengambil sebotol air mineral. Virus meneguknya sampai habis.


Moza tahu diri, Virus tak akan menganggapnya spesial tapi mendengar pria itu berkata sangat dingin, hati Moza sedikit perih hingga membuat matanya berkaca-kaca tetapi tidak meneteskan air mata


"Dimana Valeria?" Tanya Virus


"Kau masih menanyakan wanita yang sudah memata-matai kita?" Tanya Diego dengan menatapnya dingin. Valeria juga sempat membuat Diego terpana tetapi saat tahu Valeria bersalah dia jadi mengabaikan perasaanya.


"Valeria tidak bersalah, aku yakin dia hanya menjadi boneka pria itu sama seperti yang dia lakukan padaku," ucap Virus membela.


"Dia dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan," ucap Diego


"Hey, kau tidak mendengar apa yang dikatakan Wasabi saat dia mengungkapkan kasus itu?" Tanya Andi memastikan. Karena jika Virus tahu jika Valeria sangat mengidolakan Diego, mungkin mereka akan seperti Tom and Jerry.


"Tidak memangnya kenapa?" Tanya Virus balik. Diego melirik Andi agar pria itu tidak asal bicara


"Tidak ada, tadi Wasabi bilang jika Cezo adalah anak pria misterius itu, dan juga Valeria sengaja ditugaskan untuk mendekatimu dan mencuri formula darimu," jawab Diego cepat.


"Jika mereka memasukkan Valeria ke penjara, aku akan membebaskannya," ucap Virus yang membuat Moza jengah.


"Aku mau mandi, kamar mandi didalam berfungsi kan?" Tanya Moza.


"Iya tapi pintunya rusak tidak bisa ditutup, jadi pakai kain itu untuk menutupinya," ucap Andi


Kamar mandi itu berada di dekat kursi yang di duduki Virus. Dan menghadap didepan Virus. Moza masuk ke dalam kamar mandi, menutupnya dengan kain panjang. Wanita itu mulai membuka pakaiannya dan menyalakan shower. Seluruh tubuhnya terasa nyaman terkena guyuran air dari atas shower karena sedari tadi keringat membuatnya tak nyaman. Moza mulai membalut tubuhnya dengan busa sabun dan mengusapkannya pada permukaan kulitnya yang halus, putih dan berisi. Sebenarnya Moza lebih seksi, dadanya lebih berisi jika dibandingkan dengan Valeria tetapi dia tak pernah memakai pakaian yang terbuka. Sehingga keindahannya itu tak terlihat.


Andi merapikan mejanya, mencuci gelas kopi dan meletakkan di rak kecil. Ia mulai menjalankan mobilnya perlahan. Virus meraih Snack dan memakannya. Terdengar suara kriuk-kriuk hingga membuat Diego juga sedikit mengambil makanan ringan itu dari dalam bungkusan yang di pegang Virus.


"Tunggu, mobilmu bagaimana?" Tanya Diego sembari memakan makanan ringannya.


"Astaga, aku lupa. Kuncinya ada padamu kan? Kau saja yang membawa," ucap Virus


"Andi hentikan mobilnya, Diego akan turun dan membawa mobilku," pekik Virus


"Aku tidak bisa turun, bukannya tadi aku berpura-pura mati?" ucap Diego


"Lepaskan saja rambut palsu serta janggut itu, mereka tidak akan mengenalimu. Jangan lupa pakai ini, tutup hidungmu jika memakainya. Jaket bodyguard itu sangat bau," ucap Virus seraya memberikan jaket yang tadi ia pakai.


"No no no, baunya sangat tidak enak. Kau betah memakainya tadi?" ucap Diego seraya membaui jaket itu.


"Haha terpaksa," jawabnya cepat


"Jadi turun tidak? Aku turunkan kau didepan ya, disini tidak boleh parkir," ucap Andi


"Ya sebentar," ucap Diego


Setelah Diego melepaskan rambut palsu, jambang serta janggut palsu yang masih menempel. Ia kemudian turun membuka pintu yang kebetulan saat itu sedang angin kencang, sehingga angin itu masuk kedalam dan menerbangkan kain yang menutupi kamar mandi disana.


"Aaww," ucap Moza yang juga dilihat oleh Virus. Pria itu melihat body Moza yang sedang mandi tanpa berpakaian. Dengan cepat Virus mengalihkan pandangannya.


"Astaga, semoga Moza tidak tahu jika aku melihatnya," batin Virus yang masih terbayang tubuh indah Moza meski hanya sebentar.


Moza menutup kain itu dan membetulkannya. Sementara Virus jadi salah tingkah, dia terus memasukkan makanan ringannya kedalam mulut dengan cepat dan dengan pandangan yang berlawanan dengan kamar mandi itu


Setelah Diego turun Andi mulai menjalankan mobil Van-nya seraya bertanya, "Moza kenapa?"


"Tidak tahu," ucap Virus pura-pura tidak tahu.


Setelah membilasnya Moza dengan cepat mengeringkan tubuhnya dan memakai pakaian ganti yang sudah ia siapkan sebelumnya. Moza keluar sudah berpakaian lengkap tetapi dia masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Virus memandangi Moza dengan rambutnya basah sekilas gambaran yang tadi tidak sengaja dilihatnya kembali hadir. Virus kemudian salah tingkah.


"Kau kenapa?" Tanya Moza penuh selidik


"Tidak ada," jawab Virus berbohong


"Kau...kau tidak melihatku saat kain itu terbuka kan?" Tanya Moza lagi dengan menatapnya tajam.


"Kain apa?" Tanya Virus yang masih mengunyah makanan ringannya. Moza merasa Virus menutupi sesuatu.


"Kain kamar mandi itu," ucap Moza


"Oh kainnya yang terbang tadi," Virus keceplosan


"Virussss kau menyebalkan!! kau lihat apa, kalau tidak aku bikin kau kegelian?" Ancam Moza kemudian mulai menggelitik di samping pinggangnya atau bahkan di dekat ketiak yang membuatnya geli


"Hahahaa itu geli sudah cukup," ucap Virus


"Kain itu terbang dan tentu saja kau pasti melihatnya kan?" Terka Moza masih menggelitik


"Haha iya iya tapi sedikit dan tidak jelas, aku juga tidak sengaja melihatnya hahaha sudah cukup itu geli," aku Virus


Moza menghentikan kegiatan menggelitiknya. Sekarang wajahnya merah padam, bagaimana tidak. Pria yang dia sukai dengan tidak sengaja melihat tubuhnya.


"Huh, ya sudah jika tidak jelas, kalaupun jelas jangan sampai kau mengingatnya," ancam Moza


Sebenarnya itu sangat jelas, tetapi Virus berbohong. Agar Moza tidak merasa malu.


"Oke, oke," jawab Virus dengan senyum mautnya membuat Moza tak dapat berkutit.