
James sangat panik. Setelah memeriksa kondisi Virus yang masih bernyawa, ia segera mencari kain di sekitar kamar. Dengan lancang dibukanya lemari pakaian yang berada di dalam kamar itu. Semua untuk kebaikan Virus.
Pria itu mengambil kain yang berukuran besar dan panjang lalu dibalutkan ke tubuh Virus, terutama pada bagian perut. Setelah itu ia menghubungi petugas polisi lalu membawa tubuh Virus menuju mobil dengan menggendongnya.
Saat James keluar dari rumah, menggendong Virus yang penuh darah. Tetangga samping rumah kebetulan melihatnya saat akan memasukan mobil ke garasi. Ia segera menghampiri James dan membantu membukakan mobil ambulans.
"Apa yang terjadi? Kenapa pria itu berdarah?" Tanya sang tetangga yang jarang bercengkrama dengan Virus. Jangankan mengobrol, menyapa saja tidak pernah karena keduanya sibuk dan tidak pernah dirumah.
"Saya juga tidak tahu pasti Tuan, sepertinya telah terjadi perkelahian yang berujung maut. Karena ada yang mati didalam, saya sudah menghubungi polisi. Ah maaf ini kritis, saya tidak tahu detailnya dan juga tidak bisa menceritakannya lebih lama. Tapi saya minta tolong, untuk menjaga Nyonya Virus yang ada didalam. Dia sedang terbaring koma di kamarnya yang terletak di lantai bawah," ucap James yang dijawab anggukan kepala oleh tetangga samping, kemudian ia segera pergi dengan tergesa-gesa.
Niinoo Niinoo Niinoo
Suara mobil ambulans dinyalakan. James harus membawa Virus segera tanpa menunggu kedatangan polisi. Tak ada pilihan lain ketika menyuruh tetangganya untuk menjaga Moza, karena James tak punya banyak waktu.
James melajukan ambulansnya dengan kencang. Saat akan keluar dari komplek perumahan milik Virus, pria itu berpapasan dengan Diego.
"Ambulans itu melaju kencang, sepertinya ada yang sedang kritis," sahut Valeria.
"Kenapa perasaanku makin tidak enak ya?" Diego memarkirkan mobilnya di depan rumah Virus.
Saat tetangga Virus akan masuk, dia melihat mobil Diego yang parkir didepan rumah dan segera memanggilnya dengan melambaikan tangan. Sebenarnya tetangga itu takut jika masuk kedalam sendirian karena James mengatakan ada yang terbunuh didalam.
"Ayo cepat masuk!" Ucap tetangga itu pada Diego saat pria itu sudah turun dari mobil.
"Ya, maaf kau siapa?" Tanya Diego
"Aku tetangga samping. Tuan Virus dilarikan ke rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang terluka penuh darah. Kata petugas ambulans itu ada yang mati di dalam rumah itu,"
"Apa! Moza?" Terka Diego dan Valeria bersamaan
"Bukan, sepertinya yang mati adalah orang lain karena tadi saya disuruh untuk menjaga istrinya yang koma,"
"Astaga jadi ambulans yang baru saja lewat itu sedang membawa Virus," ujar Diego
"Kau sudah lapor polisi?" Timpalnya lagi
"Kata petugas ambulans tadi, dia sudah memanggil polisi," jawab si tetangga.
"Sayang sebaiknya kau susul ambulans itu dan melihat keadaan Virus. Biar aku yang disini menjaga Moza," ucap Valeria
"Kau benar, baiklah aku akan menyusul Virus. Kabari aku jika ada sesuatu yang buruk terjadi," ucap Diego membenarkan kemudian berlari ke dalam mobil dan menyusul Virus.
Valeria dan tetangga pria Virus, masuk kedalam rumah. Mereka ketakutan saat melihat tubuh Sam yang tewas dengan leher digorok. Keramik putih itu menggenang darah yang kental.
"Nama ku Sean," tetangga itu memperkenalkan dirinya untuk mengalihkan suasana yang tegang dan seram.
Saat Valeria ingin menjawab, tiba-tiba terdengar sirine mobil polisi diluar, lalu tak berapa lama beberapa petugas polisi datang saat Valeria akan masuk ke kamar.
Beberapa petugas menghampiri mayat Sam dan satu petugas menanyakan runtutan kejadian kepada Valeria.
"Aku tidak tahu ceritanya, karena aku dan suamiku datang disaat kejadian ini sudah terjadi," jawab Valeria jujur dan dibenarkan oleh Sean tetangganya Virus.
"Siapa namamu Nyonya?" Tanya petugas seraya mengeluarkan sebuah notes kecil dan sebuah pulpen.
"Saya Valeria,"
"Dan kau suaminya?" Tunjuk petugas itu ke arah pria yang berdiri agak jauh dari Valeria.
"Bukan. Saya Sean, tetangga sebelah,"
"Suami ku sedang menyusul pemilik rumah ini ke rumah sakit, dia juga terluka," jelas Valeria yang dijawab anggukan kepala oleh polisi
"Kau Sean, bisakah kau ceritakan sedikit kenapa kau bisa tahu ada pembunuhan disini?"
"Aku baru pulang kerja dan akan memasukan mobilku ke garasi. Lalu aku melihat seseorang dengan seragam rumah sakit sedang menggendong tuan Virus dari dalam menuju ambulans dan Aku melihat ada banyak darah ditubuhnya jadi Aku pun turun dari mobil lalu mendekatinya dan ikut membantu menaikan tubuhnya ke atas brangkar. Petugas itu juga memberitahu jika ada yang mati didalam kemudian dia pergi terburu-buru karena keadaan tuan Virus kritis," jelas Sean
"Pukul berapa kau pulang?" Tanya Polisi pada Sean
Sementara disamping itu Valeria sedang mengamati Moza yang terbaring dari kejauhan, ia melihat tangannya seperti bergerak. Wanita itu pun melangkah masuk kedalam dan segera masuk untuk melihat Moza dari dekat.
"Tunggu Nyonya Valeria, saya belum selesai bertanya," cegah polisi tersebut.
"Maaf, Anda sedang bertanya dengan Tuan Sean dahulu kan? jadi Saya permisi dahulu, ingin melihat adik ipar saya yang terbaring disana," tunjuk Valeria.
"Baiklah, silahkan. Setelah tim forensik datang nanti, Nyonya harus ikut dengan kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut,"
"Maaf jika malam ini saya tidak bisa. Sebaiknya tanyakan disini saja karena saya tidak bisa meninggalkan saudara saya sendirian disini," ucap Valeria kemudian berlalu meninggalkan sang polisi tanpa menunggu jawabannya.
"Moza," panggil Valeria sembari mendekatinya.
Wanita itu meraih tangan Moza yang memiliki sedikit bercak darah. Darah Virus yang sempat menggenggam tangan istrinya sebelum jatuh pingsan.
"Jarimu bergerak, apakah kau sudah sadar? Moza, bukalah matamu sayang," ucap Valeria dengan lembut seraya menyentuh bahunya.
Terlihat kerutan di dahi Moza yang sedikit tertutup perban di kepalanya. Kelopak mata juga ikut bergerak, seakan wanita itu ingin membuka matanya. Valeria tersenyum melihatnya berharap Moza benar-benar sadar.
Perlahan wanita itu membuka matanya. Namun pandangannya gelap, dia tak melihat apapun tetapi dapat merasakan jika ada beberapa orang disana.
Suatu mukjizat yang amat besar jika Moza sudah sadarkan diri. Namun wanita itu mengalami kebutaan sementara akibat luka tembak di kepala.
"Moza? Hiks kau sadar, aku senang akhirnya kau bisa melewati masa koma," ucap Valeria seraya memeluk Moza
Moza mengerutkan dahi kembali dan sedikit meringis pelan merasakan sakit dibagian kepalanya terutama pada bagian belakang.
"Aku dimana? Semuanya gelap! Aku tidak dapat melihat apapun," lirih Moza yang hampir tak mengeluarkan suara. Wanita itu seperti berbisik dan sangat lemah.
"Apa yang terjadi kenapa kau dengan pandanganmu? Sebentar ya Moza, aku harus menghubungi dokter," Valeria segera merogoh saku celana dan mengeluarkan ponselnya.
"Dimana Virus? Bagaimana keadaannya? Apakah dia juga terluka saat malam pernikahan ku?" Tanya Moza dengan banyak pertanyaan dikepalanya. Pikirannya hanya tertuju pada Virus.
"Bagaimana aku menjawabnya? Virus terluka tetapi bukan dimalam pernikahan kalian melainkan saat ini. Apa sebaiknya aku menutupi keadaannya ya. Moza baru saja sadar. Aku takut itu akan berpengaruh kepada kesehatannya," batin Valeria yang menjadi panik karena bingung harus menjawab apa.