My Name Is Virus

My Name Is Virus
Alasan Virus



"Ayo kita lanjutkan perjalanan," ajak Virus setelah Wasabi pergi.


"Oke ayo," ucap Diego yang segera beranjak pergi.


Valeria berjalan pelan, kakinya sudah sedikit membaik. Virus dan Andi sudah berada di depan sementara Diego dan Moza berjalan dibelakang.


"Kak, tunggu aku ya, aku ke toilet sebentar," pamit Moza pada Diego.


"Oke, hati-hati," seru Diego


"Kesempatan bagus, kalian harus terus di dekatkan. Lebih baik kau satu mobil saja dengan Virus haha dengan begini aku akan lebih cepat mempunyai adik ipar, maaf ya Moza," batin Diego


Ia keluar dari klinik dengan tersenyum riang kemudian menghampiri Virus


"Hey Virus, kau tunggu Moza ya," ucap Diego


"Dimana dia?" Tanya Virus yang masih berada diluar mobilnya.


"Dia di dalam sedang ke kamar kecil," jawab Diego


"Moza akan naik mobilmu. Antarkan dia pulang dengan selamat, awas kalau kau tak menjaganya," timpal Diego


"Apa tidak kasian jika dia di mobil ini, di sini kakinya tidak bisa di luruskan," ucap Virus


"Tidak, dia akan senang jika satu mobil denganmu. Sudah ya," Diego buru-buru masuk kedalam mobil Van. Valeria dan Andi sudah duduk disana, kini giliran Diego yang mengemudi. Pria itu buru-buru meninggalkan Virus sebelum Moza kembali.


Tak berapa lama Moza keluar dari klinik setelah membuang hajatnya. Namun dia tak mendapati mobil Van yang terparkir disebelah mobil Virus.


Didepan terlihat Virus bersandar di mobilnya di sisi pintu penumpang bagian depan. Ketika Moza datang Virus membukakan pintu untuknya.


"Ayo masuk, Diego menyuruh mu pulang denganku," ucap Virus seraya membukakan pintu untuk Moza.


"Hah dasar kakak menyebalkan," batin Moza


"Ah iya, hemm kenapa kau baik sekali hari ini. Tak biasanya membukakan pintu untukku," ucap Moza yang kemudian masuk kedalam mobil.


"Aku kan memang baik," jawab Virus seraya menutup pintu. Ia mengitari mobil menuju kursi kemudi.


Pukul delapan pagi 4,5 jam lagi mereka akan tiba di Las Vegas. Namun ditengah perjalanan Virus tiba-tiba mengalami keram pada kakinya.


"Moza, kau bisa menggantikan ku mengemudi?" Tanya Virus seraya menahan keram pada kakinya.


"Bisa, kau kenapa? Lebih baik berhentilah didepan," seru Moza


"Tidak bisa ini jalur cepat, kau bergeser saja ke kiri, duduk dipangkuan dulu lalu injak pedal gas, setelah itu aku bergeser ke kanan," ujar Virus


"Oh baiklah," ucap Moza yang langsung bergeser ke kiri, untuk mengambil alih kemudi.


Sementara Virus memundurkan jok kursinya lalu Moza duduk dipangkuan Virus tetapi ia duduk terlalu ke belakang dan menyentuh bagian terlarang.


"Astaga Moza menduduki Juniorku," batin Virus


Tiba-tiba jalanan saat itu sedikit bergelombang Moza yang duduk diatasnya malah naik turun seperti menunggangi kuda. Membuat bagian sensitif itu menjadi mengeras.


"Aku sudah menekan gas, virus kau cepatlah bergeser. Aku tidak nyaman duduk dipangkuan mu," ujar Moza


"Ahh apalagi aku, seketika aku menegang," ujar Virus menahan juniornya yang malah mengeras.


"Hah maksudmu?" Tanya Moza


"Tidak ada," jawab Virus cepat seraya bergeser ke kanan dan duduk di kursi sebelah kursi kemudi.


Virus menutupi bagian mengeras itu dengan jaketnya yang panjang seraya menahan memijit betis kakinya yang sedikit keram.


"Kau sering mengalami keram? Atau baru ini?" Tanya Moza


"Tidak sering tapi kadang, dan itu terjadi baru-baru ini," ucap Virus.


"Sebaiknya periksakan kondisi mu, sebelum terjadi berkepanjangan dan semakin memburuk akan susah untuk diobati," nasihat Moza


"Siap laksanakan," ucap Virus


Setelah itu mereka berbincang banyak hal, Virus juga semakin nyaman berbicara dengan Moza yang memiliki sifat pendiam.


"Dia semakin hari semakin manis," batin Virus


Moza menangkap mata Virus yang mencuri pandang padanya, Virus cepat-cepat mengalihkan pandangannya.


"Apa aku tak salah lihat? Tadi Virus menatapku? Ahh cuma perasaanku saja, dia tidak pernah melihatmu Moza!" batin Moza.


Wanita itu terus mengemudi dengan kecepatan diatas standar padahal ia sangat takut untuk membawa mobil dengan laju kencang. Setelah keluar dari jalur cepat dan berjalan dengan kecepatan standar barulah ia bisa santai sedikit.


Tak terasa mereka telah memasuki kawasan Las Vegas beberapa menit lagi untuk menuju Nevada. Tetapi malah tak ada perbincangan diantara keduanya. Hingga tak sadar Moza dan Virus telah sampai di depan rumah Moza. Sementara mobil Van itu terus menuju ke rumah yang menjadi basecamp Wasabi.


"Moza, nanti malam aku menginap kemari, boleh kan?" Ijin Virus.


"Ya, menginap lah barangmu juga masih disini," jawab Moza tanpa melihat ke arah Virus, ia lalu mengambil tasnya dan mengalungkan talinya di bahu.


"Apa aku boleh minta sesuatu? Tolong masakan aku makanan yang pernah kau buat kemarin itu ya?" Pinta Virus sedikit canggung. Entah kenapa dia ingin sekali makan masakan Moza.


"Yang mana, aku sering memasakkan untuk kalian jadi tidak tahu yang mana,"


"Yang waktu itu, malam hari saat kau pulang kerja dan aku kelaparan," ucap Virus mengingatkan.


"Nanti akan ku ajari kau ilmu bela diri," tawar Virus.


"Aku tidak tertarik,"


"Kau mau apa? Nanti aku berikan, yang terpenting aku bisa makan makanan itu," pinta Virus seperti anak kecil yang meminta ibunya makanan.


"Ahh aku lelah dan aku malas berbelanja jika bahannya tidak ada, lagi pula aku bukan pacarmu. Kau minta saja pada Valeria, wanita pujaan mu itu!" seru Moza lantas keluar dari mobilnya dan menutup pintunya dengan sedikit bantingan.


"Kenapa dengannya, kenapa tiba-tiba membahas Valeria. Viruuuuuss kau ini apa-apaan memaksanya untuk masak makanan yang kau inginkan, tentu saja dia tidak mau, terlebih kau bukan siapa-siapanya, tapi aku sungguh ingin makanan itu," batin Virus


Virus bersandar pada mobil nya dan menutup matanya, ia berpikir siapa wanita yang paling ia inginkan dan ia butuhkan.


"Moza, kenapa Moza yang muncul dari pandangan pertamaku, kau kah wanita itu?" gumam Virus lalu melihat ke arah rumah Moza.


Pria itu berpindah ke sisi kemudi, kemudian melajukan mobilnya menuju basecamp. Di depan basecamp terlihat Semuanya duduk di teras, seperti menunggu kehadirannya.


"Kenapa kalian tak masuk?" Tanya Virus seraya berjalan mendekat.


"Pemilik mobil Prado yang Wasabi pinjam pagi tadi, baru menelepon," ucap Diego


"Lalu?" Tanya Virus


"Mereka menemukan sebuah kunci di atas dashboard mobil dan ternyata itu mobil rumah ini," jelas Andi.


"Astaga, kenapa mereka baru menelepon sekarang saat kita sudah disini," ucap Virus sedikit marah.


"Mereka berniat mengirimkan kunci itu kemari jadi kita bisa menunggunya," ucap Valeria.


"Yah itu juga bukan kesalahan mereka, aku meninggalkan kunci itu. Lalu bagaimana?" Tanya Andi.


"Dobrak saja," ucap Virus kemudian meletakkan tasnya di kursi teras.


Virus berdiri di depan pintu kemudian memundurkan langkahnya mengambil ancang-ancang.


BRAAAK


Tendangan Virus membuat pintu itu terbuka, bagian engsel atasnya terlepas. Daun pintu yang terkunci terbuka. Hanya engsel pintu bagian bawah yang tidak rusak namun membuat pintu itu miring. Virus menendangnya lagi, pintu itu benar-benar roboh. Semua menganga melihat Virus.


"Haish tendanganku gagal," ucap Virus.


"Apanya yang gagal kau tak bisa lihat, pintu itu roboh," ujar Diego


"Ya tapi aku ingin pintu itu roboh hanya dalam sekali tendangan," ujar Virus tak puas.


"Mungkin kau bisa menendang pintu yang ada di bagian belakang," canda Andi.


"Kalau kau belum puas, tenang saja masih ada pintu lainnya haha," canda Diego dan membuat semua orang tertawa.


"Virus siapa yang akan mengantarnya pulang, dia tidak bisa mengendarai motornya," bisik Diego seraya merangkul Virus masuk kedalam.


"Aku akan mengantarnya pulang dan kau bawa motornya ya," jawab Virus


"Ok," jawab Diego singkat.


"Kita akan mengantarmu pulang, Diego yang akan membawa motormu. Kunci?" ucap Virus seraya menengadahkan tangannya keatas meminta kunci motor. Valeria memberikan kuncinya. Mereka kemudian bergegas kerumah Valeria.


Di dalam mobil, Valeria bingung mencari bahan untuk perbincangan mereka. Canggung menyelimuti keduanya, sebenarnya Virus masih sakit hati atas perbuatan Valeria yang berniat untuk memberinya racun. Dia juga memberikan informasi kepada Cezo soal kedatangan Wasabi yang ingin menangkap Mr.M .


"Hemm Virus aku ingin bertanya," ucap Valeria dengan pelan.


"Tanya saja," balas Virus tanpa menatap Valeria. Ia fokus pada jalan didepan.


"Apa alasannya Kau melepaskan aku dari penjara dengan jaminan?" Tanya Valeria


"Aku memikirkan Ayahmu yang sendirian dirumah, maka dari itu aku melepaskan mu karena hanya kau yang dia miliki. Aku sangat mengutamakan arti kebersamaan dengan keluarga. Mungkin teman ayahmu bisa merawatnya beberapa hari. Tetapi siapa yang tahu hati seorang teman. Bahkan dia yang dianggap teman pun bisa mengkhianati, benar kan?" Ucap Virus menyinggung Valeria.


"Aku sebenarnya tidak ingin mengkhianati kalian, terutama Kau, aku tidak berniat membunuhmu. Nyatanya sampai saat itu aku tidak menyuruhmu untuk meminum formula itu kan? Aku juga melakukannya karena mereka mengancam ku," jawab Valeria


"Hah, kau bisa mengatakan pada Wasabi atau padaku jika dirimu diancam. Kau memang tak melakukannya tapi kau berniat. Kau tahu pria itu juga menyuruhku untuk membunuhmu, tapi aku tak melakukannya, aku memilih meninggalkan semuanya. Jikapun aku yang terbunuh saat itu aku bersedia, ternyata keadaan berbalik tapi kau terus menuruti kemauan pria tua itu, ternyata balasan yang aku terima tak sebanding," ujar Virus.


"Aku benar-benar minta maaf, kau mau memaafkan ku kan?" Tanya Valeria


"Ya aku sudah memaafkan mu," jawab Virus.


"Terimakasih, jadi kau mengeluarkan aku karena kau memikirkan keluarga ku? Kau sepeduli itu padaku, sempat mengira jika kau mengeluarkan aku karena rasa suka mu padaku," ucap Valeria


"Hah suka, sepertinya rasa itu sudah hilang saat aku tahu kebenarannya. Aku minta maaf, aku menarik ucapan ku saat aku bilang aku mencintaimu. Aku sudah tak mencintaimu, mungkin kau juga tak memiliki perasaan untukku. Aku juga tidak tahu cinta itu lari kemana," ucap Virus dengan sangat jujur.


Mendengar itu membuat Valeria sedikit sakit, wanita itu sebenarnya mulai menyukai Virus, dia pria yang baik. Kesalahannya menghancurkan hubungannya sendiri.


"Tapi aku mulai menyukaimu," ucap Valeria


Virus menolehkan pandangannya ke arah wanita itu, Valeria mengatakan perasaannya disaat Virus sudah tak bersimpati lagi padanya.


"Kita bisa menjalin hubungan sebagai teman kan," ucap Virus dengan tersenyum.


Valeria membalas senyuman itu meski ia saat ini menahan air matanya. Wanita itu mengarahkan wajahnya ke kanan, ia melayangkan pandangannya terus ke luar jendelanya karena air matanya akan mengalir.


"Kenapa saat itu aku tak meninggalkan Cezo dan menerimanya cintanya. Virus sangat peduli pada ayahku, dia bahkan rela mengeluarkan uang yang banyak agar aku bisa bersama dengan keluarga ku, aku menyesal," batin Valeria.