My Name Is Virus

My Name Is Virus
Attention



Setelah Virus menghabiskan satu cangkir tehnya, Moza membuka balutan kain yang sedari mengikat kakinya. Perlahan karena balutan itu sedikit menempel dengan kulit akibat terkena darah yang mulai mengering.


"Maaf sayang jika sedikit sakit," ucap Moza


"Moza, jika tidak ada alkohol, tuangkan saja Vodka ke luka itu. Ada di lemari es," ujar Virus


"Okay, oh no...aku tidak tahan melihatnya," ucap Moza setelah melihat luka yang terlihat bolong dengan sedikit daging yang menyembul keluar.


Andi mendekat dan memberi Moza beberapa tablet obat untuk membantu menghentikan pendarahan, Asam Traneksamat.


"Minumkan tablet itu pada Virus, aku baru menemukannya di dalam saku kecil tas ransel ku," ucap Andi


"Thanks," ucap Moza


Wanita itu lalu kebelakang mengambil air putih hangat dan Vodka di dalam lemari es. Dan sebuah ember kosong serta mengambil handuk hangat yang baru untuk mengeringkan lukanya nanti. Kemudian ia kembali duduk disamping Virus.


"Minumlah obat ini, setelah itu aku akan menuangkan Vodka diatas lukamu,"


Setelah Virus meminumnya obatnya, sementara itu Moza mengambil perban dan salep memar di dalam tasnya. Kemudian ia kembali lagi ke hadapan Virus sembari berjongkok. Moza menaruh ember kosong dan meletakkan kaki Virus ke dalamnya. Lalu ia mulai menuangkan Vodka pada luka yang terbuka. Harus segera dilakukan agar tidak infeksi berkelanjutan.


"arghhmmmm," decak Virus menahan sakit. Terasa panas dan cekit-cekit pada lukanya.


Setelah itu Moza menyeka sisi lukanya dengan handuk hangat. Dan memberikan salep memar di sekitar sisi luka yang terlihat sedikit membengkak. Setelah sedikit mengering Moza membalutnya dengan kasa perban.


Virus terlihat pucat dan lelah, ia memandangi wajah Moza sedari tadi dan membuat pria itu tersenyum kecil. Setelah itu Moza beranjak berdiri karena saat mengikat perban, wanita itu berjongkok didepannya. Virus meraih lengan Moza dan menariknya ke pangkuan Virus.


"Kemarilah," ucap Virus


"Sayang aku mau menaruh ember ini ke belakang," ucap Moza


"Biarkan saja disitu, apa kau tidak lelah hemm," ucap Virus memeluk Moza dari belakang dan meletakkan dagunya diatas bahu kekasihnya. Sesekali Virus mencium pipi Moza.


"Ya aku lelah tetapi melihatmu kesakitan seperti itu mana bisa aku duduk manis dengan tenang. Setelah ini istirahatlah, semoga luka mu tidak memburuk. Aku takut karat paku itu menancap didalam lukamu....ahhh membayangkannya saja membuatku ngilu," ucap Moza


"Antibodi ku berbeda dari orang kebanyakan. Hanya butuh satu hari untuk beristirahat dan semuanya pasti akan membaik. Sepertinya aku harus berterimakasih dengan Ayah kandungku yang memberikan aku cairan uji coba haha," ucap Virus tertawa kecil.


"Aku harap, semoga lekas membaik. Oh ya kau belum cerita soal Ayah kandung mu, siapa dia? Kau sudah bertemu dengannya?" Tanya Moza seraya mengubah sedikit posisi duduknya agar bisa menatap Virus


Virus menggelengkan kepalanya, "Aku belum bertemu manusia itu. Aksesnya terblokir, Andi hanya menemukan datanya saat masih muda setelah itu seluruh data tentangnya terkunci. Sepertinya dia termasuk orang penting,"


"Mungkin saja, hanya beberapa orang penting yang kerahasiaan datanya terjaga aman. Tetapi aku yakin Andi bisa meretas data tentang Ayah kandungmu itu," ucap Moza


"Sayang, cium aku," pinta Virus menggoda nakal seraya memonyongkan bibir seksinya.


Moza tertawa kecil melihat tingkah kekasihnya itu, ia pun mencium kekasihnya seraya berkata, "Aku akan mengambil selimut untukmu, setelah itu tidurlah," Virus tidak menjawab tetapi dia menganggukkan kepala tanda setuju.


Wanita itu pun pergi ke kamar mengambil selimut untuk Virus. Virus mulai merebahkan tubuhnya di kursi. Tak berapa lama Moza datang dan menyelimutinya.


"Kau juga tidur ya," ucap Virus memberi pesan pada Moza.


"Iya," Moza kemudian duduk di kursi seberang Virus dan mulai merebahkan dirinya.


"Kau tidak memakai selimut?" Tanya Virus pada Moza


"Tidak aku cukup pakai jaket saja, kau terluka dan lebih membutuhkannya," jawab Moza


Jauh dari tempat duduk Moza dan Virus, ada Rachel dan Chris yang sedang menikmati channel televisi sesekali mereka berbincang. Sementara Andi ada di bangku dekat dapur kecilnya. Dia memantau keadaan di luar dengan kamera satelit yang ia retas.


Ada dua tempat tidur kecil, dan akan ditempati oleh Rachel dan Chris. Sementara yang lain akan beristirahat di kursi panjang, tak kalah empuk seperti sofa.


"Sayang, malam pengantin kita sepertinya tidak bisa beristirahat di ranjang haha," ucap Diego dengan tawa kecilnya.


"Hah kau masih memikirkan itu? Sebelum menikah kau sudah mencicipi ku, apa itu kurang?" ujar Valeria


"Rasanya akan berbeda jika melakukannya setelah kita menikah," ucap Diego


"Kau tahu dari mana soal itu?"


"Dari beberapa teman yang sudah menikah,"


"Sesampainya disana kita bisa melakukannya sebanyak yang kita mau. Dengan banyak gaya, atau kita bisa menciptakan berbagai gaya baru,"


"Ya aku sudah memikirkan beberapa gaya, ahhh pikiranku jadi kemana-mana," ucap Diego dan Valeria tertawa mendengarnya.


Perjalanan panjang dari Nevada menuju Texas, 22 jam waktu yang mereka harus tempuh. Tempat Virus dibesarkan menjadi seorang pembunuh. Dan selama perjalanan itu mereka tidak dapat menikmatinya. Mereka belum aman, karena sang Mafia terus mengejarnya.


"Ini gawat, Diego harus cepat," gumam Andi


Pria itu kemudian berjalan menemui Diego yang sedang menyetir, ia melewati Virus dan Moza yang sudah terlelap tidur.


"Mereka ini bisa-bisanya tidur cepat, ini masih jam sepuluh malam. Aku juga lelah ingin tidur, oh kasurku tiba-tiba aku merindukan mu," gumam Andi


"Hey Diego, kau ingin kita menjadi santapan para mafia itu?" Tanya Andi.


"Apa maksudmu?" Tanya Diego


"Gerombolan mafia itu ada dibelakang kita," ucap Andi


"Apa! Secepat itu mereka menyusul? Diego, kau harus cepat," seru Valeria


"Sayang aku tidak bisa cepat jika naik mobil. Aku punya rasa trauma," ucap Diego


"Kalau begitu biar aku saja yang menyetir," ucap Valeria


"No no no, sit down! Oke aku akan coba!" seru Diego kemudian membuang napas kasar.


Ia menambah kecepatan sedikit demi sedikit. Tiba-tiba saja raut wajahnya menegang.


"Sayang rileks, jangan tegang seperti itu. Aku paham akan trauma pada dirimu, tapi kita tidak bisa seperti itu terus. Kau harus melawan rasa trauma itu. Demi keluarga mu," ucap Valeria seraya mengelus punggung Diego.


"Iya, aku akan melawan rasa takut ku. Aku bisa balap motor, seharusnya aku juga bisa balap mobil," ucap Diego menyemangati dirinya dan berusaha keluar dari rasa trauma.


Andi duduk sederetan dengan kursi yang ditempati Virus. Ia melihat Virus bertambah pucat dan sedikit menggigil. Terlihat peluh bercucuran dan otot rahangnya mengeras. Andi kemudian menyentuh dahi Virus untuk mengukur suhu tubuhnya dengan punggung tangannya.


'Dia mengalami demam, jika dibiarkan Virus bisa terkena kejang ini yang parahnya lagi dia akan kesusahan bernapas. Aku harus membeli obat itu, ini saatnya membalas kebaikan Virus,' batin Andi


Andi menemui Diego kembali dan memintanya untuk menepi. Pria itu akan ke apotik terdekat menggunakan mobil Virus yang memang dirancang untuk laju kecepatan tinggi. Awalnya Diego menolak, tetapi karena mendesak pria itu pun menepikan busnya. Apotik itu tidak searah dengan tujuan mereka sehingga Andi harus memakai mobil lain dan kembali bertemu di perjalanan berikutnya yaitu perbatasan Las Vegas.


"Kita bertemu di perbatasan Las Vegas, Aku sudah menghitung ketepatan waktunya dan jangan kurangi kecepatanmu oke," ucap Andi


Andi berlari ke bawah dan mengeluarkan mobil yang terparkir di bagasi bus. Setelah itu Andi pergi dengan kecepatan maksimal.


Sesampainya di apotik, Andi segera membeli berbagai macam obat antibiotik dan obat-obatan lainnya. Setelah itu Andi menuju di perbatasan Las Vegas. Andi duluan sampai disana tak berapa lama muncul bus Virus. Setelah itu Andi memasukkan mobilnya ke dalam bagasi bus kembali. Perhitungan Andi sangat benar.


Andi mendapatkan obatnya dan segera ia minumkan pada Virus sebelum infeksi meluas.