
Vale keluar dari bilik kamar mandi dengan balutan handuk di badan dan juga handuk kecil yang membalut rambutnya membentuk gulungan besar. Wanita itu berjalan menuju cermin yang menempel pada dinding bus. Tidak ada meja rias disana dan Vale terkejut saat melihat di pantulan cermin itu, banyak cap berwarna merah yang mengelilingi leher dan bagian dadanya.
"Sayang kau membuatku seperti macan tutul," ujar Valeria
"Haha macan tutul yang seksi dan cantik," puji Diego dengan tawa kecilnya.
"Hemm bagaimana aku menutupinya,"
"Biarkan saja, toh kita sudah resmi menjadi pasangan yang sah. Kau istriku, jadi untuk apa malu dengan tanda sebanyak itu di leher mu," Diego mengambil pakaiannya didalam koper dan memakainya dengan cepat. Sementara Valeria masih mengeringkan rambutnya, ia mengusap-usapkan handuk di rambutnya dengan kedua tangannya
"Aku senang, kau menyebutku, istrimu. Rasanya aku masih belum percaya jika kita sudah menikah. Pernikahan yang cepat dan -" ucapan Valeria terputus karena Diego menyelanya perkataannya sembari memeluk dari belakang.
"Dan banyak tragedi setelahnya, aku minta maaf jika di hari pernikahan kita, tidak seperti yang kau bayangkan, bahagia, damai dan tenang,"
"Aku bahagia, sangat bahagia dan berterimakasih padamu, karena suamiku ini datang tepat waktu, menyelamatkan aku dan Moza dari genggaman iblis itu. Apapun masalahnya nanti, kita kan terus menghadapinya bersama," ucap Valeria berbalik dan menyentuh rahang Diego.
Diego mengecup keningnya, kemudian menatap manik mata Valeria dengan lekat seraya berkata, "Aku sangat mencintaimu Valeria, Istriku,"
Jantung Valeria berdebar. Meskipun ia telah memiliki hati dan jiwa Diego seutuhnya, wanita itu selalu merasakan debaran seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Ia pun membalas pernyataan Diego, "Aku juga sangat sangat mencintai mu, suami ku,"
Hanya tatapan dalam dan kemudian berakhir dengan kecupan kecil dan lembut di bibirnya dan melepaskannya setelah beberapa detik.
Menyampaikan perasaan cinta kasih dan sayang kepada orang yang kita cintai, ternyata memiliki sebuah arti yang sangat mendalam. Meskipun terdengar sederhana namun dapat membentuk suatu hubungan menjadi semakin harmonis dan menciptakan keromantisan sendiri.
"Hemm mereka lama sekali didalam," ucap Chris pada Rachel
"Maklum saja mereka pasangan suami istri sekarang, jangan mengganggunya. Biarkan mereka mencetak seorang cucu untukku," ujar Rachel
"Mencetak haha, ada-ada saja. Aku berharap Valeria bisa mendapatkan dua cucu sekaligus. Keluarga Ibuku mempunyai gen kembar, semoga saja Valeria menuruni gen kembar itu,"
"Ya itu bisa saja terjadi, aku hanya bisa berharap. Bagaimana pun juga siapa dan berapa yang lahir, semoga semuanya selamat dan sehat. Jikapun mereka belum dikaruniai keturunan, aku harap kita tidak mendesaknya Chris. Yang terpenting mereka bahagia dan saling mencintai," ucap Rachel
"Aku setuju denganmu, yang terpenting adalah kebahagiaan mereka,"
Rachel tahu betul bagaimana rasanya. Ia mengandung Diego setelah tiga tahun usia pernikahannya. Selama tiga tahun Rachel banyak mendapat desakan dari keluarga Federic untuk segera hamil. Rachel pun sempat merasakan stress, sebenarnya hal seperti itu sama dengan bullying yang dapat menjadi penghambat kehamilan itu sendiri.
Wanita patuh baya itu tiba-tiba teringat akan dirinya sebelum memiliki anak. Ia pun masih teringat ucapan suaminya itu. 'Jangan dengarkan ucapan orang lain. Karena kehamilan bukanlah kompetisi, yang terpenting aku, kamu adalah bahagia'
*
*
Virus menemani Andi yang sedang mengemudi, ia duduk di kursi samping.
"Aku sudah mentransfer gaji mu. Kau bisa mengejar cita-cita mu," ucap Virus seraya mendaratkan bokongnya di kursi.
"Oh ya, terimakasih Bos. Haha memangnya kau tahu cita-cita ku?" Tanya Andi
"Hemm memangnya apa cita-cita mu?" Tanya Virus yang sebenarnya sudah tahu apa yang pria itu inginkan. Wasabi pernah bercerita banyak hal tentang Andi padanya.
"Aku ingin naik haji bersama kedua orang tuaku dan calon istriku. Kemudian beternak sapi dan masih banyak lagi. Kau pernah memberiku uang dan aku rasa itu cukup," ucap Andi
"Beternak sapi?" Tanya Virus memastikan karena Wasabi hanya mengatakan padanya. Dia pernah bilang jika Andi ingin sekali naik haji dengan keluarganya.
"Ya Aku ingin beternak sapi. Kakekku seorang penggembala sapi di desanya dan jika aku punya uang, Aku ingin memperbesar usahanya. Kemudian mempekerjakan orang-orang desa disana," ucap Andi
"Haha lagu yang bagus tapi aku tidak tahu lagunya seperti apa," ucap Virus
"Buka yutub dong bro," jawab Andi
"Virus, memangnya berapa banyak yang kau transfer?" Tanya Andi tiba-tiba.
"Cek saja sendiri,"
"Hemm ok, nanti akan ku cek. Hey aku ingin ke toilet, kau ganti yang menyetir ya," ucap Andi
"Oke,"
Mereka bergantian, Andi kemudian lari terbirit karena tidak tahan ingin buang air kecil.
Dari kejauhan Virus melihat asap, sepertinya ada yang terbakar di depan. Tetapi dia tidak tahu, apakah api itu berasal dari sebuah kendaraan atau rumah yang terbakar di tepi jalan.
Saat mobil itu mendekat beberapa meter, Virus terkejut dan ia menghentikan mobilnya. Andi sudah kembali dari toilet dan mencegah Virus untuk tidak turun
"Kau jangan turun, kalau itu jebakan dan dia musuh kita bagaimana?" Seru Andi
"Lalu jika orang yang kecelakaan itu adalah orang baik, apakah kita harus membiarkannya? Lihat! Mobilnya terbalik dan terbakar seperti itu, dia terlihat kebingungan jalanan ini sepi," ucap Virus yang bersikeras untuk membantu korban kecelakaan itu.
Kecelakaan itu terjadi ketika mereka hendak berbelok ke kiri tepatnya arah ke TX-153 S. Tepat di ujung belokan itu ada mobil terbalik dan mengeluarkan asap hitam dan terlihat ada percikan api yang sewaktu-waktu dapat meledak.
Seorang pria melambaikan tangannya untuk menghentikan bus milik Virus dan berharap bus itu berhenti. Pria berpenampilan kusut, dahinya terlihat terluka dan mengeluarkan darah.
Virus menghentikan busnya lumayan jauh dari mobil. Ia takut mobil itu akan meledak sewaktu-waktu. Pria yang melambaikan tangannya itu pun tersenyum lebar.
Setelah sekian lama menunggu akhirnya ada juga seseorang yang membantunya. Sejak tadi banyak kendaraan yang melewatinya tetapi tidak ada berhenti untuk membantu pria itu.
Pria itu segera berlari menghampiri bus yang dikendarai Virus. Virus tetap turun meski sudah di cegah oleh Andi. Semua orang yang ada di dalam bus, saling menoleh. Apa yang terjadi, kenapa Virus menghentikan busnya.
Diego keluar dari dalam kamar dan langsung bertanya, "Ada apa ini? Kenapa berhenti?"
"Aku juga tidak tahu," jawab Moza yang baru saja selesai mencuci piring.
Virus berjalan menemui orang yang melambaikan tangannya tadi.
"Tolong aku, aku kecelakaan dan mobilku hancur. Aku tidak dapat menghubungi seseorang karena ponselku jatuh dan ikut meledak didalamnya. Ku mohon berikan aku tumpangan," pintanya dengan wajah memelas.
"Aku turut prihatin dengan keadaanmu, lalu kemana tujuan mu?" Tanya Virus
"Texas," jawabnya singkat sembari mengatur napas dan satu tangannya menyentuh rusuk sebelah kiri. Ia merasa kesakitan.
"Kebetulan sekali, aku juga menuju kesana. Ayo kau boleh ikut dengan kami,"
"Oh saya ucapkan terimakasih," ucap pria itu seraya tersenyum lebar.
Saat Virus membawanya masuk ke dalam bus. Semua orang menatapnya dengan pandangan tajam. Mereka takut menerima keberadaan orang asing. Andi terus mengamati pria asing yang baru saja naik ke dalam bus. Wajahnya seperti tak asing baginya.