
Jantung Wasabi kembali berdenyut kembali, sesaat setelah dokter memacu jantungnya. Operasi pun telah diselesaikan dan kini hanya menunggu Wasabi tersadar.
"Keadaan Wasabi tidak stabil. Dia harus tetap berada di ruang ICU untuk pemantauan khusus. Kami telah berusaha melakukan yang terbaik dan berharap keadaan Wasabi kembali membaik. Teruslah berdoa untuk kesembuhan suami anda. Joy, aku harap kau bisa sedikit tenang menghadapinya, demi kandungan mu. Jangan sampai stress," pesan Dokter Lee yang sudah lama mengenal keluarga Wasabi serta Joy.
"Bagaimana aku tidak kepikiran, hatiku sakit melihat kondisinya. Rasanya aku ingin menggantikannya terbaring disana," ujar Joy yang terlihat sembab pada bagian mata, hidung dan sangat pucat.
"Joy, kau ini hamil muda. Jika kau stress maka akan berpengaruh pada perkembangan bayimu. Wasabi itu kuat, bisikkan kata-kata indah di telinganya. Atau sebuah kata penyemangat untuknya," ucap Dokter Lee yang berwajah Jepang.
"Aku akan menyuntikkan formula khusus untuk mempercepat metabolisme pada tubuhnya dengan begitu dia akan segera pulih,"
"Terimakasih dokter Lee,"
"Sama-sama beristirahatlah," titah Dokter Lee pada Joy dan dibalas anggukan kecil olehnya.
Joy keluar dari ruangan dokter dengan langkah pelan dan malas. Terlihat Dina sedang menunggunya di ruang tunggu.
"Joy kenapa Wasabi masih di ruang ICU, apakah keadaannya parah?" Tanya Dina
"Iya Bu, aku mohon doakan Wasabi selalu ya. Hemm besok Mama Sill dan Ayah Setya datang kemari, jadi Bu Dina tidak perlu kemari lagi. Aku tidak ingin merepotkan," ucap Joy
"Ah tidak repot, karena kau disini butuh teman. Besok Andi pulang mungkin lusa sampai. Dia terlihat sedih, hah terkadang aku suka heran dengan tingkah Andi dan Wasabi yang selalu bertengkar dan terus berdebat. Tetapi sebenarnya mereka saling menyayangi," ucap Dina
"Ibu benar, malah dulu saat mereka kecil, Andi suka sekali memukuli Wasabi. Dia merasa lebih kuat dan hebat. Tapi kini mereka berdua kebalikannya. Musuh yang menjadi sahabat," ucap Joy
"Bisa dijadikan judul sinetron nih ahhaha," canda Ibu Dina
Joy pun tertawa kecil dan sedikit melupakan masalah yang sedang ia lalui.
*
*
*
Keesokannya Andi sudah siap ke Bandara Texas. Virua akan mengantar pria itu. Tak lupa mereka berdua menyamar dengan memakai topeng kulit yang persis seperti manusia. Virus mempunyai alat canggih untuk mencetak topeng itu sesuai wajah yang ia mau.
Sistem keamanan rumah Virus tak perlu diragukan lagi, begitu alarm bahaya berbunyi, muncul sensor laser di bagian pintu. Dan juga ada polisi yang akan segera datang ke tempatnya. Sehingga Virus tidak takut jika harus meninggalkan semua orang di rumahnya. Tetapi Virus berpesan jika ada yang mencurigakan mereka harus ke bersembunyi di ruang bawah tanah.
Virus telah mengatur kunci aksesnya dengan menggunakan sensor mata milik Moza, wanita itu bisa mengakses brangkas pribadi milik Virus. Jangankan brangkas, bagian yang tak pernah terjamah pun akan dia berikan untuk Moza jika wanita itu menginginkannya.
"Sesampai mu di Indonesia, kabari aku," ucap Virus seraya menepuk bahu Andi
"Iya aku akan mengabari mu jika ingat, biasanya jika sudah sampai aku langsung tidur haha," jawab Andi
"Yang terpenting ada kabar darimu, sampaikan salam ku untuk Wasabi ya," ucap Virus
"Oke, aku akan menyampaikannya. Maaf aku tidak bisa menghadiri pernikahan mu nanti, tidak apa-apa kan?" Tanya Andi.
"Hemm no problem, doakan saja dari jauh semoga pernikahan ku nanti berjalan lancar,"
"Aamiin, tujuan baik pasti akan berjalan dengan baik. Semoga kau dan Moza menjadi pasangan suami istri yang tersilet," ucap Andi dengan bahasa Indonesia yang kental. Dia sungguh tidak nyaman jika berbicara bahasa Inggris.
"What? Tersilet? Apa maksudmu?" Tanya Virus
"Itu loh, acara silet. Alias Ter-Wow. Ahh sudahlah capek jelasinnya. Bye Virus, terimakasih ya," pamit Andi
"Haha oke bye, take care," balas Virus melambaikan tangannya. Setelah itu Andi berjalan masuk ke dalam. Virus pun pulang tanpa menoleh lagi.
Sebelum cek in, Andi ke toilet yang berada di dekat lobby. Pria itu berpapasan dengan banyak orang berseragam sama, berjas hitam, rambut klimis, bersepatu pantofel dan berkacamata hitam. Dan mereka memakan earphone di telinga mereka. Meskipun tidak bergerombol tetapi Andi melihat mereka ada dimana-mana.
'Duh gawat, perasaanku tidak enak,' batin Andi
'Help,' Andi mengirimkan pesan pertamanya. Pria itu menyiram WC dan membersikan dirinya. Setelah memakai celananya kembali. Andi mengirim pesan yang ke dua.
'Virus ada banyak orang berseragam sama disini, semua berjas dan berpenampilan yang sama. Aku curiga mereka mengincar ku,' Pesan terkirim
Di sisi lain
"Tuan, ada pesan dari Andi," ucap seseorang. Ternyata ponsel Andi telah diretas oleh mafia itu.
"Dia menyebutkan nama Virus? Siapa Virus?" Tanya Gordon
"Segera akan saya cari Tuan," jawab asisten Gordon
"Bagus! Aku pernah menyuruhmu menganalisa DNA Mike lalu apakah sudah ada hasilnya?" Tanya Gordon
"Iya sudah Tuan, sebentar akan saya bawakan hasilnya," ucap sang asisten kemudian keluar dari ruangan bosnya. Tak berapa lama ia kembali dengan berkas yang sudah ada di tangannya
Asisten itu menyerahkan hasil DNA Mike pada Gordon, "Disitu sudah ada hasilnya sendirian dan terlihat jelas di keterangannya. Tuan yang berhak membacanya sendiri,"
Gordon mengambil kertas lembaran yang berisi hasil laporan DNA Mike sebenarnya. Data darah dan data Mike hasil lacakan mereka sangat berbeda. Untuk itu Gordon memerlukan data yang akurat lewat DNA itu sendiri.
"DNA ini.... Dia bernama Virus, sedangkan Virus sudah lama dilaporkan meninggal di kantor kepolisian pusat Texas. Dia....tidak mungkin," Mata Gordon melebar kemudian ia meletakkan hasil itu di atas meja.
Seketika Gordon menangis kemudian tertawa terbahak-bahak hingga asisten dan para bodyguard yang ada disana memandangnya aneh. Kemudian Gordon berhenti tertawa ia lalu memerintahkan anak buahnya segera menangkap Andi.
Andi keluar dari toilet, matanya mengawasi pergerakan pria berseragam hitam. Namun dia masih tetap tenang hingga memasuki pintu cek in.
'Virus kenapa belum juga membalas pesanku,' Batin Andi. Pria itu mempercepat langkahnya sesekali melihat jam tangan agar orang yang melihatnya seakan-akan Andi sedang dikejar waktu. Padahal dirinya sedang diincar mafia
'Aku akan menelepon Virus saat masuk ke dalam pesawat, disini tidak aman, Ya Allah tolong Baim ya Allah. Astaghfirullah, SALAH. Ya Allah tolong Andi ya Allah, amiin,' batin Andi lagi
Andi sudah berada di dalam pesawat, pria itu segera menyimpan tasnya di bagasi atas. Kemudian ia lari toilet mengunci diri, lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Virus.
No Signal
"Astaghfirullah, aku tidak ingin mati, hiks...hiks...Wasabi sadarlah dan kemarilah, tolong aku!" batin Andi dengan wajah dan tangan berkeringat, tubuhnya juga bergetar. Ada ketakutan didalam dirinya. Pria itu pun bermaksud mengunci diri didalam toilet sampai pesawat itu lepas landas.
Tok Tok Tok
"Maaf tuan, pesawat akan segera lepas landas. Di mohon untuk kembali ke kursi anda dahulu," ucap sang pramugari
Tidak ada jawaban karena Andi begitu takut
"Ayo suruh dia keluar bagaimana pun caranya," bisik seorang mafia pada pramugari itu. Pria itu juga menodongkan pistol pada pramugari di belakang punggungnya.
"Tuan, maaf. Saya mohon dengan sangat untuk kembali ke kursi Anda, karena pesawat akan segera lepas landas," ucap sang pramugari lagi. Kali ini ia berbicara dengan nada keras dan tegas.
Andi membuang napasnya kasar, kemudian ia membusungkan dada dan mencoba untuk berani keluar.
"Untuk apa aku takut, Allah ada bersamaku," batin Andi
Pria itu membuka pintu pelan, ia mengintip sebagian. Terlihat didepan pintu ada pramugari yang cantik yang sedang tersenyum kepadanya.
"Maaf tuan jika saya menyuruh Anda untuk duduk dahulu mari silahkan," pinta sang pramugari masih terus tersenyum. Padahal senyum itu terpaksa.
Andi membuka pintu itu lebar, tak ada yang mencurigakan setelah itu ia keluar dan berkata pada pramugari, "Baiklah, maaf tadi saya tidak mendengar karena--," ucapan Andi terpotong karena ada seseorang dari belakang yang memukul syaraf di lehernya. Seketika Andi pingsan.
Mafia itu berhasil menangkap Andi