My Name Is Virus

My Name Is Virus
Formula Manis



Setelah Valeria pergi, Virus mencari ponselnya. Dia tidak menemukannya disamping ranjang atau sekitar nakas.


"Hem sepertinya aku kemari tidak membawa apapun. Seharusnya tadi aku meminjam ponsel Valeria dulu. Ahh Moza... Aku harus menemuinya," gumam Virus yang langsung teringat akan istrinya.


Bukan Virus namanya jika tidak keras kepala, pria itu menarik napasnya dalam kemudian menghembuskannya dan bersiap untuk turun meninggalkan kamar.


"Aku harus bisa, ini tidak sakit. Aku harus bisa. Come on!" teriak Virus dengan nada suara yang pelan. Untuk menyemangati dirinya sendiri.


Virus mencabut selang infus dan alat medis lainnya yang terpasang di tubuhnya. Perlahan Virus mengumpulkan kekuatan untuk menuruni ranjang.


Hap


Kakinya menapak ubin keramik yang dingin dan mendaratkannya dengan pelan seraya tangan kanan memegangi perutnya. Jika dibuat berjalan, perutnya tidak begitu sakit tapi jika duduk, berdiri atau bergerak membungkuk atau menekukkan perut, itu amat terasa sakit.


Perlahan Virus berjalan menuju pintu kamarnya. Setelah keluar, rupanya sudah tidak ada orang diluar pintu. Ia memutar kepalanya kiri dan kanan memastikan keadaan. Kemudian mengira-ngira dimana letak ruang informasi. Ia ingin tahu di kamar mana Moza dirawat.


Setelah berjalan melewati beberapa kamar, Virus menemukan tempat informasi. Ada beberapa perawat perempuan yang duduk di sana.


"Permisi, dimanakah pasien Moza dirawat?" Tanya Virus


"Astaga kau baru saja selesai menjalankan operasi, sebaiknya istirahat hingga luka itu mengering,"


"Ini tubuhku, jadi jangan menceramahi ku okey. Katakan dimana Moza," ucap Virus sambil menggebrak meja di ruang informasi.


"Ba-baik saya akan katakan. Pasien Moza, ada di kamar no 7 di ujung lorong ini," ucap perawat perempuan sembari menunjukkan papan kecil yang tertempel di dinding tepat di belakang Virus berdiri.


"Thanks," Virus lalu berjalan perlahan menuju kamar yang dimaksud.


"Kenapa dia tidak ditempatkan di kamar VIP, no 7 sudah pasti itu kamar umum," batin Virus


Tiba di depan kamar no 7, benar saja dugaannya. Ada empat ranjang didalam kamar itu. Hanya tersekat dengan gordyn pembatas.


Terdengar beberapa orang berbicara dari ranjang lain. Virus masuk mencari keberadaan Moza. Satu ranjang didepan kosong, dan dua di seberangnya terisi. Moza berada di samping ranjang yang kosong.


Virus membuka gordyn berwarna biru muda dan hatinya tersayat ketika melihat kondisi Moza dengan pipi yang diperban. Terlihat kepalanya juga berganti perban karena terlihat lebih rapi.


Tak ada selang oksigen, tak ada pendeteksi jantung. Hanya selang infus yang terpasang, itu artinya keadaannya lebih baik dari sebelumnya.


Virus mendekat, membelai wajahnya. Menciumi kening, pipi yang tidak terluka dan terakhir ia mendaratkan bibirnya ke bibir Moza.


Moza tidak membalas ciuman Virus. Wanita itu masih tertidur, namun terlihat matanya mengernyit dan sedikit mengeluarkan lenguhan.


Virus melepaskan ciuman dan memanggil namanya.


"Moza, Sayang....,"


Moza mencoba membuka matanya, pandangannya kabur. Dia belum sepenuhnya sadar karena efek bius masih membuatnya kantuk. Kepalanya masih berdenyut, sesekali merasakan pening dan sakit.


"Virus," Moza tersenyum.


Wanita itu bisa melihat kembali, mungkin akibat dari kecelakaan itu. Apapun itu Moza senang, karena ia sempat takut jika kebutaan itu bersifat permanen.


"Aku mencintaimu, apa itu sakit hemm? Katakan sayang, aku akan membelainya agar kau tidak mengalami sakit lagi,"


Virus mencoba menghibur.


"Haha iya, sakit. Di kepala, di pipi...,"


Virus kemudian membelai dan mencium pelan dibagian lukanya.


"Wah kau hebat, ajaib! Sakitnya hilang," Moza tersenyum dan Virus ikut tersenyum kemudian mengernyit menahan sakit.


"Sayang, kau sendiri? Bagaimana denganmu, duduklah," Moza mencoba duduk namun Virus menahannya.


"Jangan, kau tetaplah berbaring. Aku akan duduk," ucap Virus yang melihat ada kursi di samping ranjangnya.


Ia mendaratkan bokongnya di kursi itu sambil bersandar dan memegangi perutnya.


"Aku baik-baik saja sayang, jangan memikirkan ku," ucap Virus


"Valeria menceritakan semuanya dan terasa aneh bagiku. Apa kau membawa ponsel?" lanjutnya lagi


"Iya, tadi aku membawanya tapi entah mereka menaruhnya dimana karena aku baru saja sadar," ucap Moza


Virus menyapu seluruh ruangan dengan pandangan menerawang. Ia juga membuka laci lemari nakas yang ada di sampingnya. Ada tas Moza didalamnya, Virus mengambilnya.


"Apakah ini milikmu?" Tanya Virus


"Itu milik Valeria, dia tidak menemukan tas milikku saat dirumah mu, jadi dia meminjamkannya. Buka saja, ada ponselku didalam,"


Virus membuka tasnya, ada dompet tetapi tidak ada ponsel didalamnya.


"Hanya dompet,"


"Apa ponsel itu terjatuh?"


"Mungkin bisa jadi ponsel itu terjatuh atau.... Ada yang sengaja mengambilnya," duga Virus


Moza mengernyitkan dahinya


"Ada yang ingin mengambil? Untuk apa?"


"Aku juga tidak tahu, mungkin untuk mencari informasi atau lainnya yang jelas aku curiga pada kecelakaan yang kalian alami. Entahlah yang jelas aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu lagi. Aku harus menghubungi Azkha, kecelakaan itu harus diselidiki dengan baik,"


"Jadi kau mengira kecelakaan itu karena ulah seseorang dengan sengaja?" pertanyaan Moza dijawab anggukan kepala oleh Virus.


"Kau benar, aku akan menemui Valeria sekalian aku juga ingin melihat keadaan Diego. Dia bilang jika bahu Diego mengalami patah tulang,"


"Astaga, lalu bagaimana dengan Ibuku dan....Ayahnya Valeria?"


"Mereka hanya luka ringan, aku juga belum menemui mereka,"


"Sebaiknya jangan dipaksakan jika kondisimu sendiri belum membaik,"


"Baik Nyonya Virus, kalau begitu aku ke kamar Diego setelah itu kembali ke kamarku," ucap Virus seraya berdiri dan berjalan mendekati Moza


Virus membelai pucuk kepala Moza dan mengecup bibirnya lagi dan lagi.


"Hah, rasanya aku ingin memakan mu, kita bahkan belum melakukannya,"


"Melakukan apa?" Moza pura-pura tidak tahu


"Jangan berpura-pura tidak tahu, lihat saja nanti jika keadaan ku membaik kau tak akan bisa lari dari cengkeraman ku,"


"Aku tidak bisa lari kemanapun, karena kau telah mematri hatiku,"


Virus tertawa kecil dan mengecupnya lagi, setelah beberapa detik ia pun melepaskannya dan pergi ke kamar Diego yang ternyata ada di tengah lorong.


Berbeda dengan kamar Moza yang dihuni 4 pasien didalamnya. Rupanya kamar Diego hanya dihuni satu orang, seperti kamar Virus hanya saja berbeda fasilitas. Setelah menanyakannya rupanya keberadaan kamar ruangan untuk satu orang sudah penuh, sehingga Moza terpaksa ditempatkan diruangan umum dengan banyak orang.


Virus kemudian menyuruh petugas rumah sakit untuk memindahkan Moza ke kamarnya. Sesampainya di kamar Diego, Valeria rupanya tertidur di sofa panjang disamping ranjang.


"Diego dan Valeria sedang tidur, kelihatannya nyenyak. Aku tidak tega untuk membangunkannya," batin Virus


Matanya mendapati ponsel Valeria yang tergeletak di meja dekat sofa. Ia pun mengambilnya dengan lancang tanpa bertanya karena dengan alasan Valeria sedang tertidur.


"Vale, aku pinjam ponselmu ya. Ku harap kau mengerti, kau pasti mengijinkannya ya kan hehe," gumam Virus


Dengan cepat ia mengirim pesan pada Azkha untuk ke rumah sakit secepatnya. Untung saja dia hapal nomer ponselnya diluar kepala. Setelah itu Virus meletakkan kembali ponselnya.


"Terimakasih Vale," gumamnya lagi.


Virus melihat selimut yang dipakai Valeria tertarik di bawah pahanya dan kebetulan rok yang dipakai Vale tertarik keatas. Virus pun membenahi selimut yang digunakan Valeria. Hanya membenahinya tak ada maksud apapun.


Rupanya gumaman suara Virus yang sedikit menggema karena suasana kamar yang sepi membuat Diego terbangun. Namun pria itu tidak langsung memanggil Virus. Ia melihat Virus yang sedang menyelimuti Valeria. Cemburu, itulah yang dirasakan Diego.


Saat Virus akan meninggalkan kamar, ia melihat Diego lagi. Diego segera menutup matanya.


"Aku merasa jika Diego sedang melihatku, tapi rupanya dia masih tertidur," sambil mendekati Diego.


"Hey Bro, lekas membaik ya," ucap Virus kemudian ia pergi dengan langkah pelan dan menutup pintunya kembali.


"Virus, apa kau masih mencintai Valeria? Hah? Apakah aku menjadi penghalang kalian?"


Dan kecemburuan pun kembali meradang di hati Diego.


Kembali ke kamarnya, Virus sudah melihat Moza ada disamping ranjangnya. Kamar yang tadinya diisi hanya satu ranjang kini sudah menjadi dua ranjang brangkar. Untung saja kamarnya sangat luas sehingga tidak membuat petugas kesulitan.


"Virus, kau yang melakukan ini?" Tanya Moza yang sudah tahu jawabannya.


"Iya, aku ingin kau disini terus bersama ku hehe,"


"Kau sangat romantis. Dari mana?"


Virus malah naik ke ranjang Moza dan wanita itu bergeser memberikan tempat untuk suaminya, "Dari kamar Diego,"


"Hati-hati, luka perutmu belum membaik,"


"Ssttt jangan cerewet," ucap Virus yang langsung memeluk Moza dan mendusel-duselkan wajahnya ke leher Moza dan membenamkan wajahnya disana.


Pelukan yang terasa hangat namun membuat jantung keduanya berdegup kencang.


"Aku merindukanmu," ucap Virus kemudian merebahkan dirinya dan merentangkan tangannya. Moza mengangkat kepalanya pelan dan tidur di atas lengan Virus.


"Aku juga merindukan mu. Saat aku tertembak, aku takut jika aku tidak dapat melihatmu. Aku bermimpi tentang hal-hal yang buruk. Aku terus mencari mu di mimpiku, tapi aku tidak menemukanmu," cerita Moza sambil memeluk Virus


"Maafkan aku, aku tidak benar-benar menjagamu," Virus mencium pucuk kepala Moza seraya membelai lengan wanita itu dengan satu jarinya. Dan memainkan bagian tubuh lainnya dengan jari-jarinya yang nakal. Apa itu? Bagian yang sangat disukai wanita. Yang berada di antara kedua pahanya.


"Kau ingin melakukannya disini?"


"Aku hanya bermain, seandainya bisa,"


"Mungkin dengan cara lain," ucap Moza kemudian bangkit dari tidurnya dan membelai sesuatu milik Virus yang mulai mengeras dan meminta untuk di lepaskan.


"Ahh," Virus men de sah, baru kali ini Moza mendengarnya dan dia tersenyum menggoda.


Moza mulai menarik cellanna Virus dan memasukkan benda yang sudah mengeras itu ke dalam mulutnya. Moza mengu lumnya memainkannya dengan lidahnya. Dengan berhati-hati agar tidak mengenai giginya.


Virus menyentuh rambut Moza dan merasakan kenikmatan disana. Permainan Moza sangat nikmat dirasakannya, meski hanya mengandalkan mulut tetapi Virus tidak bisa menahannya lagi saking nikmatnya ia melenguh dengan des sahan panjang. Beberapa menit kemudian, formula putih miliknya yang kental, keluar dan Moza menelannya.


"Manis dan aku menyukainya," ucap Moza membuat Virus sedikit malu.


"Kau curang sayang," ucap Virus dengan wajah yang terlihat memerah


"Yang penting kau puas kan? Tunggu sampai keadaan mu membaik," Moza tersenyum lalu kembali tidur di atas lengan Virus, setelah menutup cellanna suaminya kembali.


Dan mereka pun kembali tidur.