
"Diegooo!" Pekik Valeria
Suara yang cukup keras itu mengagetkan Rachel yang baru saja tertidur. Tetapi tidak sampai terdengar dilantai bawah karena keadaan kamar yang cukup kedap suara.
"Ada apa Vale?" Tanya Rachel sembari mendekat.
Semua panik, Valeria terlihat menarik tubuh Diego yang baru tenggelam dari bath up, sembari mengguncang-guncangkan
"Astaga Diego...," pekik Ibunya panik saat melihat Diego pingsan.
"Sayang, bangun! Kau tidak mati kan hiks.... jangan tinggalkan hiks..," Valeria menangis memeluk Diego dengan erat.
"Kenapa dengan Diego!" Tanya Moza yang kemudian mendapati senyum tersungging dari bibir kakaknya itu.
"Hemm dasar rubah jantan, rupanya dia hanya berpura-pura mati," pikir Moza dalam hati
Dia berhasil membuat Ibunya dan Valeria menjadi panik.
"Moza bantu aku mengangkatnya keluar dari bath up," pinta Valeria yang sudah sesegukan.
"Dia berat, lebih baik aku urus saja pemakamannya," ucap Moza yang sengaja menambah panik
"Jangan katakan itu,, Dia masih hidup, aku tidak ingin berpisah dengannya! Diego bangunlah, aku mencintaimu jangan tinggalkan aku," Valeria masih histeris
Kemudian sebuah tangan menyentuh kepalanya dan mengusapnya.
"Aku juga mencintaimu, jangan sakiti hatiku lagi," ucap Diego kemudian mulai bersuara.
Valeria melepaskan pelukannya, sementara Rachel langsung menarik daun telinga Diego sembari memarahinya.
"Apa? Jadi kau hanya bersandiwara. Dasar kau hmmm rasakan ini, jangan lagi kau buat ibu mu jantungan seperti tadi. Untung penyakit jantungku tidak kambuh," desis Rachel sembari terus menarik daun telinga Diego
"Haha rasakan kau Diego," seru Moza
"Awww sakit Bu," mengelus daun telinga yang terkena jeweran.
Rachel dan Moza kembali ke tempat tidurnya
"Kau membuatku takut," ucap Valeria dengan masih sedikit terisak.
"Maaf, aku hanya ingin tahu perasaanmu padaku yang sebenarnya," ucap Diego menyentuh pipi Valeria
"Kau masih cemburu soal tadi. Itu sebuah kecelakaan. Dan orang yang paling aku cintai itu kau! Diego ku, Suamiku," ucap Valeria masih ada sesegukan kecil darinya
Diego tak menjawab dia langsung mencium istrinya, tangannya beralih melepaskan pakaian Valeria.
"Masuklah ke dalam bath up, airnya hangat. Sesekali kita melakukannya malam-malam disini," ucap Diego
"Jangan lama-lama ya nanti kita malah terserang flu,"
"Tidak ada toleransi untuk mu, kau dihukum karena mencium laki-laki lain," desis Diego
"Kalau begitu hukum aku sepuasmu, hingga luka dihatimu menghilang,"
"Mungkin luka itu akan hilang jika kita memiliki seorang anak,"
"Laki-laki atau perempuan," jawab Valeria terus mengecup lembut bibir suaminya.
"Apa saja, yang penting sehat,"
Mereka pun melakukannya di dalam kamar mandi, ini bukan kali pertama, hanya saja waktunya yang berbeda.
*
*
*
Siang harinya di kediaman Sam, pria itu mengangkat telepon dari salah satu orang suruhannya. Luke, terus mengabarinya persoalan sejauh mana rencana yang sudah mereka buat.
"Bos, paketmu akan datang sebentar lagi. Anak buah yang lain sudah berada diposisinya sejak pagi tadi dan tidak akan ada yang tahu. Semua pasti beres," ucap Luke dari seberang telepon
"Cepat sekali datangnya, kau baru saja menelepon tapi sepertinya ada seseorang yang mengetuk pintu dan berteriak paket. Haha aku suka cara kerjamu Luke,"
"Lalu bagaimana keadaan si tua gondrong itu," tanya Sam
"Nyonya Paquina sedih dan dia membawa tuan ke rumah sakit untuk diperiksa," balas Luke
"Argh kenapa kau tak mencegahnya! Semoga saja mereka sudah kembali malam nanti. Ini bisa merusak rencana ku,"
"Maaf Bos, baik nanti saya akan usahakan bagaimana caranya Tuan Besar bisa kembali ke apartemennya malam ini,"
"Ya seharusnya begitu, jika tidak percuma saja kita melakukan rencana ini. Hubungi aku saat sudah tiba waktunya," ucap Sam
Dia menutup teleponnya lalu bergegas membuka pintu rumahnya. Ada sebuah paket yang ditinggalkan di depan pintu. Sam segera mengambilnya lalu membawanya masuk.
Kardus yang membungkus isi paketan itu, ia robek begitu saja tanpa menggunakan gunting ataupun alat tajam. Kardus terbuka dan terlihat sebuah topeng yang mirip dengan wajah Gordon. Untuk apa topeng itu? Kemudian tersirat senyum lebar dari wajahnya dan isi kepalanya dipenuhi oleh rencana jahat.
*
*
*
Valeria tak ingin perasaanya pada Virus yang hanya sekedar kagum menjadi sebuah cinta terlarang. Ia pun mengajak Diego untuk mencari tempat tinggal yang terpisah dengan keluarga Diego. Valeria akui, Virus memiliki daya pikat tersendiri dan dia tak ingin bermain api. Dia sudah bahagia dengan Diego. Pria yang menjadi obsesinya sekian lama. Keinginan untuk memiliki Diego seutuhnya sudah terwujud lalu apa lagi yang ia harapkan. Tentu saja harapan untuk memiliki anak dari Diego.
Setelah memindahkan barang-barang ke apartemen barunya, Valeria dan Diego membantu persiapan Moza yang akan menikah dengan Virus.
Malam itu tak banyak bintang, terlihat lebih gelap dan dingin mencekam. Seharusnya cuaca kali ini turut menyambutnya riang, namun yang terjadi beberapa bunyi petir terus berperang.
Malam ini adalah hari pernikahan Virus dan Moza. Mereka berharap pernikahan yang digelar secara sederhana itu berjalan lancar dan berakhir dengan khidmat.
Virus tidak menyewa gedung pernikahan, karena pesta kecil hanya akan digelar di rumahnya. Virus juga tak banyak mengundang orang asing, hanya anak buahnya dan beberapa teman dekat. Itu pun bisa dihitung dengan jari. Sementara Moza dan keluarganya tidak mengundang siapapun. Mereka tak memiliki kerabat yang tinggal di Texas.
Satu jam sebelumnya, anak buah Virus telah berada di lokasi pernikahan. Azkha memantau setiap pergerakan yang mencurigakan di sekitar Gereja. Keadaan aman, ia menempatkan beberapa penembak jitu di bawah gedung. Dan dua penembak jitu yang bersembunyi di atap gereja. Salah satunya ada Chuck.
"Chuck, posisi mu sangat berpengaruh. Kelihatannya sebentar lagi hujan tentu saja posisimu sangat menguntungkan. Tolong fokus dan jangan matikan earphone mu," ucap Azkha lewat microphonenya
"Kau cerewet sekali. Aku tahu tugasku," Chuck mengakhiri obrolan dan mematikan alat komunikasi mereka.
"Dengar, Kita tidak diperbolehkan menerima makanan atau minuman saat berjaga. Kecuali itu kau bawa sebelum ada disini, paham?" ucap Azkha tetapi Chuck tidak menjawab karena ia telah mematikan alat komunikasi mereka.
Tak berapa lama hujan mengguyur tempat itu. Belum deras tetapi masih rintik, meskipun rintik membuat suasana disana semakin dingin. Kemudian seseorang berpakaian suster, naik ke atap. Ia membawa minuman hangat untuk Chuck dan Piter, segera saja mereka menyeruput minuman itu. Mereka harus menjaga tubuh untuk tetap hangat.
Tibalah saat yang dinantikan, Moza dan keluarga tiba di gereja. Sang pengantin menempatkan posisi di altar untuk sebuah janji suci.
Moza menangis kecil saat Virus melayangkan sumpah setianya. Hingga pendeta menyatakan mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Keduanya menutup acara pernikahan dengan sebuah kecupan di bibir.
"Moza, Aku sangat bahagia bisa mempersunting dirimu. Sekarang kau adalah istriku. Dan aku akan setia mencintaimu, aku akan terus berada disamping mu. Aku mencintaimu," ucap Virus setelah mereka diperbolehkan saling berciuman.
"Aku juga bahagia menjadi istrimu, aku tidak akan meninggalkanmu, mencintaimu Virus," dan mereka melanjutkan kecupannya lagi.
Setelah acara selesai, mereka berencana segera pulang kerumah. Piter melihat sesuatu yang aneh dari gedung seberang, tetapi pandangannya kabur.
"Hey Chuck, apa kau lihat seseorang didepan sana?"
"Di mana?" Tanya Chuck
"Itu diatas --," belum sempat melanjutkan ucapannya Piter jatuh pingsan.
"Hey, Piter, kau kenapa?" Pekik Chuck
"Ada yang tidak beres,"
Chuck lalu mengarahkan senapannya ke segala penjuru melihat sesuatu yang ditunjuk Piter di arah seberang. Pria itu melihat seseorang mengarahkan senapan ke arah bawah gereja. Langsung saja Chuck membidiknya, namun pandangan matanya menjadi kabur. Tembakan pun meleset dari bidikan, orang yang berada diseberang gedung itu kemudian bersembunyi.
Chuck mengambil alat earphonenya untuk menginformasikan pada Azkha ataupun anak buah lainnya. Tetapi sialnya earphone tanpa kabel itu terjatuh dan terkena genangan air dibawah. Chuck mengambilnya mencoba menghubungkan.
Dor
Sebuah peluru mengenai lengan Chuck. Pria itu segera bersembunyi dari balik pagar dinding. Dan menghidupkan kembali eraphonenya.
"Azkha, amankan bos, jangan sampai keluar dari gedung,"
"Apa, suaramu tidak jelas, terlalu banyak bunyi berisik," tetapi naluri Azkha mengatakan jika Chuck memberi peringatan. Ia pun segera memerintahkan yang lain untuk mengambil posisi tetap waspada.
Suara tembakan itu tidak terdengar karena hujan yang sangat deras. Chuck kembali membidik penembak yang ada di depannya. Tetapi pembidik itu menghilang.
Moza sudah masuk ke dalam mobil, Virus menyusul tetapi pendeta memanggilnya. Ia pun berhenti dan berbincang sebentar. Sementara Moza melihat sinar merah seperti sinar senapan yang akan membidik targetnya.
Moza keluar dari mobil untuk melihat asal sinar, kedua bola matanya memicing dan menangkap sebuah pembidik mengarahkankan senapan ke arah Virus. Wanita itu mendekati Virus seraya berteriak.
"Virus awas!" Moza mendorong Virus agar pria itu terhindar dari bidikan.
Dor
Tapi yang terjadi Mozalah yang terkena tembakan itu tepat di kepalanya.
"Mozaa!" Virus menghampiri Moza menangkap tubuhnya yang akan terjatuh.
"Tidaak Moza," suara lain, suara perempuan tua yaitu Rachel dan Diego, Valeria serta Chris juga memanggilnya seraya mendekati.
Anak buah Virus membidik kearah penembak, terjadilah perang. Sementara Virus menangisi Moza, memeluknya yang sudah bersimbah darah. Tapi Virus tak larut dalam kesedihan begitu saja, ia segera membawa Moza masuk kedalam mobil.
"Diego antarkan dia kerumah sakit, aku akan menangkap orang yang menembaknya, cepat!" Seru Virus, tanpa ba-bi-bu-be-bo Diego tahu apa yang dia lakukan.
Virus melihat sebuah Limo berhenti di depan gedung, ada seseorang yang tersenyum kearahnya. Virus kenal orang itu,
"GORDON!" serunya.
Dor dor
Tembakan Virus melesat dan sayangnya terkena body samping mobil. Pria itu langsung menutup kaca mobil dan mobilnya melaju kencang. Virus mengejarnya dan terus menembaki tapi percuma saja karena mobil itu anti peluru. Anak buah Virus tidak mendapati musuh yang berkeliaran disana. Lalu mereka pun bergegas meninggalkan lokasi. Beberapa orang mengejar penembak yang menembak Moza.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan untuk Virus tetapi menjadi sebuah malapetaka yang berujung dendam.