
Hayes sedang menikmati makan siangnya di dalam pesawat. Dia makan dengan santai dan penuh kegembiraan. Pasalnya dia telah mengirim ratusan orang untuk mengejar Virus dan menghabisinya kemudian.
"Sudah pasti Virus akan kalah haha," tawanya saat sedang melahap tenderloin dalam piring panas di mejanya.
Salah satu anak buahnya menghampirinya kemudian menyerahkan sebuah ponsel dengan sedikit membungkuk. Ia juga sedikit menundukkan kepala dan mengundang kecurigaan dari Hayes.
"Bos, ada telepon untukmu dari anggota The Lion" ucap salah satu anak buahnya.
Hayes tak langsung menerima, ia melihat gerakan tangan yang gemetar dari anak buahnya itu. Pria itu membersihkan sisa makanan di mulutnya dengan tissue kain kemudian meraih ponsel yang telah ditujukan untuknya.
"Ya Hallo..." ucap Hayes dari telepon.
Sesaat wajah yang sedari tadi diliputi kegembiraan dan terus mengumbar senyum kini beralih menjadi datar dan serius. Bahkan rahangnya tampak mengeras dengan bibir yang terkatup rapat.
"Anak ini, benar kata Sam jika Gordon menyuntikkan formula khusus saat anaknya masih dalam kandungan dan kekuatannya tak bisa dianggap remeh. Sialan!!" gumam Hayes setelah mendengar kabar dari salah satu anggota The Lion.
Anggota The Lion yang tersisa ada Milton dan dua orang lainnya, mereka menyerah pada Virus dan bersekutu dengannya. Rupanya ada seorang lagi yang masih tersisa, dia adalah Robb yang ternyata berpura-pura mati setelah melihat banyak temannya yang mati terbunuh. Dialah yang memberitahu Hayes soal perkelahian itu dan juga soal Milton yang mengkhianati Hayes.
"Kita ganti rencana lain, lakukan pertemuan dengan Gordon. Serang Gordon jangan anaknya, dengan begitu Virus akan menyerahkan dirinya sendiri kepada kita hahaa," perintah Hayes pada asistennya.
"Baik Tuan," segera setelah asisten itu diberi perintah, ia langsung menjalankan tugasnya.
"Aku yakin Virus pasti akan datang dan menyerahkan dirinya untuk menyelamatkan Gordon," batin Hayes kemudian melihat ke arah kaca jendela pesawat pribadinya.
.
.
.
Terdengar suara erangan yang semakin mengeras dari dalam kamar. Suara itu terdengar hingga ke balkon apartemen. Gordon pun mendekati kamar dengan memakai kursi rodanya. Dia ingin mengganggu aktivitas Sam dengan masuk ke kamar.
Sementara itu di dalam kamar.
"Kau kenapa sayang? Kau tak seperti biasanya...Apa kau sakit?" Tanya Sam seraya mengelus pipi Paquina.
Paquina hanya tersenyum, terlihat sekali senyum yang dipaksakan dan membuat Sam memikirkan wanita pujaannya itu.
"Kau tidak sedang sakit kan?" Tanya Sam sembari merebahkan tubuhnya disamping Paquina.
Mereka telah menyelesaikan permainannya di ranjang. Namun sedari tadi Sam tidak menemukan gairah dalam diri Paquina. Padahal biasanya wanita itulah yang paling liar dan agresif.
Tetapi begitu daun pintu di putar, rupanya pintu itu terkunci dari dalam. Gordon terus menggerakkan daun pintu lalu mengetuknya.
"Tidak, aku tidak sakit. Sam sebaiknya...,"
Tok Tok Tok
Bunyi daun pintu yang di gerakkan dan beberapa kali ketukan pintu membuat ucapan Paquina terhenti. Segera saja mereka berdua beranjak dari tempat tidur dan memunguti pakaian yang berserakan dilantai. Kemudian keduanya segera memakai pakaian masing-masing.
Sam lalu bersembunyi di balik tirai gorden. Dia takut jika aksinya diketahui. Sementara Paquina merasa tenang-tenang saja karena Gordon jugalah yang menyuruhnya untuk tidur dengan Sam.
Paquina pun lekas membuka pintu. Gordon masuk dan mencari-cari keberadaan Sam, padahal jelas-jelas jika pria itu tadi berada didalam.
"Aku ingin tidur," ucap Gordon dengan suara seperti bergumam. Dia masih memerankan aktingnya di depan Sam sebagai orang stroke.
Gordon merebahkan dirinya di ranjang, di bantu Paquina. Disisi lain Sam mengintip dari balik tirai jendela. Wanita itu menyelimutinya lalu mencium pipi Gordon.
"Apa kau menikmatinya istri ku?" Bisik Gordon saat Paquina menciumnya. Tetapi mendengar perkataan suaminya itu Paquina malah meneteskan air mata. Ia pun dengan cepat menyekanya
"Shiit kau ingin membuatnya kacau, jangan menangis!" bisik Gordon.
Untunglah Sam tidak melihat air mata Paquina yang terjatuh. Setelah itu Gordon berpura-pura tidur dan Paquina pergi meninggalkannya. Secara bersamaan Sam keluar dari persembunyiannya dan berjalan mengendap-endap mendekati Paquina.
Belum saja mereka keluar dari kamar, Sam sudah bertingkah. Ia memeluk Paquina didalam kamar itu, di depan Gordon yang berpura-pura tidur.
Gordon membuka sedikit matanya dan melihat dengan mata kepalanya sendiri akan kelakuan Sam yang sangat merendahkan dirinya. Ingin rasanya pria itu menghancurkan isi kepala Sam saat itu juga. Emosinya bukan cemburu karena Sam telah meniduri Paquina atau memeluk didepan matanya, melainkan karena Sam telah menginjak harga diri kakaknya sendiri.
Paquina memegang tangan Sam kemudian melepaskan pelukannya dan berbalik mendorong dada Sam.
"Kau jangan gila, ada Gordon," ucap Paquina sedikit berbisik.
"Dia tidur dan lagi pria itu tidak akan marah karena dia tidak mencintai mu," jelas Sam tersenyum miring.
Paquina tidak menjawab dan kemudian pergi dari kamar itu. Sam menyusul lalu menutup pintu kamarnya sebelum pergi.
Sam menarik lengan Paquina dan menatapnya dengan serius. Ia curiga ada sesuatu yang terjadi dan Paquina menutupinya.
"Kau sangat berbeda hari ini, apa yang terjadi? Paquina katakan pada ku!" Tanya Sam sedikit membentak.
"Sam...,"
Tes
Air mata Paquina pun mengalir. Sam mengelus pipi Paquina seraya menyeka air matanya.
"Kenapa dengan mu? Apakah Pria itu menyakiti mu? Hah katakan pada ku?" Tanya Sam berbicara sangat dekat didepan wajah Paquina.
Paquina menggelengkan kepalanya.
"Justru akulah yang menyakitinya. Aku tahu? Perbuatan kita salah! Meski dia tidak mencintaiku dan tidak menganggap ku tetapi tetap saja aku salah! Aku ingin mengakhiri hubungan kita!" desis Paquina dengan penuh penegasan di akhir kalimatnya.
Sam terpaku dia tidak ingin berpisah dengan Paquina. Sama halnya Paquina yang tidak ingin berpisah dengan Gordon. Cinta segiempat yang sangat rumit.
"A-aku tidak mau...aku tidak ingin mengakhiri hubungan kita,"
"Lebih baik kau pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat mu," usir Paquina.
Sam masih terpaku dia tidak beranjak sama sekali dari tempatnya berdiri.
"Whatever, terserah kau menerimanya atau tidak tapi kita selesai. It's over! You and I - End," ucap Paquina kemudian melangkah menuju pintu utama apartemen dan membukanya. Menyuruh Sam untuk pergi saat itu juga.
Sam pun sedikit emosi, dia melangkah pergi namun sebelum dirinya benar-benar pergi dari apartemen itu Sam mengecup bibirnya dengan kasar. Paquina mendorong tubuh Sam sedikit keras hingga pria itu terhempas namun tidak sampai terjatuh.
"Kau akan menyesal karena memutuskan hubungan denganku," ucap Sam
"Tidak akan!" ucap Paquina penuh keyakinan.