My Name Is Virus

My Name Is Virus
Diego Mencari Cinta (Part 1)



Virus menghirup aroma yang luar biasa enaknya. Tentu saja aroma masakan yang baru saja dimasak oleh Moza. Perutnya langsung bergaduh hingga terdengar suara gemuruh didalam perutnya.


"Hemmmh aromanya," gumam Virus


Kemudian Virus beranjak dari duduknya dan bergegas masuk ke dalam. Namun tiba-tiba, Diego mendorongnya karena dia ingin lebih dulu sampai agar lebih cepat mengambil porsi banyak.


Terlihat Moza sedang menyajikan hasil masakannya di meja, rupanya wanita itu telah menaruh dua piring dengan porsi yang sama. Diego terlihat nakal dia juga ingin mengambil bagian Virus, namun Moza mengambil piring milik Virus.


Setelah kekasihnya itu sampai, Moza segera menarik kursi untuk Virus duduk dan memberikan piringnya yang telah terisi makanan.


"Terimakasih sayang," ucap Virus seraya memandangi wajah Moza yang sangat tenang.


"Sama-sama sayangku," balas Moza seraya memberikan segelas air minum untuk Virus. Namun pria itu justru menarik rahang Moza dan mencumbunya di depan Diego. Moza terkejut dengan perlakuan Virus padanya. Virus sengaja agar Diego berpindah tempat. Moza segera melepaskan kecupan itu.


"Uhuk-uhuk kau ini tidak lihat apa, ada aku disini, huh awas saja kalau aku punya kekasih. Aku bahkan akan berlaku hal yang sama," ujar Diego dengan wajah lesu kemudian ia berpindah tempat duduk seraya membawa piringnya menuju ruang televisi.


"Oke aku tunggu haha," ujar Virus yang mendapatkan pukulan kecil di bahunya dari Diego, dan delikan mata dari Moza.


"Maaf sayang, sini duduk denganku, kita makan sepiring berdua," ajak Virus.


"Baiklah, tapi aku makan sedikit saja karena aku sudah makan sebelumnya,"


Sementara itu ditempat lain, Valeria mendapatkan video dari temannya. Video Virus dan Moza berciuman di bar, Valeria melihatnya namun sikapnya biasa saja. Padahal sebelumnya ia bertekad ingin merebut Virus dari Moza tapi tiba-tiba wanita itu tidak tertarik lagi. Setelah ia tahu Ayahnya meminjam uang pada temannya, dan baru saja kedatangan preman yang menagih hutang Ayahnya. Valeria berjanji akan melunasinya dalam waktu seminggu.


"Huh masalah apa lagi ini, bagaimana caranya aku membayar. Mencuri lagi? Aku baru saja lepas dengan syarat tidak bertindak kriminal lagi jika tidak aku tidak akan bisa lepas dengan sebuah jaminan. Atau aku harus meminjam uang pada Virus? Ahh tidak, aku terlihat rendah dimatanya mana mungkin dia akan meminjamkan uang padaku," ujar Valeria yang sedih dengan ekonomi keluarganya.


Ia pun akhirnya terpaksa menjual motor kesayangannya. Wanita itu menghubungi temannya yang pernah menawar motornya dengan harga lumayan tinggi dari tempat jual beli motor bekas. Mereka janjian bertemu di depan sebuah Bar di kota Las Vegas.


Jarak Nevada ke plang Las Vegas sendiri lumayan jauh jika ditempuh dengan motor. Namun demi sebuah uang malam itu Valeria nekat.


 


Beberapa menit kemudian Diego menyelesaikan makannya, ia lalu meminta kunci mobil pada Virus.


"Virus, aku mau keluar sebentar. Pinjam mobil mu," ujar Diego seraya menepuk pundaknya.


"Hemm ambil saja, aku taruh di dinding depan pintu ruang tamu, dekat kunci yang lainnya," ucap Virus.


"Kau mau kemana?" Tanya Moza


"Mencari cinta," jawab Diego yang terlihat sangat galau.


Diego masuk ke dalam mobil dan melakukannya dengan pelan, dia tidak tahu ingin kemana yang jelas dirinya frustasi akan pinta ibunya yang menyuruhnya untuk segera mencari kekasih lalu menikah.


"Jika aku sekaya Virus mungkin aku tidak akan susah mencari wanita yang aku inginkan," gumam Diego


"Aku tak menyangka Virus sekaya itu. Seharusnya aku bisa melihatnya dari mobil yang ia miliki. Lamborghini dengan empat pintu, yang hanya dimiliki seorang sultan. Bahkan Lamborghini miliknya ini belum dijual secara umum," timpalnya lagi yang ocehannya hanya didengar dirinya sendiri


Beberapa jam kemudian Diego telah sampai di sebuah Bar di kota Las Vegas. Sedikit jauh dari Nevada tempatnya tinggal. Di Bar itu terkenal ramai dan buka dari malam hingga pagi menjelang.


Semua wanita di sana mengenal Diego, tentu saja karena Diego sering bernyanyi di bar itu terlebih lagi badannya berotot dan perutnya yang sixpack membuat wanita disana tergila-gila termasuk Valeria.


Jika sedang datang tingkah nakalnya Diego bermain dengan wanita-wanita disana tetapi itu dulu, saat dia masih sekolah. Dan saat ini hanya ada satu wanita yang membuatnya tertarik, namun sayangnya wanita itu mengatakan tidak tertarik lagi dengannya.


"Bloody Mary Cocktail With Vodka," sahut Diego kepada bartender sebelum wanita itu mengatakan pesanannya.


Wanita itu mendengar suara khas yang dari pria yang sangat ia idolakan, Dia berbalik untuk memastikan tebakannya.


"Diego," ujar wanita itu yang tak lain adalah Valeria.


Valeria yang baru saja menjual motornya itu masuk untuk memesan minuman, ia sangat frustasi memikirkan ekonomi keuangan keluarganya.


"Hmm kau disini juga," ucap Diego tetapi Valeria tidak menjawabnya karena sudah jelas pertanyaan itu hanyalah pertanyaan basa-basi.


"Kau...hmmm dari mana kau tahu kesukaanku?" Tanya Valeria.


"Kau selalu memesan itu kan? Aku memang tidak mengenalmu sebelumnya tapi aku tahu, jika ke Bar kau selalu memesan minuman itu," ucap Diego


Seketika Valeria terkejut, ternyata Diego memperhatikan dirinya meskipun sedikit. Tak berapa lama ada wanita lain yang datang memanggil Diego. Diego lantas berbalik dan menyapa wanita itu.


"Hai Kate, lama tak jumpa," ujar Diego


"Aku merindukan mu Diego," balas Kate seraya memeluk kemudian mencium pipi Diego.


Valeria tidak senang melihatnya, pemandangan itu membuatnya risih. Tak berapa lama pesanannya datang, Valeria meneguk habis minuman itu dengan cepat, karena kesal terhadap Diego.


Ia kembali memesan kali ini dengan alkohol yang lebih tinggi tingkatannya. Diego masih berbincang dengan teman wanitanya itu seraya meneguk segelas bir di tangannya.


Sesekali Valeria menatap Diego dengan perasaan cemburu. Wanita itu belum sepenuhnya melupakan Diego. Diego mengambil kesempatan untuk mencari tahu apakah Valeria masih memiliki perasaan untuknya. Karena wanita itu mengatakan dengan jelas saat di mobil Van tempo hari, jika Valeria sudah tidak mempunyai perasaan untuknya.


Diego memanfaatkan kehadiran Kate disana, dia membelai rambut Kate, mengambil anak rambut dan menyelipkan di telinganya.


"Kau semakin cantik, apa kau sudah punya pacar?" Tanya Diego dengan suara yang sengaja dibesarkan.


Musik itu sangat kencang namun ia sengaja berteriak lebih kencang agar Valeria mendengarnya.


"Belum, aku tidak punya pacar. Kau sendiri? Hmmm bagaimana kalau kita pacaran saja," Goda Kate kemudian mencumbu Diego lagi dan lagi.


Diego sedikit tidak suka dengan perlakuan Kate, dia pun menghindari Kate dan beralih ke panggung bar. Sang DJ menghentikan musik jedag-jedugnya dan mempersilahkan Diego bernyanyi disana.


"Seize the day or die regretting the time you lost


It's empty and cold without you here, too many people to ache over. I see my vision burn, I feel my memories fade with time


But I'm too young to worry. These streets we travel on


Will undergo our same lost past," Diego bernyanyi dan sang DJ membantunya memutarkan musik. Lagu yang sangat terkenal dari Avenged Sevenfold, Seize the day.


(Arti lagu itu sendiri adalah hargai setiap hari atau kau akan menyesali waktu yang telah hilang hingga mati. Sangat dingin dan sepi tanpamu di sini, terlalu banyak orang untuk dikenang. Aku melihat impianku terbakar, Aku merasakan kenaganku memudar seiring waktu.Tapi aku terlalu muda untuk mengkhawatirkannya. Jalanan yang kita lalui akan mengalami kehilangan seperti masa lalu kita).


Valeria mendekati Diego yang bernyanyi dipanggung bar. Seketika ia menangis. Ia teringat dirinya yang tertangkap dibalik jeruji. Tak ada cinta yang mengelilinginya. Dia pernah mempunyai harapan dan harapan itu rapuh karena keutuhan keluarga yang ia miliki runtuh. Valeria harus berjuang sendiri dan kini orang yang ada didepannya adalah Diego. Orang yang pernah membuatnya bahagia meski mengaguminya dari jauh.


"Diego, aku masih menyukaimu," gumam Valeria yang suaranya hanya bisa ia dengar sendiri.