
Polisi lalu lintas menangkap sopir truk yang di anggap menjadi penyebab kecelakaan itu. Ada saksi yang melihat jika sang sopir truk berulah liar sehingga si pengemudi mobil lain memilih untuk mendahuluinya. Namun malah menyebabkan pengendara mobil kecelakaan saat di tikungan tajam.
Gordon segera bertindak. Membungkam orang suruhannya pada saat itu, agar tidak membocorkan atau tidak mengatakan jika ada dalang dibalik tragedi kecelakaan itu. Saat ini, Gordon bersembunyi di ketiak sang anak buah. Kartu As ada ditangannya, hanya menunggu waktu
Gordon merubah rencana. Sebelumnya ia ingin membawa Virus bersamanya ke Los Angeles dan memisahkannya dengan Moza.
Untung kebenaran segera terungkap, meski terlambat setidaknya Gordon sudah mengetahuinya. Sehingga ia memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan keluarga Federic.
Akhirnya, Virus pun kembali ke rumah sakit yang sebelumnya dirawat. Gordon harus bertanggung jawab atas kesalahan fatalnya.
Diego, Rachel, Chris dan Moza mendapat pertolongan langsung oleh dokter-dokter spesialis. Gordon yang mendatangkan mereka ke rumah sakit itu meski waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Ia rela menguras habis uangnya dengan memanggil dokter-dokter terbaik, semua demi keselamatan keluarga Federic.
Setelah mengurus keluarga Federic, sang asisten kembali ke ruang perawatan Virus. Gordon menunggu disana.
"Semua beres bos. Keluarga Federic sudah ditangani dokter-dokter terbaik," lapor sang asisten.
Gordon tidak menjawabnya, dia melakukan sesuatu namun sang asisten terus memberikan informasi.
"Pasien yang bernama Chris dan Rachel hanya mengalami shock dan luka gores,"
"Lalu bagaimana kondisi dua anak Nyonya Rachel?" Tanya Gordon yang mulai mengkhawatirkan kondisi Moza.
"Kata Dokter, Tuan Diego mengalami luka pada dahinya dan patah pada bahu lengannya. Dokter sudah melakukan tindakan operasi dan semua telah berjalan lancar ," jawab asisten
"Sementara wajah Nyonya Moza di sebelah kanan, terkena beberapa pecahan kaca. Untung saja serpihan kaca itu tidak masuk ke dalam matanya dan tidak sampai merusak wajah cantiknya. Namun yang di khawatirkan adalah luka pada kepalanya. Meski tidak ditemukan apapun pada saat pemeriksaan pertama, namun dokter takut akan berefek jangka panjang,"
"Apa maksudnya ?"
"Dia akan lebih sering mengalami serangan seperti pusing dan mendadak jatuh karena ketidakseimbangan otak dan saraf gerak, kata dokter bahasa lainnya tidak sinkron,"
Gordon semakin merasa bersalah, dan dia berharap Virus tidak mengetahui siapa dalang dibalik kecelakaan itu.
"Kau sudah urus Eric?" Tanya Gordon pada asisten laki-lakinya.
Eric adalah orang yang disuruh untuk melenyapkan keluarga Federic dengan cara mencelakainya seolah-olah seperti kecelakaan.
"Ya Bos, Eric bersedia mengikuti rencana kita. Asal dia menerima bayaran setimpal,"
"Kau sudah membayar uang tutup mulutnya?"
"Sudah bos, sesuai perintah bos. Kini Eric berada ditahanan, dia mengaku sedang mabuk dan seperti menonton film fast to furious, yang mana dia sedang berada di adegan balap mobil, jadi dia tidak tahu mana yang nyata dan mana ilusi. Begitulah pengakuan Eric pada polisi disana,"
"Apa polisi itu percaya?"
"Mereka percaya bos, karena saat di tes urin, Eric positif mengkonsumsi ganja dan anggur keras. Sebenarnya Eric tidak semabuk itu hanya saja saat ditanya polisi dia bertingkah seperti orang mabuk," jelas asisten barunya
"Hemm bagus, rupanya Eric bisa diandalkan dan ku harap Eric akan terus bungkam," gumam Gordon
.
.
"Kenapa Diego lama sekali, dia bilang akan langsung pulang," gumam Valeria yang tidak bisa tidur meski matanya mengantuk.
Ia pun beralih ke depan untuk menonton televisi. Baru saja duduk untuk menonton, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu apartemennya.
"Ah itu mereka," terka Valeria
"Iya sayang sebentar," teriak Valeria kemudian ia segera membuka pintu.
Ceklek.
Valeria sedikit takut, ketika dihadapannya kini ada dua orang laki-laki bertubuh besar dan kekar.
"Siapa kalian?" Tanya Valeria
"Maaf sepertinya kalian salah orang," timpal Valeria lagi sebelum dua lelaki itu menjawab.
Valeria yang seorang diri di rumah pun segera menutup pintu. Untuk apa dua lelaki tak dikenal itu bertamu jika tidak memiliki motif lain, kecuali mereka ingin menyampaikan sesuatu yang penting atau terdesak.
Valeria tidak dapat menutup pintunya karena salah satu pria itu memasukkan kakinya ke pintu.
"Be-berita apa?" Tanya Valeria yang belum membuka pintunya dan hanya memberikan celah pintu, itu pun karena satu kaki laki-laki yang mengganjal pintunya.
"Apa benar ini apartemen Tuan Diego?" Tanya salah satu pria.
"Benar," jawab Vale singkat.
"Siapa kalian? Dan kenapa harus bertamu di larut malam begini. Hemm tidak ini sudah pagi,"
"Kami ingin menyampaikan berita duka. Tuan Diego dan keluarga Anda yang lain mengalami kecelakaan," jelas pria yang satunya.
"Hah apa? Tidak mungkin kan!" Seru Valeria, kemudian membuka pintunya lebar.
Kedua laki-laki didepan pintu apartemen itu, ternyata adalah seorang polisi yang saat itu sedang tidak bertugas.
Pertanyaan Vale di jawab anggukan kepala oleh keduanya.
"Apa! Lalu bagaimana keadaan mereka?"
"Semuanya kritis," jawab salah satunya
"Astaga kenapa cobaan datang bertubi-tubi di keluarga ini?" Tanya Valeria dengan lutut melemas kemudian dia bersandar di pintu yang terbuka.
"Bagaimana ceritanya sehingga mereka kecelakaan?"
"Mereka korban dari pengendara truk yang mabuk dan membawa truk dengan ugal-ugalan,"
"Apakah kalian bisa mengantar saya ke rumah sakit itu?"
"Baiklah, dengan senang hati kami akan mengantar anda,"
Valeria masuk kembali ke dalam untuk mengambil tas dan jaket. Kemudian ia keluar dengan dua polisi, tak lupa ia mengunci pintu sebelum pergi.
.
.
.
Gordon kembali ke apartemennya, merenungi kesalahan terbesarnya.
"Astaga, kenapa saat itu aku tidak menyelidikinya langsung. Aku terlalu mempercayakan penyelidikan pada anak buahku. Aku tidak berpikir jika adikku sendiri yang melakukannya. Pantas saja keberadaan Ratih tidak dapat terlacak. Dan aku terus menyalahkan Federic
....Federic maafkan aku," Gordon duduk di kursi tengah dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Gordon mengingat hari dimana saat dia ingin ke Indonesia bersama Ratih. Dia tangkap polisi dan Ratih di bawa pergi oleh Federic. Sam sengaja memakai topeng buatan dengan wajah menyerupai Federic.
Gordon ingin tahu cerita sebenarnya. Pria itu menemui Paquina yang sudah tertidur dikamarnya.
Byuuur
Tak segan-segan Gordon menyiramkan satu gelas air mineral ke wajah Paquina yang sedang tidur.
Paquina terbangun langsung dengan terengap-engap karena airnya masuk kedalam hidungnya.
"Kau! Tidak bisakah kau sedikit lembut?" seru Paquina
Gordon mengarahkan pistol ke wajah Paquina yang terduduk di ranjangnya. Mata Paquina terbelalak besar dan langsung menunduk takut.
"Ka-kau mau membunuhku?"
"Iya. Aku akan membunuhmu, jika kau tidak ingin menceritakan kebenarannya! Semuanya, yang kau tutupi selama ini,"
"Simpan dulu pistol mu itu, aku akan menceritakan semuanya,"
Gordon menarik pistolnya dan mengamankan pelatuknya kembali. Ia menarik kursi dari meja rias dan membawanya ke samping ranjang.
"Mulailah....," pinta Gordon
Paquina pun memulai ceritanya.