My Name Is Virus

My Name Is Virus
Tidak Rela



Entah bagaimana Andi merasa ada yang aneh. Mendadak King mafia yang sedari kemarin bersikeras mengejar Virus tiba-tiba saja tidak terlihat tanda-tanda mendekat atau memulai penyerangan. Bisa dikatakan keadaan aman.


Andi pun mulai berpikir jika usahanya dalam merusak sistem pelacak milik musuhnya bisa dikatakan berhasil. Namun sebenarnya usaha Andi sia-sia karena tanpa sepengetahuan Gordon, Sam diam-diam memasang pelacak yang ia suntikkan pada jaringan saraf Andi, metode pelacak terbaru dan sangat canggih.


Itulah kenapa Andi mengalami pusing yang luar biasa saat terbangun dari pingsannya ketika ia tertangkap. Sam yakin, Andi bisa membawanya pada Virus. Sam tersenyum lebar, merasa jika kemenangan mulai hinggap di dirinya.


"Gordon, tinggal selangkah lagi Aku akan membuat Virus menyerang mu sendiri haha dan Paquina, wanita terseksi yang pernah ku temui akan jadi milikku selamanya, hahaa," gumamnya dan berakhir dengan tawa membahana


*


*


*


Di rumah Virus


"Virus, pihak penerbangan memberiku penggantian tiket. Mereka meminta maaf atas kelalaian keamanan ditempat itu. Jadi...," ucapan Andi terpotong.


"Jadi kau ingin melanjutkan penerbanganmu yang sempat terhenti?" Terka Virus yang di jawab anggukan kepala oleh Andi.


"Ibuku terus saja mengkhawatirkan aku, dan jujur saja aku tidak tenang. Ayahku sedang bisnis di luar kota mengerjakan proyek deadline dan aku tahu jika sudah begitu, Ibu pasti tidak akan menceritakan apa yang terjadi padanya,"


"Ya aku paham, aku juga tidak ingin egois dan lagi ini masalahku. Aku tidak ingin ada Mobius lain yang menjadi korban," ucap Virus seakan trauma akan kehilangan seseorang.


"Lalu kapan kau akan pulang?" timpalnya.


"Malam ini. Aku sedang menunggu mereka menjemputku," jawab Andi


"Jemput? Hah baik hati sekali, kau percaya begitu saja? Jika mereka menipumu dan itu adalah komplotan mafia, bagaimana?" Tanya Diego yang juga menyimak obrolan mereka di ruang tengah


"Aku sudah mengeceknya dan dia bersih," jawab Andi


"Ya aku juga sempat memperhatikan keadaan sekitar, tidak ada pergerakan dari Gordon," sahut Virus membenarkan


"Ini aneh, tapi itu bagus. Aku harap pernikahan mu besok berjalan dengan baik," desis Diego


"Ya sedikit aneh tapi sepertinya mereka sedikit mundur karena aku telah menangkap beberapa penyusup yang juga anak buah mereka," ucap Virus


Ting


Andi mendapatkan pesan jika salah satu petugas bandara menjemputnya sebagai salah satu kompensasi atas kesalahan mereka. Setelah berpamitan pada Virus, dia masuk ke mobil dan melaju pergi menuju bandara.


Sesampainya di Bandara, Texas. Andi dan Indiana saling berkomunikasi lewat video call sebelum lepas landas. Pria cerdas itu mendapatkan fasilitas penerbangan khusus yang diantar oleh jet pribadi. Berharap Andi tidak membocorkannya kepada khalayak ramai soal penculikan yang terjadi padanya tadi


"Sudah dulu ya, pesawatnya mau jalan," ucap Andi mengakhiri percakapan.


"Jalan atau terbang," sahut Indi


"Haha terbang, yasudah bye Indi sayang. Assalamualaikum," pamit Andi


"Bye mas Andi, Wa'alaikumsalam," jawab Indi


*


*


*


Disisi lain


"Bos, kita berhasil membuat Andi pergi meninggalkan Texas," ucap Luke memberikan informasi penting pada Sam


"Aku memang pandai bersiasat," ucap Sam tersenyum lebar. Sekali lagi rencananya berhasil lagi


Sebuah rencana baru dengan iming-iming kompensasi tiket penerbangan yang sempat mengalami kendala akibat kelalaian keamanan Bandara


Sebenarnya pihak penerbangan hanya memberikan kompensasi tiket untuk esok harinya. Informasi tersebut terdengar sampai ke telinga Sam. Kemudian meminta pihak Bandara untuk menggunakan jet pribadi miliknya.


"Apa kau sudah menemukan titik lokasi itu?" Tanya Sam


"Ya sudah, sebelum pergi ke Bandara Andi sempat berada di titik lokasi rumah Virus.


"Persiapkan semuanya tanpa terlihat, dan pastikan mereka harus tahu jika penyerang itu adalah Gordon,"


"Baik tuan,"


*


*


*


Virus datang diam-diam dari arah belakang kemudian memeluknya. Membenamkan wajahnya ke leher Moza seraya menciumnya lembut.


"Sayang, apa yang kau lakukan hemm?"


"Aku sedang membersihkan dapur. Ada banyak minyak di meja," ucap Moza seraya masih membersihkan meja dapur.


"Itu sudah bersih, memangnya kau tidak lelah?" Virus terus menciumi aroma Moza yang membuatnya nyaman. "Aroma mu sangat khas, entah kenapa aku suka,"


"Lelah, tapi dapur ini sangat kotor," beralibi padahal sebenarnya Moza sengaja beraktivitas untuk mengurangi sikap gugupnya sebelum hari esok.


"Sayang, menjauhkan sedikit. Aku merasa tidak nyaman kau menciumiku disaat aku sedikit berkeringat hehe,"


"Ya itulah yang enak, meskipun berkeringat tetapi aromanya membuatku candu," puji Virus


"Apaan sih, haha. Kau sendiri mempunyai aroma yang khas. Aroma pemikat wanita,"


"Bay the way bicara soal aroma, suatu saat Aku akan mengajarimu membuat aroma parfum mu sendiri," ujar Virus


"Bagaimana caranya?"


"Lakukan ditempat lain," yang virus maksud adalah diranjang tetapi Moza belum paham. Sampai akhirnya Virus mulai bertingkah lain, ia meremas sesuatu yang menonjol dan seketika Moza merasakan benda mengeras dari belakang.


Moza berbalik menyentuh rahang tegas Virus dan bibir mereka saling bertautan, mengesapnya sesekali memainkan lidahnya tanpa menyentuh gigi. Mereka berganti cumbuan dan mulai menggigit bibir dengan lembut.


"Virus, hmm,"


"Ya," masih mengecup


"Kau tidak berpikir dengan apa yang dikatakan Diego kan?"


"Memangnya kenapa Diego," Virus pura-pura tidak tahu


"Sudah lah tidak usah dibahas,"


Diego pernah menggoda Virus untuk melakukan sesuatu yang intyim dengan adiknya. Tetapi pria itu tidak menjawab. Hal yang biasa dilakukan oleh pasangan Amerika. Dan Moza, wanita Amerika yang cukup unik. Dia masih polos dan belum tersentuh.


"Aku akan melakukannya setelah kita menikah," sahut Virus mengakhiri cumbuannya dan menatap lekat manik mata Moza.


"Terimakasih sayang, aku mencintai mu,"


"Aku juga sangat mencintai mu," balas Virus


Virus menyuruh Moza untuk beristirahat dan wanita itu pun menghentikan aktivitas bersih-bersih dapurnya. Ia melesat ke dalam toilet bawah sebelum pergi ke kamar atas.


Virus ingin mengambil sesuatu di kamar atas. Ia menaiki tangga sembari memainkan ponselnya. Sementara Valeria berjalan menuruni anak tangga. Dia ingin menemui Virus untuk memperlihatkan model perhiasan yang bagus untuk Moza dari toko online langganannya. Virus meminta Valeria untuk memilihkan perhiasan yang cocok untuk Moza.


"Virus, kau harus lihat ini. Ini pasti cocok untuk Moza," ucap Valeria sedikit pelan. Dia berlari kecil menghampiri Virus yang sudah menaiki 3 anak tangga. Tetapi Valeria malah terkilir dan jatuh menimpa Virus.


Bruk


Bukan hanya tubuh yang tertimpa melainkan bibir mereka saling bertautan. Dan ketika itu terjadi, Moza melihatnya. Dia berpikir jika sang sahabat mencium Virus tepat didepan matanya.


Virus terkejut dia sedikit terdiam, apalagi Valeria yang tidak segera beranjak dari jatuhnya.


"Hemm," Moza berpangku tangan


"Hah Moza, Virus maaf aku...aku terpeleset dan tidak tahu jika hal...hal itu akan terjadi. Tolong jangan salah paham," decaknya seraya beranjak berdiri lalu membenahi rambut dan pakaiannya seketika Valeria mendapati Diego yang juga memperhatikannya dari kejauhan


Tatapan keras yang tajam pun keluar dari pandangan Diego, kemudian ia pergi menjauhi Valeria. Diego nampak cemburu. Valeria harus mengejarnya dan menjelaskan permasalahan sebenarnya sebelum terjadi masalah.


Virus segera bangkit dan menjelaskannya pada Moza. Terlihat raut wajah Moza yang juga tidak senang.


"Apa kau menikmatinya?"


"Tidak sayang," ucap Virus menyentuh kedua bahu Moza untuk meyakinkan jika itu tidak benar.


"Jangan salah paham itu kecelakaan," jelas Virus yang tidak ingin Moza marah apalagi besok adalah hari pernikahan mereka.


Tetapi berbeda yang dilakukan Moza, dari pada dia cemberut lebih baik menghapuskan kecupan yang terjadi sebelumnya. Moza menciumi Virus untuk menghilangkan bekas kecupan Valeria.


"Sayang kau begitu rakus," ucap Virus sedikit tersenyum


"Aku tidak rela jika bibirmu disentuh oleh bibirnya, kau hanya milik ku," desis Moza dengan penuh penekanan dan terlihat egois.