
"Apa yang harus ku lakukan," batin Luke dengan perasaan panik yang tiba-tiba menyerangnya.
Ada mata yang sedang menatapnya tajam seakan berkata 'jangan menolak perintahku atau kau akan mati' dan mengharuskan pria itu untuk memilih lebih baik bunuh diri dari pada mati terbunuh.
Seketika Luke teringat akan nyawa temannya yang mati terpenggal beberapa minggu yang lalu. Gordon begitu sadis, sehingga ia ditakuti semua orang. Begitulah seharusnya seorang pimpinan, harus memiliki pertahanan yang keras jika tidak ingin mendapatkan ancaman dari serangan lain.
Dahi Luke menjadi sangat berkeringat. Tangannya gemetar saat hendak meraih gelas yang baru saja ia tuangkan air beracun. Pasalnya dosis racun yang dia berikan saat ini, tiga kali jauh lebih besar dari dosis yang ia berikan pada Gordon sebelumnya . Bukan hanya mengakibatkan stroke melainkan Luke bisa mati secara tiba-tiba. Koko
"Apa yang membuatmu begitu lama, apa susahnya minum segelas air putih. Ini hanya air putih," ucap Gordon.
Gordon menggerakkan tangannya keatas lalu menggebrak meja dengan keras.
Braaak!
"Minum!" hardik Gordon dengan notasi nada keras tetapi masih dengan bibir terkatup. Dia masih berakting memainkan perannya sebagai penderita stroke.
Entah kenapa Luke sangat takut pada pria di depannya itu sehingga dengan cepat Luke meneguk habis gelas tanpa berpikir panjang lagi. Ia berharap kemungkinan terburuk dengan meneguk habis minuman itu hanya stroke saja dan tidak menyebabkan dirinya kehilangan nyawa.
Setelah meminumnya Luke tak merasakan apapun, dia pikir kemungkinan dia salah memberi obat. Seketika ada perasaan lega. Gordon sampai salah mengira jika Luke memberinya racun karena setelah meminumnya dia tak merasakan apapun.
"Kenapa hanya minum saja kau sampai setahun itu hah? Aku kembali tidur dulu," ucap Gordon menepuk pundak Luke
"Aku hampir lupa, bukankah racun itu bekerja beberapa menit setelah aku meminumnya. Jika benar maka setengah jam lagi efeknya akan muncul, sebaiknya aku cepat pergi tidur sehingga tidak dituduh yang bukan-bukan," batinnya melangkah pergi ke kamar setelah menepuk pundak Luke
Tak sampai setengah jam Luke meminum, racun itu mulai bereaksi. Ia memejamkan mata merasakan sakit pada tenggorokannya yang mulai memanas, kemudian rasa sakit itu menjalar ke dada. Luke tak sanggup lagi berdiri, dia membungkuk seraya kedua tangan memegang sisi meja dapur. Jantungnya berdegup kencang bersamaan dengan sakit yang menusuk jantung. Ia pun memegang dadanya yang terasa sakit dengan kedua tangan mencengkeram.
"Argh sakit!...Bos...Tolong!" pekiknya.
Luke terjatuh dan meringkuk, ia ingin berteriak memanggil bantuan. Saat itu juga dia teringat ketika Gordon terkena racun dan meminta Luke panggilkan bantuan, tetapi malah pria itu meninggalkannya.
"Sial aku terkena karma," ucapnya.
Luke pun mengalami kejang dan mulutnya mulai mengeluarkan buih. Luke pun pingsan.
Gordon keluar kamar setelah mendengar sebuah teriakan memanggilnya. Pria itu tidak terkejut saat melihat Luke terbaring dilantai.
"Inilah hasil pengkhianatan mu sendiri," ucap Gordon tersenyum lebar ke arah Luke.
Gordon segera mengambil ponsel milik Luke dan membuka kotak surat di ponselnya. Tidak ada pesan apapun disana, tetapi panggilan terakhir adalah Luke menghubungi Sam.
Hanya itu riwayat ponselnya, sepertinya Luke lupa menghapus jejak terakhir sebelum jatuh pingsan.
"Apa yang dia laporkan pada Sam? Hey, Luke tak ku sangka kau menyalahgunakan kepercayaan ku. Aku akan membuatmu menderita," ucap Gordon seraya menginjak pipi Luke yang terkulai pingsan.
Gordon kemudian mengirim sebuah pesan pada Sam dengan ponsel Luke.
"Misi terselesaikan," tulis Gordon pada pesannya untuk Sam dengan menggunakan ponsel Luke.
Saat Gordon ingin menyeret Luke, pria itu terus mengamati tubuh Luke yang sama sekali tidak ada pergerakan pada tubuhnya. Dadanya tidak terlihat kembang kempis seperti seorang yang tidak bernyawa.
"Tidak ada napas yang masuk ataupun keluar," batin Gordon
Kemudian pria itu segera menarik pergelangan tangan dan merasakan nadi disana. Tetap saja Gordon tidak menemukan denyut nadi serta jantung yang sudah tidak bekerja.
"Rip for you...hmmm sebenarnya aku tidak ingin kau mati secepat ini, karena Aku belum puas menyiksamu," ucap Gordon tersenyum menyeringai.
Sementara disisi lain, Sam bahagia setelah membaca pesan itu. Itu artinya dia akan mendengar kabar duka dari Gordon sebentar lagi. Sam tidak tahu bahwa yang saat itu mati adalah Luke, bukan Gordon.
Tak berapa lama dari kejauhan terdengar suara bunyi mesin mobil. Azkha sengaja menginjak pedal gas sedikit lama untuk memperdengarkan bunyi mesin mobil kemudian ia melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Chuck sendiri masih berada di atas atap rumah Sam untuk berjaga-jaga jika kemungkinan yang tidak diinginkan terjadi. Karena Sam sangatlah licik dan mempunyai banyak ide untuk membuat tipu muslihat.
Ketika Azkha pergi, Sam mengintip dari dalam jendela melihat kepergian mobilnya yang sejak lama pria itu ketahui.
"Azkha, haha kau cantik juga. Aku akan menangkap mu dan mengajari mu cara bermain yang bagus," gumam Sam yang langsung muncul dalam niatnya untuk memberikan Azkha pelajaran di ranjang.
.
.
.
Keesokannya, sebuah mobil keluar dari garasi rumah Sam. Chuck segera memberitahukan Virus soal itu. Disisi lain Andi mengabarkan pada Virus jika Sam memesan tiket pesawat ke Los Angeles.
"Cari tahu kemana Sam pergi pagi-pagi ini," Virus menuliskan pesan pada Andi
Tak berapa lama pesan balasan masuk, "Sam masuk ke hotel Hilton,"
"Ada yang aneh, kemarin dia bilang akan bertemu siang di hotel itu. Tapi kenapa sepagi ini dia sudah disana. Dan lagi dia memesan tiket penerbangan siang nanti ke Los Angeles. Hemm aku harus periksa jadwal penerbangan hari ini," batin Virus yang mulai mencerna seperti yang dilakukan seorang detective.
Kring
Andi menelepon Virus, ada hal penting yang segera ingin ia sampaikan.
"Virus, ini aneh. Komputer mengenali wajah Sam yang menuju hotel. Tetapi jika aku melihat pelacak melalui garis darah keluarga Gordon. Sam masih ada dirumahnya," ucap Andi
"Sudah ku duga, itu hanya peralihan agar kita fokus mengintainya di hotel. Aku baru saja menemukan nama Paquina dengan tujuan penerbangan yang sama tetapi dia memesannya beda beberapa jam lebih lama dari Sam. Aku yakin mereka berdua akan bertemu di Los Angeles bukan di Hilton. Thanks Andi," ucap Virus
Di waktu yang sama, Paquina ke apartemen Gordon. Sesampainya disana wanita itu berpamitan dengan suaminya untuk pulang ke Los Angeles. Dia bahkan berbasa-basi dengan mengajak Gordon pulang.
"Sayang, aku ingin pulang ke Los Angeles. Bagaimana jika kau juga ikut pulang. Urusanmu disini sudah selesai kan?" ucap Paquina
Gordon menjalankan kursi rodanya mendekati Paquina dengan menggerakkan tombol automatis dari kursinya. Pria itu menarik lengan Paquina hingga terjatuh duduk di pangkuannya
Kemudian pria itu menyentuh rahang Paquina dan mencium bibirnya dengan rakus. Wanita sedikit terkejut dengan perlakuan suaminya yang tak biasa. Sementara di dalam benaknya, Gordon sangat muak dan terpaksa. Ia dengan sengaja mencium Paquina di depan kamera cctv, untuk memperlihatkan pada mertuanya jika pria itu mencintai Paquina.
Gordon ingin menangkap rekaman perselingkuhan Paquina dengan Sam dan jika Paquina menggunakan alasan kalau Gordon tidak mencintainya maka Gordon akan memperlihatkan rekaman cctv itu.