
Visual Wasabi
BALI, Indonesia
"Sayang, berapa lama lagi kita di pantai? Apa kau belum puas bermain pasir hmm?" Tanya Wasabi pada anaknya yang berusia 6 bulan.
Dia lelah dan berpangku tangan duduk di pasir pantai menemani istri dan anaknya yang sedang membuat istana pasir.
"Ya papa aku masih ingin bermain pasir dan air pantai hehe," jawab Joy dengan suara yang dibuat-buat menyerupai suara anak kecil
"Hemm itu sih keinginanmu bukan anak kita. Barra hari sudah semakin panas. Nanti kalau kulitmu hitam, cewek-cewek bisa kabur loh," desis Wasabi merayu Barra anak laki-lakinya yang belum mengerti apapun.
Tapi anehnya setelah Wasabi berkata seperti itu, Barra menghentikan bermainnya dan merangkak mendekati Wasabi meminta untuk digendong.
"Good Boy,"
"Jangan mengajari anakmu seperti itu, aku tidak ingin dia menjadi playboy," sahut Joy
"Haha, ayo kita pulang. Barra sudah setuju pulang. Oh ya sayang, kau tau? Kebetulan Moza melahirkan pagi ini. Kita akan menjenguknya," ujar Wasabi
"Wow, secepat itu waktu berlalu. Aku tak menyangka Virus berakhir dengan Moza padahal aku lebih setuju dia dengan Valeria. Hemm sebelum kesana kita belanja perlengkapan bayi dulu ya,"
Mereka pun merapikan pakaian yang sedikit kotor karena pasir pantai dan bergegas menuju mobil.
"Itulah jodoh tak akan ada yang tahu. Seperti kau dan aku, dulu aku bahkan tidak melirikmu sama sekali. Tapi sekarang, tidak melihatmu sedetik saja aku sudah merindukanmu," ucap Wasabi menatap lekat manik mata Joy.
"Haha lucu ya, kisah cinta semua orang tidak ada yang bisa menebak akhir ceritanya. Oh ya Andi dan Indi bagaimana kabarnya? Tidak ada kabarnya setelah mereka menikah dan pindah ke Papua,"
"Aku juga tidak tahu, dia tidak membalas pesanku," jawab Wasabi sembari memberikan Barra ke pangkuan Joy dan mulai menjalankan mobilnya. Ia sedikit kesal jika ditanya mengenai Andi, karena Andi seperti kacang yang melupakan kulitnya.
Wasabi tinggal di Bali dan Jakarta, dia mempunyai dua rumah karena di Bali Joy memiliki usaha pakaiannya sendiri. Dia mendesain kaos dan membuat model pakaian terbaru. Hasil penjualannya lebih besar di Bali ketimbang di Jakarta. Sehingga mereka memutuskan untuk tinggal di Bali dan Jakarta.
Sesampainya di rumah, ada seorang pria yang mengintip lewat kaca rumahnya.
"Wasabi, apa dia pencuri kenapa dia mengintip dari jendela?" Tanya Joy
"Aku tidak tahu, tapi jika pencuri kenapa dia memakai baju bermerek,"
"Kau tahu dari mana itu baju bermerek,"
"Tidak tahu juga sih, kelihatan bagus soalnya hehe. Aku turun duluan ya, kunci pintunya sebelum ku suruh turun," ucap Wasabi berjaga-jaga.
Wasabi menepuk pundak laki-laki yang mengintip, spontan saja laki-laki itu berbalik sembari melayangkan sikutnya kebelakang. Wasabi menghindar dengan cekatan.
"Sialan, rupanya kau!" seru Wasabi
"Hay bro, ku pikir kau penjahat," ucap Andi
"Ah justru ku pikir kau penjahat, karena mengintip-intip seperti itu. Kenapa kemari? Masih ingat aku rupanya?"
"Hehehe jangan marah Wasabi, aku terlalu sibuk jadi terkadang lupa membalas pesanmu,"
"Sibuk apa kau?" ujar Wasabi seraya memanggil Joy untuk turun dengan melambaikan tangannya ,"Sendirian?"
"Hemm sekarang aku bekerja sama dengan kepolisian Nevada, aku jarang ke Indonesia. Mungkin setahun cuma sekali pulang. Dan itu hanya seminggu saja saat Hari Raya,"
"Kau semakin hebat. Ayo masuk, lalu Indi bagaimana? Dia pasti kesepian karena kau meninggalkannya selama itu," ucap Wasabi sembari membuka pintu rumahnya dan masuk.
"Oh tidak, siapa bilang. Dia ikut denganku dan meninggalkan pekerjaannya haha. Indi kok di tinggal, bisa nangis aku ahhahaha," jawabnya sembari duduk di sofa
"Haha dasar, lalu mana dia?" Tanya Joy menyela dari belakang.
"Dia sedang ke....," ucapan Andi terpotong karena Indi sudah datang
"Assalamualaikum, Joy, Wasabi," sapa Indiana di depan pintu dengan troli gandeng duanya.
Indiana dan Andi memiliki anak kembar laki-laki dan perempuan yang masih berumur 3 bulan.
"Aku tadi ke toko kecil dekat rumahmu, dua anak ini buang air besar berbarengan. Dan tisu basahku kebetulan habis. Jadi ya numpang bersihin mereka ke toko itu hehehe,"
"Astaga lucu banget, pasti repot ya punya anak kembar," ucap Joy dan menyuruh Indi untuk masuk.
Dia ingin memegang pipi gembul si bayi namun dia takut karena dia sedang kotor, meskipun tangannya bersih sekalipun dia tidak berani pegang si bayi karena kulit bayi itu sangat sensitif.
.
.
.
Texas, pukul 7 malam
Azkha sibuk memperbaiki mesin mobil di bengkel pribadinya. Dia membuka bengkel dengan teman barunya yang bernama Zhen. Yang membuat keduanya berteman adalah mereka berasal dari negara yang sama Khazakhtan.
"Auch," pekik Azkha sembari memegangi jarinya
"Ada apa?" Zhen langsung datang menghampirinya.
"Hmm aku terkena setruman di pipa kecil itu. Tanganku sedikit tertarik untung saja aku bisa melepasnya,"
"Berhati-hatilah, pakai sarung tangan lebih aman," ujar Zhen sembari mengelus kepala Azkha.
"Maaf,"
Azkha hanya tersenyum.
"Azkha, Kau belum makan malam kan? Bagaimana jika malam ini kita makan bersama," ajak Zhen
"Maaf aku tidak bisa, pemilik mobil ini ingin segera selesai besok,"
"Makan lebih penting dari apapun Azkha,"
"Kalau aku tidak menyelesaikan tepat waktu, maka aku tidak akan dapat uang dan tidak bisa makan,"
"Haha ya kau benar, tapi jika menahan lapar terus menerus seperti ini kau akan sakit lalu apa? Kau tidak bisa bekerja dengan baik,"
"Ada apa dengan mu? Kenapa kau menyebalkan seperti ini," ucap Azkha memukulnya dengan kain yang penuh dengan bekas oli.
"Apa tidak boleh jika aku mengkhawatirkan orang yang ku suka,"
"Hah?"
"Aku menyukaimu Azkha,"
"Jangan bercanda," Azkha pun berbalik dan mengambil alat sebuah alat di belakangnya lalu kembali lagi menuju mobil yang akan diperbaiki.
"Aku tidak bercanda," aku Zhen kemudian Azkha menoleh menatapnya
"Begini saja, aku tunggu kau di mobil. Anggap saja ajakan makan malam ini sebagai ajakan kencan. Jika kau menerimanya, berarti kau menerima ku sebagai teman kencan mu," ucap Zhen yang langsung pergi sebelum Azkha menjawabnya. Dia takut dengan Azkha yang super tomboy.
Tak berapa lama, sangat lama. Harapan Zhen menipis, "Huff, dia tidak menerimaku," Zhen bergumam dan merebahkan kepalanya diatas setir mobil.
Tiba-tiba Azkha membuka mobil dan masuk kedalamnya, membuat Zhen terkejut.
"Ayo jalan, tunggu apa lagi!" Ucap Azkha sedikit garang
"Jadi kau menerima....ku?"
"Hmm," Jawab Azkha singkat
"Kenapa hanya hmm? Tidak adakah jawaban lain,"
"Shiit kau cerewet sekali," ucap Azkha kemudian tertawa Zhen pun ikut tertawa.
Dan begitulah Azkha dan Zhen yang memiliki paras mirip dengan Chuck memulai kisah cintanya.
.
.
.
Kembali di Indonesia.
Keluarga Diego sudah kembali ke rumah Virus. Kini giliran Wasabi, Joy, Andi dan Indi serta anak-anak mereka datang melihat Moza. Sebenarnya mereka ingin melihat sang bayi. Namun sang bayi harus istirahat sebentar di ruang bayi.
"Andi, aku tak menyangka kau datang kemari," ucap Virus yang tahu keberadaan Andi sebelumnya.
"Kau tahu dimana dia?" Tanya Wasabi pada Virus.
"Ya, dia memberitahuku, ada apa?"
"Jadi ini yang namanya sahabat? Kau memberitahu keberadaan mu dengan nya sedangkan denganku tidak, Oh lihat saja nanti," ujar Wasabi merasa kesal dengan sikap Andi.
"Udah deh gak usah baperan, haha, aku takut saat mengirimimu pesan, kau sedang menyelidiki sesuatu. Nanti kau lupa matikan ponselmu dan penyamaranmu terungkap," ucap Andi beralibi
"Pintar sekali kau beralasan,"
"Ngomong-ngomong dimana si baby," Tanya Joy
"Di kamar bayi, sore nanti bayinya akan diantar kemari," ucap Virus.
"Virus kau harus berhati-hati, disini banyak penculikan bayi. Apalagi dulu kau punya musuh nanti auhh...," ucapan Andi terhenti karena Wasabi menginjak kakinya.
"Oh sorry aku tidak sengaja," Sahut Wasabi sambil terkekeh.
"Mereka apa kembar?" Tanya Moza sedikit berbahasa Indonesia meski belum lancar dan penyusunan kalimatnya belum baik namun maksud ucapannya dapat dicerna orang lain.
"Iya kembar. Namanya Kenzo Dan Kenza," jawab Andi
"Nama yang bagus," ucap Virus
"Kalau baby kalian, siapa namanya?" Tanya Indi
"Belum ada nama, ternyata susah juga memberikan sebuah nama yang cocok ya," Ujar Virus
"Ya, carilah nama yang baik dan mempunyai arti yang baik. Jangan asal dan jangan nama yang aneh seperti namaku dan namamu," pesan Wasabi
Tak berapa lama sang bayi diantar kembali ke ruangan Moza. Mereka saling memuji dan sangat bahagia. Apapun mereka bicarakan.
The End