
⚠️Warning⚠️
JANGAN BACA SAAT MAKAN
.
.
.
"Aku akan menuruti semua yang kau katakan. Asal...asal jangan tinggalkan aku, bahkan jika aku harus menjadi budak mu...akan ku lakukan," ucap Paquina yang takut sekali kehilangan Gordon.
Mendengar perkataan istrinya itu Gordon menggaruk pelipisnya yang tidak gatal seraya menaikkan satu alisnya. Kemudian ia tersenyum miring seperti yang diharapkannya. Kelemahan Paquina adalah kehilangan Gordon.
"Apa kau sehat?"
"Tentu saja aku sehat," ucapnya lantang.
Gordon berpikir sedikit, tangan kirinya memainkan janggutnya dan tangan satunya berkacak pinggang.
"Berikan ponselmu, dan ikuti aku," ucap Gordon
Paquina segera merogoh tasnya dan memberikan ponselnya tanpa ragu. Tidak ada lagi yang ia sembunyikan, semuanya telah terungkap.
Gordon menerima ponsel Paquina dan ingin mengirimkan pesan pada Sam. Namun sebelum itu dia menscroll chat lalu membaca pesan Paquina dengan Sam yang begitu mesra bahkan ada video dan foto Paquina yang tanpa mengenakan pakaian apapun didalam pesan chatnya itu.
"Wow, cinta mu bercabang rupanya. Kau terlihat mesra dengan pria lain dibelakang ku. Jujur saja aku tidak cemburu. Tapi kau menginjak harga diriku sebagai suami mu, ya meskipun aku tidak layak menyandang gelar suami haha," ucap Gordon yang masih melihat isi pesan mereka sementara Paquina merasa malu dan menutupi dadanya dengan menyilang kan tangannya di depan.
"Maaf, aku hanya....butuh," ucap Paquina dengan sedikit bergetar mengakui kenyataan bahwa dirinya butuh belaian kasih sayang yang tidak pernah Gordon berikan. Sangat menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintai diri kita sendiri. Cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Gordon melirik Paquina, dia tahu air mata wanita itu menggenang di pelupuk mata dan menunggu untuk jatuh. Tapi pria itu terus bersikap dingin dan sama sekali tidak punya perasaan.
Setelah selesai mengirimkan pesan pada Sam, Gordon menyuruh Paquina untuk mengikutinya. Pria itu membuka pintu di ruang cctv dan menyuruh Paquina duduk. Tapi begitu pintu dibuka, Paquina mencium bau sedikit anyir bersamaan dengan hawa dingin yang berasal dari AC.
"Apa kau lapar? Atau haus?" Tanya Gordon
"Hmm iya sedikit haus dan lapar," jawab Paquina
Gordon lalu mengambil kemasan Steak instan yang sudah dibumbui kemudian memasukkannya ke dalam oven berukuran mini untuk memanaskan daging steak yang sudah di bumbui. Lalu mengambil air kemasan botol di dalam lemari es yang berukuran kecil di dalam ruangan cctv untuk diberikan pada Paquina.
"Sambil menunggu matang, kau bisa ceritakan kejadian silam hingga Ratih tewas," pinta Gordon sambil menyerahkan minuman kemudian duduk di sofa panjang. Sementara Paquina duduk di depan layar monitor CCTV sembari bertanya dalam hatinya sendiri 'Kenapa harus di ruangan CCTV yang kecil dan pengap untuk bercerita, seperti tidak ada ruangan yang lebih baik'.
"Baiklah aku akan menceritakannya," ucap Paquina dan kemudian mulai bercerita.
Saat mendengar ceritanya, Gordon meremat kaleng minuman yang sudah habis isinya, pria itu amat marah dan ingin rasanya ia melenyapkan Paquina saat itu juga.
Ting
Bunyi alarm pertanda makanan yang ada didalam microwave telah matang. Gordon mengambilnya dan menyerahkannya pada Paquina.
Paquina berpindah tempat dan duduk di sofa yang ada di depan Gordon. Wanita itu kemudian meletakkan piring yang berisi steak di meja.
Tes
Gordon melihat sesuatu menetes dari atas dan jatuh tepat di piring Paquina, namun wanita itu tidak menyadari dan melahapnya dengan cepat. Sementara Gordon sedikit jijik.
"Kenapa rasanya seperti kurang matang, ada rasa darah," batin Paquina.
"Apa itu enak?" Tanya Gordon sambil mengerutkan kening
Tes
Ada sesuatu yang menetes lagi namun kali ini tetesan itu mengenai dahi Paquina. Wanita itu merasa ada sesuatu yang terasa dingin menimpa dahinya dan ia pun menyekanya dengan satu jari kemudian melihatnya.
"Merah, apa ini," batin Paquina seraya mencium air tersebut.
"Baunya seperti....," batinnya lagi seraya melihat ke atas dari duduknya.
"Aaaaaakhhh..." Pekik Paquina sembari melihat sesuatu yang tergantung diatas, kemudian memegang mulutnya dengan kedua tangannya dan dia pun berpikir soal makanan yang dimakannya.
"Haha kenapa terkejut, itulah akibatnya jika seseorang menghianati ku. Dan Kau juga menghianati ku Paquina. Apa kau ingin berakhir seperti Luke?" ucap Gordon seraya menunjuk Luke dengan menggerakkan dagunya ke atas.
"Dan kau baru saja memakan tetesan darahnya yang jatuh di steak mu itu haha, aku sudah menyuruh mu untuk duduk didepan layar cctv tetapi kau malah pindah di depanku," jelas Gordon kemudian membuat Paquina merasa mual.
"Seharusnya aku menyadari dengan bau sedikit tidak enak di ruangan ini. Kau...huek...," ucap Paquina merasa mual.
"Bagaimana apakah itu enak?"
"Huekk," Paquina mencoba memuntahkan makanan di dalam piringnya namun tak berhasil. Dia pun meneguk satu botol air minumnya. Merasa tak cukup Paquina beranjak dan berlari kecil menuju lemari es yang berukuran mini itu dan mencari minuman untuk menghilangkan rasa darah yang baru saja ia telan.
Di dalam ruangan itu ada kepala yang terpenggal dan tergantung di atas, lebih tepatnya di bawah ternit putih. Mata Luke yang terbuka memberikan kesan mengerikan. Paquina tak habis pikir dengan perbuatan Gordon yang sangat tidak wajar. Untuk apa dia memajang penggalan kepala manusia didalam apartemennya sendiri.
"Jangan-jangan daging yang ku makan itu daging Luke," batin Paquina yang kemudian perutnya merasa panas dan mual ia pun memuntahkan semua makanannya lagi.
"Huek...steak itu apakah daging Luke?" Tanya Paquina seraya menyentuh lehernya yang terasa sakit akibat muntah paksa.
"Hahaha sangat lucu, aku tidak setega itu memberikan mu daging manusia. Aku hanya ingin menunjukkan padamu, jangan main-main denganku. Apa kau paham!" ujar Gordon yang tadinya tertawa kemudian kembali berwajah kejam.
"Aku salah... Kau tahu selama ini aku juga tidak tenang, Aku selalu dihantui rasa bersalah. Gordon...." Paquina melangkah dan mendekati Gordon, ia berlutut seraya memegangi tangannya untuk memohon.
"Maafkan aku...aku tahu kau akan sulit memaafkan ku tapi aku mohon jangan penggal aku... jangan bunuh aku...aku bersedia menerima hukuman mu, hiks....kalau....kalau kau ingin merusak wajahku, itu tidak masalah tapi jangan bunuh aku," pinta Paquina yang terus terisak menggenggam tangan suaminya dan mendekatkan dahinya di tangan besar itu.
Gordon mengambil napas panjang. Benar dia tidak bisa memaafkan Paquina, tetapi wanita itu juga sangat baik padanya. Paquina berselingkuh pun karena dirinya.
"Sekarang telepon Sam dan tidurlah dengannya. Seperti yang biasa kalian lakukan dibelakang ku,"
"Hanya itu?" Paquina terkejut dengan perkataan Gordon. Suaminya malah menyuruhnya tidur dengan adiknya sendiri.
"Kau pasti merencanakan sesuatu," terka Paquina.
"Manusia harus selalu memiliki rencana kecuali dia bodoh dan tidak hidup,"
.
.
.
"Argh! Ini semua gara-gara Gordon, Paquina membatalkan penerbangan bersamaku. Lihat saja nanti," ucap Sam yang mempunyai beberapa cara untuk menghancurkan Kakaknya sendiri.
Sam mengadu pada Hayes jika Gordon tidak ingin membalaskan dendam kematian Darren. Pria tua itu pun menanggapi dengan serius.
Di Los Angeles
"Ck bisa-bisanya Gordon menyembunyikan ini dari ku. Aku tidak akan membiarkannya hidup bahagia! Kejar Virus dan bunuh dia," perintah Hayes pada anak buahnya setelah menerima kabar dari Sam.