
Andi, Virus dan Moza tidak makan di restoran hotel itu, karena penuh dan mereka juga tidak ingin makan di dalam kamar. Akhirnya mereka mencari tempat makan diluar sekalian jalan-jalan.
Banyak menu khusus vegetarian disana sehingga Virus tidak perlu takut. Namun semua restoran terlihat penuh, akhirnya mereka memilih kedai makan di pinggir jalan.
Mereka naik mobil Van, karena saat itu Virus sedang malas mengemudi. Setelah memarkirkan mobilnya mereka turun dan memilih meja makan yang berada diluar ruangan, dengan payung besar di tengahnya sebagai atap.
Andi duduk terlebih dahulu kemudian disusul Virus yang duduk disebelahnya. Sedangkan Moza memilih duduk dihadapan Virus. Pelayan kedai keluar serta membawa menu untuk di pesan. Butuh beberapa menit memilih dan menentukan mana yang akan mereka pesan. Setelah itu pelayan masuk kembali kedalam dan menyiapkan pesanan.
"Bagaimana dengan lukamu?" Tanya Moza mencari pembicaraan.
"Tidak masalah ini tidak sakit, kau sendiri?" Virus balik bertanya.
"Aku tidak terluka dalam, hanya goresan saja itu juga tidak sakit," jawab Moza dan dibalas anggukan kecil oleh Virus.
"Pembicaraan anak kecil macam apa ini, sudah tahu mereka baik-baik saja untuk apa ditanyakan. Aku seperti nyamuk disini," batin Andi
"Aku ke toilet dulu ya," pamit Andi kemudian segera pergi. Ia sengaja untuk memberikan kesempatan Moza melakukan pendekatan
Selama Andi pergi, pria itu mengintip dan ia melihat tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Pintu kedai itu tertutup kain tetapi berbeda jenis kainnya karena ini lebih tebal. Ketika ada angin kencang menerpa. Rambut panjang Moza ikut tertiup angin, wangi aroma rambutnya hingga tercium masuk kehidung Virus dan membuatnya mengalihkan pandangannya pada wanita didepannya. Virus menatap sekilas wanita itu.
"Manis," gumam Virus yang hampir tidak terdengar oleh Moza. Setelah itu ia melihat kain yang melambai-lambai bagian ujungnya karena terkena angin. Dan itu mengingatkanya akan gambaran yang tak sengaja ia lihat. Virus mengusap bagian tengkuknya karena merasa tak enak sendiri. Ia berusaha melupakan namun bayangan itu terus mengusiknya.
"Huh mereka bodoh atau bagaimana? Lebih baik aku tak usah kesana sampai mereka berbicara satu sama lain haha," ucap Andi
Pelayan kedai membawa pesanan Andi, dan langsung dihentikan oleh Andi.
"Kemarikan pesananku, aku akan memakannya di dalam," ucap Andi seraya mengambil piring yang berisi menu makanan yang dipesannya. Pelayan itu mempersilahkan kemudian kembali kedalam untuk mengambil dua pesanan lainnya.
Andi duduk di didalam dengan berjongkok. Ia bersembunyi dari dua orang yang duduk didepan itu.
"Permisi, duduklah disana ada bangku kosong di dekat jendela," ucap pelayan yang lain seraya menunjukkan bangku yang kosong.
"Tidak saya disini saja karena saya menghindari dua orang itu, mereka sedang pedekate," ucap Andi seraya melahap makanannya dengan suapan besar serta menunjuk Moza dan Virus lewat sisi jendela
"Pedekate?" Tanya Pelayan tak mengerti karena lagi-lagi Andi memakai bahasa gaul Indonesia.
"Kencan," jelas Andi kemudian.
"Oh saya mengerti, kalau begitu duduklah disini," ucap pelayan itu seraya memberikan kursi untuk Andi duduk.
"Terimakasih," ucap Andi kemudian ia duduk di kursi yang di berikan pelayan.
Tak berapa lama pelayan yang lain keluar untuk mengantarkan pesanan Virus dan Moza. Virus mencoba melihat kedalam mencari Andi yang belum keluar dari dalam.
"Kenapa Andi lama sekali?" Tanya Virus pada Moza
"Mungkin perutnya sakit,"
"Mungkin, hemm Moza makananmu sepertinya enak," ucap Virus sembari melirik makanan Moza di hadapannya.
"Kau mau mencicipinya, ambillah," ucap Moza seraya menyodorkan piringnya.
Virus mengambil garpunya dan mencoba mencicipi makanan pesanan Moza lalu memakannya.
"Hemm enak, lumayan," ucap Virus setelah beberapa detik mengunyah
"Punyamu sepertinya juga lezat," ujar Moza
"Kau mau?" Tanya Virus yang tanpa menunggu jawaban dari Moza ia langsung mengambilkan makanan untuk wanita itu dan menyuapkannya. Moza sedikit ragu memakannya.
"Ini, makanlah," titah Virus yang masih dalam posisi memegang garpu dihadapan wajah Moza dan berniat untuk menyuapkan, Moza lalu memakannya.
"Hemm ini terlalu pedas, tapi enak," ucap Moza sembari mengunyah makanan itu. Ia tak menyadari ada sisa makanan di pinggir bibirnya.
Virus mengambil tisu dan membantu membersihkan sisa makanan di pinggir bibir Moza. Moza terkejut, Virus tak menyadari sikapnya. Setelah pria itu sadar ia langsung berkata, "Maaf, jika aku tak sopan. Aku hanya ingin membantu membersihkan,"
"It's okay, santai," jawab Moza yang sebenarnya didalam hatinya membuatnya berdebar.
"Maaf lama, perutku sedikit mulas," ujar Andi
"Hemm, makananmu belum datang. Aku akan menanyakannya pada pelayannya ," ucap Virus yang ingin segera beranjak pergi namun Andi mencegahnya.
"Jangan, tidak usah. Tadi aku memintanya untuk di bungkus. Sini uangmu biar ku bayarkan," jawab Andi yang langsung meminta uang agar pria itu tidak menanyakan bungkusan didalam.
Setelah menghabiskan makanannya, Andi membayarnya dan mereka pergi menuju penjara, tempat dimana Valeria ditahan. Moza sebenarnya sangat tidak suka. Namun ia menahannya, ia tidak ingin bersikap seperti anak kecil yang tidak ingin bertemu dengan musuhnya.
Sesampainya di depan kantor polisi, Andi turun dan masuk kedalam sedangkan Moza dan Virus menunggunya di dalam mobil yang terparkir jauh dari kantor polisi.
Tak berapa lama Andi keluar dan kembali kedalam mobil.
"Ada satu polisi yang menyetujuinya tetapi ia menginginkan uang lebih. Transaksinya sepuluh menit dari sekarang di ujung gedung itu," ucap Andi seraya menunjukkan gedung yang dimaksud. Gedung itu berada di seberang kantor polisi.
"Dia ingin uang dahulu? Aku tak bisa memberikan lebih jika tak saling kenal," ujar Virus.
"Itu terserah kau bagaimana mengatasinya nanti, aku hanya menyampaikan keinginannya," ucap Andi
Setelah berpikir sedikit lama, Virus akhirnya menyetujuinya. Ia memakai masker yang menutupi wajahnya juga topi dan jaket dengan kerah menutupi lehernya. Bersama Andi ia menunggu disamping gedung, setelah uang diserahkan. Polisi itu berusaha lari.
Virus mengejarnya dan beberapa langkah lari ia berhasil menangkap polisi itu.
"Kau, ingin menipu ku hah?" Hardik Virus seraya memegang kerah seragam polisi itu ke hadapan wajahnya.
Polisi itu hanya melihat tatapan Virus yang mengerikan, ia pun sedikit takut.
"Maaf, Aku ingin mengeluarkannya namun sedikit susah. Aku polisi baru tetapi aku butuh uangnya," ujar polisi memberikan alasannya.
"Tapi aku butuh orang itu untuk segera keluar dari sana," ucap Virus.
"Baiklah ikut aku kedalam, aku akan memikirkan caranya," ujar polisi itu.
Sesampainya didalam ternyata aksi polisi itu diketahui Inspektur Bryan yang menangani kasus Valeria. Mereka berdua dipanggil ke ruangannya. Virus diminta untuk membuka wajahnya. Untung saja pria itu berjaga-jaga memakai topeng yang barusan ia kenakan. Meskipun ada sedikit yang terlihat sobek, tetapi Virus tidak kehilangan akal. Ia menutupi lukanya dengan kasa perban.
Inspektur Bryan meletakkan tangannya di depan meja dan meminta Virus memberikan penjelasan.
"Aku ingin membebaskan Valeria," ujar Virus dengan suara di bedakan dan dengan alasan yang menyedihkan
"Tiga ratus ribu dollar, dia akan bebas," ujar Inspektur Polisi itu
Tanpa pikir panjang Virus lalu memberikan uang yang diminta ke atas meja. Inspektur Bryan tersenyum lantas menyuruh polisi yang satunya untuk mengeluarkan Valeria.
Virus keluar dan menunggunya di depan lobby, tak berapa lama Valeria keluar.
"Kau membebaskan ku?" Tanya Valeria
"Iya, kau bebas sekarang," jawab Virus
Tiba-tiba ia menghamburkan dirinya memeluk Virus seraya mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih, padahal aku telah mengecewakan mu. Aku telah jahat padamu tapi kau malah...hiks," ujar Valeria dengan mengeluarkan air matanya.
Rupanya ia sengaja memeluk Virus karena melihat Moza yang saat itu masuk kedalam kantor polisi. Moza masuk ke dalam kantor polisi karena Virus lama didalam dan dia khawatir. Tetapi malah Moza mendapatkan pemandangan yang tidak menyenangkan.
Moza memundurkan langkahnya ia pun berlari ke dalam Van dengan bendungan air mata.
"Aku bodoh mengharapkannya, aku tidak akan mengharapkannya. Hah sakit sekali," ucap Moza dengan lari kecilnya. Tak lama kemudian air mata yang terbendung itu keluar. Sembari berlari ia menyeka air mata itu dan kembali ke masuk kedalam mobil dengan tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.
"Mana Virus?" Tanya Andi
"Dia sudah keluar, sebentar lagi kemari," jawab Moza dengan senyum kecil yang dipaksakan.
"Kalau kau ingin menangis jangan menahannya," ujar Andi yang mengerti perasaan Moza.
Setelah mendengar itu Moza makin menangis dan segera menghapus air matanya saat tahu Virus dan Valeria akan naik ke mobil.