My Name Is Virus

My Name Is Virus
I Don't Care



Gio memasuki halaman parkir sebuah pub tertulis disana Bar and Lounge. Moza sudah malas sekali berada disana, dia tidak ingin berakhir mabuk. Diego pasti akan memarahinya habis-habisan.


"Kita pesta kesini?" Tanya Moza


"Ya, kenapa? Kau bukan anak kecil lagi sayang," ucap Gio


Moza risih dengan sebutan sayang, karena sebenarnya Mereka hanya teman biasa.


"Aku kira kita akan ke pesta biasa, ke rumah atau cafe atau restauran,"


"Come on beibs, aku yakin kau akan menyukainya didalam. Ini akan seru," ucap Gio


"Oke tapi aku tidak ingin minum alkohol," ucap Moza


"Santai sayang, kalaupun kau minum tak apakan? Kau sudah dewasa, haha kau tidak ingin kan semua temanmu menghinamu anak mama," cibir Gio


Moza tidak pernah menyentuh benda beralkohol itu. Dia pernah menyentuhnya saat putus cinta dengan pacarnya yang dahulu itu pun karena ajakan teman-temannya dan Diego memarahinya habis-habisan. Setelah itu Moza tidak berani lagi menyentuh minuman beralkohol itu.


Mereka masuk dan beberapa teman menyapanya, Moza balas menyapa dan memeluk teman wanitanya yang sudah lama tidak bertemu dengannya.


"Moza kau semakin cantik, wow primadona sekolah kita lahirnya datang ke pestaku," ucap Andrew menyapa Moza.


Moza hanya tersenyum kecil, sebenarnya ia tidak suka mendapatkan julukan primadona. Karena banyak wanita yang lebih cantik dan lebih mempunyai kelebihan dibandingkan dengannya.


Acara dimulai, Andrew mengocok botol yang berisi minuman bersoda dan beralkohol lalu membukanya. Membuat soda itu menyemburkan keluar dan pria itu menyiramkannya ke teman-teman lainnya. Moza memundurkan langkahnya agar tidak terkena cipratan soda yang menyembur keatas.


Mereka membuat suatu permainan 'Truth or Dare' (Kebenaran atau tantangan )Tetapi mereka tidak boleh memilih kartu Truth atau Dare tetapi bergilir jika teman sebelah telah mengambil Truth maka teman sebelahnya harus mengambil Dare yang artinya mereka harus melakukan tantangan mencium pria yang kau sukai atau meminum alkohol.


Ketika sampai pada giliran sampai pada Moza, wanita itu tentu saja memilih meminum alkohol.


"Moza kau tidak mencium Gio?" Ujar Andrew


"No no no, dia bukan pacarku," jawab Moza seraya mengambil gelas kecil yang berisi minuman beralkohol. Ketika Moza akan meneguknya. Ia terlihat ragu.


Screeets


Virus mengambil minuman itu dari tangan Moza lalu meminumnya.


"Dia punya masalah lambung dan Aku menggantikannya," ucap Virus yang membuat Moza terkejut dengan kedatangannya.


"Hey siapa pria itu," ujar teman wanita Moza


"Oh kau yang mengaku sebagai tunangannya ya? Kau ini merusak pesta saja, pergi!" seru Gio yang mendorong keras dada bidang Virus.


"Keamanan," pekik Andrew


"Hemm guys, dia temanku biarkan dia ikut dengan kita," ucap Moza seraya mendelikkan matanya ke arah Virus.


Virus tersenyum pada Moza dan mengedipkan satu matanya. Beberapa teman wanitanya saling berbisik tentang ketampanan Virus.


"Moza dia temanmu? Kenalkan pada kami," bisik temannya yang bernama Gisele.


"Kenalan saja sendiri," ucap Moza yang mulai malas dengan temannya itu. Ketika ada pria tampan mereka langsung saja mendekat bagaikan harimau betina yang siap menerkam mangsanya.


Virus dimasukan dalam putaran dan menjadikan Moza kembali mengambil langkah Dare. Moza memilih mengambil minuman lagi tetapi temannya melarang.


"What, tadi rulesnya tidak seperti itu, aku tidak mau main," ucap Moza


"Kau ini tidak sportif, aku tuan rumahnya jadi suka-suka aku jika mengganti rulesnya," ujar Andrew tak mau kalah


"Ayo Moza kau cium seseorang," seru teman lainnya


Virus mengambil kesempatan dalam kesempitan dia tidak akan membiarkan Moza mencium pria lain. Ia pun mendekat meraih tengkuk Moza dan menciumnya secara tiba-tiba. Membuat mata Moza terbelalak dan jantungnya mendadak memainkan genderang seperti akan perang.


Beberapa temannya mengambil momen abadi itu, ia memotret Moza dan Virus berciuman. Moza mendorong Virus, ia tidak ingin menjadi obyek permainan. Wanita itu mengambil tasnya dan keluar dari permainan.


"Moza," pekik Virus seraya mengejar Moza yang sudah menjauh.


Ia meraih tangan Moza untuk menghentikannya, mereka masih berada didalam bar dan sangat berisik sehingga Moza dan Virus harus berbicara keras.


"Lepas!" hardik Moza


"Maaf Moza aku tidak ingin memanfaatkan mu, aku hanya tidak ingin kau mencium orang lain,"


"Lalu kau siapa seenaknya mencium ku!" Seru Moza


Ia merasa dirinya dipermainkan oleh Virus. Moza berpikir jika Virus playboy. Pria itu mendekati Valeria dan baru beberapa jam berfoto mesra dengan wanita itu dan sekarang dia mencium Moza.


Virus tak bisa menjawab, karena dia juga salah. Moza menunggu jawaban Virus beberapa detik sembari menatapnya tajam lalu pergi keluar dari tempat berisik itu. Virus mengejarnya kembali.


"Moza, aku berbuat seperti itu karena aku peduli padamu. Aku...aku mencintaimu," ucap Virus


Moza berbalik dan semakin kesal, ia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Valeria yang bersandar di bahunya.


"Bravo, kau bilang cinta tapi siang tadi kau bermesraan dengannya. Lihat! sekarang kau bilang cinta? Aku tidak percaya, dan aku tidak peduli lagi padamu," seru Moza memasukkan kembali ponselnya setelah memperlihatkan foto mesranya dengan Valeria.


"Valeria, astaga dia membuat Moza marah, itu artinya Moza cemburu," gumam Virus yang masih berdiam ditempatnya namun Moza sudah melangkah pergi.


"Moza, tunggu kau mau kemana malam begini," teriak Virus tetapi jalannya terhalang sebuah mobil yang akan melintas pulang.


Virus kehilangan jejak Moza, pria itu melihat kiri dan kanan seraya berkacak pinggang.


"Huh kemana wanita itu," ucap Virus kemudian membuka tab pelacaknya


Terlihat Moza sedang berada beberapa blok dari tempatnya berdiri, Virus memasukkan tabnya dan menyusul Moza. Sementara dari arah belakang, ada yang membekap mulut Moza. Wanita itu ditarik kebelakang dan ingin dibawa ke suatu tempat oleh pria berbadan besar. Moza tak ingin kalah, ia lalu menggigit telapak tangan pria yang menutupi mulutnya tanpa kain ataupun tisu.


"Argghh dasar wanita jalaang," seru pria berbadan besar itu seraya melepaskan tangannya yang kesakitan hingga berbekas pada telapak tangannya.


Kemudian Moza berbalik dan segera menendang bagian sensitif pria berotot itu. Pria itu semakin marah dan mengeluarkan benda tajam dari sakunya. Moza memundurkan langkahnya kemudian segera berlari. Namun wanita itu salah masuk gang buntu, si pria kekar semakin tersenyum lebar.


"Haha mau lari kemana kau," tawa pria itu menyeringai


Moza ketakutan, saat ini ia tidak membawa pistol pemberian Virus dan wanita itu berharap Virus cepat datang dan menyelamatkannya.


Debuug


Virus menendangnya dari arah belakang dan membuat pria itu jatuh tersungkur. Moza tersenyum senang, ia sedikit lega. Virus lalu menyuruh Moza lari dan memanggil bantuan. Wanita itu menurut lalu meminta bantuan.


Tak berapa lama Moza datang bersama dengan warga setempat namun ia malah mendapati Virus tergeletak di jalanan dengan tangan berdarah memegang perutnya. Sementara pria berbadan kekar itu tak kelihatan batang hidungnya.