My Name Is Virus

My Name Is Virus
Belah Duren



Tiga hari kemudian.


Virus sudah mulai membaik dan mereka diperbolehkan pulang. Saat berjalan menuju pintu keluar rumah sakit, ada seseorang yang berjalan terburu-buru lalu tubuhnya bertabrakan dengan Virus


"Maaf," ucap pria yang menabrak Virus


"No problem,"


Pria itu menatap Moza yang menggandeng tangan Virus. Ia masih kenal dengan wajah Moza. Juga ada Rachel disamping Moza.


"Kau... apa kau Virus?" Tanya pria itu.


"Ya benar, kau siapa? Ada apa?"


Pria itu menolah kanan dan kiri dengan rasa takut. Lalu menarik lengan Virus seraya berkata, "Ikuti saya," ucapnya


Entah apa yang ingin pria itu katakan dan Virus memilih mengikuti pria asing itu dan meninggalkan Moza dengan ibunya.


"Stop, bicarakan disini. Siapa kau dan ada perlu apa?"


Virus merasa lorong rumah sakit itu sudah sepi dan jauh dari keluarganya.


"Aku, Eric... orang suruhan Gordon,"


"Hmmm? Apa maksudmu langsung saja, jangan berbelit,"


Dan pria itu pun mulai menjelaskan secara langsung hingga membuat Virus terkejut. Tak hanya itu, Eric juga membeberkan bukti yang ia punya.


"Gordon! Beraninya dia ingin mencelakai istriku," gumam Virus dengan mengepalkan tangannya.


"Kenapa kau mengakuinya dan datang padaku?"


"Aku ingin dibunuh. Gordon membayar polisi dan menyuruh anak buahnya untuk membunuhku, tetapi aku berhasil kabur dari sel tahanan itu. Aku mengatakan padamu karena kasian padamu. Gordon tidak menyukai istrimu dan keluarganya. Dia mencoba membunuh Istrimu saat itu dan tidak menutup kemungkinan jika dia melakukannya lagi," Eric menyulutkan api emosi di hati Virus. Dia pandai menambahkan kata hingga Virus makin membencinya.


Setelah perbincangan itu, Virus cepat-cepat bergegas pulang. Ia ingin membuat perhitungan pada Gordon.


"Ayo Moza, Bu kita pulang," ucap Virus dengan berjalan terburu-buru


"Ada apa sebenarnya?"


"Moza tidak boleh tahu, dokter bilang Moza tidak boleh banyak pikiran dan aku tidak ingin menambah beban pikirannya," batin Virus


"Aku lelah, sebaiknya kita pulang dan bercinta," bisik Virus ditelinga Moza dan membuat wanita itu terkekeh mendengarnya.


Diego, Valeria dan Chris sudah pulang lebih dahulu ke apartemen mereka. Mereka berencana kembali ke Nevada, kota asal mereka. Tidak sekarang tetapi mereka akan menunggu keadaan Diego membaik.


Malam itu, dikamar sebelum tidur berbagai alasan Virus berikan agar pria itu mendapatkan ijin ke luar kota.


"Ayolah sayang, boleh ya. Sehari saja aku disana, setelah urusanku selesai. Aku langsung kembali," ucap Virus sembari memeluk Moza dari belakang seraya menciumi pipi dan lehernya.


"Kau belum sembuh benar sayang,"


"Aku sudah sembuh, mau ku buktikan? Bagaimana kalau kita melakukannya sekarang,"


"Hah??"


"Jangan pura-pura tidak tahu," Virus menggelitik pipi Moza dengan kumis dan jenggotnya yang tebal


"Haha itu geli sayang," Moza berusaha melepaskan dirinya dari Virus yang terus menggelitik dirinya. Tak hanya kumisnya yang membuatnya geli tetapi Virus juga menggelitik bagian pinggang Moza.


Moza berhasil lepas dari Virus, karena Virus sengaja membiarkannya. Biar seperti kucing-kucingan ala India, tapi tidak ada gelinding putar-putar di taman berumput ya. Gatal pastinya. Ini kan di rumah, lebih tepatnya didalam kamar bukan rumput. Dan tidak ada tarian ala India, hanya kejar-kejaran kecil.


"Mau lari kemana sayang? Kemarilah, come to papa," ujar Virus


Virus mendekati Moza yang sudah bersiap berlari tetapi ia menangkap dengan langkah kakinya yang besar.


Ia mendapati lengan Moza kemudian mendekatkan tubuhnya. Mereka berdua bertatapan dengan perasaan saling ingin.


Dimulai dari ciuman-ciuman kecil dan semakin lama Virus semakin bergairah. Kecupan Virus mulai beralih ke leher dengan tangan yang sudah menerobos masuk kedalam pakaian Moza. Menyentuh permukaan kulit perutnya yang terasa mulus.


Virus kembali mengecup bibirnya dan membuat Moza memundurkan langkah hingga punggungnya mengenai dinding. Moza mengenakan kaos longgar dan terlihat sangat seksi.


Virus menaikkan kaos Moza dan meloloskannya ke atas kepala Moza dan membuka bra nya. Terlihat dada yang indah, yang pernah Virus lihat sekali dengan secara tidak sengaja beberapa detik saat itu. Kini pria itu bisa melihatnya kapan pun.


Terlihat wajah Moza yang sedikit merona karena malu.


Virus menyesap puncak dada Moza yang terasa kenyal, ia memainkan dengan lidahnya. Nikmat yang dirasakan Moza hingga wanita itu mengeluarkan lenguhan. Kedua tangan Moza membelai kepala Virus sesekali memejamkan mata karena nikmat yang dirasakannya.


Pria itu membuka pakaiannya karena tiba-tiba suhu tubuhnya terasa panas. Sebenarnya pria itu ingin melakukannya dengan posisi berdiri. Namun Moza belum pernah melakukan dan pasti akan terasa sakit untuknya.


Jadi, Virus menggendong Moza dan membawanya ke atas ranjang. Pergelutan dimulai kembali. Virus mencium bibir Moza dan seluruh tubuhnya hingga tiba diantara kedua pahanya. Ia membukanya lalu membenamkan wajahnya disana, mencium aroma Moza.


"Wangi yang khas, tidak bau dan aku suka," batin Virus dan mulai memainkannya dengan lidahnya. Membasahinya.


Moza mengeluarkan suara deshahan menandakan jika dirinya sangat menikmati servis yang diberikan Virus. Pria itu mencium kembali istrinya sebelum memasukkannya. Sementara Moza, sesuai insting kewanitaannya mulai memainkan senjata pamungkas milik Virus.


Masih dibalik kain namun sudah terasa keras dan sedikit basah. Langsung saja Moza menarik kain segitiga itu kebawah dan memainkannya dengan irama yang pelan naik kemudian turun.


"Besar, apakah benda seperti ini bisa masuk ketubuhku," batin Moza yang ternyata diluar prediksinya.


"Jangan pikir macam-macam dan lakukan yang terbaik," batin Moza kemudian menambah kecepatan pergerakan tangannya. Virus sedikit mendeshahh. Ia semakin bergairah.


Tak berapa lama, Virus merasakan ada sesuatu yang menyedot dirinya dan terasa hangat lebih nikmat ketimbang melakukannya sendiri. Pria itu pun melihat Moza yang sudah memasukkan rudal miliknya kedalam mulutnya.


"Ini bukan mimpikan...ooh...," Gumam Virus membuat Moza menghentikan aktivitasnya dan mengangkat kepalanya


"Kau bilang apa sayang,"


"Tidak bukan apa-apa. Rebahkan tubuhmu, aku akan memasukkannya," ucap Virus setengah berbisik.


Setelah Moza merebahkan tubuhnya, Virus melakukan gesekan biola diatasnya. Membuatnya lebih licin sebelum menusuknya lebih dalam.


"Sayang, ini akan terasa sedikit sakit. Tahan ya,"


Moza mengangguk pelan. Terlihat wajahnya menahan sakit hingga ia menutup matanya dan mengatupkan bibirnya namun perlahan wajahnya terlihat sangat bergairah menikmatinya meski terasa sedikit sakit.


"Keluarkan didalam mulutku," pinta Moza,


"Hah?" Virus mengernyitkan alisnya kemudian mengabulkan keinginan Moza.


"Jadi begini rasanya," ucap Moza


"Memang apa rasanya?"


"Manis," jawab Moza


"Aku tidak yakin itu manis,"


"Sssttss jangan banyak bicara aku ingin membersihkannya,"


Moza berniat membersihkan cairan formula putih itu namun malah membuat rudal milik Virus kembali aktif. Dan ronde kedua pun dimulai.


Moza dan Virus begitu bergairah hingga mereka keluar bersamaan. Formula kedua pun keluar, kali ini Virus memasukkannya kedalam tubuh Moza.


"Hemm terasa hangat di dalam," batin Moza.


Sedikit melelahkan, karena kondisi luka mereka berdua baru saja membaik.


"Aku mencintaimu," bisik Virus sambil menyelimuti Moza dan memeluknya sebentar sembari mengatur napas.