
Pagi itu matahari sudah menampakkan wujudnya, dan sinarnya memasuki jendela kamar Virus.
Pria itu sangat tidak nyaman, ada area lengket dan sudah mengering di bagian bawahnya. Dan lengannya terasa berat dan pegal. Namun ia mencium aroma wangi yang sangat ia hapal. Ia juga merasakan ada yang memeluk tubuhnya.
Virus terbangun namun masih memejamkan mata. Tangannya merambat menyentuh sesuatu yang memeluknya. Sebuah tangan dengan ukuran lengan kecil dan kulitnya terasa halus.
Perlahan ia membuka matanya dan melihat sesuatu yang menindih lengannya.
"Moza disebelah ku," batin Virus seraya mengecup pucuk rambut Moza.
"Wangi dan aku menyukainya," batin Virus
"Tapi kenapa aku merasa tidak nyaman dibagian bawah ya," Virus pun meraba kedalam dan sedikit mengingat
"Astaga apa aku baru saja mimpi basah? Moza tidak boleh melihat ini. Huh padahal aku berharap itu kenyataan. Aku lupa jika pipi Moza terluka, mana mungkin dia bisa menyepong seenak itu. Tapi rasanya bagaikan beneran," batin Virus dengan tawa kecil saat mengingat mimpi yang terasa bagaikan nyata.
Perlahan ia menurunkan lengan Moza dari atas dadanya. Lalu Virus menuruni ranjang dengan pelan-pelan. Ia segera ke kamar mandi yang ada didalam ruangan itu.
"Pagi Mr. Virus," tiba-tiba suster wanita masuk tanpa aba-aba mengejutkan Virus yang sudah berusaha berjalan mengendap-endap agar Moza tidak terbangun.
"Iya pagi,"
"Bisakah Anda kembali ke tempat tidur? Saya akan memeriksa kondisi Anda,"
"Wanita itu saja dulu, Saya harus ke toilet sekarang," ucap Virus menunjuk Moza, kemudian segera masuk ke toilet.
"Saya lihat kemarin, Anda berjalan kesana kemari, tapi sebaiknya Anda jangan terlalu banyak bergerak," perawat itu mencoba menasihati sembari memeriksa kondisi Moza yang masih tertidur. Namun Virus tidak mendengarnya.
Saat perawat itu menyuntikkan obat berupa cairan kedalam selang infus, Moza terbangun karena ada sedikit rasa nyeri di punggung tangannya lebih tepatnya, tempat masuk jarum infus.
"Pagi Nyonya Moza, kelihatannya obat itu bekerja karena tidur Anda sangat pulas," ucap sang perawat
"Hmm pagi suster, iya sepertinya itu pengaruh obat. Karena biasanya, saya tidak pernah bangun kesiangan seperti ini," ucap Moza
"Ya kami menambahkan obat tidur untuk mengistirahatkan beberapa organ tubuh Anda. Itu sangat penting mengingat kondisi Anda terutama pada bagian kepala, yang belum sepenuhnya membaik," jelas perawat dan sudah selesai memeriksa Moza.
"Sudah selesai Nyonya,"
"Terimakasih,"
Perawat itu memindahkan beberapa obat dan peralatan medis ke meja disamping ranjang Virus. Ia belum keluar dari ruangan itu, karena masih menunggu Virus selesai dari toilet
"Kemana suami saya?" Tanya Moza karena dia belum melihat Virus. Dan saat itu tidak ada suara dibalik kamar mandi.
"Dia di dalam," ucap perawat seraya menunjuk kearah toilet dengan tangannya.
Beberapa menit kemudian, Virus telah keluar dengan mengenakan pakaian khusus pasien yang telah tersedia di ruangan kamarnya. Tapi rumah sakit tidak menyediakan pakaian dalamnya, Virus juga tidak menemukan pakaian ganti miliknya. Jadi tentu saja bagian bawahnya terasa dingin dan bergerak tak beraturan. (Jangan dibayangkan)
Dia berjalan dengan perlahan dan sedikit menutupinya dengan pakaian kotor miliknya.
"Sayang, kenapa dengan jalan mu?" Tanya Moza yang merasa aneh dengan cara berjalan Virus
"Hemm tidak apa-apa," jawabnya singkat dengan senyum yang merekah amat manis.
"Bisakah kau menghubungi Gordon, suruh dia membawa pakaian ku," pinta Virus pada perawat.
"Bisa, nanti akan Saya hubungi. Tetapi jika Tuan mau, kami juga bisa menyediakan pakaian apa saja fasilitas VVIP, tentu saja semua itu akan tetap masuk ke tagihan pembayaran nanti,"
"Baiklah kalau begitu berikan aku pakaian komplit,"
Virus kembali naik ke ranjang, merebahkan tubuhnya kemudian segera menyelimuti sebagian tubuhnya. Dan sang suster pun memasang kembali infus yang sudah dicopot Virus.
"Aku tak membutuhkannya aku merasa lebih baik,"
"Itu menurut Anda, tetapi Saya perlu memberikan obat berupa cairan yang di suntikan kedalam selang infus,"
"Sudahlah sayang, kau harus menurut agar cepat sembuh. Oke," ucap Moza
"Hemm ok,"
Setelah melakukan pemeriksaan dan pemberian obat lewat suntikan selang infus, Suster pun keluar dan beberapa menit kemudian Gordon datang dengan penuh senyum lebar diwajahnya.
Gordon sudah tidak membenci Moza lagi, namun ada perasaan bersalah disana. Dan perhatian pun mulai ia berikan untuk Moza.
Sementara Moza merasa aneh.
"Bukankah semalam dia tak menyukaiku? Tapi kenapa sekarang dia terlihat peduli, tulus dan sikapnya berbeda dari kemarin? Ataukah karena ada Virus disini?" Batin Moza
"Hemm i-iya ya masih terasa sakit, Tuan," jawab Moza
"Jangan memanggilku Tuan. Panggil aku Ayah," ujar Gordon sembari membelai rambut Moza.
Virus memicingkan mata melihatnya, di satu sisi sikap Gordon amat berbeda dengan apa yang diceritakan Valeria padanya.
.
.
"Ahh lapar sekali. Sebaiknya aku keluar cari makan, karena Diego juga belum bangun," gumam Valeria
Ia pun bergegas ke kantin rumah sakit. Namun saat melangkah keluar rumah sakit, Valeria melihat Gordon yang baru saja masuk ke dalam mobil. Valeria pun mengikutinya dengan taksi yang baru saja berhenti menurunkan penumpang dan
"Permisi" ucap Valeria pada penumpang yang ingin menutup kembali pintu mobilnya.
"Oh silahkan," ucap sopir taksi pria itu
Segera Valeria masuk dan menyuruh sang taksi mengikuti mobil yang ada didepannya. Terlihat mobil Gordon berbelok ke arah kanan, namun saat Valeria mengikut arahnya, ia memasuki sebua lorong sempit dan buntu.
Mobil Gordon berhenti didepan, dan datang mobil lain yang berada dibelakang Valeria. Mereka menutup jalan keluar.
"Nyonya, kenapa ini. Siapa sebenarnya mereka? Sungguh saya tidak ingin terlibat. Silahkan Anda turun," ucap sopir taksi
"Apa? Kau ingin meninggalkan ku?"
"Tidak ada pilihan," ucap sopir taksi
Tak berapa lama anak buah Gordon turun, lalu diikuti oleh Gordon. Si anak buah mendekati mobil taksi, menggedor jendelanya dan menyuruh Valeria keluar.
"Nyonya keluarlah! Aku tak ingin dapat masalah.
Dengan menelan salivanya, Valeria keluar dari taksi setelah membayarnya.
"Biarkan taksi itu pergi," pinta Valeria.
Salah satu anak buah Gordon menyuruh kawannya untuk memundurkan mobil yang berhenti dibelakang taksi. Kemudian ia memegang lengan Valeria dan membawanya mendekati Gordon.
"Kenapa kau mengikuti ku? Kau tahu sedang berurusan dengan siapa? Urusanku itu hal yang pribadi, aku tidak ingin rahasia mafia menjadi bocor karena mu,"
"Cih, aku tidak peduli dengan urusan pekerjaan mafia mu itu. Aku hanya ingin mendapatkan bukti, jika kau yang telah membuat kecelakaan itu terjadi,"
"Aku sudah bilang padamu, aku tidak melakukannya. Dan lagi sekarang aku sudah bisa menerima Moza sebagai menantuku. Dan aku tidak suka ada orang yang mencampuri urusanku dan menjadi kompor antara aku dan anakku,"
"Lihat saja nanti kebohongan mu akan terungkap," desis Valeria
"Jika kau keras kepala dan berusaha membuat Virus membenciku, maka aku juga bisa merusak hubunganmu dengan Diego,"
"Haha kenapa? Kau takut jika Virus membenci mu, itu artinya kau sedang melakukan sebuah masalah. Biar aku tebak. Kau terlibat dalam kecelakaan keluarga Federic, sudah pasti kau yang menjadi dalangnya. Aku benar kan?"
Valeria tersenyum sinis kemudian pergi meninggalkan Gordon. Saat itu Gordon ingin sekali menghabisinya, namun itu berarti dia akan berhadapan dengan Virus.
"Aku sungguh tidak ingin memperkeruh masalah ini. Tapi kau yang memulainya Valeria," gumam Gordon
Pria itu kemudian melancarkan rencananya.
.
.
.
Valeria kembali ke rumah sakit. Perutnya sudah kenyang terisi makanan. Namun saat memasuki kamar Diego, ada hawa dingin mencekam. Diego terduduk dengan sebuah ponsel di genggaman tangannya dan menatap tajam kearah Valeria.
"Hai sayang," ucap Valeria riang, namun wajah Diego masih ditekuk.
"Apa yang dilakukan pria tua itu? Diego pasti berpikir macam-macam," batin Valeria mendekati suaminya dan mencium bibir suaminya
Diego masih terdiam, dia tidak tersenyum dan tidak membalas kecupan Valeria.
"Ada apa?" Tanya Valeria
Diego hanya memperlihatkan ponselnya yang sedang memutar rekaman video Valeria dari belakang terlihat sedang mencumbu Virus.
"Astaga, kau lebih percaya video itu ketimbang aku?" Tanya Valeria.