My Name Is Virus

My Name Is Virus
Tragedi



"Aku tadi mendengar kau mengatakan cinta, rindu dan menciumnya dari telepon. Apa kau dan Virus, pacaran?" Tanya Rachel memperlihatkan raut wajah tak sukanya.


"Hemm iya," jawab Moza dengan malu.


"Kau boleh pacaran dengannya tapi aku tidak akan merestui hubungan mu dan Virus jika kalian menikah," ucap Rachel


"Bu, apa alasannya? Virus baik dan aku mencintainya sejak awal kita bertemu," ucap Moza meminta alasan yang pasti


"Sayang, dia itu pembunuh,"


"Dia sudah tidak membunuh lagi Bu. Penjahat yang sebenarnya sudah ditangkap dan bahkan sudah mati sebelum dipenjara. Dan saat ini dia fokus mengerjakan usahanya," jelas Moza


"Usaha? Dia pengusaha? Hah Moza suatu saat kau akan tahu Moza. Seorang pembunuh tetaplah pembunuh. Julukan itu akan melekat di dalam jiwanya, seperti pamanmu," ucap Rachel.


"Paman? Apa maksud Ibu? Aku tidak mengerti," ucap Moza


"Ah sudahlah, intinya aku tidak setuju dengan hubunganmu dan Virus. Titik!" Hardik Rachel seraya masuk kedalam kamar dan sedikit membantingnya.


Dia pun menitikkan air mata seraya menatap sendu wajah suaminya dari foto yang terpajang di nakas tempat tidur. Ada sesuatu yang ia simpan dan masih menjadi misteri.


Sementara di sisi lain, di Indonesia.


"Virus, tak bisakah kita beristirahat dulu di tempat tidur. Aku sungguh tidak nyaman tidur di pesawat. Kita sebaiknya ke desa mu itu siang hari saja atau sorenya," ucap Andi yang sebenarnya sangat lelah duduk berjam-jam meski kursi pesawat itu sedikit nyaman. Tapi tidak seenak tidur di ranjang.


"Ya sudah kita cari hotel yang terdekat disana. Nanti kau tidurlah, biar aku yang ke desa ku sendiri," ucap Virus


"I like it," ujar Andi dengan wajah nakalnya.


Tentu saja pria itu akan membawa Virus ke hotel yang dia idam-idamkan. Mathias Lodge Amed, harga sewa kamarnya pun dua juta lebih. Tetapi Andi tidak bilang, dia membiarkan pria itu agar mengetahuinya sendiri. Virus sangat menikmati perjalanannya, lalu pria itu membuka mobil kemudian menghirup udara pagi dan menikmati suasana di kota Bali. Saking nyamannya udara semilir kota Bali membuat Virus terlelap Tidur.


Sementara di Nevada.


Moza masih membuat kue, sementara Rachel keluar dari kamar dan menuju dapur untuk membuat teh seraya memijat keningnya yang terasa pusing.


"Ibu kau kenapa? Kau pusing? Duduklah biar aku yang membuatkan teh untukmu," ujar Moza seraya mengambil alih membuatkan teh untuknya.


"Terimakasih, Moza," ucap Rachel dan kemudian duduk di kursi ruang makan.


"Virus, kemana dia?" Tanya Rachel yang tidak melihatnya sedari kemarin.


"Dia ke Bali dengan Andi, dia ingin menemui orang tua angkatnya," ucap Moza seraya memberikan teh panas di meja Rachel.


Setelah itu Moza mulai mencetak adonan yang tadi dia uleni, setelah itu di masukkan ke dalam oven lalu mengatur mengatur menit panggangan. Tak berapa lama ada yang mengetuk pintu rumahnya.


Tok Tok Tok


"Wait a minute," teriak Moza karena dia harus mengatur pengaturan oven terlebih dahulu.


Setelah selesai mengatur suhu dan lama durasi panggang pada oven, Moza berjalan menuju ruang tamu yang jaraknya sedikit jauh karena harus melewati beberapa kamar dan ruang keluarga.


Setelah sampai di ruang tamu, Moza mulai menyentuh daun pintu dan membukanya. Kedua matanya membulat besar, dan jantungnya berdegup dengan kencang. Ada rasa ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya.


"Hahaha kau terkejut dengan kehadiran ku?" Ucapnya dengan tawa terbahak-bahak memperlihatkan giginya yang baru saja ompong.


Mukanya menjadi lebam kebiruan. Mulut, pipi dan pelipisnya sedikit bengkak. Kakinya pun diperban namun tidak ada rasa jera untuknya.


Mata Moza berpaling pandangan menuju pada pistol yang di genggaman Darren. Pria itu mulai menarik pelatuk dan mulai mengarahkan pistol tepat di hadapan Moza.


Moza ingin berlari mengambil pistol yang ia letakkan di laci buffet televisi. Namun karena dirasa tempat itu cukup jauh dari jangkauannya, dia pun menutup pintu dengan segera.


Bruk


Pintu tak bisa ditutup, karena Darren menghalangi dengan kakinya yang tidak sakit, sembari mendorong pintu agar tidak tertutup. Dorong mendorong pintu pun terjadi, Moza kalah kuat. Darren lebih unggul dan Moza terjatuh karena dorongan pintu yang keras.


Darren mulai melangkah maju seraya menodongkan pistol ke arah Moza. Wanita itu memundurkan bokongnya dan ingin segera beranjak, ia ingin berlari menuju buffet televisi yang ada di ruang televisi. Namun sebelum Moza berhasil beranjak berdiri, Darren sudah menekan pelatuknya


Dor


Tembakan itu tepat mengenai dahi Moza hingga terlihat lubang kecil menganga dan keluar sedikit asap, serta darah mengucur bersamaan saat peluru itu terlontar ke dahinya.


Moza jatuh terlentang dengan mata terbuka lebar. Rachel mendengar suara tembakan, ia pun menghampiri asal suara tembakan yang terdengar samar-samar karena Moza menghidupkan radio dengan volume suara sedikit besar


"Moozaaaaa!" Teriakan Rachel memecah hebat ketika melihat anak gadisnya sudah tergeletak dengan wajah penuh darah.


Wanita paruh baya itu berjalan terburu-buru mendekati Moza dengan terpincang-pincang meski dengan bantuan tongkat.


Kemudian ia memukul Darren dengan tongkat penyangganya hingga pistolnya pun terlepas dari genggaman Darren.


"Dasar wanita tua, kau juga ingin mati hah??" Tanya Darren.


Rachel segera berlari lewat pintu samping sebelum Darren juga membunuhnya. Sekuat tenaga ia berlari meski kondisinya tak memungkinkan. Dia pun berhasil keluar dari pintu samping dan masuk ke dalam gudang yang berada disamping garasi. Kemudian mengunci pintu itu rapat-rapat.


Rachel gemetaran, dia mencoba menghubungi Diego tetapi lelaki itu tidak mengangkat teleponnya. Dia pun menghubungi Virus, namun tak ada sambungan. Jelas saja karena Virus telah berganti nomor negara.


Rachel memutar otak, ia ingat pernah meminta nomor telepon Andi dan Wasabi yang bernomor Indonesia. Segera saja Rachel menelepon Wasabi, hal yang sama pun terjadi. Pria itu tak mengangkat ponselnya. Satu-satunya ia harus menghubungi Andi, karena Moza tadi berkata Virus bersama Andi di Bali.


Rachel segera mencari nama Andi di buku teleponnya dan saat ingin menekan tombol telepon, pintu gudang itu terbuka keras hingga mengejutkan Rachel sampai menjatuhkan ponselnya sendiri.


"Kau mau lari kemana wanita tua haha," ucap Darren seraya mendekati Rachel.


Pria itu kemudian mencekik Rachel dengan kedua tangannya. Langsung saja tanpa rasa kasihan, Rachel menendang keras benda sensitif pria itu.


Duug


Darren kesakitan, Rachel pun terlepas dari cengkeramannya. Tapi belum sampai wanita itu pergi dari gudang, Darren mengambil pistolnya.


Dor.


Rachel tertembak di bagian punggungnya dan menembus jantung. Wanita itu tewas.