
Rencana yang terburu-buru memang berisiko dan pada kenyataannya mendadak berantakan karena seharusnya Virus harus naik ke tembok dari arah halaman belakang rumahnya sebelum api itu membesar. Namun tiba-tiba saja akses untuk naik ke tembok itu terhalang ternit yang ambruk dan tak ada jalan lain. Virus terjebak kobaran api.
Ia sempat terpikir untuk mengambil kain tebal atau selimut tapi jalannya terhalang oleh api karena semua sudah dilahap si jago merah. Kemudian kakinya tertimpa atap kayu yang roboh tepat di bawahnya.
"Arrrgh," pekik Virus
Seperti ada benda lancip dan berat yang menancap kakinya. Jika hanya kayu saja mungkin virus bisa mengangkatnya namun kayu itu sedang dilahap api.
Dan rupanya setelah Virus rasakan, bukan hanya kayu saja yang menimpa kakinya. Tetapi ada paku besar yang menancap kakinya. Darah segar terus mengucur dan Virus harus menahan sakitnya.
Virus membuka pakaiannya mencoba memadamkan api yang ada di kayu yang menimpa kakinya. Untung saja pakaian Virus terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar. Sehingga celananya tidak langsung terbakar terkena api. Meskipun begitu ia tetap merasakan panas.
"Virus, kau dimana?" terdengar suara Andi memanggilnya.
Virus tak dapat melihatnya karena asap hitam yang mengepul dan Virus semakin kekurangan oksigen.
"I'm here!" pekiknya.
Andi datang dengan menyemprotkan gas pemadam api serta selimut yang sudah dibasahi. Pria itu segera memadamkan api dan mulai mengambil kayu yang menimpa Virus.
"Tolong angkat kayu itu pelan-pelan. Ada paku di kayu itu dan saat ini sedang menancap di kaki ku," ucap Virus
"Astaga, oke hitungan ketiga. Aku angkat dan kau tahan, satu, dua, tiga..." ucap Andi yang langsung mengangkat kayunya saat hitungan ketiga.
Andi membuang kayu itu dan segera membalut kaki Virus yang sudah berdarah-darah.
Setelah itu Virus segera beranjak berdiri. Andi memimpin jalan, ia masuk dari tembok lain yang sudah ia padamkan apinya. Lalu Andi mulai menaiki tembok samping rumahnya dari kebun belakang, disusul oleh Virus. Sebelum naik ke tembok, Virus melihat air yang menetes dari selimut yang basah, dan itu bisa menggagalkan upaya pelarian diri mereka. Jangan sampai ada jejak yang tertinggal. Akhirnya Virus merusak keran air di halaman belakang. Setelah itu ia menyusul Andi naik ke atas tembok. Tak lupa jejak panjatan itu ia hapus dan menaruh kayu diatasnya lalu membakarnya.
Virus dan Andi berhasil keluar dari kobaran api. Rumah yang baru dibeli Virus juga bisa terkena api sewaktu-waktu jika pemadam kebakaran tak kunjung datang. Namun sebelum Virus dan Andi meninggalkan lokasi. Pemadam kebakaran pun akhirnya datang.
Di dalam mobil, Virus tengah kesakitan dan terus memegangi kakinya. Kayu besar disertai paku telah melukai kakinya hingga tibianya (tulang kering) terasa sakit dan berdenyut-denyut.
"Terimakasih Andi, huff aku tak menyangka api itu akan berkobar dengan cepat," ucap Virus
"Ya karena zat kimia yang kau sebarkan ke rumah itu terlalu banyak, api akan lebih cepat naik lebih cepat reaksinya dari pada bensin," ujar Andi
"Haha lihatlah wajahmu gosong seperti pantat panci di rumah mama ku," ucap Andi dengan candanya.
"Sialan," ucap Virus seraya memukul lengan Andi.
Andi mulai menyalakan mobilnya, Virus bersembunyi saat Andi mengeluarkan mobil dari rumahnya. Tentu saja Andi memakai topeng kulit sehingga aman baginya untuk keluar masuk menutup pagar. Agar tetangga tidak curiga, Andi berpura-pura panik dan takut jika rumahnya ikut terbakar.
"Astaga bagaimana jika api itu melahap rumahku. Aku tidak tahan melihatnya. Untung memang mengasuransikan rumah ku, tapi tetap saja aku malas mengurus prosesnya," ucap Andi
"Tenanglah itu pemadam kebakaran sudah datang, Aku rasa apinya tidak akan sampai ke rumahmu," ucap beberapa tetangga.
"Oh semoga. Maaf aku pergi dulu ada janji dengan klien. Tolong jaga rumahku ya, kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku," ujar Andi dan kemudian berlalu pergi sebelum mereka meminta nomer teleponnya.
"Kau sakit? Kenapa kau berkeringat?" Tanya Andi yang heran padahal dia menyalakan AC mobilnya
"Seperti kakiku semakin parah," ujar Virus yang kembali duduk dengan normal karena mereka sudah jauh dari rumah.
"Aku takut kau infeksi dalam karena paku itu terlihat karatan," ujar Andi.
"Sebelum sampai ke bus mini itu, cari apotek terdekat. Belilah obat infeksi apa saja untuk menyembuhkan luka dalam," ucap Virus
"Kau lupa di sepanjang jalan itu padang pasir. Tak ada perumahan, apalagi apotek. Supermarket aja tidak ada," ucap Andi.
"Kita putar balik, dan minta mereka menunggu sebentar," ucap Virus
"Ponselku dan earphone ku rusak, meledak karena tadi terkena zat berbahaya mu. Untung saja tidak meledak saat aku menelepon," ucap Andi
"Oke sekarang kau minum saja dulu, kau terlihat ngos-ngosan. Tenanglah, ambil napas dan tahan. Jangan dikeluarkan dan semoga kau tenang di alam sana," ucap Andi
Plaak
"Arghh, kau suka sekali memukul lengan ku. Aku mencoba untuk bercanda agar kau lupa dengan luka mu," ucap Andi
"Diam lah, huff," ucap Virus kemudian meneguk air mineral kemasan botol.
"Hey Virus, Aku putar balik. Kau menunduk lah, tutupi dirimu. Aku melihat ada yang aneh," ucap Andi yang sudah berputar balik. Dan Virus segera bersembunyi.
"Kau melihat apa?" Tanya Virus
"Aku lihat ada rombongan mobil tanpa plat nomor dan di plat nomer itu ada label King lalu simbol Cobra, sepertinya karena tidak jelas," ujar Andi
"Gawat, mereka sudah sampai sini. Menepilah ke semak-semak dan matikan mobilmu," ucap Virus.
"Tapi kita harus segera membeli obat-obatan itu," ujar Andi
"Tidak kita kembali ke bus, mereka itu cepat dan tak kenal ampun. Kita harus segera tiba ke rombongan Diego," ujar Virus
Andi kemudian menurut, ia menepikan mobilnya dan mematikan mesinnya hingga rombongan mobil itu lewat dan terlihat menjauh.
"Aman, sekarang nyalakan dan cepat pergi ke bus. Sekarang! Dan tambahkan kecepatan mu," ucap Virus.
"Asiiap," ucap Andi menirukan suara Atta halilintar.
Virus tidak bisa tertawa lagi, karena para mafia itu sudah sampai di dekat mereka. Virus tidak takut pada mafia itu karena dia sudah sering bertemu dengan orang-orang seperti itu. Tapi, ia memikirkan keselamatan keluarganya.
Virus harus segera sampai ke Texas. Ia mempunyai tempat perkumpulan rahasia. Anak buahnya berlatih kungfu dan tinju dan mereka juga belajar cara menembak. Sebenarnya Virus membangun tempat itu atas perintah Marco, pria misterius, tetapi tanpa sepengetahuan pria itu, Virus memperbesar tempat perkumpulan nya yang diberi nama Black Knight.