My Name Is Virus

My Name Is Virus
Don't Touch My Wife



Moza masih mempertahankan posisinya dengan terus menghalangi pria itu untuk tidak menyentuh atau bahkan mencumbunya. Meski rambutnya terasa sangat sakit di tarik keras oleh pria bertangan besar itu.


Napas Moza semakin tipis kehabisan oksigen, ia hampir tidak kuat menahan serangan yang dipaksa pria buas didepannya itu. Bahkan kakinya ikut menendang.


Darren semakin kuat seakan-akan tenaganya tak pernah habis. Ia malah semakin menyukai wanita yang pemberontak seperti Moza. Baginya itu sebuah tantangan untuk menaklukkan mangsanya.


Moza kembali menendang tetapi tangan liar itu malah menangkapnya dan semakin berani meraba paha lalu memasuki daerah rawan. Wajahnya berbinar dan tertawa senang. Sebelah tangan Moza terus menepis bahkan memukul dengan sangat keras. Begitu ada celah Moza menggigit lengan pria yang menarik rambutnya.


"Arrggh dasar jalaang!" Pekik Darren kemudian menampar pipi Moza dengan keras hingga kepalanya terbentur kaca jendela.


"Tolooong...!" teriaknya. Moza kembali berteriak meminta tolong seraya berusaha membuka handle pintu mobil, berharap mobil itu rusak dan kuncinya terbuka.


Selang beberapa waktu setelah Moza berteriak, jendela kaca dari sisi Darren pecah seketika. Pecahannya menggores pipi Darren. Pria itu marah dan mencoba keluar. Moza segera keluar saat pria itu membuka pintu. Moza tidak tahu siapa yang memecahkan kaca karena pandangannya tertutup dan yang ada dipikirannya adalah kabur dengan segera. Wanita itu berhasil keluar


Disaat yang bersamaan, Darren mencoba membuka pintu. Ia mengeluarkan satu kakinya keluar lalu membuka penuh pintunya untuk bersiap keluar. Namun sebelum itu terjadi pintu kembali tertutup dengan keras karena sebuah tendangan asteroid.


"Argggh Shiit fuuck!!" Segala macam umpatan kasar terlontar dari mulut Darren kakinya terjepit lebam dan bengkak mungkin juga sedikit patah.


Wanita itu sudah menjauh dari mobil dan berbalik untuk melihat siapa yang memecahkan kaca mobil itu dan membuat Darren berteriak.


"Virus," lirih Moza dengan wajah penuh peluh dan tubuh yang gemetar. Ada rasa aman ketika ia mengetahui kedatangan Virus.


Belum puas menghajar pria bajiingaan itu, Virus membuka kembali pintu mobil dan menarik kerahnya memaksa pria itu keluar.


Virus menghantukkan kepalanya dan mengenai hidung mancung Darren. Kembali pria itu mengerang, Darren mencoba melawan. Ia ingin meninju wajah Virus, namun Virus mengelak ke arah berlawanan. Tanpa jeda Virus juga membalas tinjunya ke wajah Darren.


Kreek


Rontoklah dua gigi Darren pada bagian atas yang sebelumnya terlihat kokoh. Pria itu meringkuk kesakitan bahkan ia menangis. Pengendara lain tak ada yang berani mencampuri urusan mereka berdua.


"Sayang apa yang dia lakukan padamu?" Tanya Virus pada Moza dari kejauhan.


"Dia mencoba mencium ku," ucap Moza terlihat ragu untuk mengatakan lebih Karen Darren meliriknya tajam.


"Lalu apa lagi yang dia perbuat?" Tanya Virus lagi.


"Di-dia menarik rambut ku ke belakang dengan kuat dan meraba paha ku dan ju-juga menampar ku," jawab Moza.


Virus kemudian menarik rambut Darren, pria itu kesakitan kembali rasanya seperti ubun-ubunnya akan tertarik. Virus juga menampar pria itu hingga Darren terjatuh ke aspal.


"Kau berani menyentuh istri ku hah!" Pekik Virus


"Aku saja belum pernah menyentuh pahanya, akan ku buat kau menderita," batin Virus


Virus sengaja memberi kelonggaran pada pria itu untuk menahan sakit, ia mengeluarkan putung rokoknya, menyalakan api dengan segera dan menghisapnya dengan sekali hisapan penuh lalu menghembuskan kan perlahan.


Virus berjongkok kemudian membuka paksa celana panjang Darren hingga terlihat pahanya yang putih.


"Ka-kau mau apa kau!" Seru Darren yang takut jika Virus akan berbuat sesuatu pada bagian perkasanya.


Moza segera memalingkan wajahnya ketika Virus membuka celana pria itu. Tak berapa lama Virus mengarahkan rokok ya ke arah paha pria itu dan kemudian mematikan putung rokoknya tepat di atas paha Darren. Pria itu berteriak kesakitan dan kepanasan. Paha mulusnya melonyos.


"Aku bisa membunuh mu sekarang. Kau ingin mati sekarang atau berlutut dan meminta maaf pada istri ku!" ucap Virus seraya menarik kerah Darren.


Wajah pria itu sudah babak belur, Virus menunggu jawaban.


"A-aku akan meminta maaf pada Mo-moza sekarang," jawabnya


Darren pun beranjak berdiri dengan kesakitan sembari mengangkat celananya dan memakainya kembali kemudian ia meminta maaf pada Moza dengan cara berlutut.


"Moza maafkan aku," seru Darren dengan singkat


"Cih begitukah caramu meminta maaf hah!" ujar Virus


"Moza, Aku mengaku salah dan maafkan aku karena meleceh kan mu. Sungguh maafkan aku Moza," ucap Darren


Meski belum puas namun Moza juga merasa kasihan karena Virus menghancurkan wajah Darren.


"Ia aku maafkan, dan aku mengundurkan diri," ucap Moza.


"Pergi kau!" seru Virus


Kemudian Darren pergi terbirit-birit dengan kaki setengah pincang. Ia masuk ke dalam mobil dan memukul setir kemudinya.


"Sial, brengseek!" gumam Darren dari dalam mobil.


Tol masih macet dan mobilnya belum bisa melaju dengan kencang.


"Sayang, kau baik-baik saja kan? Apakah itu sakit?" ucap Virus membelai rambut Moza dan menangkup wajah Moza dengan kedua tangannya. Kemudian memeluknya.


"Ku pikir kau sudah pergi ke Indonesia, kau tidak jadi pergi?" Tanya Moza


"Sebaiknya kita masuk dulu ke dalam mobil," ucap Virus.


"Mana mobilmu?" Tanya Moza.


"Mobil ku sudah ternodai jadi aku menjualnya dan menggantinya dengan taarrraa," ucap Virus seraya menunjukkan mobilnya yang sedari tadi ada di belakang Moza.


Moza juga tidak terpikir jika ada mobil yang menepi disana.




"Wow, ini Mercedes Benz," seru Moza, Virus merangkulnya, membuat pintu mobil untuk Moza menyuruhnya masuk ke dalam. Virus mengitari mobilnya dan menyusul masuk


"Marcedes Maybach S 600 Guard anti peluru dan anti ledakan. Tidak tanggung-tanggung, tingkat keamanannya bahkan berada di level VR10 atau tingkat perlindungan balistik tertinggi di kendaraan non-militer," jelas Virus seperti seorang sales yang menjualkan mobil pada kliennya.


"Itu menakjubkan sayang," ujar Moza pada Virus seraya melihat isi dalam mobilnya.




"Aku ingin kau memakainya selama aku di Indonesia. Tapi melihatmu seperti tadi, aku ragu... jika dia kembali dan berniat jahat padamu, aku jadi tidak akan tenang meninggalkan Nevada," ucap Virus


"Aku akan menjaga diriku, lain kali aku akan membawa pistol pemberianmu, kemanapun," ucap Moza


"Pergilah, jika itu sangat penting. Kau juga harus menemui keluarga mu disana kan?" timpalnya lagi seraya membelai pipi berjambang kekasihnya.


"Baiklah, kapanpun, di manapun bawa pistol itu ya, dan selalu katakan padaku kemana kau pergi. Mobil ini juga ku beri Pengan Cctv luar dan dalam, jika Diego nakal lagi suruh dia beli mobil ini," ucap Virus membuat Moza tertawa.


"Oke sayang, aku juga akan mengatakan kemana aku pergi,"


"Sekarang kita ke Bandara, hemmm kau tak ingin memeluk ku sepanjang perjalanan ke Bandara," ujar Virus seraya melajukan mobilnya pelan dan sesekali berhenti karena tol masih macet.


Moza mendekat dan bersandar pada bahu Virus yang sedang menyetir. Moza menggelendot manja dan kemudian memeluknya dari samping.


"Kenapa sangat nyaman bersandar seperti ini," ungkap Moza sembari memejamkan matanya.


"Karena aku adalah cintamu," jawab Virus membelai pipi Moza yang sedikit gembul


"Haha itu benar, kau adalah cintaku,"


Beberapa menit kemudian mereka terbebas dari kemacetan di tol, Moza mencoba menyetel musik dari mobil itu. Moza kembali memeluk Virus seakan mereka akan terpisah sangat lama. Karena Virus juga tidak tahu berapa lama dia berada di Indonesia.


Radio itu memutar musik lady Gaga tak berapa lama lagu berganti menjadi lagu yang membuat Moza pernah menangis. Lagu Christina Perry, A Thousand Year.


"Hah lagi-lagi lagu pengiring kita, seakan-akan ini soundtrack kehidupan kita," ujar Virus tersenyum kecil.


"Itu benar, aku akan selalu mencintaimu, menunggumu pulang dari Indonesia hehe," jawab Moza mengeratkan pelukannya dan lama-kelamaan wanita itu malah tertidur di bahu Virus.


Sesampainya di Bandara Los Angeles, Virus membangunkan Moza dengan pelan. Wanita itu terbangun dan kemudian mengusap wajahnya.


"Sudah sampai?" Tanya Moza


"Iya, aku berangkat ke Indonesia ya, jaga dirimu. Ini jika kau butuh sesuatu atau kalau kau ingin berbelanja. Pakai ini," ucap Virus memberikan kartu kredit dan kartu debitnya pada Moza.


"Untuk apa, aku tidak butuh ini. Aku hanya butuh kau, cepatlah kembali," ucap Moza


"Kau bisa menggunakannya untuk membuka usaha dari yang kecil-kecilan saja dahulu. Yang penting kau bisa menghidupi keluarga mu, ingat sayang kau baru saja mengundurkan diri," ucap Virus mengingatkan.


"Ahh kau benar, tapi aku masih punya uang ku sendiri. Aku tidak ingin merepotkan mu,"


"Hemm uang ku, uangmu juga, cinta ku cinta mu juga, meski kita belum resmi menikah tapi aku ingin kau yang terakhir dalam hidupku," ucap Virus yang terkejut mendengar ucapannya sendiri.


Sejak kapan pria itu pandai berkata-kata manis, membuat wanitanya kini menatap Virus dengan sendu.


Cup Muach


Kali ini Moza mengecup bibir Virus tanpa diminta, "Aku akan merindukanmu,"


"I love you,"


"I love you to,"