
"Virus, aku tidak ingin kau membunuhnya," ucap Moza namun Virus tak mendengarkannya. Pria itu tetap berjalan ke arah keluar.
Moza pun menjatuhkan dirinya sengaja menabrak meja sembari menjatuhkan Vas bunga yang berbahan melamin, wanita itu berakting dengan berpura-pura pingsan
Virus berbalik dan menghampiri Moza.
"Moza," Teriaknya dan berlari kecil mendekati Moza.
Sementara Andi tak tahu apa yang terjadi antara Moza dengan Virus. Ia merebahkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam dan mendengarkan lagu-lagu favorit dari playlist MP3 lewat headset yang tersambung di ponselnya.
Virus mengangkat Moza ke atas sofa namun sebelum itu terjadi Moza mengalungkan tangannya ke leher Virus dan wanita itu membuka matanya seraya berkata, "Aku tidak ingin kau lebih kejam darinya. Jika kau ingin memberikan pelajaran untuknya cukup penjarakan saja. Tapi setidaknya tunggulah hingga Diego dan Valeria menikah,"
"Ratuku ini ternyata pura-pura pingsan," ucap Virus menipiskan bibirnya dan menaikkan alisnya.
"Hemm kenapa semua orang yang ku sayang selalu lebih baik pada orang yang menjahatinya," ujar Virus membuang napasnya dengan kasar. Ia masih menggendong Moza.
Ditatapnya lekat wajah Moza, terlukis raut wajah dengan ekspresi cemas.
"Baiklah aku mendengarkan mu, karena aku menghormati mu," ucap Virus pada akhirnya.
"Terimakasih sayang," sahut Moza sedikit senang sembari mencium pipi kekasihnya.
"Sekarang turunkan aku," pinta Moza
"Tidak," tolak Virus kemudian membawa Moza masuk ke dalam sebuah kamar.
Moza melotot dan menatap tajam pada kekasihnya.
"Hey, kita mau kemana. Virus turunkan aku," rengek Moza yang masih dalam gendongan Virus ala bridal style.
Moza sudah berpikiran macam-macam ketika Virus membawanya ke dalam kamar tidur.
"Kau tak ingin melihat tempat tidur kita, hemm?" Tanya Virus tersenyum nakal.
Kemudian ia mendudukkan Moza dengan pelan di ranjang besar dengan seprei berwarna ungu muda kesukaan Moza. Lalu mencumbu bibir wanitanya dan beralih ke pipi, telinga, leher, dan kembali mengecup bibirnya sembari melepaskan kaitan baju Moza.
Moza terdiam, dia tak banyak bicara. Sudah menghentikan Virus agar tidak membunuh Darren saat itu juga sudah cukup baginya. Jika pun Virus melakukan hubungan lebih padanya, Moza tidak akan menolak.
Virus melihat pemandangan dua bukit kenyal yang masih terbalut lingeri dengan warna putih. Pria itu menelan salivanya berkali-kali berusaha untuk menahan gejolak gairahnya. Lalu pandangan matanya beralih ke bagian tubuh Moza yang terlihat memar.
Virus membuka tasnya yang sudah ditaruh Andi di samping tepat tidur, pria itu mengeluarkan sebuah obat berbentuk krim. Obat serba guna dan mengoleskannya dengan pelan pada bagian tubuh Moza yang memar.
Di beberapa bagian sisi kiri rusuknya, di pundak wanita itu, lengan kiri dan kanan. Moza menahan sakitnya saat Virus mengoleskan obat. Sebenarnya Moza sudah punya obatnya di rumah tetapi ia terkejut dengan perhatian lembut yang Virus berikan.
"Mana lagi yang memar, hemm?" Tanya Virus dengan memberikan senyumnya. Saat ini tatapan mata pria itu sangat lembut .
"Disini," ucap Moza seraya menarik rok nya ke bawah dan menunjukkan bagian memar yang ada di bawah pinggulnya.
Terlihat sedikit kain tipis yang membalut bagian bawah perutnya, Virus menelan salivanya kembali. Entah kenapa dia begitu menjadi ingin hanya dengan melihatnya.
"Sayang bagian punggungku juga ada," ucap Moza berbalik badan dan merebahkan dirinya dengan telungkup.
'Ya Tuhan. Stop," batin Virus, pikirnya kali ini tak bisa lagi menahan keinginannya. Virus normal.
Setelah mengoleskan krim pada luka memar dan goresan luka lecet. Virus menyentuh tubuhnya dengan belaian lembut disertai kecupan-kecupan kecil.
Moza memejamkan matanya, seketika tubuhnya merasakan geli dan sedikit meremang. Virus membuka kaitan Moza membuka matanya. Ada debaran kencang yang tak bisa ia hindari.
Moza berbalik menghadap pria itu, Virus mendekatkan wajahnya menyentuh bibir Moza. Sementara Moza menyentuh rahang Virus dan mengecupnya dengan mata terpejam. Mereka menikmati kecupan kecil meresapi setiap kehangatan cinta dari keduanya.
Virus melepaskan kain yang sedari tadi melekat dan membuangnya ke sembarang tempat. Kecupan yang kecil kini semakin rakus saat Virus melihat bukit kembar didepan matanya tanpa benang sehelai.
Pria itu menjelajahi tubuh Moza dengan kecupan hingga ke dasar rimbun. Virus tak tanggung-tanggung merasakan aroma milik Moza yang sangat wangi. Memainkan lidahnya, Moza tergelitik tetapi menikmatinya
Lenguhan kecil dari suara Moza membuat Virus semakin bergairah. Pria itu membuka kaosnya dan memperlihatkan otot perutnya yang berbentuk.
Kali ini Moza berganti menelusuri tubuh prianya, menurunkan resleting celananya. Kemudian mulai memainkannya ke dalam mulutnya.
Virus yang mulai terpancing gejolak pun tak segan-segan untuk segera menelusuri setiap jengkal tubuh kekasihnya
"Sayang aku mulai ya," ucap Virus berbisik dan mengecup bibir Moza kembali.
Nyesss
Sempit, dan sangat hangat.
Tetapi Moza kesakitan hingga air matanya keluar, Virus paham dan ia pun merasa senang karena dirinyalah yang pertama bagi Moza. Dan Moza juga yang pertama untuk Virus.
"Aaahh," rintih Moza
"Sebentar lagi sayang, aku akan pelan," bisik Virus.
Andi terbangun saat mendengar lenguhan kecil yang keluar dari bibir Moza.
"Astaghfirullah hal adzim , Ck ck astaghfirullah hal adzim," ucap Andi dan terus menerus melontarkan kalimat istighfar.
Meskipun Andi doyan melihat itu di situs online tetapi pria itu masih bersih suci dan belum pernah tersentuh. Bahkan meremas bukit milik kekasihnya yang dahulu pun tak pernah ia lakukan. Hanya sebatas kecupan dan pelukan.
Andi pergi keluar rumah dan mencari kesibukan sendiri. Ia pun menyirami tanaman disiang hari untuk melupakan apa yang ia dengar.
Setelah menjelajahi samudra, bukit pegunungan dan menara Eiffel mereka melepaskan lelah dan berbaring di ranjang.
Virus menyelimuti Moza sembari mengecup keningnya seraya berkata, "Maaf," pria itu pun memeluk Moza dalam dekapannya.
Beberapa menit beristirahat, tiba-tiba hasrat gairah Virus kembali datang, ia menginginkan lagi. Pria itu pun meminta lagi pada Moza. Dan permainan pun dimulai kembali meski terasa sakit bagi Moza, namun membuatnya candu.