My Name Is Virus

My Name Is Virus
Go To Indonesia



"Untung saja tadi aku membeli mobil ini, dan tidak langsung ke bandara," ucap Virus setelah melepaskan kecupannya.


"Bagaimana kau bisa tahu jika yang di dalam mobil itu aku?" Tanya Moza


"Tadinya aku mau menghubungimu sembari menunggu kemacetan itu, tapi melihat lokasi GPS ponselmu, kau berada di lokasi yang sama dengan ku. Aku menghubungimu tapi kau tidak mengangkatnya. Lalu aku memastikan kau berada di titik mana, aku pun turun dan meneliti dalam mobil satu persatu karena jaraknya beberapa langkah dari mobilku," ucap Virus menghentikan ceritanya dan mengambil napas.


"Lalu?"


"Lalu aku melihat mobil yang berguncang-guncang dan ku lihat dari kejauhan itu benar dirimu. Aku melihat pria itu menamparmu dengan keras. Karena ku tahu kaca mobilnya tipis maka ku tendang saja kaca mobil itu," jelas Virus.


"Untung kau cepat datang, jika tidak mungkin aku akan mati ditangannya," ujar Moza dan dengan cepat Virus menutup bibir Moza dengan jari telunjuknya.


"Jangan katakan itu, aku tidak ingin kau meninggalkan ku. Jangan bicara soal kematian," sahut Virus.


"Iya, maaf sayang. Hemm sudah sana cepat cek in, nanti kau ketinggalan pesawat," seru Moza


"Kabari aku jika kau sampai rumah, bye," ujar Virus seraya mengacak-acak rambut Moza membuat wanita itu sedikit kesal namun ia tidak marah.


"Hati-hati ya, bye," seru Moza sedikit berteriak karena Virus telah melangkah pergi. Meski sangat sulit melepaskan kepergiannya namun Moza tidak ingin mengekang pria yang belum resmi menjadi miliknya.


Sebenarnya Moza merasa cemas karena perbuatan Virus yang telah memberi pelajaran pada Bosnya hingga wajah, kaki dan badannya terluka parah.


"Semoga saja pria busuk itu tidak dendam padaku, Ya Tuhan lindungilah Aku, keluarga ku serta orang yang ku sayangi dimanapun ia berada. Amiin," gumam Moza seraya menyatukan kedua tangannya untuk berdoa.


Moza berpindah tempat ke kursi kemudi. Namun sebelumnya Moza menyimpan dua kartu yang di berikan Virus padanya. Setelah itu ia mulai melajukan mobilnya keluar dari tempat parkir.


Virus mulai memasuki pintu masuk, disana telah berdiri Andi yang terlihat mondar-mandir sembari menunggu kedatangan Bosnya. Ya Virus kini menjadi Bosnya. Virus senang mendapatkan asisten yang pintar seperti Andi. Begitupun dengan Andi, pria itu sangat senang bertemu dengan bos yang super baik seperti Virus. Andi menjulukinya Ladang emas.


Sebelumnya Virus pernah menyuruh Andi untuk melacak keberadaan Aryo. Minim informasi tentangnya, Virus hanya tahu kapan terakhir kali pertemuannya dengan Aryo, jam dan tanggalnya pun masih ia ingat. Serta nomor telepon yang sangat dia hapal. Juga kode plat nomer kendaraan yang Aryo miliki saat itu.


Jaman itu tidak banyak CCTV yang terpasang pada lokasi yang dikatakan Virus. Masyarakat yang ada disana juga tidak banyak menggunakan ponsel yang berkamera. Sehingga sangat sulit bagi Andi menemukan jejaknya. Namun Andi menemukan jejak plat nomer kendaraan tersebut berhenti di sebuah minimarket. Dan lokasinya tidak berada di kota Bali maupun desanya melainkan Jakarta.


Setelah mendapat gambar rekaman itu Andi segera menghubungi Virus malam harinya. Virus masih ingat wajah Aryo dan pria yang keluar dari kendaraan itu pun bukan dirinya, pengendara itu memiliki wajah yang berbeda.


Virus pun semakin penasaran, dia berniat ke Indonesia mencari tahu lebih dalam kemana orang itu berada. Pertama-tama Virus akan kembali ke asalnya. Kota tempatnya lahir, di Bali.


Virus mengajak Andi karena dia sudah lama tidak berbahasa Indonesia, sedikit lupa ditambah banyak kata serapan dan bahasa gaul jaman sekarang yang tentu saja Virus harus mempelajarinya lebih dalam lagi.


"Hem ternyata aku salah mengira tentang mu," ujar Andi berkata dengan pelan saat mulai menduduki kursinya.


"Maksud mu?" Tanya Virus tak mengerti.


"Ku kira kau akan memesan kursi Vip, aku sudah membayangkan pelayanan istimewa di kursi itu," ujarnya


"Haha Kau kira aku banyak duit? Aku juga memutar duitku untuk beberapa usahaku. Dan itu tidak mudah, jadi selagi kita bisa menghematnya kenapa tidak? Tempat yang kau duduki itu juga nyaman kan?" Tanya Virus sembari bersandar pada kursi menikmati sejuknya AC yang memancar ke wajahnya.


"Dan selagi kau banyak uang, lebih baik kau gunakan untuk menikmati kelas istimewa itu," ujar Andi mendengkus kesal tetapi Virus tidak menjawabnya, ia memilih tidur sambil mendengarkan musik dengan headsetnya sembari menunggu pesawat itu lepas landas


"Hey, kau tidak menukarkan mata uangmu ke bank dahulu?" Tanya Andi mengingatkan.


"Tidak," jawab Virus enteng


"Kalau kau menukarkan di negara tujuanmu, kau akan mendapatkan harga yang mahal," ujar Andi.


"Aku juga punya simpanan uang di Bank Indonesia dan aku tidak perlu menukarkan lagi karena simpanan ku di sini banyak," jawab Virus dengan sombongnya membuat Andi kesal.


'Katanya pria itu tidak punya banyak uang tapi kenapa sombong sekali dengan mengatakan uang yang tersimpan di bank Indonesia sangat banyak,' batin Andi.


Sebelum pesawat itu lepas landas Andi cepat-cepat memberitahu Emi jika dia kembali ke Indonesia tapi bukan ke Jakarta melainkan ke Bali.


"Sayang, aku ke Bali dengan bos baruku," tulis Andi pada pesannya untuk Emi kekasihnya yang sudah lama ia pacari.


"Wahh Bali, aku ingin sekali kesana. Kalau begitu aku juga ingin ke Bali sekarang," balas Emi pada pesannya.


"Jangan, aku kemari tidak jalan-jalan tapi aku kerja. Nanti kalau kau kemari kau akan kepincut dengan bosku. Karena dia sangat tampan. Dia berwajah Blasteran, Wasabi saja kalah tampan dibuatnya," jawab Andi membalas pesan Emi.


"Setampan apa sih aku jadi penasaran, haha baiklah kalau begitu hati-hati dijalan. I Love You," balas Emi.


"Love you to," balas Andi pada pesannya yang menjadikan pesan terakhir mereka. Karena untuk beberapa jam ke depan pria itu akan mematikan ponselnya.


'Aryo, kemana dirimu? Hemm Wasabi saja tidak tahu kau berada dimana,' batin Virus


'Bali... kau sangat indah namun memory kenangan ku tak seindah rupamu. Seperti apa dirimu sekarang? Apakah kau masih mengingat ku? Seorang anak kecil yang berkelahi dengan temannya. Bukan keinginan ku untuk berkelahi dengannya, dia menantang ku dan aku membeli tantangannya. Tak ku sangka perkelahian itu merenggut nyawanya. Aku sendiri tak menyadari jika diriku mempunyai kekuatan melebihi pria dewasa yang normal. Kekuatan buatan yang orang tua ku berikan. Dan kini masih misteri siapa Ayahku. Aku tak ingin mencari tahu tentangnya. Yang aku inginkan adalah bertemu dengan mu....I Wayan Aryo Swastiko,' batin Virus seraya memandangi kaca jendela pesawat yang mulai lepas landas.