
Dinding ruangan yang terbuat dari kaca itu telah retak namun belum pecah. Seketika Valeria pun menjadi ragu namun Diego memberinya semangat, ia memeluk Valeria namun bukan perutnya yang di pegang, melainkan ia meremas gunung Valeria yang malah membuyarkan fokus wanita itu.
"Ayo sayang kau bisa, aku akan memuaskan mu jika kau berhasil menabrak kaca itu," ucapan Diego semakin membuat Valeria tidak fokus.
"Aku ingin 5 ronde," pinta Valeria
"Itu masih kurang sayang, ratusan ronde pun akan ku layani," ucap Diego membuat sang kekasih terkekeh geli.
Kedua pasangan yang sedang mabuk cinta itu bukannya fokus menghadapi rintangan di depannya tetapi malah memikirkan adegan percintaan mereka. Diego sengaja berkata seperti itu agar Valeria melupakan sesaat, bahaya yang ada di depannya, menembus kaca dinding seperti di film-film bedanya ini nyata mereka lakukan.
Saat roda motor Valeria sudah menyentuh kaca. Kaca dinding pun pecah dan puing-puing kacanya berserakan. Valeria memejamkan matanya dan melepaskan kemudi untuk menutupi wajahnya.
Diego yang memeluk Valeria dari belakang kemudian menariknya dan melompat dari atas motor. Motor itu terjatuh dan terhempas ke dinding. Sementara Darren yang melihat itu pun langsung melarikan diri dari pintu rahasia.
Diego melihat Darren kabur dari pintu lain, pria itu terus menembakinya seraya melepaskan Valeria dan beranjak bangun. Kemudian ia mengejar Darren ke pintu lain yang baru saja pria itu masuki, tapi sialnya pintu itu tertutup dan hanya bisa terbuka oleh sistem. Diego terus menembakkan peluru ke pintu otomatis itu namun tetap tak bisa terbuka.
Sementara Valeria membuka jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Moza. Penampilan Moza terlihat kacau meski terus terkena benturan dan pukulan, wanita itu masih bisa bergerak.
"Vale," Moza memeluk Valeria dan menangis
"Untung kau datang, jika tidak mungkin aku sudah habis di perkosa dan disiksa olehnya, terimakasih," ucap Moza yang masih menangis di pelukan Valeria
"Untunglah kau selamat, sekarang kita cepat pergi dari sini," ucap Valeria
Tak berapa lama Diego kembali dari pintu rahasia kemudian membuka pintu ruangan semula dengan cara menembak daun pintunya hingga rusak. Untung saja peluru itu sisa banyak.
"Brengseek itu berhasil melarikan diri," decak Diego kesal kemudian setelah pintu berhasil terbuka ia mengajak Vale dan Moza keluar.
"Ayo keluar," ajak Diego kemudian mengambil motornya yang sedikit rusak.
"Motor ini masih bisa digunakan meski setangnya miring, kita naik ini saja. Moza ditengah dan Vale, kau dibelakang lalu tembakan peluru ke arah mereka," titah Diego sembari mengangkat motor untuk membuatnya berdiri.
"Aku tidak ahli menembak," ujar Valeria seraya bangkit dan merangkul Moza sembari mendekat ke arah Diego.
"Biar aku yang membawanya, kau di tengah," ujar Moza kemudian mengambil tembakan yang dibawa Diego
"Kau kecil jadi kau di tengah,"
"Kalau kau ditengah, kau bisa memeluk Diego," ucap Moza yang tidak ingin berdekatan dengan kakaknya.
"Ah kau benar, ok aku ditengah," jawab Valeria yang kemudian mendapat tawa kecil dari kedua kakak adik itu.
Diego mengambil kemudi yang sudah miring. Valeria naik tapi Moza tidak langsung naik ke motor.
"Moza ayo naik," seru Diego
"Aku ingin mengambil peluru yang mereka simpan disana," seru Moza yang mengintip dari balik pintu. Ternyata tempat itu sudah kosong karena semua orang fokus menghadapi teman-teman Valeria yang menyerangnya dari depan.
Moza membuka pintu kecil dibalik dinding, tempat yang tadi dia lihat. Terkunci, dia pun menembak tempat kunci itu beberapa kali lalu pintu lemari terbuka.
"Ini pistol pemberian Virus, pistol pertamaku. Kau akhirnya kembali," gumam Moza seraya mengambil pistol kesayangan dan menciumnya. Kemudian ia naik ke motor, Diego segera melajukan motornya.
Moza tidak membuang peluru asal seperti yang Diego lakukan, dia membidiknya dengan sekali bidikan tepat mengenai sasaran meskipun ada dari mereka yang tak langsung mati setidaknya peluru itu terkena anak buah Darren.
Diego seperti Valeria yang nekat membawa motornya untuk turun dari tangga dan lebih parahnya, saat berada di lantai dua dia langsung menebas terjun dari lantai atas itu ke lantai dasar.
Moza memejamkan matanya pasalnya dia tidak pernah mengalami hal nekat seperti itu, berbeda dengan Valeria yang hobi balap dan track terjal karena terbiasa di jalanan curam.
Bumm
Roda motor Diego mendarat dengan sempurna dan langsung melesat pergi keluar dari kantor itu. Banyak anak buah Darren yang menembaki mereka saat lewat, tetapi Moza berhasil menumbangkan lawannya. Dan Diego berhasil menghindar dan melesat jauh.
"Wow, kau hebat mendarat dengan sempurna sayang," Seru Valeria seraya mengecup pipi kekasihnya itu lalu memeluknya erat.
"Haha kau juga hebat sayang," puji Diego membuat Moza adiknya terkekeh.
Tapi tiba-tiba Moza merasa pening dan tulang rusuk yang sempat terkena tendangan tadi kembali berdenyut perih. Ia pun menyandarkan kepalanya di bahu Valeria.
Valeria tak keberatan jika Moza bersandar di bahunya tapi semakin berat ia rasakan.
"Kau kenapa Moza?" Tanya Vale karena takut terjadi apa-apa padanya.
Diego berhenti di tempat, dimana ia memarkirkan mobilnya, lebih tepatnya dekat dengan gedung yang mereka lompati tadi. Mobil itu tentu saja mobil perusahaan.
"Ayo turun, kita naik mobil saja. Moza kau baik-baik saja kan," ucap Diego yang masih berada di atas motor.
Moza turun dan sedikit terhuyung lalu disusul Valeria yang segera turun dan merangkul Moza.
"Kita sebaiknya ke rumah sakit," ucap Valeria
"Ya kau benar, Moza jika kau merasa sakit berlebihan bilang saja ok. Kita kerumah sakit sekarang," sahut Diego kemudian menggendong adiknya dan masuk ke dalam mobil.
"Vale hubungi Virus dan ceritakan padanya apa yang Moza alami," ucap Diego menyerahkan ponselnya pada Valeria.
"Jangan, ku mohon. Aku tidak ingin merusak rencana Virus. Dia ingin mencari ayahnya yang bertahun-tahun menghilang," lirih Moza.
"Tapi dia berhak tahu, dan dia pasti tidak akan membiarkan Darren pergi begitu saja. Aku ingin Darren mati," ucap Diego
"Iya Diego benar, tapi jika Darren mati kita akan berurusan dengan Ayahnya yang seorang king mafia," sahut Valeria
"Maka dari itu kita butuh Virus disini," ucap Diego
"Kak aku pusing, aku tidak ingin berdebat. Dan tolong jangan hubungi Virus untuk sementara ini. Aku yakin beberapa hari lagi dia pasti kembali, jika dia sudah kembali kau boleh bercerita apapun padanya," ucap Moza
Moza ingin Virus menemukan Ayahnya. Jika Virus tahu Moza dalam bahaya , pria itu pasti segera ke menemui Moza. Tetapi dia tidak ingin egois.
Valeria yang duduk disamping Moza menggenggam tangan wanita itu. Ada rasa canggung sedikit. Moza melihat ke arah Valeria dan memeluknya, bersandar di bahunya.
"Jangan pergi dariku lagi, kau satu-satunya sahabat terbaikku," ucap Moza
"Kau masih menganggap ku sahabat? Aku selalu berniat menghancurkan mu, dan merampas semua yang kau miliki," ucap Valeria.
"Ya Kau memang buruk, aku membencimu tapi sesungguhnya aku menyayangimu," ucap Moza jujur dari hatinya.
"Maafkan aku," ucap Valeria yang tiba-tiba menitikkan air mata
"Ya aku sudah memaafkan mu," balas Moza kemudian melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Valeria.
"Ada yang ingin aku tanyakan,"
"Ya tanyakan saja,"
"Kau serius mencintai kakak ku? Lalu soal perasaan mu pada Virus?" Tanya Moza
"Ya aku serius dengan Diego, aku tidak mencintai Virus. Dia terlihat mirip dengan Diego," ucap Valeria tetapi Moza masih menatapnya dengan penuh pertanyaan. Secepat itukah Valeria mengubah perasaannya. Karena pada saat itu ia juga terlihat ingin memiliki Virus.
Valeria paham dengan apa yang ingin ditanyakan Moza kemudian dia pun bercerita sedikit.
"Moza, aku tidak mencintai Virus. Aku akui, aku sempat tertarik padanya dan ingin memilikinya karena aku tidak ingin kalah darimu. Tapi semakin ku sadari. Aku tidak punya hati untuknya. Hatiku hanya untuk Diego," jelas Valeria agar tidak ada kesalahpahaman ke depannya.
"Kau masih ingat aku pernah cerita dengan pria yang menabrak ku saat balapan. Dan aku jatuh cinta padanya," ucap Valeria
"Ya kau bilang padaku kau jatuh cinta padanya tapi kau tidak tahu namanya dan tidak tahu siapa..." ucapan Moza terhenti karena Valeria memutusnya.
"Dia Diego," sambung Valeria
"Hah?" ucap Moza dan Diego bersamaan
"Ya Diego cinta pertamaku saat aku SMP,"
"Hah selama itu kau menyimpan perasaanmu," ujar Diego yang mencuri dengar
Mereka pun bercanda tawa setelah itu, Moza senang hubungannya dan Valeria membaik.
Sesampainya di rumah sakit Moza menjalani pemeriksaan lebih dalam. Untunglah tidak ada luka yang serius, Moza hanya butuh istirahat.
Sementara di kediaman Darren.
"Sial...sedikit saja aku sudah bisa mencicipi Moza. Ini karena pencuri itu hah iya kau Valeria...akhirnya kita bertemu lagi. Urusan kita belum selesai Valeria dan Moza," ucap Darren menyeringai lebar kemudian ia meneguk habis gelas yang berisikan wiski dalam sekali tegukan.