My Name Is Virus

My Name Is Virus
Racun Luke



Virus menatap bidadari cantik yang sedang terbaring di ranjang dengan segala perlengkapan medis yang menempel ditubuhnya. Ia menatap cincin yang melekat di jari manisnya. kemudian meraih tangan wanita itu dan menciuminya.


"Istri ku," Virus berkata dengan lirihnya bahkan hampir tak terdengar.


Dia memejamkan matanya, bersamaan dengan itu mengalirlah sebuah bulir bening yang jatuh membasahi pipi lalu menetes ke jari jemari lentik sang istri.


Malam yang seharusnya menjadi kebahagiaan untuk pasangan itu harus berakhir duka di sebuah ruang petak berukuran cukup besar dengan banyak peralatan medis disekitarnya.


"Moza, kau berjanji padaku untuk tidak meninggalkan ku kan? Kau harus bangun sayang, Moza yang ku kenal adalah Moza yang kuat. Aku akan selalu disamping mu, merawat mu hingga kau pulih. I love you Moza," bisik Virus ditelinga istrinya memberinya semangat untuk pulih.


Tak ada pergerakan dari wanita yang terbaring lemah itu. Dia koma, tetapi bukan berarti dia tak dapat mendengar. Untuk itu Virus terus membisikkannya sebuah kata penyemangat.


Tak berapa lama ponsel Virus bergetar, ia mengambil ponselnya dari saku celana dan membuka pesannya. Pesan masuk dari Chuck. Virus meletakkan kembali tangan Moza diranjang kemudian pria itu keluar kamar ICU dan meneleponnya.


"Kau yakin dia berkata tentang lokasinya dengan lantang setelah menemukan kamera mu yang terjatuh?" ucap Virus yang sedikit berpikir jika Sam tidak mungkin sebodoh itu


"Aku yakin bos, dia mengatakannya dengan jelas," sahut Chuck dengan mantap


"Aku rasa dia tidak mengatakan lokasinya dengan benar. Aku punya ide. Aku ingin kau meninggalkan rumahnya. Buat dengan jelas suara mobil mu dan tinggal rumahnya. Tapi kau tidak benar-benar pergi. Salah satu dari kalian harus menetap di rumahnya dan bersembunyi. Apa kau mengerti? Buat dirinya terkecoh dengan mobil yang baru saja mengintainya itu pulang. Aku yakin dia sudah tahu dimana mobilmu bersembunyi," ucap Virus


"Argh aku pikir kita bisa santai setelah ini," batin Chuck.


"Oke bos, aku akan kembali kerumahnya,"


"Kembali kerumahnya? Jadi kau sudah pergi dari rumahnya? " Tanya Virus


"Tidak bos, bukan begitu. Aku masih di sekitar rumahnya hanya saja aku sedikit menjauh dan mencari pepohonan di belakang rumahnya," jelas Chuck


"Untuk apa kau mencari pepohonan? Kau ingin bersembunyi?"


"Hemm itu bos, aku buang air kecil jadi sedikit menjauh dari rumahnya hehe..," jelas Chuck lagi


"Astaga, aku pikir kau telah pergi dari rumahnya. Oke sekarang turuti saja perkataan ku. Azkha pergi membawa mobilmu dan kau masih harus mengintai Sam, jika perlu buat pelacak di mobilnya," perintah Virus.


"Siap bos,"


Obrolan berakhir


Virus segera menghubungi Andi, dia sudah rindu dengan pria kecil dan cerdas asal Indonesia. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan termasuk pernikahannya yang berujung tragis.


Waktu di Indonesia saat ini pukul tiga sore sementara di Texas pukul satu dini hari lebih lambat.


"Hai, Virus. Kenapa kau menelepon ku? Kau rindu denganku ya hehe," ujar Andi dengan bahasa Indonesianya yang kental. Semenjak ia tahu jika Virus bisa berbahasa Indonesia, pria itu sering memakai bahasanya sendiri.


"Ya aku merindukan mu," jawab Virus dengan senyum kecilnya. Dia bingung harus dari mana memulai pembicaraannya.


"Andi, aku ingin kau meretas ponsel seseorang bernama Sam, aku baru saja mengirimkan data mengenai orang itu ke ponselmu. Hubungi aku segera jika kau telah mendapatkan informasi dari pesan text ataupun saat dia berbicara," ucap Virus


"Aku tidak bisa mengunggah percakapannya lewat jauh, aku harus memiliki ponsel tersebut jika kau ingin aku mengambil rekaman obrolannya," jawab Andi


"Oke jika begitu cukup semua pesan dan media sosialnya saja,"


Virus menunggu Andi berbicara karena pria itu diam dan tidak menjawab ucapan Virus.


"Hemm aku baru membuka pesan yang kau kirim. Dia Sam, orang yang pernah menyuap Tomy kan? Ya walaupun Tomy bilang dia tidak meminta suap,"


"Ya kau benar,"


"Kemarin aku sempat merusak sistem keamanan Gordon, mereka mencoba menutupi kerusakan yang ku timbulkan. Mereka berhasil memperbaiki sistem keamanan agar tidak mudah di bobol, tetapi aku sudah masuk didalamnya haha Andi dilawan. Aku bisa masuk ke server mereka tanpa mereka ketahui dan kau pasti akan terkejut mendengar ini Virus,"


"Ya kau cerdas Andi. Apa yang kau temukan?"


"Aku sudah tahu,"


"Jadi kau sudah tahu jika dia Ayahmu? Huff aku terlambat mengatakannya maaf... itu artinya kau tahu siapa Sam kan? dia paman mu. Lalu apakah Gordon masih ingin membunuh mu?"


"Tidak Andi, semua ulah Sam," ucap Virus


"Bagaimana bisa?" Tanya Andi yang tidak langsung dijawab oleh Virus, pria itu kemudian pergi meninggalkan lorong rumah sakit dan keluar untuk merokok.


"Ceritanya panjang..." ucap Virus kemudian terdengar seperti menangis


"Virus? Apa kau menangis? Atau kau hanya terkena flu? Karena aku mendengar kau menghisap ingus haha," ujar Andi dengan candaan garingnya.


Setelah itu Virus mulai menceritakan kisahnya, sementara Andi mendengarkan dan dia merasa bersalah dengan candaannya tadi. Andi bisa merasakan bagaimana posisi Virus sekarang. Pria kecil itu ikut menangis namun dia tidak larut dalam kesedihan.


"Hey, pembunuh bayaran! Kau jangan lembek, aku tahu itu menyedihkan. Seka air matamu, aku akan membantumu dari sini dan mengintai Sam. Lebih baik kau suruh Chuck pulang saja, aku takut dia digigit nyamuk jika harus mengintai di semak-semak haha," ucap Andi sengaja membuat Virus sedikit terhibur.


"Thanks Andi, hemm tidak apa-apa Chuck sudah terbiasa berada di lapangan. Untuk berjaga-jaga jika sistem komputer atau jaringan mu eror," sahut Virus


"Oh nehi nehi, aku sudah mengupgrade komputer ku. Sekarang sudah tahan banting, tahan badai dan topan. Listrik mati, no worry, komputer ku masih tetap aman bro,"


"Sudah tahan air belum?" Tanya Virus


"Belum hehe,"


"Cih, besok ganti yang tahan air," ujar Virus


"Hemm, sudahlah malah ngobrol tidak jelas. Aku tutup ya," seru Andi kemudian langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban Virus. Andi segera mencari tahu apa yang Sam rencanakan lewat ponselnya.


.


.


.


Luke kembali ke apartemen Gordon, dengan langkah pelan dia masuk begitu saja. Suasana sepi mencekam hanya terdengar suara detak jam berjalan. Pria itu membuka pintu kamar Gordon, dia ingin mengintip sedang apa bosnya itu. Namun kamarnya terkunci.


"Baguslah jika terkunci, setidaknya aku bisa menaruh racun di teko minumnya. Biasanya Bos akan minum air putih setelah bangun tidur," batin Luke kemudian tersenyum miring.


Ia lalu melangkah menuju dapur dan mulai menaruh racunnya di teko dan sedikit mengaduknya. Racunnya tidak berbau, tidak berwarna dan cepat larut.


"Sedang apa kau!" ucap Gordon dengan suara seraknya dan dengan mulut yang sengaja dimiringkan saat bicara. Pria itu kembali berpura-pura sakit.


"Bos, maaf bos. Saya ingin melaporkan jika anak buah yang tewas tadi sudah di urus dan besok akan dilakukan pemakamannya. Tetapi saat kemari, saya melihat kamar bos terkunci jadi saya tidak ingin menganggu istirahat Anda,"


Gordon hanya mengangguk kemudian dia menyuruh Luke untuk menyediakan air putih dalam teko tersebut.


"Bagus, Gordon meminta minum air putih ini," batin Luke kemudian setelah menuangkan air ke dalam gelas, pria itu memberikannya pada Gordon.


"Bukan untukku, tapi untukmu. Kau minumlah mungkin kau lelah mengurus mayat salah satu anak buah mu," ucap Gordon seperti orang berbisik dengan pelan


"A-apa bos?" Tanya Luke


"Tidak bos, saya tidak haus," timpalnya lagi, tetapi sebuah tatapan tajam terus menatapnya dan memintanya untuk tidak menolak perkataan Gordon


"Minum!" Perintah Gordon dengan serius menatapnya


"Mampus," batin Luke